Chapter 91
Kakek cebol segera tertawa, katanya, "Seandainya dia benar-benar adalah Kakek Serigala, apakah kalian bertiga pun berani bertarung melawannya?"
"Tentu saja kami bertiga tidak berani bertarung melawan majikan tua, tapi sebelum posisi kita menjadi jelas, paling tidak kami akan tetap menguji kemampuannya," kata Huan Sim.
"Aku rasa orang itu tidak berniat jelek, lagi pula pasti mempunyai hubungan yang akrab dengan kalian bertiga."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Ia memerintahkan aku menunggu kalian bertiga di Hap Kang, bahkan mengajarkan kepadaku cara untuk menyembuhkan penyakit aneh yang diderita putrimu. Dari hal ini saja dapat diketahui kalau orang itu sangat mengenali kalian bertiga."
Si Duka bermuka jelek, Huan Ki, segera mengernyitkan kening hingga alis matanya tampak seram dan tidak sedap dipandang. Pelan-pelan ia berkata, "Peristiwa ini memang aneh sekali. Tidak banyak orang yang tahu tentang penyakit yang diderita anak Li, mengapa dia bisa tahu?"
"Bukan saja dia tahu kalau putrimu sedang sakit, bahkan tahu pula bahwa penyakit itu timbul karena melatih semacam ilmu silat, bukankah begitu?"
Begitu ucapan tersebut diutarakan, ketiga orang manusia aneh itu semakin terperanjat. Untuk sesaat, mereka hanya bisa saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Selang beberapa saat kemudian, si Menantu bermuka jelek, Huan Sim, mengangkat kepalanya dan berkata, "Hei, Tikus Tanah, kau tidak usah jual mahal lagi. Cepat katakan siapakah orang itu."
"Aku sendiri pun tidak tahu," sahut kakek cebol sambil menggeleng.
"Enak saja kalau bicara," seru si Guntur bermuka jelek, Huan Siau. "Bukankah kau berjalan bersama dia selama setengah bulan lebih? Masa tidak kau ketahui siapakah orang itu? Hei, Tikus Busuk, kau jangan jual mahal dengan teman sendiri!"
"Losam, kau jangan memfitnah yang bukan-bukan. Sampai di tempat ini pun, aku si Cebol belum mendusin dari tidurku. Sampai aku bangun, tahu-tahu tubuhku sudah berbaring di sini dan pemilik penginapan menyerahkan sepucuk surat kepadaku. Dari saat itulah aku baru tahu apa gerangan yang telah terjadi."
"Sudahkah kau tanyakan kepada pemilik penginapan ini, siapa yang mengantar dirimu sampai di sini?"
"Sudah, tapi jawabannya membuat kepalaku bertambah pusing. Dia bilang orang itu adalah seorang pemuda biasa."
Menantu bermuka jelek, Huan Sim, segera berpikir lagi beberapa saat lamanya, kemudian ia berkata, "Walah, itu tidak benar. Lantas dari mana pula bisa kau ketahui jika orang itu adalah seorang manusia aneh berbaju hitam?"
"Semalam dia telah menampakkan diri di penginapan ini dan memberitahukan kepadaku bahwa kalian akan tiba di sini hari ini. Kemudian, ia pun memberi petunjuk kepadaku bagaimana caranya menyembuhkan penyakit aneh yang diderita putrimu itu. Tatkala aku bertanya siapa namanya, bagaikan embusan angin malam saja, tahu-tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas."
Tiga manusia jelek dari Say Juan sekali lagi saling berpandangan dengan perasaan kaget bercampur seram. Lama setelah termenung, si Guntur bermuka jelek, Huan Siau, berkata lagi, "Peduli amat siapakah dia, asal anak Li bisa disembuhkan, kami pun tak perlu khawatir lagi."
"Perkataan Losam memang benar," kata si Muka jelek, Huan Ki, sambil mengangguk-angguk. "Tapi, bagaimana dengan majikan kecil kita?"
"Tentu saja harus dibebaskan."
"Tidak bisa," seru Huan Ki sambil menggeleng. "Kita telah mengundangnya sampai di sini, paling tidak kita harus menjadi tuan rumah yang baik. Dengan demikian, kita pun tidak sampai melupakan budi kebaikan majikan tua terhadap kita di masa lampau."
"Ya, betul, apalagi penyakit yang dideritanya pun belum sembuh seratus persen..." sambung si Menantu bermuka jelek, Huan Sim.
Mendadak si kakek cebol mengernyitkan kening lalu bertanya, "Apakah orang yang kalian maksud adalah si bocah yang bernama Pangeran Serigala?"
"Pangeran Serigala? Siapakah dia?" tanya si Guntur bermuka jelek, Huan Siau, dengan terperanjat.
Kakek cebol tertawa. "Dia adalah anak angkat si Kakek Serigala, yaitu majikan kecil kalian, Sik Tiong Giok, atau si bocah yang ada dalam ruangan itu."
"Jadi kau kenal dengannya?" tanya Huan Sim tertegun.
"Sudah beberapa bulan lamanya kami melakukan perjalanan bersama-sama, malahan ketika tertawan oleh si iblis perempuan Thi Cu pun aku turut berusaha menolongnya. Tentu saja kami kenal baik."
"Apakah kau sudah tahu kalau dia menderita suatu penyakit dalam yang amat parah?"
"Penyakit dalam apalagi? Bukankah bocah itu kekar seperti seekor kerbau liar?"
Huan Sim bertiga saling berpandangan sekejap, lalu si Duka bermuka jelek, Huan Ki, mengernyitkan kening dan berkata, "Lotoa kami telah memeriksa denyutan nadinya. Dijumpai hawa murninya tidak bisa mengumpul dan nadi pentingnya bergeser tempat. Masa pemeriksaan kami ini keliru?"
Kakek cebol gantian jadi tertegun, lalu seperti memahami sesuatu, segera ia berkata, "Ehm... rupanya cara kalian memeriksa denyutan nadi kurang tepat. Masa sejenis luka beracun kalian anggap sebagai penyakit dalam? Kekeliruan kalian terlampau jauh..."
"Hei, Tikus Tanah, cepat katakan luka apa yang dideritanya? Aku khawatir salah memberi obat," seru Menantu bermuka jelek, Huan Sim, terkejut.
Kakek cebol agak tertegun pula, tapi cepat-cepat dia berkata, "Ia terluka oleh pukulan beracun Kiu Yu Tok Ciang dari Phs. Lantas obat apa yang telah kalian berikan padanya?"
"Ooooh..." Menantu bermuka jelek, Huan Sim, menghela napas panjang. "Untung sekali bubuk teratai salju dari Bukit Thian San pun merupakan obat mujarab untuk menyembuhkan luka tersebut. Hanya tidak kuketahui apa sebabnya luka itu belum juga sembuh sekalipun sudah diberi obat hampir setengah bulan lamanya?"
"Mungkin hal ini dikarenakan hawa murninya sempat membuyar setelah berulang kali menjumpai musuh tangguh..."
Begitulah kalau beberapa orang anggota persilatan saling bertemu, mereka mengobrol terus sampai kentongan kedua lewat sebelum kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Sementara itu, Sik Tiong Giok yang mendapat pengobatan saksama bukan saja lukanya telah sembuh, malahan ketekunannya selama setengah bulan terakhir ini membuat hawa murninya berhasil dilatih hingga mencapai tingkatan yang luar biasa. Hanya saja, di bawah pengawasan tiga manusia jelek yang amat ketat, dia kurang leluasa dalam bergerak.
Malam sudah kelam, tiga bersaudara dari Say Juan pun telah tertidur nyenyak setelah menempuh perjalanan berat selama beberapa hari. Tinggal Sik Tiong Giok seorang yang belum tertidur. Pikirannya amat gundah, berulang kali ia mencoba menduga mungkinkah manusia aneh berbaju hitam itu adalah hasil penyamaran dari ayah angkatnya. Menyusul kemudian, ia teringat dengan Siu Cing dan kawan-kawan. Apakah mereka akan gelisah dan panik karena tidak menjumpai kehadirannya?
Mendadak...
Dari sepuluh kaki di luar ruangan, dia mendengar suara lirih yang amat pelan. Dengan perasaan terkejut, pemuda itu segera memasang telinga baik-baik. Terbukti kalau suara itu berasal dari orang yang berjalan malam. Pikirannya yang semula kalut seketika terhenti, seluruh perhatiannya segera dipusatkan ke luar ruangan.
Belum lama pemuda itu membaringkan diri, tiba-tiba terdengar bunyi gemerutuk dari daun jendela kamar. Si kakek cebol yang berada di sudut ruangan segera mengernyitkan kening, pikirnya, "Berani amat manusia-manusia laknat ini, masa mereka berani menyatroni langsung ke kamar..."
Baru saja dia melangkah ke muka, tiba-tiba hatinya terkesiap dan segera teringat kembali dengan tugas sendiri. Serta-merta dia menyambar tubuh Sik Tiong Giok lalu menyelinap kembali ke belakang pintu ruangan.
Baru saja tubuh mereka berdua menyembunyikan diri, terdengar bunyi gemericit dan muncul dua buah tabung dari balik jendela yang menyemburkan dua gumpal cairan ke arah pembaringan. Bau busuk yang menusuk penciuman segera menyebar ke seluruh ruangan tersebut.
Peluh dingin tanpa terasa bercucuran membasahi seluruh tubuh Sik Tiong Giok setelah menyaksikan peristiwa ini. Dia benar-benar merasa amat terperanjat sebab begitu menghirup bau busuk itu, Sik Tiong Giok segera dapat mengenalinya sebagai bubuk beracun penghancur tulang dari si iblis perempuan Thi Cu.
Kakek cebol pun terhitung jagoan dalam dunia persilatan. Tentu saja bau busuk ini tak dapat mengelabui dirinya. Begitu tahu musuh telah menaburkan bubuk beracun penghancur tulang ke arah pembaringan, amarahnya kontan saja berkobar. Sebagai seorang kakek yang berwatak keras dan berangasan, ia segera mendengus dingin. Setelah membaringkan tubuh Sik Tiong Giok di atas lantai, dia membalikkan badan dan siap melompat keluar dari jendela.
Siapa tahu, baru saja dia membalikkan badan, tiba-tiba terasa desingan angin jari menyergap dari belakang. Kembali terdengar suara yang lirih; kali ini suara tersebut berasal dari tempat yang lebih dekat lagi, bahkan terdengar lebih jelas daripada semula.
Sik Tiong Giok mencoba memeriksa kamar sebelah. Dari sana terdengar suara napas orang yang tertidur nyenyak; agaknya tiga manusia jelek dari Say Juan masih pulas. Dengan perasaan terkejut, pemuda itu mulai bersiap siaga. Sebetulnya ia bermaksud memberitahukan kehadiran manusia yang tak dikenal itu kepada mereka, tapi tiba-tiba saja ia menangkap desingan angin lirih berkelebat lewat dari depan pembaringan.
Sik Tiong Giok merasakan hatinya berdebar keras, hampir saja dia ikut melompat turun dari pembaringan. Tahu-tahu, di hadapannya telah berdiri empat sosok bayangan manusia. Ternyata mereka adalah si kakek cebol, Kongsun Swan, beserta tiga manusia aneh dari Say Juan.
Keempat orang itu sama sekali tidak menggubris Sik Tiong Giok. Mereka sedang memberi tanda, lalu ketiga manusia jelek menerobos keluar dari ruangan, sementara kakek cebol menyelinap ke sudut ruangan. Baru sekarang Sik Tiong Giok tahu bahwa nama besar tiga manusia jelek dari Say Juan bukan nama kosong belaka. Suara desingan angin lirih yang terdengar olehnya tadi sama sekali tidak lolos dari pendengaran mereka.