Chapter 93
Waktu itu, ketujuh orang manusia berkerudung muka tersebut sedang menghimpun kembali hawa pedang masing-masing ketika serangan maut menyambar datang. Serentak, mereka mengeluarkan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk menghadapi ancaman. Dengan susah payah, angin serangan si guntur bermuka jelek berhasil dibendung mereka.
Menantu bermuka jelek, Huan Sim, yang melihat keadaan ini segera memberi tanda kepada saudaranya. Mereka berdua segera mendengus dan maju bersama ke depan. Dalam waktu singkat, ketiga orang bersaudara itu sudah mengambil posisi segitiga dan perlahan mengayunkan telapak tangan kanan mereka bersama. Apabila pukulan api guntur dari Huan Siau, cakar tanpa bayangan dari Huan Ki, dan jari bintang langit dari Huan Sim dilontarkan bersama-sama, dapat dipastikan ketujuh manusia berkerudung itu tak akan lolos dari musibah.
Dalam keadaan yang amat kritis inilah tiba-tiba tampak sesosok bayangan hitam meluncur masuk ke tengah arena dengan kecepatan luar biasa. Begitu memunculkan diri, orang itu segera berseru keras, "Ci Lian Jit Kiam, cepat mundur! Kemampuan kalian tak akan mampu menghadapi Hian Bun Saw Coat dari mereka."
"Siapakah kau?" tegur si duka bermuka jelek sambil tertawa. "Apakah kau sanggup menghadapi Hian Bun Sam Coat kami?" Sembari berkata, dia mengawasi pendatang itu dengan saksama. Ternyata orang itu berdandan sangat aneh; pakaiannya setengah berbentuk jubah pendeta dengan bagian leher yang digantungi sebuah gelang besar, rambutnya sepanjang bahu, dan mukanya bengis.
Menantu bermuka jelek, Huan Sim, yang menyaksikan raut wajah orang itu segera berseru keras, "Rupanya manusia yang lolos dari musibah di Bukit Serigala tempo hari, kini muncul kembali untuk membuat keonaran."
Ternyata manusia aneh itu tak lain adalah Pat Huang Sin Mo Shia Yu. Ketika mendengar perkataan itu, dia tertawa seram, "Tajam amat pandangan mata Cao Lotoa, tak nyana masih mengenali diriku."
Si duka bermuka jelek, Huan Ki, segera berkata pula, "Tampangmu yang jelek dan aneh memberi kesan yang mendalam sekali bagi siapa pun yang melihatnya, tentu saja kami tidak akan melupakan dirimu dengan begitu saja."
Pat Huang Sin Mo segera tertawa. "Biarpun mukaku ini kurang sedap dipandang, sayang sekali wajah kalian bertiga pun tidak termasuk tampan."
Menantu bermuka jelek, Huan Sim, mendengus, "Hmm, biarpun tampang kami jelek, namun hati kami tidak jelek."
"Haah... haa... haa, haa... Sering kudengar orang berkata: tahu orangnya, tahu wajahnya, belum tentu tahu hatinya. Siapa sih yang mengetahui hati kalian jelek atau bagus, kecuali kalian dapat mengereknya keluar serta diperlihatkan kepadaku."
Oleh karena kemunculan Pat Huang Sin Mo yang sangat mendadak ini, Ci Lian Jit Kiam telah memanfaatkan peluang itu untuk mengundurkan diri dari sana. Sementara itu, si guntur bermuka jelek, Huan Siau, merasa jengkel dan gusar mendengar perkataan tersebut. Dia membentak keras, "Asal kau memang punya kemampuan, tentu saja akan kulihatkan kepadamu!"
"Baiklah," kata Pat Huang Sin Mo sambil tertawa. "Kali ini merupakan saat kedua bagiku muncul di dunia persilatan, biarlah kugunakan kalian bertiga sebagai kelinci percobaan."
Kongsun Swan yang kebetulan baru muncul dari ruangan segera berteriak keras sesudah mendengar ucapan itu, "Tiga bersaudara jelek, kalian tak perlu tergesa-gesa. Asal membekuk siluman, jangan lupa dengan bagianku."
Sekali lagi Pat Huang Sin Mo mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak, "Haaaaahh... haaaaahh... rupanya ada satu lagi yang bosan hidup. Bagus... bagus sekali, hari ini aku akan berbuat kebajikan dengan mengirim kalian semua menuju ke neraka."
"Tak usah mengoceh dulu yang muluk-muluk," jengek kakek cebol sambil tertawa. "Untuk membereskan manusia macam kau sih, tak perlu kami turun tangan bersama."
"Hmm, kepandaian yang kalian miliki masih belum cukup untuk menghadapi seranganku. Siapa sih yang kau andalkan untuk menghadapiku? Cepat suruh dia tampilkan diri."
Tiba-tiba dari balik kegelapan terdengar suara Sik Tiong Giok berseru keras, "Dalam pertarungan di bawah Tebing Hwe Be Gia tempo hari, kita masih belum selesai menentukan siapa yang lebih unggul. Mengapa tidak kita lanjutkan pertarungan tempo hari itu di sini?" Selesai berkata, pemuda itu melayang turun di hadapan Pat Huang Sin Mo dengan dada dibusungkan dan sikap santai.
Kemunculan Sik Tiong Giok yang sangat tiba-tiba ini bukan saja mengejutkan Pat Huang Sin Mo, bahkan ketiga manusia jelek dari Say Juan pun turut terkejut. Mereka berpikir, "Aneh, bukankah jalan darah bocah ini tertotok dan tubuhnya masih menderita penyakit parah? Mengapa dia bisa muncul di sini?"
Sementara mereka masih termenung, Pat Huang Sin Mo telah menjengek sambil tertawa seram, "Heeeh, heeeh, heeeh, bocah cilik, apakah kau masih berkemampuan untuk bertempur?"
Sik Tiong Giok segera tersenyum, "Jika tidak percaya, mengapa tidak segera dicoba?"
Belum selesai dia berkata, Pat Huang Sin Mo telah mendengus dingin dan secepat kilat menerjang ke muka. Tangan kirinya melepaskan pukulan kepalan, sementara tangan kanannya melepaskan pukulan telapak tangan. Dua gulung tenaga pukulan yang mahadahsyat pun segera meluncur ke depan dan menghantam Sik Tiong Giok.
Menghadapi ancaman tersebut, anak muda itu tertawa. Dia berkelit ke samping dengan gerakan kelitan serigala, lalu mendekati Pat Huang Sin Mo dan menyambar telapak tangan lawan dengan jurus cengkeraman serigala. Menyusul kemudian, sikunya menyodok ke depan dan dari gerakan menyodok gendang serigala langit berubah menjadi ilmu Ki Na Jiu.
Pertarungan yang berlangsung antara kedua orang ini boleh dibilang merupakan jurus-jurus adu jiwa. Dalam waktu singkat, sekeliling arena sudah diliputi debu dan pasir yang beterbangan memenuhi seluruh angkasa.
"Blaaammm... blaaammm..."
Dua kali benturan keras yang memperdengarkan ledakan dahsyat membuat Pat Huang Sin Mo dan Sik Tiong Giok masing-masing mundur tiga langkah ke belakang. Mendadak terdengar si kakek cebol berseru keras, "Mari kita maju bersama, jangan lepaskan gembong iblis ini dari tempat ini, kita harus melenyapkan pembawa bibit bencana ini."
Tiga manusia aneh dari Say Juan menyahut, menyebarkan diri, serta mengurung Pat Huang Sin Mo di tengah arena. Menghadapi kepungan tersebut, Pat Huang Sin Mo tertawa terbahak-bahak. Telapak tangannya segera diputar satu lingkaran dan melepaskan sebuah pukulan yang persis menyambut datangnya ancaman dari si guntur bermuka jelek, Huan Siau.
"Blaaamm!"
Hentakan keras yang memekakkan telinga diiringi percikan bunga api ke mana-mana, angin puyuh, dan hujan debu segera menyelimuti angkasa. Berada dalam keadaan demikian, cepat-cepat iblis tua itu berkelit ke samping untuk menghindarkan diri. Siapa sangka, si duka bermuka jelek, Huan Ki, telah menyambar pinggangnya dengan ilmu cakar tanpa bayangan.
Iblis tua itu memang lihai. Cepat-cepat dia mengeluarkan ilmu langkah Ngo Heng dan berkelit ke samping, tetapi di situ telah menanti si menantu bermuka jelek, Huan Sim, dengan ilmu jari bintang langitnya. Sebaliknya, si kakek cebol dengan mengandalkan tubuhnya yang pendek kecil menyelinap kian kemari, khusus mencari peluang yang baik untuk melancarkan sergapan. Sik Tiong Giok mengkhususkan diri dalam pertarungan adu kekerasan; setiap serangan yang dilontarkan selalu penuh dengan tenaga murni yang menimbulkan deruan angin puyuh.
Di bawah kerubutan lima orang jago lihai tersebut, dalam waktu singkat Pat Huang Sin Mo telah dibuat kalang kabut tak karuan. Otot-otot hijau pada jidatnya menonjol keluar karena mendongkol. Andaikata dia tidak mengandalkan jurus-jurus simpanannya yang tangguh, mungkin semenjak tadi dia sudah keok di tangan musuh.
Pat Huang Sin Mo mulai sadar bahwa keadaan sangat tidak menguntungkan posisinya hari ini. Bila sekali roboh di tangan mereka, jangan harap jiwa bisa diselamatkan lagi. Sebagai orang yang cerdik dan berpikiran panjang, tentu saja iblis tua itu tak mau mati konyol, maka timbul niatnya untuk mengambil langkah seribu. Sayang sekali tiga manusia jelek, si cebol, dan Sik Tiong Giok sudah mempunyai niat untuk membunuhnya. Tentu saja orang-orang itu tidak akan melepaskan lawannya dengan begitu saja. Tak heran kalau serangan demi serangan yang mereka lepaskan kian lama kian bertambah gencar.
Lama-kelamaan, Pat Huang Sin Mo mulai mandi keringat. Napas dan hawa murninya mulai tersendat-sendat; posisinya makin lama semakin bertambah kritis. Menantu bermuka jelek, Huan Sim, yang menjumpai keadaan tersebut segera berteriak keras, "Gembong iblis itu sudah tak mampu menahan diri lagi, ayo kita perketat serangan, hari ini kita harus melenyapkan bibit bencana ini dari muka bumi."
Belum selesai dia membentak, mendadak dari kejauhan terdengar suara pekikan keras yang menggidikkan hati, lalu dari tengah udara meluncur datang sesosok bayangan hitam. Gerakan orang itu sangat cepat; baru saja pekikannya bergema, orang itu sudah melayang turun di hadapan Pat Huang Sin Mo. Ternyata dia adalah seorang manusia jangkung berbaju hitam.
Pat Huang Sin Mo yang sudah terlalu lelah menghadapi pertarungan saat itu mulai pusing dan panik. Pada hakikatnya, dia tak bisa membedakan lagi mana kawan mana lawan. Begitu manusia aneh itu memunculkan diri, dia segera menghimpun tenaga dalamnya ke dalam tangan kanan dan menggunakan lima pukulan Kiu Yu Tok Ciang menghantam perut orang tadi.
Menghadapi ancaman tersebut, manusia berbaju hitam itu sama sekali tidak menghindar. Dia mengebaskan ujung bajunya dan tahu-tahu sudah menyambar pergelangan iblis tersebut. Kemudian, sekali menggetar, dia sudah melemparkan tubuh iblis tua tersebut sejauh tiga puluh lima kaki dari posisi semula, bahkan membentak keras, "Mengapa tidak segera kabur!"
Pat Huang Sin Mo tertegun, lalu tanpa banyak bicara melompat bangun dan melarikan diri terbirit-birit dari situ. Dalam waktu singkat, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.