Chapter 85
Thi cu mengerdipkan matanya berulang kali, lalu ujarnya dengan suara dingin, "Baiklah, untuk sementara waktu aku percaya dengan perkataanmu itu, tapi bukan berarti aku akan membebaskan dirimu. Tunggu saja sampai urusan ini selesai kuselidiki hingga tuntas." Dalam pada itu, Wan Poo, si bocah dungu, berteriak secara tiba-tiba dengan suara keras, "Kalajengking kecil, kau ada di mana? Mengapa aku tidak menjumpai jalan keluarnya?" Biarpun Siu Cing dapat mendengar teriakan Wan Poo itu dengan jelas, dia tak berani menjawab.
Sebaliknya, Thi cu menjadi tertegun setelah mendengar teriakan itu. Dengan suatu gerakan cepat, dia membalikkan badan dan melompat keluar dari gua, langsung menuju ke arah asal suara teriakan tersebut.
Siu Cing merasa kesempatan baik ini tak boleh disia-siakan. Dengan suatu gerakan cepat, dia menyelinap ke dalam gua, lalu berbisik, "Engkoh Sik, Siu Cing telah datang. Siluman perempuan itu telah pergi, ayo cepat bangun." Sik Tiong Giok membuka matanya dan tertawa getir, "Saudara Siu, terima kasih atas jerih payahmu. Sayang sekali aku tak bisa bangkit berdiri, sebab bila aku mampu bangkit, semenjak tadi aku sudah angkat kaki dari sini."
"Mengapa demikian?" tanya Siu Cing dengan perasaan gelisah. "Apa jalan darahmu telah ditotok siluman perempuan itu? Baik, tunggulah sebentar, segera akan kubebaskan totokan jalan darahmu itu." Sambil berkata, dia pun bersiap sedia untuk menghampiri Sik Tiong Giok.
Mendadak Sik Tiong Giok membentak keras, "Berhenti!" Siu Cing segera menghentikan langkahnya, kemudian berseru dengan wajah tercengang, "Engkoh Sik, mengapa sih?"
"Siluman perempuan itu telah menaburkan bubuk racun penghancur tulang di sekitar tempatku berada seluas tiga depa. Siapa saja yang tersentuh bubuk beracun itu maka daging dan tulangnya akan hancur dan berubah menjadi segumpal air kuning. Oleh sebab itu, lebih baik kau mundur saja dari sini." Tak terlukiskan rasa kaget Siu Cing setelah mendengar keterangan itu, dengan cepat dia melayangkan pandangan matanya ke atas tanah.
Benar juga, di atas permukaan tanah memang sudah ditaburi selapis bubuk berwarna hijau muda. Jaraknya hanya satu depa di hadapannya; itu berarti bila dia maju setengah langkah lagi, maka kakinya akan menginjak bubuk beracun itu.
Dengan perasaan terperanjat, cepat-cepat pemuda itu melompat lima depa ke belakang, lalu berseru dengan tertegun, "Engkoh Sik, benarkah bubuk beracun itu begitu hebatnya?" Sik Tiong Giok kembali menghela napas panjang, "Aaai, andaikata tidak hebat, mana mungkin bubuk tersebut dapat menyekapku di sini..." Belum selesai dia berkata, tiba-tiba terdengar seseorang berseru keras, "Bocah tolol, ke mana larinya ilmu tendangan geledek yang kau latih?" Begitu mendengar seruan tersebut, Siu Cing segera berseru dengan perasaan terkejut bercampur girang, "Aman sudah sekarang, Paman Cebol pun telah datang kemari. Tunggulah sebentar, biar kucari dia agar mengusahakan suatu cara yang baik." Dengan cepat dia membalikkan badan dan lari keluar.
Sementara itu, terdengar suara Wan Poo sedang berteriak keras, "Perempuan ini berputar terus mengitari badanku, bagaimana mungkin aku bisa menendangnya?" Terdengar kakek cebol segera membentak keras, "Kau betul-betul seorang yang amat tolol, kau toh bisa menendang batuan tersebut?" Rupanya sewaktu keluar dari lorong tadi, Siu Cing keluar lebih dahulu dan Wan Poo terlambat selangkah sehingga dia salah memasuki jalan cabang lainnya. Dengan begitu, dia terkurung dalam sebuah barisan batu kerikil yang bertumpuk-tumpuk.
Akibatnya, dia menjadi tersesat dan tak mampu keluar dari situ lagi. Wan Poo telah berusaha untuk meloloskan diri, namun semua usahanya menemui kegagalan total. Di dalam gelisahnya dengan keringat bercucuran, dia pun mulai berteriak-teriak memanggil si Kalajengking Kecil.
Siapa tahu teriakannya itu justru memancing kehadiran perempuan iblis tersebut. Perempuan berbaju perlente ini sesungguhnya adalah murid dari Tok Sim Siancu (Dewi Berhati Racun) Yu Siang atau guru dari Tong Tiang Ngo Yan (Lima Walet dari Telaga Tong Ting) yang bernama perempuan iblis Thi cu.
Jangan dilihat usianya masih kelihatan sangat muda, padahal umurnya waktu itu sudah mencapai lima puluh tahunan.
Perempuan iblis Thi cu tersebut bukan saja menjagoi dunia persilatan dengan mengandalkan bubuk beracun penghancur tulang, dia pun memiliki sejenis ilmu silat maha dahsyat yang sanggup membetot sukma dan menguasai pikiran.
Betapapun lihainya tenaga dalam yang dimiliki seseorang, apabila namanya sempat kena disebut tiga kali olehnya, niscaya pikiran dan kesadarannya menjadi terpengaruh dan serta-merta korban akan menuruti semua perintahnya tanpa membantah.
Satu-satunya cara untuk memecahkan ilmu kepandaian tersebut adalah tidak menyahut apabila dipanggil. Dengan begitu, kendatipun dia akan berteriak dengan suara macam apa pun, korbannya tak akan terpengaruh bila tidak menggubris.
Wan Poo yang bodoh tentu saja tak menduga akan kelihaian musuhnya itu. Ketika menyaksikan datangnya seorang perempuan cantik secara mendadak, ia segera berteriak lebih dahulu, "Perempuan ayu, apakah Kalajengking Kecil yang menyuruh kau datang kemari? Tempat ini benar-benar menawan hati, cepatlah ajak aku keluar dari sini." Thi cu, si perempuan iblis itu, sama sekali tidak menjawab. Diawasi pemuda tolol itu sekejap, lalu dengan mengerahkan ilmu gerakan tubuhnya yang sempurna, dia berputar mengitari tubuh pemuda tersebut sampai tujuh-delapan kali, kemudian setelah berhenti baru ujarnya dengan suara dingin.
"Hey pemuda tolol, siapa namamu?" Wan Poo tidak ambil pusing apakah dia sedang dimaki orang sebagai pemuda tolol atau tidak. Ditambah lagi hatinya sudah jengkel karena terlalu lama terkurung di sana, maka sambil melotot besar penuh amarah, segera teriaknya, "Hey perempuan ayu, sebetulnya kau bersedia mengajak aku keluar dari sini atau tidak?"
"Asal kau bersedia memberitahukan namamu, aku pasti akan mengajakmu keluar dari situ, kalau tidak akan kubiarkan kau terkurung sampai mampus di situ." Biarpun Wan Poo kelihatan agak ketolol-tololan, sesungguhnya hal ini disebabkan karena kejujuran serta kepolosan hatinya, jadi bukan berarti otaknya begitu bebal sehingga tak bisa memikirkan apa-apa.
Tatkala menjumpai sikap musuhnya yang dingin dan angkuh, pemuda itu segera berpikir, "Hmm, bila aku enggan menyebutkan namaku, apa pula yang bisa kau perbuat?" Berpikir sampai di situ, dia pun menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menutup mulut rapat-rapat, sementara sepasang matanya yang melotot besar mengawasi lawan tanpa berkedip.
Perempuan iblis Thi cu sama sekali tidak menyangka kalau pemuda yang nampaknya ketolol-tololan tersebut ternyata begitu cekatan dan waspada. Dia segera mengerdipkan matanya berulang kali, lalu pikirnya di dalam hati, "Baiklah, akan kusekap dulu bocah muda ini dengan bubuk beracun penghancur tulang." Dengan suatu gerakan cepat kembali dia bergerak mengitari pemuda tersebut.
Wan Poo tidak paham apa gerangan yang sedang dilakukan lawannya. Melihat perempuan itu berputar, dia pun segera ikut berputar, tapi baru beberapa kali putaran saja ia sudah mulai pusing dan pandangan matanya berkunang-kunang.
Di saat yang kritis inilah terdengar suara kakek cebol memberi petunjuk padanya agar menendang dengan kaki. Semula dia mengira tendangannya tak mengena karena lawan berputar terlalu cepat, tapi kemudian kakek cebol kembali menyuruhnya menendang batu.
Wan Poo memang bodoh di luar, cerdik di hati. Sekali berpikir saja ia sudah memahami maksudnya; bila barusan batu itu sudah terhajar hancur, bukankah secara otomatis dia dapat lolos pula dari kurungan tersebut? Maka dia segera menghimpun seluruh tenaga dalam yang dimilikinya, lalu sambil merendahkan badan, sepasang kakinya mulai melancarkan sapuan-sapuan berantai.
Sebaliknya Thi cu, yang mendengar ada orang memberi petunjuk kepada Wan Poo secara diam-diam, lalu melihat pula cara Wan Poo melancarkan tendangannya, dalam hati kecilnya ia pun berpikir, "Hmm, akan kulihat sampai di manakah kehebatan ilmu tendanganmu itu, memangnya bisa menghancurkan tumpukan batuan cadas tersebut? Huuh, sekali kau terkena bubuk racunku, baru tahu rasa nantinya..." Siapa tahu belum habis ingatan tersebut melintas lewat, mendadak terdengar suara ledakan keras yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan.
"Blaaammm!" Menyusul tendangan dari Wan Poo itu, batu cadas beterbangan ke empat penjuru. Batu-batu yang terkena tendangan tadi segera menumbuk dinding gua dan hancur berantakan ke mana-mana, keadaannya sungguh mengerikan hati.
Akibatnya, gerakan tubuh Thi cu menjadi termangu dan semakin melamban, malah beberapa kali hampir saja tubuhnya tertimbun oleh hancuran dinding gua yang roboh menimpa dirinya.
Tiba-tiba terdengar kakek cebol berseru lagi, "Hey bocah tolol, ayo cepat keluarkan ilmu tendangan simpananmu..."
"Kakek cebol, apakah kau maksudkan ilmu tendangan geledek Kan Khi Luitui?" tanya Wan Poo.
"Kalau bukan tendangan api guntur, memangnya kau anggap panggangan kaki babi?"
"Tapi suhuku pernah berpesan, ilmu tendangan tersebut tak boleh digunakan pada sembarangan tempat," kata Wan Poo ragu-ragu.
"Bila suhumu marah, biar aku yang menanggung, ayo cepatan sedikit." Belum selesai perkataan itu diucapkan, rupanya Thi cu berhasil menemukan tempat persembunyian dari si kakek cebol. Dengan suatu gerakan cepat, dia melepaskan ikatan rambutnya dan berpekik amat keras.
Suara pekikan itu tinggi melengking dan amat menusuk pendengaran, membuat siapa saja yang mendengarkan segera merasakan darah yang mengalir dalam tubuhnya serasa mendidih.
Menyusul pekikan tersebut, kembali terjadi perubahan yang luar biasa, suasana di sekeliling tempat itu seperti berubah menjadi menyeramkan dan menggidikkan hati sehingga membuat bulu kuduk siapa saja yang berada di situ sama-sama pada bangun berdiri.
"Kongsun Swan... Kongsun Swan!" teriakan memanjang bergema menyusul suara pekikan tadi.