Chapter 84
"Itu kan senjata rahasia orang. Ayo, cepat jawab, kau lupa atau tidak? Kalau ngoceh tidak karuan terus, jangan salahkan aku kalau kutinggalkan dirimu di sini."
Wan Poo tertawa nyaring, "Jangan lupakan aku, toh aku mempunyai ilmu kebal badan. Senjata lebah tersebut tak akan mampu melukaiku, badanku hanya terasa sedikit gatal."
"Jangan main-main, saudaraku yang tolol! Senjata rahasia itu merupakan senjata terhebat dari golongan hitam."
"Aku tidak takut dengan senjata rahasia, tubuhku ini kebal sekali."
"Tapi senjata rahasia itu hebat sekali dan khusus menghancurkan perlindungan tenaga murni seseorang."
"Aku pun tidak takut. Suhu telah berjaga-jaga terhadap keadaan semacam ini, karena itu beliau telah menghadiahkan sebuah sarung pelindung tubuh."
Diam-diam Siu Cing merasa amat terkejut, pikirnya, "Tak heran kalau dia sangat kebal, rupanya Ku supek telah menghadiahkan tameng Tou liong ka yang merupakan salah satu mestika dari dunia persilatan kepadanya. Dengan perlindungan mestika tersebut, jangan lagi senjata rahasia Kan Khi Jan Hoa, biarpun guntur pelenyap kesunyian, Ciu Miat Sin Lui, pun tak akan mampu melukainya."
Ketika menjumpai Siu Cing berdiam saja, Wan Poo mengira rekannya ini tak percaya. Cepat-cepat ia berkata lagi, "Kalajengking kecil, apakah kau tak percaya? Baiklah, akan kulepas untuk diperlihatkan kepadamu."
Seraya berkata, ia benar-benar bersiap sedia melepaskan pakaiannya.
"Tidak usah, tidak usah," cepat-cepat Siu Cing mencegah. "Aku percaya dengan perkataanmu itu, tapi masih beranikah kau memasuki gua ini?"
"Berani saja... cuma benarkah di sana ada makanan yang lezat?"
"Tentu saja ada! Apabila kau merasa takut, biar aku saja yang berjalan di muka."
"Tidak bisa, tidak bisa," buru-buru Wan Poo berseru lagi. "Siapa bilang aku takut? Biar aku yang berjalan di depan."
Selesai berkata, ia lantas membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam gua. Langkahnya begitu terburu-buru, seakan-akan khawatir kalau ada orang yang hendak merampas makanannya. Sebaliknya, Siu Cing tetap berjalan dengan langkah yang berhati-hati, siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Setelah melewati dinding batu itu, sepanjang perjalanan mereka tidak menjumpai serangan lagi, tapi Siu Cing tetap tak berani bertindak gegabah. Gua itu sangat besar, dalam, serta penuh dengan simpangan jalan yang mudah membuat orang tersesat. Jalan di dalam gua itu pun berputar seperti gasing, di mana bagian tersempit hanya bisa dilalui satu orang. Terutama sekali bagian tengah gua itu, udaranya sangat lembab dan tanahnya basah. Meskipun mereka berdua memiliki mata yang luar biasa, mereka hanya dapat melihat setitik bayangan hitam.
"Kalajengking kecil..." akhirnya tak tahan lagi Wan Poo berseru.
"Engkoh tolol, jangan keras-keras kalau berbicara," buru-buru Siu Cing memperingatkan. "Kalau sampai mengejutkan si empunya hidangan, jangan salahkan aku."
Wan Poo benar-benar memperkecil suaranya, kembali dia berkata, "Kalajengking kecil, kau benar-benar tidak membohongi aku? Betulkah di situ ada makanan lezat?"
"Kau toh punya hidung, masa tak dapat mendengus sendiri?" hardik Siu Cing cepat.
Wan Poo segera memasang hidungnya dan mencoba untuk mendengus di sekitar tempat tersebut, kemudian katanya, "Eeem... memang terasa juga, cuma kok baunya sedap?"
Hampir meledak gelak tawa Siu Cing sesudah mendengar perkataan itu. Buru-buru dia berkata lagi, "Kau betul-betul tolol, masa bau busuk atau harum pun tak dapat kau beda-bedakan?"
Di bawah ejekan dari Siu Cing, Wan Poo benar-benar tak bisa membedakan bau tersebut, busuk atau harum. Terpaksa ia pun melanjutkan kembali perjalanan.
Puluhan kaki kemudian, medan lorong guanya semakin melebar. Di mana-mana terlihat batu stalaktit dan stalagmit bergantungan di seluruh ruangan gua, bentuknya beraneka ragam dan indah dipandang. Selain itu, terdapat pula banyak lorong gua yang tersebar di sana sehingga membuat Siu Cing dan Wan Poo kehilangan jalan keluar. Untuk sesaat kedua orang itu masih berdiri kebingungan. Sebelum Wan Poo sempat mengucapkan sesuatu, mendadak dari kejauhan terdengar suara seorang wanita sedang tertawa terbahak-bahak, "Hahaha... haaa..."
Dengan perasaan tertegun, kedua orang itu segera berpaling ke arah asal suara tawa itu. Rupanya suara tersebut berasal dari balik gua ketujuh di sebelah kanan. Siu Cing segera memberi tanda kepada Wan Poo, kemudian dengan suatu gerakan cepat meluncur ke muka.
Setelah melalui pintu gua dan belok ke kanan, tiba-tiba dari depan muncul sebuah lorong yang panjangnya sepuluh kaki dan berdinding bening seperti kaca kristal. Kalau dari depan gua sampai tempat itu gelap gulita tidak tampak setitik cahaya pun, maka hanya di tempat ini saja suasananya terang benderang bagaikan di tengah hari. Maju lebih ke depan, tempat tersebut kembali berupa sebuah gua yang berbentuk bulat, dari situlah agaknya cahaya tersebut berasal.
Gelak tawa yang amat keras tadi kembali berkumandang dari balik gua tersebut. Bahkan kali ini suaranya terdengar jauh lebih keras, malah secara lamat-lamat kedengaran seperti ada orang sedang bertanya jawab. Kenyataan tersebut sudah barang tentu membuat Siu Cing merasa keheranan. Berada dalam keadaan seperti ini, bocah tersebut tidak berani bertindak gegabah; ia menyembunyikan diri lebih rapat lagi.
Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan sedang berkata, "Pangeran Serigalaku yang manis, kau harus mengerti, biar kau berteriak sampai suaramu serak, jangan harap ada orang yang tahu kalau kau berada di dalam gua ini!"
"Bila kau menginginkan kematianku hari ini, itu masalah mudah, tapi kalau menginginkan aku menyerah... hmmm... lebih baik tak usah bermimpi di siang hari bolong," suara seseorang menjawab dengan nyaring dan penuh bertenaga.
Siu Cing segera merasakan dadanya menjadi sesak dan hampir saja ia berteriak keras. Diam-diam pikirnya, "Aaah...! Rupanya Engkoh Giok berada di sini!"
Sambil berpekik di dalam hati, ia melangkah maju lebih ke depan lagi, kemudian mengintip dari celah-celah batu gua. Ternyata tempat itu merupakan sebuah ruangan gua yang luasnya delapan sampai sembilan kaki, semuanya dilapisi dengan batu kristal berwarna putih. Di atas langit-langit gua terdapat sebuah batu permata yang memancarkan sinarnya menerangi seluruh ruangan. Sinar tersebut amat lembut dan halus, sama sekali tidak menyolok mata.
Berbagai macam perabot berserakan di dalam ruangan gua itu. Semula ia mengira Pangeran Serigala yang disekap tentu dibelenggu oleh lawan sehingga sama sekali tak dapat bergerak. Namun, setelah menyaksikan apa yang tertera di depan mata, bocah itu benar-benar tertegun dan berdiri melongo.
Rupanya orang yang disekap di dalam gua itu bukan hanya Sik Tiong Giok seorang, melainkan Sin Cui, si nona yang binar itu pun telah disekap orang. Kedua orang itu duduk di atas tanah saling berhadapan. Sik Tiong Giok duduk membungkam sambil memejamkan matanya rapat-rapat, tampaknya sudah berada dalam keadaan lupa segalanya. Sebaliknya, Nona Sin Cui melototkan sepasang matanya seperti lagi mengumpat musuhnya, tapi entah mengapa tak sepatah kata pun yang kedengaran.
Di antara kedua orang itu berdiri seorang perempuan berdandan keraton yang memakai baju halus dan mewah. Dandanannya seperti seorang bidadari, dengan wajah yang cantik dan senyuman yang manis, ia sedang menuding kedua orang itu sambil mengolok-olok. Bila berada di hari-hari biasa, Siu Cing tentu sudah menerjang keluar dan melancarkan serangan mautnya ke arah lawan, tapi kali ini ia tidak berani bertindak gegabah, apalagi setelah menyaksikan Pangeran Serigala yang begitu tangguh pun berhasil dirobohkan lawan.
"Terserah bila kau enggan menyerah, tapi kau harus menyerahkan sebuah benda kepadaku sebelum kubebaskan."
Sik Tiong Giok tetap membungkam diri dalam seribu bahasa, bahkan matanya berkedip pun tidak, sedangkan Sin Cui kelihatan menggerakkan bibirnya seperti lagi mencaci maki, namun tak sepotong kata pun yang kedengaran.
Sambil tertawa terkekeh-kekeh, perempuan itu segera berkata, "Budak cilik, biar kau memiliki selembar bibir yang tajam, sayang sekali nampak sangat jelek bila tak kedengaran suaranya."
"Apakah kau telah menotok jalan darah bisunya?" belum habis ia berkata, Sik Tiong Giok telah membuka matanya sambil menegur.
Perempuan cantik itu tertawa, "Mulut si budak ini kelewat jahat. Kalau jalan darah bisunya tidak ditotok, ia pasti akan mencaci maki tak karuan."
"Bebaskan dulu jalan darah bisunya, akan kunasehati dia agar tak mengumpat lagi."
"Urusan tak akan semudah itu, kecuali kau memberitahukan jejak kotak wasiat Giok Hap Kui Siau. Kalau tidak... hm, kau sendiri pun jangan harap bisa bebas dari sini."
"Bukankah sudah kukatakan sejak tadi, kalau benda itu telah direbut oleh An Kiau Nio?"
"Aku tak akan percaya dengan perkataanmu itu!" bentak perempuan cantik itu dengan gusar. "An Kiau Nio hanya berhasil mendapat sepotong balok kayu."
"Kalau begitu, bisa jadi telah dibegal oleh bocah iblis langit, An Cun, di tengah jalan."
Perempuan cantik itu tampak tertegun setelah mendengar perkataan itu, lalu gumamnya, "Bocah iblis langit? Mengapa An Kiau Nio tidak menyinggung soal ini?"
"Siapa tahu kalau kedua orang itu memang berkomplot untuk menipu Nona..." sambung Sik Tiong Giok lebih jauh.
Perempuan cantik itu segera mendelik besar, "Huuh, ia berani? Majikan Ular, Pek Soh Cing, pun tak berani menipu nonamu, Thi Cu."
"Mau percaya atau tidak, terserah kepadamu sendiri. Yang jelas aku tak punya kotak wasiat apa pun. Bila ingin membunuh atau mencincang, silakan saja lakukan." Habis berkata, kembali ia pejamkan matanya rapat-rapat dan tidak berbicara lagi.