Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 88

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 88

Namun, sungguh aneh, biarpun bayangan hitam itu sudah termakan oleh serangannya yang ganas, bukan saja tidak bersuara, bahkan gerakan tubuhnya sama sekali tak berhenti dan terus menerjang ke hadapannya. Baru sekarang Cu Bu Ki merasa kalau keadaan kurang beres. Dengan suatu gerakan cepat, dia maju ke muka dan menyambar ikat pinggang orang tersebut. Begitu jari tangannya menyentuh manusia itu, dia terkejut sebab tubuh itu sudah menjadi kaku. Apalagi setelah melihat jelas raut wajah orang tersebut, hawa amarahnya semakin memuncak. Ternyata orang itu adalah seorang pembantu andalannya yang bernama Shantung Ta Sha (Tikus Pencuri dari Shantung), Cu Goan Hoa.

Sewaktu tubuhnya dilemparkan ke udara tadi, sesungguhnya ia sudah ditotok jalan darahnya. Apalagi sekarang sudah termakan oleh pukulan Cap Ji Jiak Jiu dari Cu Bu Ki, tentu saja selembar nyawanya tidak dapat diselamatkan lagi. Dalam kagetnya, Cu Bu Ki sadar kalau ada orang yang sedang mengganggunya. Ia semakin tak berani berayal lagi. Sambil menekan hawa amarahnya, ia meluncur ke depan mengikuti arah datangnya tubuh Cu Goan Hoa tersebut. Baru saja tubuhnya melayang dan hinggap di atas tanah, dari balik kegelapan malam kembali terdengar suara orang sedang tertawa dingin.

Cu Bu Ki membalikkan tubuhnya dengan kecepatan tinggi. Tampak sesosok bayangan manusia hitam menyelinap ke belakang sebatang pohon besar. Tanpa sangsi lagi, Cu Bu Ki segera mengeluarkan ilmu gerakan tubuh Kelitan Serigala untuk menyusul pula ke belakang pohon itu. Biarpun gerakan tubuh dari bayangan hitam itu cepat, namun tidak secepat ilmu Kelitan Serigala. Begitu melihat musuh mendesak datang dan agaknya dia tahu kalau tak sempat menghindar lagi, orang itu celingukan kian kemari berusaha untuk mencari peluang guna meloloskan diri.

Waktu itu Cu Bu Ki telah mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan sambil mengejek, "Hmmm, memangnya kau akan mampu untuk meloloskan diri dari tempat ini?"

"Tentu saja mampu!" jawaban nyaring kembali menggema.

Bersamaan dengan bergemanya ucapan tersebut, tiba-tiba saja bayangan hitam itu memisahkan diri menjadi dua. Bayangan yang berada di belakang segera menyelinap ke tempat kegelapan, sebaliknya orang yang berada di muka justru maju ke depan serta menyongsong datangnya serangan bacokan dari Cu Bu Ki. Melihat hal ini, Cu Bu Ki mengerti bahwa dia akan tertipu lagi bila meneruskan serangannya. Tak bisa disangkal lagi, orang yang akan dihantamnya sekarang sudah pasti salah seorang anak buahnya. Tapi sayang, keadaan sudah terlambat dan tak sempat lagi baginya untuk menarik kembali serangan itu sehingga tak ampun lagi pukulan tersebut bersarang telak di tubuh orang itu.

Apa yang diduga memang tak salah. Di mana angin pukulan itu menyambar, robohlah bayangan manusia itu dengan perut pecah dan usus berserakan di mana-mana. Ketika diamati lebih seksama, orang itu adalah salah seorang busu dari Siu Le Bun. Bisa dibayangkan betapa gusarnya Cu Bu Ki menghadapi kejadian semacam itu. Dengan sepasang mata berapi-api dan mendengus penuh amarah, dia segera menjejakkan kakinya dan mengejar ke arah mana bayangan hitam itu melarikan diri.

Dalam sepanjang perjalanan, secara beruntun dia saksikan pada belakang setiap pohon besar selalu muncul sesosok bayangan manusia yang berdiri kaku. Semuanya sudah berubah menjadi mayat, dan hal yang paling menggusarkan hatinya adalah orang-orang itu semuanya merupakan busu dari Siu Le Pang. Lebih jauh Cu Bu Ki melakukan pengejaran, semakin banyak ditemukan mayat-mayat dari anak buahnya. Tak heran kalau hatinya penuh diliputi perasaan gusar dan kaget.

Mendadak dari sisi tubuhnya berkumandang suara hembusan ujung baju yang terkena angin. Tanpa berpikir panjang, dia segera melepaskan sebuah pukulan sementara badannya menyingkir ke kanan. Namun, orang itu pun melayang pula ke samping kanannya sehingga dengan demikian kedua belah pihak berdiri saling berhadapan dan dapat saling melihat wajah lawan dengan jelas. Tiba-tiba terdengar orang itu menjerit kaget, "Hey, rupanya kau!"

Dengan gusar Cu Bu Ki membentak pula, "Sik Tiong Giok, tindakanmu benar-benar kejam dan tidak berperikemanusiaan." Di tengah bentakan itu, tubuhnya bukan mundur malahan maju ke depan dengan jurus Burung Hitam Menggubat Pasir; dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat ke muka. Orang itu tak lain adalah Pangeran Serigala Sik Tiong Giok. Dia pun sampai di situ karena mengejar sesosok bayangan hitam. Sepanjang perjalanan banyak sudah ditemukan anggota Siu Le Pang yang telah berubah menjadi mayat. Kejadian tersebut cukup mengejutkan hatinya, tapi dia tak mengira kalau akhirnya orang yang dijumpai adalah si Rasul Serigala, Cu Bu Ki.

Bertemu dengan Sik Tiong Giok bagi Cu Bu Ki ibaratnya musuh besar bertemu muka. Rasa marah dan bencinya segera berkecamuk menjadi satu, membuat orang itu segera mengeluarkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk melancarkan serangan yang mematikan. Sik Tiong Giok sendiri pun berniat membersihkan perguruan ayah angkatnya dari murid durhaka; tentu saja dia tak sudi melepaskan musuhnya dengan begitu saja. Setelah saling bertemu, apalagi membunuh Cu Bu Ki sama halnya dengan melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan.

Begitu melihat datangnya serangan lawan, dia segera mendengus dingin. Bukannya berkelit, telapak tangan kirinya melakukan gerakan mendayung di depan badan, sementara tangan kanannya dengan mengepal tinju menjotos ke depan. Di bawah gerakan Sik Tiong Giok ini, jurus serangan Burung Hitam Mengerat Tanah dari Cu Bu Ki kehilangan daya gunanya.

Ia berteriak kaget lalu berseru, "Sebuah jurus Hati Budha Gigi Serigala yang sangat hebat! Tampaknya si tua bangka celaka itu benar-benar telah mewariskan segenap kepandaian simpanannya kepadamu."

"Dugaanmu tepat sekali," bentak Sik Tiong Giok, "hari ini juga aku akan membersihkan Perguruan Serigala Langit dari oknum tak bertanggung jawab macam kau!"

Sebuah serangan maut dengan jurus Setan Gantung Pemetik Hati dari Dua Belas Ilmu Cacad segera dilontarkan ke depan. Dengan kelima jari tangan dipentangkan lebar-lebar, dia sambar dada Cu Bu Ki. Sebagai sesama murid Perguruan Serigala Langit, tentu Cu Bu Ki mengetahui akan kelihaian jurus serangan tersebut. Dia tak berani menerima ancaman itu dengan kekerasan. Dengan gerakan cekatan, tubuhnya menyelinap mundur sejauh enam-tujuh langkah. Tanpa mengubah gerakan serangannya, Sik Tiong Giok mendesak lebih jauh; ia masih tetap mengancam dada Cu Bu Ki dengan cengkeraman mautnya.

Sesudah didesak berulang kali, lama-kelamaan meledak juga amarah Cu Bu Ki. Sambil membentak keras, ia segera mengeluarkan jurus Ulat Beracun Mengisap Darah ajaran dari Pat Huang Sin Mo untuk mematahkan serangan Sik Tiong Giok tersebut. Begitu sepasang telapak tangan saling bertemu, tiba-tiba saja Sik Tiong Giok merasa kepalanya menjadi pusing. Seketika itu juga dia merasa kalau luka lamanya telah kambuh kembali sehingga tenaga dalamnya tak dapat digunakan dengan lancar. Kenyataan ini kontan saja membuat paras mukanya berubah hebat saking kaget dan terkesiapnya.

Pada mulanya, Cu Bu Ki mengira tenaga dalam lawan jauh lebih tangguh daripada kemampuan sendiri sehingga dalam setiap tindakan dia selalu mengalah. Siapa tahu setelah terjadi bentrokan barusan ditemukan bahwa kemampuan Sik Tiong Giok sangat lemah dan tak berkemampuan apa-apa. Hal ini langsung saja melegakan hatinya. Sambil tertawa menyeringai, segera ujarnya, "Hee-hee-heeeh... binatang cilik, dengan mengandalkan kemampuan semacam inipun kau berani membalaskan dendam bagi tua bangka tersebut?"

Baru mendengar gelak tertawa menyeramkan dari musuhnya, Sik Tiong Giok merasakan datangnya suatu kekuatan besar yang menekan tubuhnya. Sadarlah pemuda itu bahwa tiada peluang lagi baginya untuk menghindarkan diri; terpaksa dia pejamkan matanya menunggu kematian. Di saat yang amat kritis inilah mendadak muncul segulung kekuatan besar yang datangnya dari sisi arena dan langsung mengangkat tubuh Sik Tiong Giok serta melemparkannya sejauh beberapa kaki sehingga lolos dari ancaman kematian.

Betapa kagetnya Sik Tiong Giok menghadapi kejadian tersebut. Cepat-cepat dia berusaha merangkak bangun dan melayangkan pandangan matanya ke sekeliling situ, tapi kecuali Cu Bu Ki seorang, ternyata tak tampak bayangan manusia lainnya.

"Siapa yang telah menyelamatkan aku..." demikian ia berpikir di dalam hati.

Sementara dia masih termenung, Cu Bu Ki sendiri pun dibuat amat terkesiap oleh peristiwa ini. Menurut Pat Huang Sin Mo yang mewariskan kepandaian tersebut kepadanya, konon ilmu iblis tersebut merupakan suatu kepandaian maut yang tak pernah bisa dipunahkan oleh siapa pun, termasuk si Kakek Serigala Langit sendiri. Tapi kenyataannya sekarang, serangan tersebut menemui kegagalan total di tangan seorang pemuda ingusan.

Dalam kaget dan tertegunnya, tiba-tiba ia menemukan rahasia dari kejadian tersebut. Tampak sesosok bayangan hitam yang tinggi besar muncul di sisi kirinya, cuma saja karena jaraknya terlampau jauh sehingga sulit baginya untuk menentukan apakah bayangan itu manusia ataukah pohon. Dia mendengus marah, sepasang tangannya segera disiapkan bersama dengan mengerahkan tenaga iblisnya mencapai dua belas bagian, lalu sambil menerjang ke depan, sebuah pukulan yang maha dahsyat dilontarkan pula ke arah bayangan tersebut.

Bayangan hitam itu masih tetap bergerak. Sekalipun angin serangan yang dahsyat dan amat beracun itu sudah mengenai tubuhnya, namun bayangan hitam itu masih berdiri tidak bergerak di tempat semula. Cu Bu Ki yang sudah beberapa kali tertipu, kali ini pun mengira dirinya tertipu lagi oleh siasat musuh. Terutama setelah menjumpai serangan beracunnya tak mendatangkan hasil, dia menganggap bayangan hitam itu sebagai salah seorang anak buahnya yang telah menjadi mayat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment