Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 79

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 79

Aku sungguh merasa kagum dengan cara dan tindakan Engkoh Sik sewaktu berada di loteng Hong Hok Lo tadi. Memang paling baik membunuh beberapa orang lebih banyak.

Sik Tiong Giok menghela napas ringan. "Aaai, orang jahat tak akan habis dibunuh, Saudaraku."

"Aku merasa haus sekali."

"Baiklah, beristirahatlah dulu di sini, akan kucarikan air untukmu." Seraya berkata, dari dalam buntalannya dia mengambil kantung air dan berjalan menelusuri kaki bukit.

Padahal dia sendiri pun merasa agak haus. Baru setelah diingatkan oleh Sik Tiong Giok, rasa haus itu terasa semakin menghebat. Itulah sebabnya dia segera mempercepat langkah kakinya berlari menuju ke depan.

Setelah berjalan lebih kurang setengah jam, ia baru mendengar suara gemercik air yang tampaknya bergema dari suatu tempat tak jauh letaknya dari sana. Mengikuti sumber suara air itu, kembali ia berjalan sejauh setengah li lebih. Benar saja, di punggung bukit sebelah depan sana terdapat sebuah air terjun.

Dalam girangnya, ia segera melompat ke depan dan mendekati tempat itu. Ternyata air terjun itu sangat besar dengan di bawahnya terdapat sebuah telaga. Menelusuri kaki bukit, terdapat sebuah selokan air yang mengalirkan air jernih, dan udara terasa amat dingin.

Siu Cing merasa amat gembira setelah menyaksikan hal itu dan cepat-cepat menghampirinya. Mula-mula ia meneguk beberapa tegukan sampai puas, kemudian baru memenuhi kantung air itu dan berjalan kembali ke tempat semula.

Lebih kurang setengah jam kemudian, Siu Cing baru tiba kembali di tempat semula. Dengan rasa gembira ia segera berteriak, "Engkoh Sik, airnya sudah datang!"

Namun, dengan cepat ia dibuat tertegun. Ternyata bayangan tubuh Sik Tiong Giok tidak nampak lagi di situ. Tanpa terasa ia berpikir, "Aneh, mengapa dia tak ada di tempat? Mungkinkah dia telah pergi seorang diri? Tapi rasanya hal ini tak mungkin!"

Berpikir sampai di situ, timbul kecurigaan dalam hatinya. Cepat-cepat ia berseru keras, "Engkoh Sik! Engkoh Sik!" Sambil berteriak, ia melompat naik ke atas sebatang pohon dan mencoba untuk memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu, namun tidak sesosok bayangan manusia pun yang nampak.

Dalam keadaan begini, ia pun hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil bergumam keheranan, "Aneh benar, ke mana dia telah pergi?" Berpikir begitu, ia pun berlarian menuju ke kaki bukit sebelah kanan. Di situ ia temukan banyak bekas telapak kaki yang kacau di antara semak belukar. Sadarlah bocah itu, tentu sudah terjadi sesuatu di tempat tersebut.

Ketika diteliti lagi dengan saksama, segera ditemukan tanda panah yang menunjukkan ke satu arah. Dengan gemas ia mendengus dingin lalu berlarian ke depan.

Daerah di sekitar tempat itu merupakan bukit-bukit terjal dengan batu cadas yang curam, sesungguhnya memang tak enak dilalui. Ditambah pula fajar baru menyingsing dan kabut pagi masih amat tebal, jalanan semakin sukar ditelusuri. Belum lagi belasan li, sekujur badannya sudah basah kuyup oleh keringat.

Ia berhenti sebentar sambil mengeluarkan kantung air, maksudnya hendak minum dulu sebelum meneruskan perjalanan. Mendadak...

"Plaak!"

Kepalanya seperti tertimpa sesuatu dari atas. Sekalipun tidak terasa sakit, namun ketika diusap dengan tangannya, ditemukan cairan merah meleleh turun. Ketika diperhatikan lebih saksama lagi, ternyata benda yang menimpa kepalanya adalah sebuah buah tho yang besar semangkuk.

Ia mengira ada buah tho yang masak dan jatuh dari tangkainya. Tanpa terasa ia berpikir, "Kalau toh di sini terdapat buah tho, pasti buahnya tidak cuma satu. Mengapa tidak kudar untuk menghilangkan rasa haus dan lapar?"

Berpikir demikian, ia pun mendongakkan kepalanya sambil memeriksa keadaan di sekitar situ. Benar saja, pada sebuah tebing tumbuh puluhan batang pohon tho yang kekar dan segar. Biarpun tebing itu tinggi lagi curam, namun dengan kepandaian silat yang dimiliki si kalajengking kecil, Siu Cing, tidak sulit baginya untuk mendaki ke atas.

Sambil menjilati bibirnya, bocah itu pun bersiap-siap untuk mendaki ke atas tebing tersebut. Tiba-tiba tampak sebiji buah tho kembali melayang tiba. Dengan cepat ia menyambut buah tersebut dan berseru sambil tertawa terbahak-bahak, "Hahaha... ini baru namanya hidangan yang lezat."

Baru saja ia bersiap-siap untuk menggigit buah itu, tahu-tahu sebiji buah tho kembali meluncur tiba. Kali ini pun Siu Cing sama sekali tidak menduga sehingga tidak sempat mempersiapkan diri untuk menerimanya. Ia pun tak sempat berkelit sehingga tepat mengenai jidatnya. Cairan buah tho yang hancur kontan saja mengotori seluruh wajah dan badannya.

Begitu keras hantaman buah tho itu disusul pula dengan sambaran buah tho berikut, bahkan semuanya meluncur tiba dengan kecepatan tinggi dan ketepatan yang mengagumkan. Sekalipun Siu Cing telah berusaha untuk menghindarkan diri, ia toh terkena juga dua tiga biji.

Dengan kejadian tersebut, dengan cepat Siu Cing tahu kalau ia sedang dipermainkan orang. Amarahnya kontan saja berkobar. Dengan sinar mata yang tajam, ia mencoba untuk memperhatikan keadaan di sekitar itu.

Benar juga, di balik rimbunnya pohon buah tho itu, tampak seorang nona cilik berusia dua belas tahunan sedang duduk di sana. Ia memakai baju merah, bermuka bulat seperti buah apel, rambutnya berkepang dua, dan bermata bulat lagi besar. Saat itu ia sedang mengawasi wajah Siu Cing sambil menggerakkan jari tangannya di wajah sendiri, serunya sambil tertawa, "Hey, setan cilik, malu ah... masa mau mencuri buah tho milik orang?"

Mendengar ejekan itu Siu Cing sangat marah, bentaknya, "Kalau aku setan cilik, apa pula dengan kau sendiri? Siapa sih yang mencuri buah tho-mu? Nih, aku kembalikan kepadamu!" Sambil berseru, ia segera menyambit sebiji buah tho ke depan.

Tapi dengan cekatan nona cilik itu menyambutnya, lalu berseru lagi sambil tertawa, "Aduh, tidak kusangka kau mempunyai kepandaian silat juga. Nah, sambutlah kembali, siapa yang kesudian menerima buah tho busukmu itu?" Ia menyambitnya kembali ke depan.

Siu Cing segera menyambut sambitan tersebut dengan cekatan. Baru saja akan ditimpuk kembali, tiba-tiba bayangan merah di atas pohon tho itu sudah berkelebat lewat dan lenyap dari pandangan.

Dengan hati mendongkol, Siu Cing berkerut kening sambil mendengus. Ia menjejakkan kakinya ke atas tanah lalu seperti seekor burung walet melejit ke udara dan meluncur ke depan. Tapi sewaktu tiba di balik pepohonan buah tho itu, ternyata tak nampak sesosok bayangan manusia pun di situ. Tanpa terasa ia berpikir, "Cepat amat gerakan tubuh dari budak cilik itu..."

Sementara ia masih ragu-ragu, mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara ujung baju yang terhembus angin. Siu Cing sudah banyak belajar dari Pek Hun Lojin, apalagi semenjak berusia delapan tahun sudah mengembara dalam dunia persilatan. Selain kepandaian silatnya hebat, pengalamannya pun sangat luas. Begitu mendengar suara tersebut, kendati pun suaranya amat lirih, namun tak dapat memengaruhi dirinya. Dengan cepat ia membalikkan badan sambil menerobos ke depan. Dengan cara begini, menurut perhitungannya, pasti akan berhasil menemukan jejak lawan.

Siapa tahu meski ia bergerak cepat, ternyata orang lain jauh lebih cepat lagi. Diiringi suara jeritan kaget dari si nona cilik itu, tampak bayangan merah berkelebat kembali di balik pepohonan dan lenyap dari pandangan.

"Budak cilik, mau kabur ke mana kau?" bentak Siu Cing dengan rasa mendongkol.

Sambil membentak, ia segera melakukan pengejaran dengan ketat. Dalam keadaan mendongkol dan marah, bocah ini seakan-akan lupa persoalan Sik Tiong Giok. Ia hanya tahu berlarian di antara pepohonan sambil mencari jejak si nona cilik tadi.

Tiba-tiba dari atas pohon besar kedengaran seseorang berseru sambil tertawa, "Hey kerbau dungu... tak tahu malu, mengejar orang pun tak mampu, benar-benar memalukan sekali. Hati-hati lho, jangan sampai pohon yang kau tubruk."

Dengan cepat Siu Cing mendongakkan kepalanya. Ternyata nona cilik itu sedang duduk di atas pohon dan mengejeknya sambil bertepuk tangan. Sambil mendengus, pikir Siu Cing di hati, "Kali ini kau tak akan bisa lolos lagi dari tanganku..." Sesudah mengambil keputusan, ia pun tidak menuju ke pohon tersebut secara langsung melainkan lari ke pohon yang lain. Setelah berada dekat dengan pohon yang dituju, ia baru menjejakkan ujung kakinya ke atas tanah dan melejit ke udara langsung menerjang nona cilik itu.

Agaknya nona tersebut tidak mengira kalau Siu Cing begitu licik dan pintarnya. Karena gegabah, hampir saja ia tertipu. Dengan gemas segera teriaknya, "Setan cilik, kau memang licik!" Dengan cepat ia melompat turun ke bawah.

Siu Cing tak mau melepaskan korbannya dengan begitu saja. Dengan cepat ia mengejar pula ke bawah. Tampaknya nona cilik itu pun amat licik dan pintar. Sesudah sadar kalau tak mungkin baginya untuk meloloskan diri, ternyata ia pun berlarian di antara pepohonan sambil menghindar kian kemari, persis seperti orang yang bermain petak umpet saja, sulit buat Siu Cing untuk membekuk dirinya. Bukan cuma begitu, ternyata nona cilik itu masih sempat membuat muka setan untuk mengejeknya.

Semakin lama Siu Cing merasa semakin mendongkol. Ia mulai mengumpat dengan marah, "Budak cilik, kau jangan keburu merasa bangga. Bila hari ini aku gagal membekukmu, aku pasti akan mengganti nama margaku..."

Belum selesai ia berkata, tiba-tiba terdengar nona cilik itu menjerit kaget, "Aduuuh..."

Siu Cing tidak mengetahui apa yang terjadi. Mendengar jeritan kaget nona itu, ia mengira si nona sudah dibuat takut oleh ancamannya itu. Maka sambil tertawa kembali ujarnya, "Budak cilik, kau jangan takut, sekalipun berhasil kubekuk pun tak akan kulukai dirimu, paling banter aku cuma memukul pantatmu saja."

Belum habis ia berkata, tiba-tiba dari belakang tubuhnya kedengaran suara auman keras disusul segulung hembusan angin kencang menerjang dari belakang. Dengan cepat Siu Cing meloloskan diri dari tubrukan tersebut. Ketika berpaling, ia menjadi terperanjat sehingga menghembuskan napas dingin.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment