Chapter 94
Ketika melihat kemunculan manusia jangkung berbaju hitam tadi, diam-diam ketiga manusia jelek dari Say Juan merasa gembira; mereka mengira Pat Huang Sin Mo bakal menemui ajalnya di situ.
Di luar dugaan, manusia berbaju hitam itu justru telah menyelamatkan nyawanya. Menanti dia sadar kalau keadaan tak beres, Pat Huang Sin Mo sudah keburu kabur jauh dan tak mungkin bisa dikejar lagi.
Dengan terjadinya peristiwa ini, otomatis semua amarah dari tiga manusia jelek, si cebol, dan Sik Tiong Giok dilimpahkan kepada manusia aneh berbaju hitam tersebut.
Sik Tiong Giok yang pertama-tama tak mampu menahan diri, dengan suara dalam segera membentak: "Mengapa kau menyelamatkan nyawa gembong iblis itu? Siapa namamu?"
"Sewaktu berada di Bukit Bian Pian San kau pernah bertanya hal yang sama. Sudah kukatakan, aku tak punya nama," jawab manusia aneh berbaju hitam itu dingin.
"Mengapa kau harus menolong Pat Huang Sin Mo? Tahukah kau, dia adalah manusia jahat?"
"Orang baik atau orang jahat bukan urusanku. Ingin menolong atau membunuh adalah urusan pribadiku, mau apa kau mencampurinya?"
Sik Tiong Giok mendengus: "Hmm, kau membantu kaum laknat melakukan kejahatan, itu berarti kau pun seorang jahat pula." Dalam gusarnya, pemuda itu segera mencaci maki orang tersebut habis-habisan.
Namun, manusia aneh berbaju hitam itu tetap berdiri mematung di sana tanpa bergerak. Sampai Sik Tiong Giok selesai memaki, dia baru berkata dengan dingin: "Makian yang bagus, Nak. Kau bakal menyesal akhirnya."
Baru selesai dia berkata, tiba-tiba si kakek cebol menimbrung dari samping: "Kalau kudengar nada suaramu, jangan-jangan kau adalah sobat lama dari Bukit Serigala?"
Manusia aneh berbaju hitam itu segera tertawa tergelak: "Haaaahh, haaahh, tikus tanah, kau terlalu suka berlagak sok pintar. Memangnya kau anggap siapakah aku ini?"
"Apakah kau adalah *in-jin* kami bertiga di masa lalu?" sambung si menantu bermuka jelek pula.
Sekali lagi, manusia berbaju hitam itu tertawa: "Kalian terlalu sensitif dalam persoalan ini sehingga mengira aku sebagai Kakek Serigala. Tahukah kau bahwa perbuatanku melepaskan Pat Huang Sin Mo tadi tak lain adalah ingin memaksa tua bangka itu memunculkan diri pula di dalam dunia persilatan?"
"Lantas siapakah kau?" cepat-cepat Sik Tiong Giok bertanya.
"Aku... Haaahh... haaahh... kalian akan mengetahuinya sendiri di masa mendatang. Tapi aku harus memberitahukan kalian lebih dulu, aku bukan Kakek Serigala seperti apa yang kalian duga..."
Berbicara sampai di situ, mendadak dia membalikkan badannya. Tahu-tahu muncul segulung angin berpusar yang menerbangkan pasir dan debu. Menanti debu dan pasir itu mereda, bayangan tubuh manusia berbaju hitam itu pun ikut lenyap dari pandangan.
Menyaksikan kepergian manusia berbaju hitam itu, tiga manusia jelek dari Say Juan termenung beberapa saat lamanya, kemudian menghela napas panjang.
Kakek cebol Kongsun Swan memukul-mukul kepalanya sendiri sambil berseru: "Siapakah orang itu? Aaaai, benar-benar membuat aku si cebol menjadi pusing sekali."
"Aku rasa biarpun dia bukan *in-jin* kita di masa lalu, sudah pasti dia mempunyai hubungan dengannya," kata si duka bermuka jelek, Huan Ki, kemudian.
Sik Tiong Giok masih berdiri tertegun sambil memandang ke kejauhan. Ketika mendengar perkataan tersebut, ia segera mengangguk-angguk dan berkata: "Benar, dia bukan ayah angkatku, tapi banyak hal mirip dengan ayah angkatku itu." Akhirnya, dengan membawa pikiran yang bermacam-macam dan perasaan gundah, mereka kembali ke rumah penginapan.
Tak lama kemudian hari pun terang tanah, mereka segera melunasi tagihan dan meneruskan perjalanan menuju Lembah Lu Hoa Kok di Bukit Ciong Lay San.
Sepanjang jalan, kelima orang itu bungkam seribu bahasa. Setiap orang bagaikan dibebani masalah besar sehingga suasana amat murung.
Terutama si Guntur bermuka jelek, Huan Siau, tiada hentinya dia menghela napas sambil bergumam: "Sebenarnya siapakah dia? Kalau toh membantu kita, mengapa pula membela musuh? Apa... apa yang hendak dia lakukan sesungguhnya?"
Mendadak si kakek cebol tertawa terbahak-bahak. Mendengar tawa itu, si Guntur bermuka jelek segera mendelik sambil menegur: "Hey, tikus tanah, apa yang kau tertawakan?"
"Oooh, tidak apa-apa," jawab kakek cebol sambil tertawa, "aku cuma merasa bahwa orang aneh itu memang mencurigakan, tetapi kaulah yang patut dikasihani."
"Apa yang perlu dikasihani dengan diriku? Kau tak usah berlagak sok belas kasihan," teriak Huan Siau marah.
"Kalau tak perlu dikasihani, mengapa pula kau harus menghela napas panjang pendek?"
"Aku cuma merasa manusia aneh itu sangat mencurigakan, terutama sekali cara kerjanya. Sampai sekarang kita belum dapat menentukan sebenarnya dia itu musuh atau teman."
Kakek cebol tertawa: "Padahal urusan ini tak perlu kita pikirkan secara serius. Bila setiap persoalan dunia persilatan harus kita pikirkan secara mendalam, wah, kita bisa mati menyedihkan. Coba pikir, apakah hal ini tidak patut dikasihani?"
Huan Siau tertawa dan tidak berbicara lagi.
Setelah menempuh perjalanan selama lima hari, akhirnya senja itu mereka tiba di Lembah Lu Hoa Kok di Bukit Ciong Lay San. Di mulut lembah tersebut terdapat sebuah dusun, tempat tinggal tiga puluh keluarga petani. Di tempat itulah tiga manusia jelek dari Say Juan mendirikan rumahnya; orang persilatan lebih sering menyebut tempat itu sebagai Benteng Sam Gi Poo.
Biarpun penduduk yang berdiam di Lembah Lu Hoa Kok bukan terdiri dari satu warga yang sama, semuanya merupakan anak murid ketiga manusia jelek tersebut. Oleh sebab itu, baik tua, muda, laki-laki, maupun perempuan hampir rata-rata memiliki beberapa jurus ilmu silat pelindung badan. Karena itu pula, kawanan persilatan dan kaum pencoleng selalu menghindari tempat tersebut.
Tahun ini, tiga bersaudara jelek telah mencapai usia enam puluh tahun, tapi berhubung tampang mereka selalu jelek, hingga sekarang mereka tak pernah menikah. Hanya sang *lotoa*, si menantu bermuka jelek Huan Sim, pernah dengan seorang gadis suku Biau di masa mudanya dulu jauh di wilayah Biau.
Biarpun perkawinan itu hanya berlangsung sebentar, justru pada lima belas tahun berselang, tiba-tiba ada orang yang muncul di rumah mereka dengan mengantar seorang bayi perempuan serta sepucuk surat berdarah. Sebagai jago-jago persilatan yang hidup dalam gelimangan darah dan golok, ketiga manusia jelek itu dibuat gelagapan dan kebingungan ketika disodori bayi kecil. Tapi setelah membaca surat berdarah tersebut, tanpa berpikir panjang lagi mereka menerima bayi tersebut dan memeliharanya dengan saksama.
Apa yang sesungguhnya telah terjadi tidak diketahui umum, tapi menurut berita, konon bayi perempuan itu adalah anak kandung sang *lotoa* yang dikirim dari wilayah Biau. Karena itu, bocah tadi dinamakan Li Ji.
Ketika Li Ji mencapai usia enam belas tahun, wajahnya kelihatan cantik jelita bak bidadari dari kahyangan; dia benar-benar tumbuh menjadi seorang gadis yang menawan hati. Akibatnya, berita di luaran kembali diramaikan dengan persoalan tersebut. Siapapun tidak percaya kalau Cho Lotoa yang berwajah jelek bisa mempunyai seorang anak gadis yang berparas cantik jelita.
Siapa tahu di dalam perjalanan pulang dari wilayah Biau, tiba-tiba mereka bertemu dengan manusia berbaju hitam yang memberitahukan kepada mereka bahwa putri mereka telah sakit, bahkan memberi petunjuk bahwa penyakit itu hanya bisa disembuhkan oleh orang yang menguasai kepandaian Thian Long Eng.
Dengan watak tiga manusia aneh tersebut, tentu saja mereka tak mau percaya dengan perkataan itu. Akibatnya, terjadilah pertarungan antara si Guntur bermuka jelek, Huan Siau, melawan manusia berbaju hitam itu. Tapi belum sampai tiga jurus, Huan Siau telah dirobohkan dan manusia berbaju hitam itu pergi dari sana.
Dengan membawa perasaan duka dan khawatir, ketiga orang manusia bermuka jelek itu buru-buru pulang. Sungguh kebetulan di bawah Bukit Thi Pian San mereka bertemu dengan Sik Tiong Giok. Sebagai pengikut Serigala Langit, tentu saja mereka cukup tahu tentang seluk-beluk majikan mudanya dan tahu kalau pemuda ini pasti menguasai dua belas ilmu cacat; itulah sebabnya mereka segera membawa pemuda itu pulang ke Say Juan.
Kini, Sik Tiong Giok telah menjadi tamu agung di dalam Lembah Lu Hoa Kok.
Ketika tiga manusia jelek pergi menjenguk keadaan putri mereka, ditemukan Huan Li Ji dengan muka pucat masih duduk di dalam kamar semedinya. Matanya terpejam rapat-rapat dan tubuhnya kaku seperti patung. Barulah setelah ketiga manusia jelek itu memanggil beberapa kali, Huan Li Ji membuka matanya sebentar sambil tersenyum lalu memejamkan matanya kembali. Dalam keadaan begini, terpaksa tiga orang itu mengundurkan diri dengan perasaan tak menentu.
Ketika tiba kembali di ruang depan, si kakek cebol segera bertanya dengan cemas: "Cho Lotoa, bagaimana keadaan sakit dari putri kalian itu?"
Sambil menghela napas, si menantu bermuka jelek Huan Sim menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya: "Aaai, gara-gara melatih ilmu Siat Heng Hian Kang, bocah ini telah mengalami jalan api menuju neraka sehingga menderita amat gawat. Hey, si tikus tanah, apa sih resep pengobatanmu yang mujarab itu?"
"Caranya sih amat sederhana, hanya sayang aku bukan seorang tabib sakti hingga tak mungkin bisa melakukan pengobatan..." sahut kakek cebol tertawa.
"Aaah, bukankah hal ini sama artinya dengan percuma?" sela si Dewa Guntur bertampang jelek Huan Siau setengah membentak.
Kembali kakek cebol tertawa.