Chapter 92
Rupanya mereka telah berunding secara matang dengan tiga manusia jelek yang memunculkan diri untuk menghadapi musuh, sementara si kakek cebol bertugas melindungi dirinya.
Berpikir begitu, ia pun segera membaringkan diri kembali ke atas peraduan.
Waktu itu, si kakek cebol sedang memusatkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi musuh; dengan sendirinya, ia tidak sempat memperhatikan gerak-gerik Sik Tiong Giok.
Sesungguhnya kakek cebol ini memiliki kepandaian silat yang lihai, namun ia tidak pernah menyangka ada orang yang akan menyergapnya dari belakang. Secara otomatis, ia berusaha menghindarkan diri.
Untung saja ia sudah bertahun-tahun termasyhur di dunia persilatan dan pengalamannya amat luas. Dalam keadaan demikian, bukannya maju, ia malah mundur. Tiba-tiba saja sikut kirinya disodokkan ke belakang, menyusul kaki kanannya yang melepaskan sebuah tendangan.
Dalam satu jurus terdapat dua gerakan yang menyerang bersamaan. Ia menduga musuhnya pasti akan gelagapan atau paling tidak bisa mendesak mundur lawannya.
Siapa sangka apa yang terjadi sama sekali di luar dugaan. Bukan saja sikutannya gagal, bahkan tendangannya pun mengenai sasaran kosong. Sementara hatinya merasa terkejut, jalan darah *cian keng hiat*-nya sudah tertotok dengan telak.
Mendadak ia mendengar seseorang berbisik lirih, "Ruangan ini sudah dipenuhi bubuk racun penghancur tulang, lebih baik jangan terlalu lama berdiam di sini. Ayo, cepat pindah ke kamar sebelah." Dalam keadaan tertotok, si kakek cebol mati kutu dan terpaksa menurut dengan pindah ke kamar sebelah. Namun, di dalam hatinya segera timbul kecurigaan karena suara bisikan tadi terasa amat dikenalnya.
"Siapakah orang itu? Kedengarannya dia tidak bermaksud memusuhi aku," pikirnya.
Setibanya di kamar sebelah, tiba-tiba terdengar orang yang berada di belakangnya tertawa terkekeh-kekeh, menyusul kemudian jalan darahnya yang tertotok pun dibebaskan.
Dengan penuh keraguan dan rasa ingin tahu, si kakek cebol segera membalikkan badan. Namun, setelah mengetahui siapakah orangnya, ia sendiri tidak tahan ikut tertawa geli. Ternyata orang itu tidak lain adalah Pangeran Serigala Langit, Sik Tiong Giok.
Sambil menahan rasa gelinya, kakek cebol segera mengomel, "Ah, rupanya kau si bocah yang sedang main setan. Masa dengan aku si orang tua pun berani bergurau?"
"Bila aku tak berbuat begini, kau tentu tak akan pergi, dan seandainya sampai terluka, bukankah urusan akan semakin berabe?"
"Kau tahu racun apakah yang ditebarkan di sana?"
"Bubuk racun penghancur tulang dari si iblis perempuan Thi Cu, bukankah begitu? Nah, kalau tubuh kita sampai terkena sedikit saja, siapa yang dapat menolong?"
"Bocah muda, tak nyana kau memang hebat. Biar kecil orangnya, hebat otaknya. Kau tak malu menjadi putra angkat si kakek serigala. Tapi kau telah mengelabui tiga manusia jelek dari Say Juan habis-habisan."
"Ya, apa boleh buat," Sik Tiong Giok tertawa, "siapa suruh dia menawan aku duluan?"
"Hey anak muda, kalau bicara harus mengetuk sanubari sendiri lebih dulu. Tiga bersaudara jelek khusus mengundangmu untuk menyembuhkan penyakit yang diderita putrinya. Untuk itu mereka telah membayar mahal, apakah kau ingin mencoba menghindarkan diri?"
"Aku toh bukan tabib, mana mungkin bisa menyembuhkan penyakit? Apalagi kau toh sudah mengetahui bagaimana cara menyembuhkan penyakit tersebut?"
"Sekalipun aku dapat menyembuhkan penyakit aneh itu, sayang sekali aku tidak mengerti soal dua belas jurus ilmu cacad."
Sik Tiong Giok menjadi keheranan, "Mengobati penyakit adalah mengobati penyakit, mengapa kau hubungkan dengan dua belas jurus ilmu cacad?"
"Aku ingin bertanya kepadamu, ilmu *Thian Long Eng* dari dua belas ilmu cacad tersebut merupakan kepandaian macam apa?"
"Semua jurus serangan dari dua belas ilmu cacad merupakan serangan yang ganas dan buas. Hanya jurus itu saja yang digunakan untuk menangkis dan memunahkan ancaman musuh. Dari mana kau bisa tahu kalau ilmu tersebut terdapat dalam dua belas ilmu cacad?"
"Sebab di antara dua belas ilmu cacad, ada sepuluh jurus yang merupakan jurus jahat dan cuma jurus *Thian Long Eng* yang bisa memunahkannya, mengerti?"
"Dulu ketiga orang manusia jelek pernah mengikuti ayah angkatku bertahun-tahun, apakah mereka tak pernah mempelajari kepandaian tersebut?"
"Ayah angkatmu itu paling mencurigai orang lain. Bahkan kedelapan orang muridnya saja hanya bisa tiga sampai lima jurus. Tentu saja tiada kesempatan bagi ketiga manusia jelek itu untuk mempelajari kepandaian tersebut."
"Tapi aku telah mempelajari seluruhnya..."
"Ya, siapa suruh kau menjadi putranya. Orang tua mana di dunia ini yang tidak menyayangi anaknya sendiri," kata kakek cebol sambil tertawa.
Sik Tiong Giok ikut tersenyum.
"Kalau begitu, hanya aku seorang dalam dunia persilatan saat ini yang bisa mempergunakan ilmu cacad."
"Apalagi yang mesti dikatakan? Sekarang tinggal melihat bagaimana caramu menampilkan diri di dalam dunia persilatan. Tapi kau harus tahu, meskipun bunga botan itu indah dipandang, namun ia tumbuh karena ditunjang daunnya. Bila suatu saat kau berhasil nanti, jangan lupa pula dengan orang-orang lain yang menunjangmu, mengerti?"
"Maksud Paman Guru Cebol, aku harus bersekongkol dengan ketiga manusia jelek itu?" tanya Sik Tiong Giok sambil mengedipkan matanya berulang kali.
"Benar!" kakek cebol mengangguk. "Hanya tiga manusia jelek yang bisa menunjangmu. Bila hal ini berhasil, maka usahamu untuk memimpin dunia persilatan menjadi mudah sekali."
"Bila aku membohongi mereka terus, apakah hal ini tak akan menimbulkan kemarahannya?" tanya Sik Tiong Giok sambil berkerut kening.
Kakek cebol segera tersenyum. "Aku punya akal untuk menghadapinya. Sekarang kau boleh berlagak sakit dan tidak bisa bangun. Bila kita sudah sampai di Ciong Lay San nanti, aku baru mengusahakan cara lain."
"Tidak bisa," Sik Tiong Giok cepat-cepat menggeleng, "aku sudah bosan tidur terus, apalagi kalau sampai menjadi sakit sungguhan karena kebanyakan tidur, ini bisa berabe."
"Lantas apa rencanamu sekarang?"
Sik Tiong Giok tertawa, "Cukup kau akui bahwa kaulah yang membebaskan jalan darahku. Nah, ayo berangkat, kita bersama-sama menonton keramaian." Begitu selesai berkata, ia segera melompat keluar lebih dulu dari ruangan tersebut.
Kakek cebol membuka mulutnya seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun karena orangnya sudah lenyap, terpaksa ia pun menyusul di belakangnya.
Malam amat kelam, namun dari sisi pantai sungai terdengar suara orang sedang bertarung.
Waktu itu, tiga orang manusia jelek dari Say Juan sedang bertarung melawan tujuh orang lelaki berpakaian ringkas. Mereka semua mengenakan kain kerudung muka berwarna hitam sehingga tidak kelihatan wajah aslinya, namun ditinjau dari potongan badannya, mereka semua adalah pemuda-pemuda kekar.
Saat itu terdengar si menantu bermuka jelek, Huan Sim, mendengus dingin dan berseru, "Sudah puluhan tahun lamanya kami berkelana di dalam dunia persilatan. Kami percaya belum pernah membuat perselisihan dengan siapa pun, tapi kali ini kalian telah melakukan penyergapan. Sesungguhnya apa maksud dan tujuanmu?"
Ketujuh orang manusia berkerudung itu saling berpandangan sekejap, lalu seorang di antaranya berkata, "Kejadian ini timbul karena kesalahpahaman, harap *locianpwee* bertiga sudi memaafkan."
Berada dalam keadaan demikian, maka bila pihak lawan sudah mengaku sebagai kesalahpahaman, menurut peraturan dunia persilatan hal ini berarti pula sebagai pengakuan telah kalah sehingga seharusnya pihak lawan tidak boleh menanyakan latar belakangnya lebih lanjut.
Oleh sebab itulah, si menantu bermuka jelek, Huan Sim, segera mengerutkan dahinya.
Selang sesaat kemudian, si duka bermuka jelek, Huan Ki, berkata pula, "Kalau memang peristiwa ini timbul karena kesalahpahaman, itu berarti tiada alasan bagi kita untuk bermusuhan lagi. Namun, paling tidak tentunya kau harus melaporkan dulu siapa nama kalian?"
Pemimpin dari ketujuh orang itu segera menjawab, "Sudah berulang kali kami katakan kalau kejadian ini timbul karena kesalahpahaman, mengapa sih *locianpwee* bertiga harus mendesak kami terus-menerus?"
Si Guntur bermuka jelek, Huan Siau, mendengus dingin, "Hmm, masa ada kejadian yang begitu kebetulan di dunia ini? Kalian kelewat memandang rendah kami bertiga dari Say Juan. Pokoknya, sebelum kalian menyebutkan nama kalian semua, kami pun tak akan menyudahi persoalan ini. Kalau tidak, bagaimana mungkin kami bisa menancapkan kaki lagi di wilayah Say Juan?"
"Lantas apa keinginanmu?" tanya orang itu dingin.
"Tidak ingin apa-apa, tapi kalian pun jangan harap pergi dari sini dengan aman."
Mendengar perkataan tersebut, ketujuh orang berkerudung muka itu segera saling memberi tanda. Tiba-tiba mereka meloloskan pedang. Di antara kilauan cahaya tajam, tujuh bilah pedang menyapu bersama ke arah tiga manusia jelek dari Say Juan.
Melihat serangan ini, Huan Siau tertawa terbahak-bahak, "Ha... ha... akhirnya sang rase memperlihatkan juga ekornya. Apakah cara kalian ini pun termasuk suatu kesalahpahaman?"
Sambil menghimpun tenaga dalamnya, ia melepaskan dua buah bacokan secara beruntun.
Perlu diketahui, si Guntur bermuka jelek, Huan Siau, termasyhur di dalam dunia persilatan karena pukulan guntur apinya. Ilmu pukulan tersebut merupakan salah satu ilmu silat yang ampuh; setiap serangannya selalu membawa suara gemuruh yang memekakkan telinga.
Begitulah, ketika ia mengayunkan sepasang tangannya tadi, tiba-tiba saja muncul segumpal bunga api disusul ledakan dahsyat yang memekakkan telinga. Segulung kekuatan yang mahadahsyat langsung menyambar ke muka.
Kabut pedang yang diciptakan ketujuh orang manusia berkerudung itu segera terhajar telak hingga bergetar dan bubar ke mana-mana.
"Sambutlah lagi dua pukulanku ini!"
Tubuh berputar kencang, sepasang lengan mendayung menciptakan satu gerakan melingkar, kemudian dua buah pukulan dilepaskan lagi ke depan...
Di antara kilauan cahaya api, suara gemuruh yang bergema terdengar lebih memekakkan telinga.