Chapter 89
Mendadak bayangan hitam itu mendengus dingin seraya membentak, "Binatang laknat, kau berani melancarkan serangan terhadapku? Hmm, rasakan pula sebuah pukulanku ini!"
Cu Bu Ki amat terkesiap setelah mendengar suara itu. Segera ia berpikir cepat, "Heran, aku amat kenal dengan suara ini. Siapakah dia?" Mendadak bayangan tubuh seseorang melintas di dalam benaknya. Munculnya bayangan itu membuat hatinya serasa mau copot saking ngeri dan takutnya. Tanpa membuang waktu, ia segera membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit.
Bayangan hitam yang tinggi besar itu mendengus dingin. Ujung bajunya segera dikebaskan ke depan, dua gulung tenaga pukulan yang mahadahsyat langsung menyambar tubuh Cu Bu Ki dan melemparkannya sejauh beberapa kaki dari tempat semula.
"Blaaaammm!" Akhirnya tubuh itu terbanting keras di atas tanah, membuat Cu Bu Ki merasa pandangan matanya berkunang-kunang, kepalanya pusing, dan hampir saja tidak sadarkan diri.
Tampaknya Cu Bu Ki merasa sangat takut dengan bayangan hitam itu. Setelah berguling di atas tanah beberapa kali, ia melompat bangun dan segera melarikan diri terbirit-birit.
Walaupun saat itu Sik Tiong Giok merasakan luka dalamnya kambuh kembali sehingga tidak dapat mengeluarkan tenaga, ia tidak sudi membiarkan Cu Bu Ki melarikan diri. Sambil memaksakan diri untuk menghimpun tenaga dalamnya, ia menghadang jalan pergi orang itu sambil melepaskan sebuah bacokan maut.
Dalam keadaan demikian, nampaknya Cu Bu Ki merasa sangat takut dengan manusia berbaju hitam itu sehingga niatnya untuk melarikan diri sangat besar. Itulah sebabnya, tatkala Sik Tiong Giok mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan, ia tidak menanggapi ancaman itu. Sebaliknya, ia membalikkan tubuh dan melarikan diri terbirit-birit ke arah sebelah kanan.
Gagal dengan serangannya, Sik Tiong Giok merasa tidak rela melepaskan musuhnya begitu saja. Belum sempat ia melakukan pengejaran, mendadak terdengar manusia berbaju hitam yang berada di samping arena membentak keras, "Hei, apakah kau hendak menyusulnya untuk menghantarkan selembar jiwamu?" Sembari berkata, ia mengebaskan ujung bajunya ke depan dan menahan tubuh Sik Tiong Giok yang sedang meluncur ke muka dengan kekerasan.
Cu Bu Ki segera memanfaatkan kesempatan untuk meloloskan diri. Ia tak berani berayal lagi; laksana anak panah yang terlepas dari busurnya, ia melesat ke dalam hutan untuk menyelamatkan diri.
Sik Tiong Giok sendiri dibuat tertegun setelah menangkap logat suara manusia berbaju hitam itu. Ia merasa suara itu sangat dikenalnya sehingga tanpa terasa ia mengawasi orang itu dengan saksama. Manusia aneh itu mempunyai perawakan tinggi besar, rambutnya yang panjang hampir menutupi mukanya. Waktu itu ia berdiri di bawah sebatang pohon besar yang gelap.
Setelah saling berpandangan sekejap, terdengar manusia berbaju hitam itu berkata dengan suara dingin, "Ketiga orang sahabatmu telah kuselamatkan semua dari sini, mau apa lagi kau berdiri terus di situ?"
Ucapan itu sangat menggetarkan perasaan Sik Tiong Giok. Kembali ia berpikir, "Suara orang ini mirip sekali dengan suara ayah angkatku... tapi sepasang kaki orang tua itu telah putus, padahal orang ini berperawakan tinggi besar. Lalu siapakah dia?"
"Sik Tiong Giok mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongan dari locianpwee. Bolehkah kiranya aku, si Tiong, mengetahui nama locianpwee sehingga suatu ketika di masa mendatang bisa kubalas budi kebaikan ini?" Sembari berkata, ia memberi hormat dengan membungkukkan badannya dalam-dalam. Namun, sewaktu tidak mendengar suara jawaban dari lawannya, ia mendongakkan kepalanya lagi. Pemuda itu segera berseru tertahan dan berdiri tertegun.
Ternyata manusia berbaju hitam itu sudah lenyap tak berbekas. Pemuda itu mencoba memperhatikan keadaan di sekitar sana, namun tidak ada sesosok bayangan manusia pun yang tampak. Akhirnya, sambil menghela napas, ia berjalan keluar dari hutan itu.
Pepohonan yang tumbuh dalam hutan itu sangat lebat. Dengan membawa perasaan tercengang dan penuh keraguan, Sik Tiong Giok berjalan menelusuri hutan itu, sementara dalam hati kecilnya membayangkan kelihaian manusia berbaju hitam yang baru saja ditemuinya.
Entah berapa lama ia berjalan, menjelang fajar mulai menyingsing, akhirnya ia keluar dari hutan lebat tersebut. Tempat itu merupakan sebuah tebing berbatu yang sedikit tumbuhannya, namun ilalangnya sangat tinggi. Jalan terputus dan suasananya amat menyeramkan.
Sik Tiong Giok memperhatikan sekejap keadaan di sekitar situ, lalu bergumam, "Kemanakah aku telah pergi...?"
Belum selesai ia bergumam, mendadak terdengar seseorang menjawab, "Tempat ini adalah Tebing Pembekuk Serigala!"
"Siapa di situ?" dengan perasaan terperanjat, Sik Tiong Giok membentak keras, "Kalau ingin berbicara, ayo cepat munculkan diri dari tempat persembunyian, jangan main kucing-kucingan semacam cucu kura-kura saja."
"Haah... haah... haaa..." Di tengah gelak tawa yang amat keras, muncul tiga orang manusia dari balik semak belukar. Ketiga orang itu mengenakan pakaian yang bersih dengan dandanan yang mirip satu dengan lainnya. Mereka bertiga rata-rata sudah berusia lima puluh tahunan dengan kedua lubang hidungnya menghadap ke atas. Seorang lagi alis matanya lentik, dan terakhir mulutnya lebar dengan gigi yang besar.
Sik Tiong Giok merasa asing terhadap ketiga orang ini. Setelah mengawasi mereka sekejap, segera tegurnya dingin, "Tiga orang ini bernama Tiga Orang Manusia Jelek dari Say Juan. Orang yang berhidung menghadap ke atas bernama Cho Kun He (Menantu Jelek) Huan Sim, alis matanya yang keriting bernama Cho Siang Bun atau si Kuda Jelek Huan Ki, dan orang yang bermulut lebar bergigi besar bernama Cho Lai Kang (Si Guntur Jelek) Huan Siau."
Di antara ketiga orang ini, tabiat si Guntur Jelek Huan Siau paling berangasan. Ketika mendengar ucapan dari Sik Tiong Giok yang amat tak sedap didengar, amarahnya segera berkobar. Sambil merentangkan mulutnya lebar-lebar, ia mengayunkan telapak tangannya siap melancarkan serangan.
Tetapi si Menantu Jelek Huan Sim cepat-cepat menghalangi niatnya itu sambil berkata, "Lo sam, kau tidak boleh bersikap kurang ajar terhadap majikan kecil!"
Dengan cepat si Guntur Jelek Huan Siau menarik kembali serangannya dan menyahut sambil tertawa, "Hei bocah, untung kau adalah majikan kecil kami. Coba kalau orang lain yang bersikap kurang ajar kepada kami, hmmm! Aku pasti akan mengajaknya berduel habis-habisan."
"Itu urusanmu sendiri," kata Sik Tiong Giok ketus, "sekarang aku hanya ingin bertanya kepada kalian, ada urusan apa kamu bertiga menghalangi jalan pergiku?"
"Ada suatu urusan penting yang sedang membebani pikiran kami, dan hanya majikan tua yang bisa membereskan persoalan kami itu," ucap si Menantu Jelek Huan Sim sambil tertawa.
"Lantas mengapa tidak langsung mencari ayah angkatku?"
Kembali si Menantu Jelek Huan Sim menghela napas panjang, "Aaai, majikan tua telah kembali ke alam baka, ke manakah kami harus mencarinya?"
"Hmm, kalian jangan sembarangan berbicara," seru Sik Tiong Giok menjadi marah, "ayah angkatku jelas masih hidup dengan segar bugar, mengapa kau katakan..."
Belum selesai ucapan tersebut diutarakan, dengan wajah berseri karena kegirangan, ketiga orang manusia jelek itu berseru bersama, "Apa? Jadi majikan tua masih hidup? Dia berada di mana sekarang?"
"Akupun tidak tahu!" Sik Tiong Giok menggeleng.
"Kaupun tidak tahu?" seru si Guntur Jelek Huan Siau dengan suara menggelegar, "lantas bagaimana mungkin kau bisa tahu jika majikan tua masih hidup segar bugar?"
"Tentu saja aku tahu! Segenap kepandaian silat yang kumiliki ini merupakan warisan langsung dari ayah angkat. Seandainya orang tua itu sudah meninggal dunia, lantas siapa yang mengajarkan ilmu silat ini kepadaku?"
Sekali lagi berseri paras muka ketiga orang manusia jelek itu. Setelah saling berpandangan sekejap, si Kuda Jelek Huan Ki berkata lagi sambil tertawa, "Kalau begitu, kau tentu sudah mempelajari dua belas ilmu cacad secara lengkap?"
"Tentu saja, kalau tidak, masa ayah angkat mengizinkan aku turun gunung?"
"Haah, haah, haah, kalau begitu bagus sekali, kalau begitu bagus sekali!" seru si Guntur Jelek Huan Siau sambil tertawa terbahak-bahak.
Si Menantu Jelek Huan Sim berkata pula sambil tertawa, "Kami tiga bersaudara berhasrat untuk mengundang majikan kecil berkunjung ke Sun Juan dan berdiam beberapa hari di rumah kami, entah bagaimanakah pendapatmu?"
Sik Tiong Giok merasa terkejut bercampur keheranan setelah menerima undangan ini, sebab tawaran tersebut diajukan sangat mendadak dan sama sekali di luar dugaan. Sebetulnya ia berniat menampik, tapi ia pun tahu bahwa tiga manusia jelek dari Sun Juan ini sudah bertahun-tahun mengikuti ayah angkatnya serta dianggap sebagai orang kepercayaan, tentu saja ia enggan menampik secara kasar.
Maka sembari menjura, katanya sambil tertawa, "Sebenarnya aku harus memenuhi keinginan paman bertiga, sayang sekali aku masih ada urusan penting di Bukit Pay Lau San. Bagaimana kalau lain waktu saja baru aku berkunjung ke rumah kalian?"
"Apa?" si Guntur Jelek Huan Siau segera melotot besar, "kau enggan pergi? Kau menolak arak kehormatan ini?"
Berubah pula paras muka Sik Tiong Giok, sahutnya cepat, "Boanpwee memang sudah terbiasa makan arak hukuman. Apakah paman bertiga berniat hendak memaksa dengan menggunakan kekerasan?"
Tidak menunggu sampai Sik Tiong Giok menyelesaikan perkataannya, si Menantu Jelek Huan Sim telah mendesak maju ke depan dan secepat kilat melancarkan serangan dahsyat untuk menotok tiga buah jalan darah penting di tubuh anak muda tersebut.
Serunya kemudian sambil tertawa terbahak-bahak, "Haah, haah, haah, apa boleh buat jika kau menolak, terpaksa aku harus menggunakan kekerasan!"