Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 82

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 82

Si Tendangan Geledek, Wan Poo, memiliki tiga belas macam ilmu kebal yang membuat tubuhnya keras dan tidak mempan dibacok senjata. Memang pedang milik nona cilik itu adalah senjata pusaka, tetapi tanpa diarahkan ke titik kelemahan tubuh Wan Poo, bagaimana mungkin tusukan tersebut dapat melukai badannya? Itulah sebabnya tusukan pedangnya hanya berhasil merobek sebagian celananya.

Hal itulah yang menyebabkan Wan Poo berteriak kaget.

Namun, peristiwa tersebut membuat api amarah Wan Poo berkobar. Dengan mata melotot, ia berteriak, "Hei, nona cilik, tidak tahu malu! Mengapa kau robek celanaku?" Di tengah bentakan penuh amarah itu, tiba-tiba ia merendahkan badannya; dengan kaki kiri sebagai tumpuan, ia meluruskan kaki kanannya ke depan dan melepaskan sebuah sapuan maut.

Hembusan angin puyuh yang amat dahsyat, diiringi suara gemuruh yang keras, segera menggulung ke depan.

Sebaliknya, sang nona yang mendengar perkataan Wan Poo berpikir dalam hatinya, "Kalau dilihat orangnya sih sudah dewasa, mengapa begitu tak pandai berbicara?" Belum habis ingatan tersebut melintas, angin tendangan yang menderu bagaikan amukan topan itu sudah menyambar. Terpaksa ia menggunakan jurus "Awan Melambung Angin Berhembus" untuk memanfaatkan kekuatan itu guna bergerak mundur.

Siapa sangka angin tendangan Wan Poo begitu keras dan kuat. Tenaga serangannya begitu dahsyat sehingga betapapun lincah dan cekatannya gerakan tubuh sang nona, ia tetap terkena gulungan angin hingga terpental sejauh sepuluh kaki lebih. Deruan angin yang menggemuruh keras membuat pohon bertumbangan dan batu berterbangan; keadaannya sungguh mengerikan.

Siu Cing yang melihat kejadian itu segera berseru keras, "Hei, si tolol, mau apa kau?" Setelah melepaskan tendangan pertama, Wan Poo sudah membalikkan badan, bersiap melancarkan tendangan kedua. Ia segera membatalkan serangan setelah mendengar seruan tersebut, lalu tertawa, "Nona cilik itu kelewat berani, dia telah merobek celanaku; paling tidak dia harus diberi pelajaran yang setimpal."

Belum selesai ia berbicara, tiba-tiba dari belakang terdengar suara nona cilik itu membentak keras, "Kau tak usah mengibul, memangnya tendanganmu itu hebat? Rasakan tusukan pedangku lagi!" Sepasang pedangnya yang disertai desingan angin tajam menyerang sepasang bahu Wan Poo.

Wan Poo tidak mengira serangan si gadis kecil itu demikian cepat dan lincah. Saat ia bermaksud menghindar, desingan tajam telah mengenai tubuhnya. Biarpun bacokan pedang itu tidak sampai melukai kulitnya, pakaiannya sempat teriris hingga robek menjadi dua bagian.

Akibatnya, Wan Poo semakin gusar. Sambil membabat, ia kembali melancarkan sapuan kilat. Namun, ia kembali kehilangan bayangan tubuh sang nona. Malah, terdengar seseorang membentak keras, "Bocah tolol, berani amat kau bersikap kurang ajar terhadapku, si orang tua. Lihat saja nanti, akan kuundang Dewa Guntur untuk membelah kepalamu."

Sesosok tubuh menampakkan diri dari balik liang tanah di bawah akar pohon. Orang itu bertubuh cebol, memelihara jenggot kambing, dan badannya penuh berlumpur; keadaannya tak ubahnya manusia yang terbuat dari lumpur. Belum sempat Siu Cing melihat wajah orang itu dengan jelas, Wan Poo sudah ketakutan setengah mati dan bersembunyi di belakang Siu Cing sambil berseru, "Aduh celaka, si tua cebol main setan lagi!"

Sementara itu, nona cilik tersebut menjerit kaget bercampur gembira, "Ai, Susiok, rupanya kau!" Orang yang baru muncul itu tidak lain adalah kakek cebol yang berjalan dalam tanah.

Ketika mendengar sapaan tersebut, ia lantas menggetarkan bajunya untuk merontokkan debu dan pasir, kemudian tertawa tergelak, "Hahaha... Budak Cui, tak disangka kau masih mengenalku. Mana gurumu?"

"Orang tua itu masih berada di puncak Bukit Im Wu San, masa kau sudah melupakannya?" kata sang nona sambil tertawa.

"Aku bukannya lupa, cuma merasa heran, apa sebabnya kau si budak kecil muncul di Bukit Thian Cu San ini?"

"Aku datang untuk mencarimu. Bukankah kau bilang berdiam di bawah Bukit Thian Cu Hong dalam gua bumi? Itulah sebabnya aku datang mencarimu di sana."

"Wah, tampaknya daya ingatmu memang hebat, sayang sekali kau salah mencari. Thian Cu San tidak terletak di Thian Cu Hong."

"Lantas di mana letak Thian Cu Hong itu?" seru sang nona sambil cemberut.

"Aku tak bisa memberitahukannya kepadamu. Katakan dulu, ada urusan apa kau mencariku?"

"Aku ingin bertemu dengan Pangeran Serigala Langit. Ingin kulihat sampai di mana kemampuan yang dimilikinya."

"Hahaha, budak cilik, besar amat nyalimu! Berani betul kau mencari gara-gara dengan Pangeran Serigala Langit. Tapi... sudahkah kau bertemu dengannya?" kata kakek cebol itu sambil tertawa.

Mendengar pertanyaan itu, sang nona berpaling ke arah si Kalajengking Kecil, Siu Cing, seolah menganggap Siu Cing adalah Pangeran Serigala Langit yang ia cari. Sementara itu, Siu Cing sudah mengenali lawan bicaranya, sehingga ia segera memberi hormat.

Tiba-tiba nona cilik itu berkata, "Ai Susiok, benarkah dia... adalah Pangeran Serigala Langit?"

Sekali lagi kakek cebol itu tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, budak cilik, masa dengan bocah muda ini kau tidak kenal?"

"Atau mungkin dia bukan Pangeran Serigala Langit? Lantas siapakah dia?" tanya nona cilik itu kebingungan.

Siu Cing turut tertawa, "Ai Susiok, siapa sih nona ini?"

Kakek cebol itu tidak menjawab. Ia hanya mendongakkan kepala dan tertawa tiada hentinya, membuat kedua orang itu semakin kebingungan. Akhirnya, mereka hanya saling berpandangan dengan wajah penuh tanda tanya.

Sebaliknya, si tolol Wan Poo menimbrung, "Bila Susiok mulai tertawa, itu berarti dia mau main setan. Jangan-jangan dia mau mempermainkan salah satu dari kita."

Mendadak si kakek cebol menghentikan tawanya, kemudian sambil mendelik ia berseru, "Bocah tolol, bila Susiok mau menghukum orang, kaulah orang pertama yang menjadi sasaran." Wan Poo menjadi ketakutan setengah mati dan cepat-cepat bersembunyi. Sikapnya yang kocak itu membuat nona cilik tersebut tertawa terpingkal-pingkal.

"Bagaimana bocah tolol, kau ketakutan?" ejek si kakek cebol.

Wan Poo menggelengkan kepala berulang kali, ujarnya dengan wajah tertegun, "Asalkan kau tidak main setan kepadaku, aku tak bakal takut."

"Susiok," Siu Cing segera menyela, "bagaimana kalau kau jangan mengacau terus? Belum kau jelaskan siapakah nona ini."

Nona cilik itu pun berseru, "Hei Susiok, kau belum memberitahuku, benarkah dia bernama Pangeran Serigala Langit?"

Kakek cebol itu tertawa, "Bocah muda ini bukan Pangeran Serigala Langit, dia bernama Kalajengking Siu Cing."

"Lalu siapakah namanya?" seru Siu Cing.

"Dia bernama Sin Cui, murid dari Subomu, Pek Hun Jin. Masa kalian tidak saling mengenal?"

"Tidak heran jurus 'Awan Mengambang Angin Berhembus' yang dia pergunakan tadi sangat hebat. Rupanya dia adalah adik seperguruanku sendiri!" kata Siu Cing sambil melongo.

Sin Cui mengerdipkan matanya berulang kali, tiba-tiba ia membentak keras, "Kau tak usah berlagak sok di hadapanku! Siapa sih yang sudi menjadi Sumoaymu?"

"Lho... bukankah kau murid Suboku? Kalau bukan Sumoayku, memangnya Suciku?" seru Siu Cing sambil melotot.

Dengan bibir mencibir, Sin Cui berseru, "Dari Suhu pernah kudengar katanya Pek Hun Lojin adalah manusia paling jahat di kolong langit. Dia berpesan kepadaku, bila suatu saat bertemu dengannya, maka aku harus berupaya membunuhnya."

"Kau berani?" bentak Siu Cing dengan marah.

"Mengapa tidak? Kalau tak percaya, kita boleh buktikan dengan perkelahian!" tantang Sin Cui.

Kakek cebol yang mendengar percekcokan itu buru-buru melerai sambil tertawa, "Apa sih yang kalian cekcokkan? Suhu dan Subo kalian sudah bertahun-tahun hidup berpisah. Sebagai muridnya, kalian wajib mendamaikan mereka, masa belum apa-apa sudah cekcok duluan?"

"Toh dia yang menantangku lebih dulu. Memangnya dia kira aku takut?" seru Siu Cing segera.

"Memangnya kau anggap aku takut kepadamu? Heh... tampangnya saja soknya luar biasa," balas Sin Cui.

"Tentu saja aku harus sok, ilmu silatku lebih hebat daripada kepandaianmu. Kau tidak percaya?"

"Tidak percaya! Sekali aku bilang tidak percaya, selamanya tak akan percaya. Bagaimana kalau kita buktikan saja dengan perkelahian?"

Sambil cekcok, kedua orang itu mulai mengepalkan tangan dan siap beradu otot kembali. Mendadak si kakek cebol membentak keras, "Hentikan perbuatan kalian! Ingin digebuk rupanya kalian berdua ini..."

Terpaksa kedua orang muda-mudi itu menarik kembali gerakan masing-masing dan mundur selangkah, namun mereka masih tetap saling melotot dengan penuh kegusaran.

"Bukannya kalian sedang mencari bocah bermarga Sik itu..." tiba-tiba kakek cebol berkata lagi.

Belum selesai perkataan itu, Siu Cing dan Sin Cui hampir bersamaan berseru, "Susiok..."

Namun, ketika mendengar pihak lawan memanggil dengan kata yang sama, kedua orang itu segera menutup mulut dan saling berpandangan dengan mata melotot.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment