Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 86

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 86

Suasana di dalam gua tersebut mengalami perubahan drastis. Keadaan yang menyeramkan dan membuat hati berdebar-debar itu menciptakan suasana yang amat tidak tenang.

Wan Poo tertegun sejenak, apalagi setelah menyaksikan mimik wajah Thi Cu yang begitu aneh dan menyeramkan. Ia segera menggaruk-garuk kepalanya sambil berpikir, "Aneh betul, entah apa yang sedang dilakukan perempuan ayu itu. Sungguh tak sedap dipandang." Dalam pada itu, kakek cebol yang bersembunyi di balik gua sudah gemetar hebat. Apalagi sesudah mendengar teriakan yang beberapa kali memanggil namanya, wajahnya menjadi pucat pasi, hatinya berdebar, dan anggota badannya lemas tak bertenaga.

Saat itu, ia hanya mampu melototkan mata, membuka lebar mulutnya, dan berteriak dengan paksa, "Bocah tolol, ayo cepat menendang!" Belum selesai perkataan itu diucapkan, orangnya sudah roboh tak sadarkan diri dan melingkar di dalam liang gua seperti ulat bulu yang mati kedinginan.

Wan Poo masih termangu selama beberapa saat. Mendadak ia melotot besar. Seakan-akan terdorong oleh suatu kekuatan besar, tiba-tiba saja ia melepaskan sebuah sapuan kilat dan berseru sambil tertawa tergelak, "Perempuan ayu, sekarang kau sudah tidak berputar lagi, lihat tendanganku!" Biarpun pemuda tolol itu berseru lebih dulu sebelum melancarkan tendangannya, Thi Cu sama sekali tidak menduga kalau lawannya akan berbuat demikian.

Menanti keadaan sudah tidak beres, segulung kekuatan yang maha dahsyat telah bergulung ke arah tumpukan batuan cadas. Thi Cu amat terperanjat setelah menyaksikan keadaan ini. Dengan gelagapan, ia memutar sepasang tangannya untuk menahan serangan maut tersebut; maksudnya ia hendak membendung ancaman lawan sambil berusaha mencari peluang untuk mengundurkan diri dari sana.

Siapa sangka, dalam keragu-raguan tadi, bukan saja serangan itu tidak berhasil dibendung olehnya sehingga hancuran batu menyebar ke mana-mana dengan menimbulkan suara keras, bahkan perempuan itu menderita kerugian besar dan kelabakan setengah mati. Karena kurang berhati-hati atau mungkin bersikap terlalu gegabah, sebuah hancuran batu cadas menghantam paha kirinya keras-keras. Perempuan iblis itu segera menjerit kesakitan, lalu membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit.

Melihat kejadian ini, Wan Poo segera tertawa terbahak-bahak. Ia berseru keras, "Haah... haaah... haaah... perempuan itu sudah kabur terkena tendanganku." Belum habis teriakan itu, tiba-tiba tengkuknya sudah dihantam orang keras-keras. Menyusul kemudian terdengar seseorang menegurnya dengan suara nyaring, "Kau benar-benar tolol. Sekalipun berhasil mengusir perempuan itu, kau telah menyiksa Paman Guru Cebol. Hmm, tunggu saja nanti, akan kuminta kepada Dewa Guntur untuk menghukummu!"

Dengan perasaan terkejut, Wan Poo berpaling. Ketika menjumpai orang itu adalah Siu Cing, ia segera mendelik sambil berseru dengan penuh amarah, "Kalajengking kecil, aku ini Suheng-mu, masa kau memukulku?"

"Hmm, terhadap manusia yang tidak setia kawan dan tidak berbakti seperti kau, setiap orang pantas menghajarmu."

"Tapi kesalahan apa yang telah kuperbuat?"

"Kau telah mencelakai Paman Guru Cebol sampai mampus. Coba katakan sendiri, kau pantas dihukum atau tidak?"

Wan Poo segera menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil berkata, "Hei, kau jangan bicara sembarangan. Kalau sampai ketahuan guruku, dia tentu akan membakarku sampai mati."

"Siapa yang bicara sembarangan? Coba kau lihat sendiri, bukankah Paman Guru Cebol telah mati di tanganmu?"

"Tapi di manakah orangnya sekarang?" tanya Wan Poo keheranan. "Bayangan tubuhnya saja tidak kelihatan, bagaimana mungkin aku bisa mencelakai jiwanya?"

"Baiklah," kata Siu Cing kemudian sambil mengerdipkan matanya berulang kali, "ayo cepat ikuti aku!" Selesai berkata, ia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi, sedangkan Wan Poo mengikuti di belakangnya dengan wajah termangu.

Setelah menerobos tumpukan demi tumpukan batu cadas, akhirnya sampailah mereka di dalam sebuah liang gua berbatu. Ketika menyaksikan keadaan di dalam gua tersebut, Wan Poo segera berseru sambil tertawa, "Aah, kenapa Paman Guru Cebol berubah menjadi seekor ulat berbulu yang sedang melingkar?"

"Huh, kau masih bisa bergurau?" bentak Siu Cing. "Andaikata kau sudah melancarkan tendangan sebelum perempuan siluman itu menjerit-jerit tadi, Paman Guru Cebol tak akan berubah menjadi begini rupa."

Wan Poo segera menggoyangkan kepalanya berulang kali, kembali ia berkata, "Kalajengking kecil, bagaimana sekarang?"

Dengan kening berkerut, Siu Cing berpikir beberapa saat. Tiba-tiba ia mendapat akal. Ditariknya tangan Wan Poo lalu dibisikkannya, "Ayo berangkat, ikuti aku dulu. Yang penting sekarang kita harus menolong Engkoh Sik terlebih dahulu!" Biarpun Wan Poo berperawakan tinggi besar, ia bisa ditarik sampai terhuyung oleh Siu Cing dan terseret menuju ke gua tempat Sik Tiong Giok terkurung.

Sik Tiong Giok menjadi amat keheranan setelah melihat Siu Cing muncul kembali sambil menyeret Wan Poo. Dengan wajah tercengang, ia segera menegur, "Saudara Siu, mau apa kau datang kemari?"

"Kami datang untuk menolongmu," jawab Siu Cing sambil tertawa. "Engkoh bodoh, cepat angkut ke mari batuan cadas yang berhasil kau rontokkan tadi."

Wan Poo segera membalikkan badan dan lari keluar gua setelah mendengar perkataan itu. Tak selang berapa saat kemudian, dari kejauhan berkumandang suara gemuruh yang amat keras. Siu Cing segera tertawa. "Saudara perguruanku yang tolol sedang mengangkuti batu kerikil; tentunya dia sedang menyepak batuan tersebut dengan tendangan mautnya."

"Masa mengangkuti batu pun tidak pakai tangan tapi menggunakan kaki?" kata Sik Tiong Giok sambil tertawa.

"Dia memang sudah terbiasa memakai kaki. Selain bersantap menggunakan tangan, rasanya pekerjaan yang lain hampir total menggunakan kakinya."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tampak batu gunung yang besar satu per satu menggelinding langsung menumbuk ke arah gua tempat Sik Tiong Giok sedang duduk. Tanpa menggerakkan posisi duduknya, tahu-tahu Sik Tiong Giok sudah melejit ke tengah udara. Ia menggerakkan badannya dengan lincah untuk melompat ke atas batu, dari situ ia melejit kembali dan meluncur keluar dari gua.

Setibanya di luar gua, pemuda itu baru menarik napas sambil berbisik pelan, "Ooh, sungguh berbahaya!" Sementara itu, Siu Cing ikut melejit pula ke tengah udara. Lalu, dengan gerakan 'elang sakti menangkap kelinci', ia menyambar tengkuk Nona Sin Cui dan segera dilontarkan ke arah Sik Tiong Giok keras-keras.

"Engkoh Sik, sambutlah tubuhnya!" bentaknya. Sedang ia sendiri berjumpalitan pula di tengah udara dengan jurus Naga Sakti Berjalan di Angkasa, tubuhnya meluncur keluar dari gua dengan tak kalah gesitnya.

Baru saja tubuhnya melayang turun ke atas tanah, mendadak sebuah batu cadas meluncur datang lagi dengan membawa desingan angin tajam. Untung Sik Tiong Giok bertindak cepat dan menarik Siu Cing sehingga menyingkir jauh beberapa depa dari posisi semula.

"Blaammm...!" Benturan keras menggelegar memecahkan keheningan. Batuan cadas itu tahu-tahu sudah menumbuk di atas batuan cadas yang lain. Seketika itu juga hancuran batu menyebar ke empat penjuru dengan membawa suara desingan tajam yang menggidikkan hati. Begitu cepat peristiwa tersebut berlangsung sehingga tak sempat bagi beberapa orang itu untuk menghindarkan diri.

Dengan perasaan terkejut, Siu Cing melejit ke udara, lalu bagaikan seekor burung walet meluncur keluar dari gua. Sementara itu, si tolol Wan Poo sedang menyepak batu-batu dengan santai. Lagaknya macam orang sedang bermain-main, tapi seperti juga sedang berlatih ilmu, rupa-rupanya ia sudah melupakan ketiga orang yang masih berada di dalam gua.

Waktu itu, baru saja ia berhasil menendang sebuah batu cadas yang amat besar ke arah mulut gua sambil tertawa terbahak-bahak. Serunya, "Haa haaahh haaaah... tendanganku benar-benar amat jitu, coba lihat dengan tendanganku yang ini!"

Namun, belum lagi tendangannya dilancarkan, tahu-tahu tengkuknya telah ditabok orang keras-keras. Menyusul kemudian terdengar Siu Cing membentak keras, "Bocah tolol, apakah kau belum puas Susiok Cebol sudah kau celakai, sekarang ingin mencelakai pula kami dengan batu cadas?"

Wan Poo tertegun lalu memandang sekejap wajah Siu Cing, serunya agak mendongkol, "Kalajengking kecil, mengapa kau selalu memperolok-olok diriku?"

"Hmm, siapa suruh kau membandel terus? Kau anggap menolong orang pun seperti permainan kanak-kanak?" hardik Siu Cing dengan tak kalah gusarnya.

Sementara kedua orang itu masih cekcok sendiri, Sik Tiong Giok bersama Sim Ciu telah memunculkan diri pula di situ. Segera ia berujar kepada Siu Cing sambil tertawa, "Saudara Siu, tak usah cekcok lagi, lebih baik tinggalkan tempat ini secepatnya."

"Susiok Cebol terluka parah di dalam liang gua, apakah kita harus berpeluk tangan belaka?"

"Apa?" seru Sik Tiong Giok terkejut. "Apakah Susiok Cebol pun telah datang? Dia berada di mana sekarang?"

"Berada di dalam liang gua sana. Ayo berangkat, kita tengok keadaannya, siapa tahu Engkoh Sik punya ide untuk menolongnya."

Mereka berempat segera berangkat menelusuri batuan kerikil menuju ke liang gua tersebut. Ketika tiba di tempat tujuan dan memandang ke arah liang gua tersebut, seketika itu juga semua orang dibuat tertegun. Ternyata si kakek cebol yang semula tergeletak melingkar di dalam liang gua tersebut, kini sudah hilang lenyap tak berbekas.

"AAAH..." Siu Cing segera berseru kaget, "tadi Susiok Cebol menderita luka dalam yang cukup parah, mengapa ia bisa lenyap tak berbekas?"

"Luka dalam apa sih yang dideritanya?" tanya Sik Tiong Giok.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment