Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 77

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 77

"Andaikata kau tidak mencuri barang penting milik kami, tak mungkin kami bersaudara mau menuruti perkataanmu itu..." Mendengar ini, perempuan iblis berbaju putih, Liang Siang, tertawa cekikikan.

"Ooooh... rupanya kau si bocah keparat adalah seorang pencuri ulung..." Siu Cing mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian berkata sambil tertawa, "Anggap saja aku memang pencuri, tapi itu pun tidak lebih hebat daripada kalian semua, bukankah begitu?"

"Setan cilik, aku ingin mendengar darimu, kemampuan apa sih yang kau andalkan?" bentak manusia bengis berbaju merah, Ciu Thian Yan, dengan mata mendelik.

"Aku adalah murid dari guru kenamaan dan berasal dari perguruan besar. Apakah kedua hal ini tidak cukup?"

"Lantas mengapa kau harus menjadi pencuri dan menyerobot barang milik orang lain?"

"Tahukah kau dari mana mereka mendapatkan benda itu? Hmmm, dengan mengandalkan kepandaian, mereka telah menyerang perkampungan Cing Hong Ceng di Bukit Leng Lou San dan membunuh si tabib sakti Liok It Huan sekeluarga, lalu merebut pula pil Hwee Cun Pek Cau Wan. Berbicara soal kebenaran, apa salahnya bila kurampas kembali pil itu dari tangan perampok? Apalagi aku pun sama sekali tidak mencelakai jiwa seorang manusia pun!"

Atas perkataan itu, tiga walet terbungkam seribu bahasa. Sebaliknya, tiga setan yang berada di belakangnya menggertakkan gigi menahan amarah; mereka ingin sekali menggigit bocah itu sampai mati.

Si tangan setan, Si Kiu, segera mendengus lalu berseru, "Mau merampok atau membunuh Liok It Huan, itu semua adalah urusan kami. Apa sangkut pautnya dengan dirimu?"

Siu Cing segera tertawa cekikikan. "Baik, anggap saja memang tiada sangkut pautnya denganku. Kalau begitu, selamat tinggal."

Di tengah pembicaraan, tiba-tiba ia menyambar semangkuk kuah lalu menyiramkannya ke atas kepala Si Kiu. Bersamaan dengan itu, ia menjejakkan kakinya ke tanah dan tangan kirinya mendayung ke samping, lalu tubuhnya meluncur ke udara.

Si cakar setan, Ui Kak, membentak keras. Ia menerjang ke muka sambil melancarkan cengkeraman.

"Braaaaakk..." Suara keras kuah dan sayur berhamburan ke mana-mana dan mengotori seluruh tubuh tiga walet yang berdiri tidak jauh dari sana. Keadaan mereka menjadi sangat mengenaskan.

Kontan saja paras muka tiga walet itu berubah hebat. Di tengah bentakan keras, mereka serentak ikut turun tangan. Siu Cing benar-benar bocah yang bernyali besar. Menghadapi terjangan dari beberapa jagoan itu, ia tidak mundur, malah maju ke depan. Di tengah jalan, kakinya menjejak tanah lalu melejit kembali ke belakang. Saat tubuhnya mental kembali, ia menjejak bahu si cakar setan Ui Kak keras-keras, membuat setan itu terjengkang beberapa langkah ke belakang lalu terguling ke atas tanah.

Menyaksikan gerakan ini, serentak semua penonton yang ada di rumah makan itu bersorak memuji. "Suatu gerakan tubuh yang amat bagus." Perlu diketahui, meskipun nama tiga setan dan tiga walet amat termasyhur dalam dunia persilatan, mereka lebih dikenal sebagai manusia-manusia bengis yang berhati jahat. Itulah sebabnya, ketika semua orang menyaksikan Siu Cing berhasil mempermainkan mereka, kontan saja semua orang merasakan kegembiraan dan segera bersorak-sorai memberi dukungan.

Sementara Siu Cing sudah melompat ke sisi jendela, tiba-tiba ia berpaling dan berseru sambil tertawa terbahak-bahak, "Haaaa, haaa... selamat tinggal, saudara sekalian."

Di antara sekian orang, manusia bengis berbaju merah, Ciu Thian Yan, yang berhati paling keji tapi wataknya paling berangasan, merasa amarahnya memuncak karena dipermainkan oleh seorang bocah cilik di hadapan umum. Maka dari itu, begitu melihat Siu Cing berusaha kabur, ia segera membentak keras lalu melompat ke depan melakukan pengejaran.

Siapa sangka Siu Cing sudah mengira hal itu. Saat melompat naik ke daun jendela, tangannya sudah menyambar sebuah poci arak. Sesaat sebelum melompat turun, ia melemparkan arak itu ke wajah Ciu Thian Yan yang sedang menerjang datang sambil membentak keras, "Lihat senjata rahasia!"

Ciu Thian Yan hanya melihat segumpal cahaya perak menyambar datang. Untuk sesaat ia tak tahu senjata rahasia apakah itu, ia tak berani menyambut dengan kekerasan. Dengan menghimpun tenaga dalamnya ke tangan kanan, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan. Poci arak yang menyambar itu terhadang di tengah jalan dan mencelat ke arah lain.

Dalam pada itu, Sik Tiong Giok yang baru pertama kali mencicipi rasanya arak telah menghabiskan bercawan-cawan. Pikirannya makin lama semakin kalut, dan terhadap keributan di rumah makan itu, ia bersikap acuh tak acuh. Berbagai ingatan melintas dalam benaknya; bayangan Bun Un, gadis jelek Li Peng, lalu Siau Hong. Namun, yang membuatnya tak mampu melupakan adalah kematian Tio Leng Kong yang mengerikan.

Pada saat ia berada dalam keadaan setengah mabuk, mendadak terdengar suara benturan yang keras sekali. Dengan perasaan kaget, ia segera mengangkat kepalanya. Ternyata poci arak yang mencelat tadi terjatuh persis di hadapannya, membuat cawan dan mangkuk hancur dan isinya berhamburan mengotori mukanya.

Hawa amarahnya meluap. Ia melompat bangun lalu sambil menggebrak meja, ia membentak keras-keras, "Siapa yang berani mencari gara-gara dengan aku!" Dalam gebrakannya itu, meja tersebut bukan cuma hancur berantakan, bahkan seluruh ruangan loteng turut terguncang.

Tiba-tiba terdengar seseorang menjerit kaget, "Aaah, Pangeran Serigala!" Teriakan itu dengan cepat menggetarkan perasaan semua orang dan serentak mereka berpaling ke arah Sik Tiong Giok. Ternyata orang itu cuma seorang pemuda berusia belasan tahun.

Di antara keenam orang tersebut, hanya setan perempuan berbaju hijau, Bwee Soat Yan, yang pernah merasakan kehebatan Sik Tiong Giok. Sedangkan yang lainnya, meski pernah bersua muka, belum pernah bertarung secara sungguh-sungguh sehingga mereka sama sekali tak punya bayangan atas kemampuan lawannya.

Tiga setan yang sedang mendongkol dan tiada tempat melampiaskan amarah, kontan mendengus dingin setelah mendengar ucapan itu. Mereka berteriak keras, "Apa sih hebatnya Pangeran Serigala?"

Waktu Sik Tiong Giok sudah delapan bagian dalam keadaan mabuk, mendengar perkataan tersebut, ia membentak penuh amarah, "Hmm, kau ini manusia macam apa, berani benar memandang hina diriku." Sambil berkata, ia bangkit berdiri meninggalkan tempat duduknya dan mendekati ketiga setan tersebut.

Si cakar setan, Ui Kak, segera mencabut keluar senjata cakar elang berantainya dan langsung diayunkan untuk mencengkeram tubuh Sik Tiong Giok sambil membentak, "Aku Ngo Tayya justru memandang hina dirimu, mau apa kau?"

Sik Tiong Giok tertawa terbahak, "Haaah, haaah, haaah... dengan kemampuan yang kau miliki pun berani mengajak aku bertarung? Hmm, ayo, bawa kemari!"

Di tengah bentakan tersebut, tidak tampak bagaimana caranya menggerakkan tubuh, tahu-tahu ia sudah berhasil mencengkeram senjata cakar elang berantai itu. Ui Kak, yang permainan cakar elangnya sangat hebat, terkejut karena lawan bergerak begitu cepat sehingga belum lagi ia mengerdipkan mata, cakar elangnya sudah dirampas. Dalam kegelisahan, ia tak sempat berpikir panjang; tangan kanannya membetot cakar elang keras-keras, sementara tangan kirinya, dengan menghimpun segenap tenaga, menghantam Sik Tiong Giok.

Pada waktu itu, Sik Tiong Giok sedang dicekam kemurungan dan tak sempat melampiaskan amarahnya. Menyaksikan keadaan tersebut, ia mendengus dingin. Rantai musuh di cengkeramannya tak bergerak, sedangkan tangan kanannya diayunkan untuk menyambut serangan musuh.

Ui Kak, sebagai anak murid Pat Huang Sin Mo, tentu memiliki tenaga dalam yang cukup sempurna. Sebelum dua gulung angin pukulan saling beradu, terasa segulung kekuatan amat dahsyat telah bergulung. Akan tetapi, Sik Tiong Giok tetap berdiri tegak bagaikan sebongkah batu karang; tubuhnya sama sekali tidak bergetar.

Ui Kak menjadi semakin kalap. Sambil membentak keras, dengan mengerahkan tenaga dalamnya sebesar dua belas bagian, ia melepaskan sebuah pukulan lagi. Andaikata ia tidak menggunakan seluruh tenaganya, mungkin keadaannya masih mendingan. Begitu seluruh kekuatannya digunakan, seketika itu juga terasa segulung tenaga pantulan yang amat kuat menerjang balik ke arahnya.

Bersamaan dengan itu pula, Sik Tiong Giok menyentil jari tangannya ke depan. Segulung desingan angin tajam langsung menotok jalan darah Lau Kiong Hiat di atas telapak tangan Ui Kak. Bagaikan dipagut ular berbisa, Ui Kak menjerit kesakitan, "Aduuuh..." Tubuhnya tergulung oleh tenaga pantulan yang sangat kuat sehingga terpental ke arah jendela belakang, kemudian... "Blumm!" Ia terjatuh keluar.

Kebetulan di belakang rumah makan itu adalah perusahaan pembuat kecap. Di luar pekarangan terdapat puluhan gentong berisi kecap. Dua orang pekerja yang berada di sekitar tempat itu berteriak kaget dan melarikan diri saat melihat sosok tubuh terjatuh dari udara. Akibatnya, si cakar setan Ui Kak mengalami nasib mengenaskan; ia jatuh tepat ke dalam gentong berisi kecap tadi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment