Chapter 90
"Aduh!" Belum selesai ucapan tersebut, tiba-tiba Sik Tiong Giok telah menggerakkan tangan kanannya ke bawah sehingga membuat menantu jelek Huan Sim menjerit kesakitan. Tubuhnya harus mundur sejauh tiga langkah sebelum dapat berdiri tenang.
Cepat-cepat si kuda bermuka jelek Huan Ki maju membimbing tubuhnya sambil bertanya, "Toako, bagaimana rasanya sekarang?" Menantu jelek Huan Sim menarik napas, "Bocah ini benar-benar telah mendapat warisan dari majikan tua. Jurus 'sapuan elang' yang barusan digunakan memang tepat sekali. Untung saja jalan darahnya sudah keburu kutotok sehingga tak sampai membuat isi perutku menderita luka parah." Berbicara sampai di sini, dia lantas membalikkan badan dan berkata lagi kepada Sik Tiong Giok yang tak berkutik karena tertotok jalan darahnya, "Berhubung kami bertiga mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan sehingga perlu berangkat ke Say Juan, terpaksa kami akan menyiksa majikan kecil untuk beberapa saat." Sik Tiong Giok tidak sanggup bergerak ataupun membuka suara; terpaksa dia hanya bisa mengawasi ketiga orang manusia jelek itu dengan pandangan gusar.
Si menantu jelek Huan Sim pun tidak memberi banyak penjelasan. Ia segera memberi tanda kepada si kuda bermuka jelek Huan Ki untuk membangunkan Sik Tiong Giok dari atas tanah, lalu beranjak pergi dari situ.
Menjelang pukul sembilan, mereka telah sampai di Gay Bun Si. Di situ mereka menyewa sebuah kereta dan memasukkan Sik Tiong Giok ke dalam ruang kereta untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Sau Juan.
Waktu itu, sekalipun Sik Tiong Giok tidak mengetahui apa maksud tujuan yang sebenarnya dari ketiga manusia jelek itu, namun ia pun dibuat tak berdaya. Apalagi dengan membawa luka parah di tubuh, terpaksa pemuda itu hanya bisa pasrah pada takdir.
Ketika sudah melewati Tok Tian, si menantu jelek Huan Sim khawatir jalan darah Sik Tiong Giok yang terlalu lama ditotok bisa mengakibatkan isi perutnya terluka, maka dia pun segera turun tangan sendiri untuk menguruti semua jalan darah di tubuhnya. Namun, setelah melakukan pengurutan, tiba-tiba wajahnya berubah hebat. Sepasang alis matanya berkernyit dan untuk sesaat lamanya terbungkam dalam seribu bahasa.
Si kuda bermuka jelek Huan Ki yang menyaksikan kejadian tersebut buru-buru bertanya, "Toako, bagaimana keadaan dari majikan kecil?" Dengan perasaan terkejut bercampur keheranan, sahut menantu jelek Huan Sim, "Aneh benar, mengapa bocah ini bisa menderita penyakit yang begitu parah? Bila tidak disembuhkan secepatnya, meskipun jiwanya dapat diselamatkan, namun kepandaian silatnya akan punah sama sekali."
"Penyakit apa yang dideritanya? Apakah masih bisa disembuhkan?" tanya si kuda bermuka jelek Huan Ki agak gugup.
Menantu bermuka jelek Huan Sim menggelengkan kepalanya seraya menghela napas, "Untuk beberapa saat sulit bagiku untuk menduga penyakit apa yang dideritanya, tapi untuk pengobatan jelas sulit sekali."
"Apa sulitnya?" sela si guntur bermuka jelek Huan Siau, "bukankah toako mempunyai bubuk teratai salju dari Gunung Thian San yang bisa memunahkan berbagai macam racun dan mengobati pelbagai penyakit? Asal setiap hari kita beri satu kali kepadanya, sekalipun dia terkena pukulan Kiu Yu Tok Ciang dari Siu Thian Lo Ong pun, tanggung dalam setengah bulan kemudian penyakitnya akan sembuh total."
Si menantu bermuka jelek Huan Sim melirik sekejap ke arah rekannya, kemudian berkata, "Lo Sam, enak benar perkataanmu itu, tapi tahukah kau bahwa bubuk teratai salju dari Bukit Thian San ini selain sukar dibuat, dicari pun bukan alang kepalang sulitnya."
"Tapi kita toh pernah menerima budi kebaikan dari majikan tua di masa lalu," kata Guntur bermuka jelek Huan Siau segera, "kini majikan kecil ditemukan menderita penyakit aneh, biarpun kita gunakan obat mestika itu sampai habis pun, itu sudah sewajarnya." Menantu bermuka jelek Huan Sim menghela napas panjang.
"Aai, perkataan Lo Sam memang betul. Asal kalian rela, aku pun tak akan merasa sayang untuk menggunakan obat mestika itu untuk membalas budi kebaikan dari majikan." Sembari berkata, dia mengeluarkan sebuah botol porselen dari sakunya dan meneteskan beberapa tetes ke mulut Sik Tiong Giok.
Begitu cairan obat itu mengalir masuk ke dalam mulut, Sik Tiong Giok segera merasakan timbulnya hawa segar yang harum sekali mengalir ke dalam kerongkongan dan melalui ujung lidah menyambar ke seluruh jalan darah penting di dalam tubuhnya. Sik Tiong Giok mengerti bahwa dia telah diberi obat mestika yang amat langka. Diam-diam hawa murninya segera diatur untuk menggiring sari obat tersebut menyambar ke seluruh tubuhnya.
Begitulah selanjutnya, saban hari si menantu bermuka jelek Huan Sim tentu memberi beberapa tetes obat mestika bubuk kepada Sik Tiong Giok, membuat luka beracun yang diderita pemuda itu lambat laun menjadi lenyap dengan sendirinya.
Setengah bulan kemudian mereka sudah sampai di Heo Kang. Waktu itu luka beracun yang diderita Sik Tiong Giok pun telah sembuh seluruhnya, hawa murni pun berhasil menebus jalan darahnya, namun anak muda itu menggunakan kesempatan tersebut untuk beristirahat dan mengatur tenaga. Heo Kang terletak di kaki Bukit An Lek San yang berada di hilir Sungai Tiang Kang; kota itu amat ramai dan makmur.
Malam itu mereka menginap di dalam kota tersebut. Ketika baru saja melangkah masuk ke dalam rumah penginapan, mendadak terdengar seseorang berseru sambil tertawa tergelak, "Haah, haah, haah... mengapa sampai hari ini tiga manusia gagah dari Say Juan baru ada di sini? Kau tahu, aku si cebol sudah tiga hari menunggu di tempat ini." Mendengar seruan itu, Sik Tiong Giok segera melirik ke depan, namun hatinya segera dibuat terperanjat.
Ternyata orang itu tak lain adalah si kakek cebol yang berjalan di bawah tanah, Kongsun Swan, yang pernah lenyap di liang gua tempo hari. Tanpa terasa pikirnya, "Susiok cebol memang benar-benar berkemampuan tinggi, mengapa dia pun muncul di wilayah Say Juan ini?"
Baru saja ingatan tersebut melintas, terdengar si menantu bermuka jelek Huan Sim berkata sambil tertawa terbahak-bahak, "Haaah... haah... haah, tikus tanah, mengapa kau pun muncul di wilayah ini?"
Kakek cebol menghela napas panjang, "Aaai, sukar untuk diterangkan dengan sepatah dua patah kata. Ayolah kita bicarakan pelan-pelan dalam kamar saja! Musibah yang kualami kali ini benar-benar merupakan penitisan bagi kehidupanku di dunia ini." Sementara berbicara, mereka bersama-sama memasuki ruangan.
Pertama-tama si menantu bermuka jelek Huan Sim membaringkan tubuh Sik Tiong Giok ke atas pembaringan, kemudian baru keluar dari ruangan tersebut. Selesai mencuci muka, si guntur bermuka jelek baru berseru dengan tak sabaran, "Tikus tanah, ayolah cepat bicara, apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi?"
"Aku telah dibuat pingsan oleh irama sesat dari si iblis perempuan Thi Cu hingga tak sadarkan diri di liang gua di bawah Bukit Bian Pian San. Dalam keadaan begitu, seandainya ada orang menotok kepalaku ini, sudah pasti selembar jiwaku bakal melayang."
"Apa?" seru si kuda bermuka jelek Huan Ki dengan rasa kaget bercampur keheranan, "bukankah si iblis perempuan Thi Cu sudah banyak tahun tak pernah memunculkan diri dalam dunia persilatan?"
"Lo Ji, masa kau tidak tahu, saat ini hawa besar telah menyelimuti dunia persilatan, bahkan Phs pun memunculkan diri untuk kedua kalinya."
"Soal itu sih sudah pernah kudengar," sela menantu bermuka jelek Huan Sim, "malah Mo Sia Yu pernah tiga kali memunculkan diri di wilayah Say Juan ini. Aku tebak dunia persilatan akan dilanda badai besar lagi, tapi bagaimana ceritanya sampai siluman perempuan Thi Cu melepaskan dirimu?"
"Siapa bilang dia melepaskan aku? Asal dia tidak mencincang tubuhku menjadi berkeping-keping pun sudah untung."
"Lalu bagaimana caramu meloloskan diri dari sana?"
"Aku telah bertemu dengan seorang manusia lihai yang menyelamatkan jiwaku. Kalau bukan begitu, mungkin tulang dan jenazahku sekarang telah hancur menjadi pasir."
"Kau maksudkan manusia aneh berbaju hitam yang perawakan tubuhnya mencapai satu kaki lima depa itu?" tanya menantu bermuka jelek Huan Sim secara tiba-tiba.
"Hey, jadi kalian pun telah bertemu dengannya?" seru kakek cebol dengan perasaan terkejut bercampur keheranan.
"Yaa, Lo Sam kami yang telah berjumpa dengannya, malah sempat bertarung dengannya!"
"Bagaimana hasilnya? Aku rasa biarpun kalian tiga manusia jelek dari Say Juan bersama pun, belum tentu sanggup menghadapi sepuluh jurus serangannya."
Menantu bermuka jelek Huan Sim segera menghela napas panjang, "Aaai, ilmu silat yang dimiliki orang itu memang lihai sekali. Tidak sempat dua gebrakan, Lo Sam telah dibuat terjerembap mencium tanah!"
"Apakah kalian dapat mengenali jurus serangan dari manakah yang digunakan orang itu?"
"Bila ditinjau dari gerakan tubuhnya, aku rasa mirip sekali dengan jurus tangguh dari Perguruan Serigala Langit," sambung si guntur bermuka jelek Huan Siau.
Kakek cebol manggut-manggut berulang kali, katanya, "Yaa, betul! Aku pun merasakan juga kalau gerakan tubuhnya banyak sekali yang mirip dengan si kakek serigala di masa lalu, tapi mungkinkah dia muncul kembali di dunia persilatan?"
"Aku rasa tak mungkin, sebab sepasang kaki majikan kami telah putus. Sekalipun beliau berhasil lolos dari musibah di Bukit Serigala tempo hari, mustahil kakinya bisa tumbuh sepanjang itu."
"Apakah dia tak bisa menggunakan sepasang kaki palsu...?" seru kakek cebol segera.
Sik Tiong Giok yang menyadap pembicaraan tersebut dari ruang samping diam-diam mengangguk setelah mendengar ucapan ini. Pikirnya, "Yaa, betul! Kemungkinan besar orang tua itu telah menggunakan kaki palsu."
Belum selesai dia berpikir, mendadak terdengar si guntur bermuka jelek Huan Siau telah berseru keras, "Pokoknya pada suatu hari, aku akan berduel lagi dengannya serta menyingkap teka-teki ini." Tak heran kalau si guntur bermuka jelek Huan Siau merasa amat penasaran, sebab dia memang telah dikalahkan manusia berbaju hitam itu secara mengenaskan.