Chapter 87
"Ia terpengaruh oleh irama sesat dari siluman perempuan itu sehingga tidak sadarkan diri."
"Kalau dugaanku tak salah, siluman perempuan itu pasti muncul kembali setelah kabur tadi," sela Sim Cui tiba-tiba, "lalu menggunakan kesempatan saat kita tidak siap, dia telah menculik susio cebol."
Sik Tiong Giok termenung sejenak, lalu tiba-tiba ia bertepuk tangan sambil berseru, "Betul, ayo kita kejar secepatnya!" Begitu selesai berseru, ia segera kabur lebih dulu keluar dari gua itu, disusul oleh Siu Cing dan yang lainnya. Tidak selang berapa lama kemudian, mereka berempat sudah berada di luar gua.
Belum sempat keempat orang itu berhenti berlari, tiba-tiba dari kejauhan tampak serombongan kuda berlarian cepat menerobos hutan. Ketika pemimpin rombongan itu mengayunkan tangan kirinya, para penunggang kuda tersebut segera menyebar membentuk setengah lingkaran dan mengepung Sik Tiong Giok beserta rombongannya di muka gua.
Waktu itu sudah menjelang senja. Tujuh hingga delapan buah lentera telah disulut untuk menerangi sekeliling tempat itu. Suasananya terasa amat menyeramkan dan menggidikkan hati, terutama karena kawanan manusia tersebut mengenakan topeng kulit serigala.
Biarpun Sim Cui adalah seorang gadis yang bernyali besar, ia belum pernah mengalami kejadian seperti ini seumur hidupnya. Ia segera mendekati Sik Tiong Giok dan berbisik, "Makhluk aneh apa mereka itu?"
"Jangan takut, mereka hanya manusia-manusia bengis dari Siu Le Pang. Jika bertarung nanti, kau pun tak perlu sungkan lagi terhadap mereka." Sim Cui mengangguk dan mundur ke belakang, lalu mengawasi kawanan makhluk aneh itu dengan menggenggam gagang pedangnya erat-erat, bersiap sedia untuk melancarkan serangan kapan saja.
Pemimpin dari rombongan manusia bertopeng serigala itu segera memacu kudanya ke depan, lalu berteriak keras, "Sik Tiong Giok, akan kulihat kau dapat kabur ke mana lagi hari ini!"
Sik Tiong Giok memperhatikan sekeliling tempat itu sejenak, lalu mendengus dingin setelah tertawa terbahak-bahak. "Orang bermarga Cu, tak usah berlagak macam setan di hadapanku. Sekalipun kau mengenakan kulit harimau, jangan harap bisa membuat kami ketakutan."
Ternyata pemimpin rombongan tersebut adalah Rasul Serigala, Cu Bu Ki. Ia tertawa terbahak-bahak mendengar teguran itu, lalu berkata dengan lantang, "Bocah keparat, tak disangka kau memiliki ketajaman mata yang mengagumkan!"
Sik Tiong Giok tersenyum. "Itu belum seberapa. Sekalipun sang kelinci liar berperawakan tinggi besar, masa aku harus menganggapnya sebagai unta?"
Cu Bu Ki mendengus dan melepaskan sarung tangan kulitnya, kemudian berkata dingin, "Mengingat kita masih sesama saudara seperguruan, aku tidak ingin cekcok dengan saudara sendiri..."
"Huh, tidak disangka kau masih bermuka tebal berani mengucapkan perkataan tersebut! Siapa yang bersaudara seperguruan denganmu? Tidak tahu malu!"
Tiba-tiba Cu Bu Ki mengubah sikapnya seratus delapan puluh derajat, sambil tersenyum ia berkata, "Sekalipun kau tak mengakui aku sebagai suheng-mu, bagaimanapun juga kau masih terhitung adik seperguruan."
Sik Tiong Giok membentak keras, "Tutup mulut! Jika kau mengaku sebagai anggota perguruan Thian Long Bun, ayo segera menyerahkan diri dan ikut aku menjumpai Suhu..."
"Coba kau terangkan dulu, di mana Suhu berada? Apa salahnya jika aku menuruti kemauanmu untuk menghadapnya?"
"Dia..." Mendadak Sik Tiong Giok merasa telah salah bicara, cepat-cepat ia berseru, "Soal ini tak usah kau tanyakan, asal kau mengaku salah, aku dapat membawamu ke sana."
Cu Bu Ki mengerutkan kening. Dalam hatinya ia merasa kagum atas kecerdasan Sik Tiong Giok. Ia tahu pemuda tersebut tidak bisa ditipu, maka sambil mengisyaratkan tangan kepada kawanan manusia serigala itu, ia berseru lantang, "Kepung rapat-rapat bocah-bocah keparat ini, jangan lepaskan seorang pun dari mereka!"
Baru selesai ia berkata, dari sisi kiri terdengar seseorang berseru keras, "Pangcu memberi perintah untuk mengepung rapat-rapat sekeliling tempat ini! Jangan lepaskan siapa pun, yang melanggar perintah akan dibunuh!" Suara derap kuda yang ramai kembali memecahkan keheningan, sementara lingkaran kepungan semakin menyusut.
Sik Tiong Giok tertawa dingin, sambil berpaling ke arah Siu Cing dan yang lainnya ia berkata, "Hari ini kita akan beradu jiwa. Semoga saja kita semua berhasil lolos dari kepungan. Jika ada yang berhasil kabur, tak usah menunggu yang lain, segeralah berangkat ke Pay Lau San, kita bertemu lagi di sana."
"Baik, biar aku yang bertarung pada babak pertama," seru Wan Poo sambil tertawa keras. Baru selesai berkata, sepasang kakinya mulai bergerak.
Hembusan angin puyuh yang sangat keras diiringi suara gemuruh yang memekikkan telinga segera memenuhi angkasa. Angin kencang bercampur hancuran batu gunung bagaikan sapuan ombak samudera, langsung menyambar kawanan manusia serigala itu. Dalam waktu singkat, suasana menjadi kacau dan barisan kepungan lawan menjadi kocar-kacir. Jeritan manusia dan pekikan kuda bergema susul-menyusul.
Rasul Serigala yang memegang komando terperanjat, "Kepandaian apakah yang dimiliki bocah keparat ini? Benar-benar sepasang kaki yang amat lihai."
Sementara itu, Wan Poo masih mengayunkan tendangannya berulang kali, serunya sambil tertawa, "Dugaanmu benar. Kepandaian silat yang kuandalkan adalah sepasang kaki." Saat itu juga, tiga orang musuh terjatuh dari atas kuda.
Melihat keadaan tersebut, Rasul Serigala Cu Bu Ki tidak berdiam diri. Ia melompat ke udara dan melarikan diri ke dalam hutan, sementara kawanan manusia serigala lainnya sudah lari pontang-panting menyelamatkan diri.
Menyaksikan itu, Sik Tiong Giok berteriak, "Saudara Cu, mari kita terjang keluar dari kepungan dengan mengikuti di belakang Suheng." Maka sambil meneruskan perjalanan, Wan Poo menendang batuan cadas di sana hingga beterbangan dan meluncur ke dalam hutan.
Makin lama Wan Poo semakin bersemangat, tiba-tiba ia berteriak, "Benar-benar puas aku menendang. Hei, Kalajengking Kecil, bagaimana denganmu?"
Mereka semakin dalam memasuki hutan hingga suasana menjadi gelap dan batuan pun habis ditendang. Wan Poo kembali berteriak, "Kalajengking Kecil, bagaimana sekarang? Sudah tak ada batu lagi untuk ditendang."
"Kau memang sangat tolol, kalau batunya habis, apakah kau tidak bisa menendang pohon?" hardik Siu Cing.
Belum habis ucapan itu, tiba-tiba seseorang menyambung sambil tertawa, "Di dalam hutan ini paling tidak terdapat selaksa batang pohon. Akan kulihat seberapa besar kepandaian yang kalian miliki sehingga dapat menumbangkan semua pepohonan tersebut."
"Cu Bu Ki," Sik Tiong Giok membentak keras, "jika punya nyali, tampilkan dirimu! Mari kita bertarung mati-matian untuk menentukan siapa yang lebih unggul."
Cu Bu Ki yang berada di kegelapan segera menyahut sambil tertawa nyaring, "Binatang kecil, kalian sudah terjebak ke dalam perangkapku, tidak perlu aku mesti turun tangan. Jangan harap seorang pun di antara kalian bisa meloloskan diri."
Sebelum Sik Tiong Giok menyahut, Sim Cui sudah tidak sanggup menahan diri. Sambil mempersiapkan sepasang pedangnya, ia membentak keras, "Belum tentu!"
Bersamaan dengan bentakan tersebut, tubuhnya meluncur ke depan diiringi dua gulung cahaya tajam. Menjumpai gadis itu dalam bahaya, timbul perasaan khawatir dalam hati Siu Cing. Ia segera membentak nyaring dan menyusul dari belakang. Sik Tiong Giok pun tak tinggal diam; ia segera berkelebat ke depan dan menyusup ke sebelah kiri.
Dalam waktu singkat, hutan tersebut dipenuhi suara bentakan, cacian, serta senjata yang saling beradu. Sementara itu, Rasul Serigala Cu Bu Ki sama sekali tidak turun tangan. Secara diam-diam ia mengawasi situasi dengan rasa girang dalam hatinya, "Akan kulihat apakah kalian mampu menembus kepunganku ini."
Tak lama kemudian, suara pertarungan mereda, bahkan suara Wan Poo yang menendang pohon pun berhenti. Hal ini menimbulkan perasaan heran dalam hati Cu Bu Ki. "Jangan-jangan mereka sudah melarikan diri? Tapi mustahil secepat ini. Lalu, ke mana perginya orang-orang yang kubawa? Mengapa tak satu pun kelihatan?"
Semakin dipikir, ia merasa semakin cemas. Cu Bu Ki menghimpun tenaga dalam, melompat keluar dari balik pohon besar, lalu melayang turun ke tanah. Baru saja kakinya menapak, sesosok bayangan manusia menerjang ke arahnya.
Cu Bu Ki tidak tahu siapa yang datang atau seberapa tinggi kepandaian silat orang itu. Buru-buru ia mengeluarkan jurus 'Serigala Menelan Setan Sial', sebuah serangan yang merupakan salah satu dari dua belas ilmu cacad dari Perguruan Serigala Langit yang paling keji. Begitu serangan dilontarkan, tubuhnya berputar kencang dan menyelinap ke belakang bayangan hitam tersebut.