Chapter 83
Menyaksikan keadaan kedua muda-mudi itu, kakek cebol segera tersenyum dan berkata, "Kalau dilihat dari tampang kalian berdua, tak ubahnya seperti dua ekor ayam jago aduan." Mendadak Sin Cui mendepakkan kakinya berulang kali seraya berseru keras, "Kalau mau bicara, ayolah cepat katakan, sebenarnya Pangeran Serigala Langit berada di mana?"
"Tidak terlalu jauh, di dalam Bukit Bian Peng San."
"Bian Peng San luasnya mencapai ratusan li, ke mana kita harus mencarinya?" sela Siu Cing.
"Aku sendiripun tidak tahu, tapi tak ada salahnya kalau kita mencarinya secara terpisah."
"Baik, aku akan menempuh perjalanan bersama Ay Susiok," seru Sin Cui cepat-cepat.
"Biar aku bersama si Kalajengking Kecil," si tolol Wan Poo menambahkan.
Maka keempat orang itu pun memisahkan diri menjadi dua rombongan. Si kakek cebol bersama Sin Cui menuju ke belakang bukit, sementara Siu Cing dan Wan Poo mencari di depan bukit.
Siu Cing, yang mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, dapat bergerak lincah di antara tebing-tebing batu yang curam. Meskipun pegunungan yang ditempuh sulit dilalui, hal itu tidak terlalu menyulitkan baginya. Sedangkan si Tendangan Geledek Wan Poo, meski bodoh, kepandaian andalannya terletak pada kaki. Kekuatan kakinya sangat mengagumkan; saat dia berjalan, batu dan debu segera beterbangan ke mana-mana. Begitulah, dengan mengandalkan kemampuan dan kelebihan masing-masing, bergeraklah kedua orang itu melakukan pencarian. Tak sampai setengah hari, tujuh delapan buah bukit telah dilalui dengan cepat, namun target pencarian belum juga ditemukan.
Akhirnya, habis sudah kesabaran Wan Poo. Dia berteriak, "Hei Kalajengking Kecil, mau berjalan ke mana lagi?"
"Bila kau sudah tak mampu berjalan lagi, berbaring saja kau di sini dan tidur dulu sepuasnya!" sahut Siu Cing tertawa.
"Siapa bilang aku sudah tak kuat? Cuma perutku lapar sekali!" jawab Wan Poo.
"Tahanlah sebentar lagi. Di tengah pegunungan yang sepi tak bakal ada makanan lezat. Batu saja banyak sekali; kalau doyan, silakan saja kau kunyah batu-batu itu sebagai pengisi perut."
Sementara mereka sedang bergurau, mendadak dari kejauhan terdengar seseorang berteriak keras, "Susiok, cepat kemari, orangnya berada di sini." Hanya teriakan itu yang terdengar, sedang ucapan selanjutnya seperti terputus di tengah jalan, namun suara itu sangat dikenal.
Tergerak hati Siu Cing setelah mendengar teriakan itu. Cepat-cepat dia memberi tanda kepada Wan Poo sambil berseru, "Wan Tolol, ayo berangkat, kita segera mencari makanan." Mendengar ada makanan, si tolol Wan Poo segera merasakan semangatnya berkobar kembali. Sambil tertawa terbahak-bahak, ia segera mengerahkan tenaganya untuk mengejar di belakang rekannya.
Dua buah bukit kembali dilalui, kemudian setelah menelusuri sebuah hutan, akhirnya di bawah sebuah tebing dijumpai sebuah gua. Di depan gua itu terdapat air terjun yang sangat deras; air yang mengalir ke bawah mendatangkan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Di bawah air terjun itu terdapat telaga yang merupakan sumber dari Sungai Siau Keng Kang, berair amat jernih. Di sekitar telaga tumbuh pepohonan siong yang rindang dengan suasana hening; benar-benar sebuah tempat dengan pemandangan alam yang sangat indah menawan. Namun, suasana di sekitar situ amat sepi dan tak tampak bayangan seorang manusia pun.
Siu Cing merasa sangat keheranan setelah menyaksikan keadaan tersebut. Ia mencoba memperhatikan keadaan di sekitar sana dan semakin heran setelah mengetahui bahwa tempat itu merupakan lembah buntu yang dikelilingi tebing curam. Bentuknya persis seperti sebuah bejana, sehingga jalan keluarnya praktis hanya satu.
"Kalau didengar dari teriakan tadi, agaknya suara tersebut berasal dari tempat ini. Tapi heran, mengapa tak tampak bayangan manusia pun? Jangan-jangan orangnya sudah masuk ke dalam gua?"
Sementara dia masih berpikir, si tolol Wan Poo telah berteriak kembali, "Hei Kalajengking Kecil, bukankah kau berjanji untuk mencari makanan? Mana makanannya sekarang?"
Satu ingatan kembali melintas di benak Siu Cing. Dia segera menuding ke dalam gua sambil berkata, "Itu dia, berada di dalam gua. Ehm, sudah kuendus bau harumnya daging sapi masak ang siu. Aduh... harumnya."
Si Tendangan Geledek Wan Poo tidak menyangka kalau Siu Cing sengaja membohonginya. Dia mengira apa yang dikatakan memang betul, maka sambil tertawa lebar katanya, "Ya betul, aku pun sudah mengendusnya, agaknya seekor kijang yang lagi dipanggang." Sambil berkata, dia segera lari masuk ke dalam gua itu, bahkan mulutnya berkecap-kecap seperti sudah tak dapat menahan rasa laparnya lagi.
Dalam hati kecil, Siu Cing mengerti bahwa gua tersebut bukan tempat yang aman, maka dengan kesiapsiagaan tinggi ia mengikuti terus di belakang tubuh Wan Poo. Apa yang diduga ternyata benar. Belum sampai beberapa langkah mereka memasuki gua tersebut, mendadak terdengar suara dentingan lirih berkumandangan dari dinding batu sebelah depan. Sekalipun suara dentingan itu sangat lirih dan tak gampang didengar oleh orang awam, dengan ketajaman pendengarannya, Siu Cing dapat menangkap suara itu dengan amat jelas. Cepat-cepat dia berseru, "Engkoh Tolol, hati-hati!" Sambil berseru, dia segera menyelinap ke samping dan menyembunyikan diri di balik batu besar.
Dengan jelas sekali dia menyaksikan segumpal cahaya perak meluncur ke dinding sebelah bawah dengan kecepatan luar biasa. Si Tendangan Geledek Wan Poo adalah manusia tolol; dia tak tahu apa yang terjadi waktu itu. Ketika mendengar seruan Siu Cing, cepat-cepat dia membalikkan badannya seraya berseru, "Kalajengking Kecil, kau, hmm!" Belum habis perkataannya, benda tersebut telah menumbuk punggungnya dengan telak. Diiringi dengusan tertahan, tubuhnya segera terjungkal ke atas tanah.
Biarpun usia Siu Cing masih kecil, berhubung sudah banyak tahun mengembara di dunia persilatan ditambah sering diberi wejangan oleh gurunya, pengetahuan yang dimilikinya luas sekali. Dengan cepat dia mengenali senjata rahasia tersebut adalah *Kan khi san hoa* (hawa murni pembuyar bunga) yang merupakan senjata paling lihai dalam kalangan hitam. Tanpa sadar, sekujur badannya basah kuyup oleh keringat dingin saking kagetnya.
Perlu diketahui bahwa senjata rahasia semacam ini tak dapat dilontarkan dengan tenaga manusia, melainkan harus ditembakkan dengan tabung khusus yang dilengkapi pegas berkekuatan tinggi. Adapun segumpal cahaya perak tersebut terbuat dari lapisan baja yang mengandung puluhan jarum tajam. Apabila lapisan baja itu ditahan oleh hawa murni seseorang, maka benda itu akan meledak dan jarum tajam yang terkandung di dalamnya pun akan menyebar ke mana-mana serta melukai korbannya. Serangan macam ini paling susah untuk dihindari.
Untung saja si Tendangan Geledek Wan Poo memiliki tiga belas macam ilmu kebal yang hebat. Ditambah pula dia sedang membalikkan badannya dan segera roboh dengan cepat ketika tertumbuk, sehingga tubuhnya tak sampai terluka sedikit pun. Coba kalau ilmu kebalnya tidak terlatih dengan sempurna, dapat dipastikan dia akan terluka parah.
Siu Cing yang bersembunyi di balik batu diam-diam mengeluh melihat Wan Poo terjungkal ke tanah. Pikirnya, "Musibah yang dialami engkoh tolol kali ini sudah jelas gara-gara ulahku. Andaikata aku tidak bohong dan mengatakan gua itu ada hidangan lezat, tak mungkin dia akan menerobos masuk ke dalam gua secara sembrono."
Makin dipikir, dia merasa semakin sedih. Dia merasa dialah yang mengakibatkan orang lain celaka, dan dia merasa malu terhadap engkoh bodoh itu. Sementara dia masih menegur atas kesalahan sendiri, serangan senjata rahasia itu sudah habis. Tiba-tiba tampak si tolol Wan Poo merangkak bangun dari atas tanah dan lari ke arahnya sambil berteriak keras, "Kalajengking Kecil kau jahat, mengapa kau melepaskan lebah untuk menyengat badanku?"
Siu Cing merasa amat lega setelah mengetahui Wan Poo sama sekali tidak terluka. Cepat-cepat dia berseru, "Engkoh Tolol, apakah kau terluka?"
Wan Poo segera menghentikan langkahnya, meluruskan tangannya, dan membungkam seribu bahasa setelah mendengar pertanyaan itu. Untuk sesaat, ia hanya bisa mengawasi wajah Siu Cing dengan pandangan termangu. Dari atas sampai ke bawah, Siu Cing memeriksa seluruh badan Wan Poo dengan saksama. Ketika tidak menjumpai sesuatu cedera di tubuhnya, kembali dia berseru, "Engkoh Tolol, sebetulnya kau terluka tidak?"
Wan Poo memutar biji matanya berulang kali lalu menggeleng. "Hei Kalajengking Kecil, kau sedang main gila nampaknya. Bila kau tidak berbuat lebih jujur, hati-hati kalau kulaporkan kejadian kepada ayahmu!"
"Ngaco-belo!" bentak Siu Cing keras-keras.