Chapter 80
Ternyata di belakang tubuhnya telah berdiri seekor gorila yang sangat besar dengan bulu tebal, mata melotot, dan wajah mengerikan. Binatang tersebut mengawasinya dengan buas dan liar.
Sekalipun Siu Cing sudah banyak berkelana mengikuti Pek Hun Lojin dan banyak pula binatang buas yang dijumpai selama ini, ia belum pernah menjumpai gorila sebesar ini. Tak urung, hatinya dibuat bergidik juga.
Padahal, seandainya kau tidak memperlihatkan rasa takut terhadap makhluk tersebut, maka gorila itu belum tentu akan menyerangmu. Namun, sekali kau tunjukkan rasa jeri, maka dia akan lebih bergaya lagi; malahan sambil merentangkan lengannya, dia menerjang tiba-tiba.
Siu Cing segera merendahkan tubuhnya sampai menyelinap ke samping. Dengan mudah sekali ia meloloskan diri dari ancaman tersebut.
Gagal dengan tubrukannya, gorila raksasa itu berpekik nyaring sambil membalikkan badan untuk kedua kalinya menerjang batok kepala bocah itu. Sekali lagi, Siu Cing berkelit ke samping untuk menghindarkan diri, tapi dengan begitu pun keberaniannya semakin bertambah.
Setelah tubrukannya beberapa kali mengalami kegagalan total, sifat buas gorila itu semakin membara. Sambil berpekik penuh amarah, tubrukannya dilepaskan makin ganas. Siu Cing tahu makhluk semacam ini memang berwatak buas dan cekatan. Kekuatannya mampu untuk membelah harimau dalam keadaan hidup. Sudah barang tentu ia tak berani berayal; sambil mengandalkan kecepatan tubuhnya, ia berkelit kian kemari.
Sementara itu, si nona cilik tersebut sudah dibuat tertegun saking kagetnya. Ia pun lupa untuk melarikan diri, melainkan hanya duduk di atas dahan sambil melototkan matanya bulat-bulat.
Waktu itu kebetulan sekali Siu Cing sudah terdesak mundur sampai di depan batang pohon, padahal gorila itu menerjang kembali dengan ganasnya. Satu ingatan segera melintas dalam benak nona cilik itu; diambilnya dua batang ranting lalu disambit ke muka dengan cepat.
Waktu itu sang gorila sedang merentangkan sepasang lengannya yang panjang sambil menerjang ke depan. Meskipun Siu Cing gesit, namun dalam keadaan begitu ia jadi mati kutu dan tak bisa mundur lebih jauh. Ia memekik tanpa terasa, "Habis sudah riwayatku kali ini." Mendadak gorila itu berpekik keras, sepasang lengannya dipeluk satu sama lainnya, dan sepasang cakarnya ditancapkan dalam-dalam pada batang pohon.
Ternyata sambitan ranting dari nona cilik itu dengan tepat sekali menembusi sepasang mata gorila tersebut. Dalam kesakitannya, binatang itu meraung semakin keras. Apalagi sepasang cakarnya yang menancap di atas pohon tak dapat dilepaskan, terpaksa ia memeluk pohon tersebut sambil digoncang-goncangkan dengan sekuat tenaga.
Biarpun pohon itu besar sekali, ternyata dahannya tergoncang hebat oleh kekuatan gorila itu. Tak selang berapa saat kemudian, batang pohon tersebut telah patah menjadi dua bagian.
Siu Cing segera memanfaatkan peluang yang ada untuk menerobos keluar dari bawah ketiak gorila itu. Ia sangat benci terhadap binatang buas yang hampir merenggut jiwanya ini. Begitu lolos dari bahaya, timbul nafsu membunuh dalam hatinya. Serta-merta ia meloloskan pedang pendeknya dan langsung ditusukkan ke pinggang gorila tersebut.
"Criiiing...!" Percikan bunga api memancar ke empat penjuru. Ternyata tusukan tidak mempan karena gorila itu mempunyai kulit badan yang tebal dan kebal terhadap senjata.
Sementara Siu Cing masih tertegun dan siap melancarkan tusukan berikut, tiba-tiba terdengar seseorang membentak keras dari arah belakang, "Bocah keparat dari mana yang berani melukai binatang saktiku? Memangnya kau sudah bosan hidup?" Siu Cing segera berpaling, namun sebelum melihat dengan jelas siapa gerangan lawannya, deruan angin kencang kembali meluncur datang dari belakang.
Cepat-cepat ia merendahkan tubuhnya untuk menghindar, sementara pedang pendeknya dengan jurus 'bintang lewat melintang di angkasa' membuat badannya menyelinap ke samping. Telinganya sempat mendengar suara auman keras, lalu dadanya terasa dihantam keras-keras, pandangannya menjadi kabur. Sesaat sebelum jatuh pingsan, ia masih sempat pula mendengar jeritan keras dari nona kecil itu.
Ternyata jurus serangan yang barusan dipergunakan itu memang tepat sekali sebab persis menusuk pusar dari gorila itu sehingga perutnya robek dan ususnya berhamburan ke mana-mana. Tapi sebelum tewas, gorila itu pun sempat menyarangkan sebuah pukulannya yang keras sehingga membuat Siu Cing jatuh tak sadarkan diri.
Bersamaan waktunya, dari balik pohon muncul pula seorang nenek bermata tunggal yang berwajah bengis. Ketika melihat gorila raksasa itu sudah mati, dengan mata berapi-api karena gusar ia berseru sambil tertawa dingin, "Sudah tiga puluh tahunan aku si nenek tak pernah meninggalkan tebing harimau buas ini, tak nyana ada orang berani berkunjung kemari bahkan melukai binatang sakti penjaga guaku. Hmmm... tampaknya aku harus melakukan pembunuhan hari ini." Sementara berkata, ia pun selangkah demi selangkah berjalan menghampiri Siu Cing yang masih terkapar di tanah.
Nona cilik yang bersembunyi di balik pohon menjadi amat terkejut sekali ketika menyaksikan nenek bermata tunggal itu lambat laun semakin dekat dengan Siu Cing. Agaknya untuk melampiaskan rasa gusarnya karena kematian dari gorila raksasa itu, si nenek bermata tunggal tersebut berniat untuk mencincang tubuh Siu Cing menjadi berkeping-keping.
Nona cilik itu menjadi gugup dan panik. Tiba-tiba saja ia membentak keras, "Nenek jelek, jangan kau lukai dia!" Sambil membentak, ia meloloskan sepasang pedang pendeknya, lalu menjejakkan kakinya ke atas dahan dan meluncur ke depan. Tampak dua kilas cahaya bianglala meluncur ke depan dan langsung membacok tubuh nenek tua bermata tunggal itu.
Sementara si nenek bermata tunggal itu masih tertegun oleh suara bentakan itu, tiba-tiba saja ia merasakan datangnya desingan angin tajam dari belakang tubuhnya. Serta-merta ia memutar badan sambil menengok. Ternyata seorang nona cilik telah melepaskan tusukan ke arahnya dengan sebilah pedang pendek yang bersinar tajam. Nona itu bermuka bulat apel dan sangat galak.
Nenek bermata tunggal itu tertawa seram. "Budak cilik, kau pun berani melancarkan serangan terhadap aku si nenek..." Tidak nampak gerakan apa yang digunakan, tahu-tahu saja serangan pedang nona cilik itu sudah mengenai sasaran kosong, tapi menyusul kemudian serangan pedang kirinya telah menyambar tiba.
Nenek bermata tunggal itu menjadi terkesiap setelah menghadapi kejadian tersebut. Segera serunya dengan perasaan kaget bercampur tercengang, "Bukan saja jurus pedang yang dipergunakan si nona cilik dengan serangan kiri kanannya berbeda aliran, kedua bilah pedang pendek itu pun bukan benda sembarangan, karena merupakan benda penakluk iblis dari istana Thian Poo Hu di masa lampau."
Buru-buru ia membentak keras, "Budak, siapakah kau?" Nona cilik itu tidak menggubris, malah serunya lagi sambil mendengus dingin, "Aku tak sudi berbicara dengan orang jahat seperti kau!" Dalam pembicaraan tersebut, serangan pedang kirinya lagi-lagi kena sasaran kosong.
Melihat kedua serangannya mengenai sasaran kosong, nona itu mendongkol selain gelisah. Tiba-tiba ia mendesak ke muka dan sepasang tangannya melancarkan serangan bersama. Tangan kirinya menggunakan jurus menghimpun tenaga cipratan pelangi dari ilmu pedang Ya Li Kiam Hoat, sementara pedang kirinya mengeluarkan jurus 'daun berguguran di musim gugur' dari ilmu pedang Cing Peng Kiam Hoat. Dua buah serangan dilepaskan bersamaan waktunya dan saling menunjang satu sama lainnya.
Kalau dibilang nenek bermata tunggal itu sesungguhnya terhitung seorang jago kenamaan pula dalam dunia persilatan, tapi ia toh dibuat kelabakan juga selagi menghadapi dua serangan berantai tersebut. Terpaksa toya ditangkis keluar, kemudian tubuhnya mundur dua langkah. Melihat hal itu, si nona bukannya mundur, sebaliknya malah mendesak lebih ke depan.
"Criiiing...!" Di tengah desingan nyaring yang memekikkan telinga dan percikan bunga api yang menyebar ke empat penjuru, nampak nona itu berkerut kening dan mundur sejauh delapan langkah dengan sempoyongan. Lengannya menjadi linu dan kaku, hampir saja badannya terjungkal ke atas tanah.
"Heh... heh... heh... budak cilik, tentunya kau sudah tidak mampu lagi bukan!" Nona cilik itu mendelik besar sambil mencibirkan bibirnya yang kecil. Lalu setelah mendengus dingin, sepasang pedangnya secara beruntun melepaskan dua lingkaran cahaya yang menggulung seperti roda kereta.
Nenek bermata tunggal itu segera mengangkat toyanya untuk menangkis, bentaknya, "Akan ku suruh kau ketahui kelihaian nyonyamu!" Tiba-tiba saja tongkatnya dibenturkan ke atas pedang nona itu. Bukan saja serangannya dilepaskan dengan cepat, lagi pula serangan tongkat itu membawa deruan angin yang kuat. Jelas terbukti kalau kekuatan yang dimiliki nenek ini sangat hebat.
Nona cilik itu cukup cekatan. Sepasang pedang tidak berani menyambut dengan kekerasan, sebaliknya malah memanfaatkan tenaga serangan lawan yang kuat untuk melejit ke atas dahan pohon dengan ringan. Lalu bentaknya dengan nada sinis, "Hmmm, kau sih nyonya apaan? Aku lihat kau lebih mirip makhluk tua yang aneh!"
Umpatan tersebut membuat si nenek bermata tunggal itu berkerut kening. Nafsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya. Sambil mendengus, ia berseru, "Budak keparat, ternyata kau adalah ahli waris dari Pek Hun si setan tua itu!"
Perlu diketahui, Pek Hun Lojin dari Leng San Sam Yu termasyhur di dalam dunia persilatan karena ilmu pedang Pek Hun Kiam Hoat dan ilmu meringankan tubuh yang sempurna. Gerakan yang dipergunakan si nona cilik untuk melayang ke muka dengan memanfaatkan tenaga pukulan lawan tadi tidak lain adalah gerakan 'awan melayang angin berhembus', sebuah jurus serangan maut dari Pek Hun Lojin. Tak heran kalau nenek bermata tunggal itu segera mengenalinya sebagai ahli waris dari Pek Hun Lojin.
Tapi nona cilik itu segera mendengus dingin, "Hmmm, belum tentu!"