Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 95

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 95

"Biarpun aku tak mampu, di sini hadir seorang tabib ulung yang siap praktik. Kecuali dia seorang, rasanya memang tiada orang kedua yang bisa menyembuhkan penyakit putrimu itu; cuma dia sendiri pun pasti akan rikuh untuk turun tangan."

Setengah tidak sabar, si menantu bermuka jelek, Huan Siau, menukas, "Hei tikus bumi, kau tak usah jual mahal lagi. Cepat katakan, siapa yang sesungguhnya dapat mengobati penyakit itu?"

Dengan pandangan misterius, kakek cebol melirik sekejap ke arah Sik Tiong Giok, kemudian katanya kepada ketiga manusia jelek itu sambil tertawa, "Mari kuperlihatkan sebuah benda kepada kalian, maka kalian akan segera tahu kalau cara pengobatan tersebut tak mudah."

Sik Tiong Giok segera bangkit berdiri dan menghampirinya. Ia berkata sambil tertawa, "Paman guru cebol, mari perlihatkan kepadaku."

Sementara itu, si kakek cebol baru saja mengeluarkan secarik kertas. Ketika melihat Sik Tiong Giok menghampirinya, cepat-cepat ia sembunyikan kertas itu ke belakang punggungnya dan berseru sambil tertawa, "Maaf, pangeran kecilku, kau tak boleh melihat isi surat ini..."

"Ya sudahlah, tak boleh pun tak apa," kata Sik Tiong Giok dengan nada pasrah, "cuma sebentar lagi kalian pun tak usah mencari aku lagi."

Dengan misterius, kakek cebol melirik sekejap ke arahnya, kembali katanya sambil tertawa, "Bagaimana kalau berjanji dulu akan menyanggupi sebuah syaratku setelah kuperlihatkan kepadamu?"

"Kalau begitu lebih baik aku tidak melihat, aku pun tak akan menyanggupi syarat apa pun darimu," seru anak muda itu sambil menggoyangkan tangannya berulang kali.

Kontan saja kakek cebol mendelik, "Hei anak muda, apakah perkataanmu itu dapat dipercaya?"

"Jika tak percaya, tunggu saja nanti!"

Sementara kedua orang itu masih ribut, ketiga manusia jelek itu sudah selesai membaca isi surat tersebut dan tiba-tiba memberi hormat bersama kepada Sik Tiong Giok. Karuan saja Sik Tiong Giok dibuat amat terperanjat, cepat-cepat ia menghindar ke samping sambil berseru, "Paman bertiga, kenapa kalian harus bersikap demikian kepadaku?"

"Tentu saja orang lain ada permintaan yang hendak disampaikan kepadamu. Akan kulihat kau, si pangeran cilik, akan menerima atau tidak," ejek kakek cebol sambil tertawa.

"Kalian toh belum menerangkan persoalan apakah itu, bagaimana mungkin aku bisa menyanggupinya?"

"Apalagi kalau bukan mengobati penyakit yang diderita anak gadis mereka."

"Tapi, aku toh tidak memahami ilmu pertabiban, bagaimana mungkin bisa mengobati penyakit itu?"

"Sesungguhnya tidak banyak yang mereka harapkan, cukup kau keluarkan ilmu *Thian Li Eng* dari dua belas ilmu cacat tersebut. Bukankah si kakek serigala telah mengajarkan ilmu tersebut kepadamu?"

"Diajarkan sih sudah, tapi ilmu tersebut kelewat ganas dan keji. Ayah angkatku berulang kali telah berpesan agar tidak menggunakannya apabila tidak menjumpai keadaan yang kritis dan gawat."

"Tapi kepandaian itu pun merupakan ilmu sakti dalam mengobati luka seseorang. Bersediakah majikan kecil untuk berbuat kebajikan?" sela si menantu bermuka jelek, Huan Sim, penuh pengharapan.

Untuk sesaat Sik Tiong Giok menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, agak sangsi ujarnya, "Sekalipun begitu, namun aku merasa kurang leluasa untuk menggunakan ilmu tadi terhadap tubuh seorang gadis. Di samping itu, aku toh masih belum mengetahui penyakit apakah yang diderita putrimu itu?"

"Kalau memang demikian, mengapa tidak pergi menengok sendiri?" tukas si kakek cebol.

"Aku harus ke sana? Rasanya kurang leluasa."

Ketiga manusia jelek dari Say Juan pun segera menunjukkan keberatannya setelah mendengar usul tersebut. Mereka saling berpandangan sekejap, lalu terdengar si menantu bermuka jelek, Huan Sim, berkata, "Kalau tidak dipandang, diperiksa, dan diteliti, bagaimana mungkin si sakit bisa diobati? Baiklah, silakan masuk ke ruang belakang."

Selesai berkata, ia lantas membalikkan tubuh dan berjalan lebih dulu menuju ke ruang belakang tempat Huan Li Ji berada. Ruangan tersebut tidak terlalu besar, tapi kebersihan sangat dijaga. Waktu itu, Huan Li Ji masih tetap duduk bersila di atas kasur duduk.

Setelah memandang sekejap ke arah putri kesayangannya, si menantu bermuka jelek, Huan Sim, menghela napas dan mengeluh, "Aai, bocah yang patut dikasihani!"

Sebaliknya, Sik Tiong Giok yang melihat wajah Huan Li Ji segera merasakan hatinya bergetar keras, hampir saja ia berseru tertahan, "Aai... Cu Siau Hong!"

Sebab paras muka nona yang bernama Huan Li Ji ini memang persis sekali dengan wajah Cu Siau Hong. Tak heran kalau Sik Tiong Giok menjadi terkejut dan berdiri tertahan untuk beberapa saat lamanya. Si kakek cebol, Kongsun Swan, sendiri pun merasa terkejut. Ia tak mengira kalau tiga manusia jelek dari Say Juan yang bertampang begitu menyeramkan ternyata mempunyai seorang anak gadis yang cantik bak bidadari dari kahyangan, bahkan raut wajah nona ini begitu mirip dengan yang ia kenal.

Ketika tiga manusia jelek dari Say Juan melihat sikap tertegun dari dua orang itu, mereka segera salah mengartikan maksudnya, disangka penyakit putrinya sudah terlalu parah sehingga mengkhawatirkan. Dengan gugup dan panik, cepat-cepat ia berseru, "Hei... tikus bumi, ke... kenapa kau? Apakah... apakah Huan Li Ji sudah tidak tertolong lagi?"

Kakek cebol baru merasa terperanjat sesudah mendengar pertanyaan ini, cepat ia pun menjawab, "Ooh... tidak... tidak apa-apa, tunggu saja bagaimana jawaban dari si serigala kecil ini!"

Lama sekali Sik Tiong Giok mengamati wajah nona itu, kemudian pelan-pelan ia baru berkata, "Kepandaian silat apa sih yang lagi dilatih Nona Huan? Berada dalam kondisi yang bagaimana ia menderita luka jalan api menuju neraka...?"

"Ilmu yang sedang dilatih siauli adalah ilmu *Siau Kiu Heng Hian Kang*. Orang yang berlatih kepandaian tersebut memang pantang kaget dan diganggu. Nampaknya ia mengalami musibah tersebut dalam keadaan terperanjat."

"Selagi berlatih, apakah tak ada orang yang melindunginya dari luar?"

"Waktu itu dia dilindungi oleh dua orang dayangnya, namun sekarang kedua orang dayang itu pun ikut lenyap."

Sik Tiong Giok termenung beberapa saat lamanya, lalu berkata lagi, "Aku rasa di balik peristiwa tersebut tentu masih terdapat persoalan lain, mustahil dia cuma mengalami jalan api menuju neraka."

Mendadak si dewa guntur bermuka jelek, Huan Siau, menyela, "Toako, mungkinkah dia telah datang?"

Dengan cepat si menantu bermuka jelek, Huan Sim, menggeleng, "Aku pikir tidak mungkin... aah... mungkin juga si bajingan berhati keji itu?"

Si duka bermuka jelek, Huan Ki, turut pula menimbrung, "Aku percaya ia masih mempunyai perasaan kasih ayah terhadap anaknya. Dulu ia membuangnya dengan begitu saja, mengapa pula sekarang timbul perasaan kasihnya?"

Pembicaraan ketiga manusia bermuka jelek itu kontan saja membuat si kakek cebol hanya melongo-longo saja dan tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Untuk sesaat, ia hanya bisa mengawasi ketiga orang rekannya dengan mata terbelalak. Sik Tiong Giok sendiri pun dibuat kebingungan oleh pembicaraan tersebut, akhirnya ia pun bertanya, "Hei, sebenarnya apa yang sedang kalian ributkan? Sebetulnya siapa yang telah datang? Siapa pula bajingan berhati keji itu?"

Menantu bermuka jelek, Huan Sim, menghela napas panjang, "Sesungguhnya peristiwa ini merupakan suatu tragedi dunia persilatan, biar kuceritakan nanti saja. Coba kau periksa apakah penyakit anak Li masih bisa disembuhkan?"

Sik Tiong Giok menjadi sangsi, lambat-lambat ia berkata, "Biarpun lukanya parah dan cara pengobatannya ada, hanya saja..." Tiba-tiba ia berhenti berbicara setelah sampai di situ.

Cepat-cepat tiga manusia jelek itu bertanya, "Bagaimana? Apakah menjumpai kesulitan?"

Sik Tiong Giok seperti menjumpai kesulitan yang tak bisa diutarakan sendiri olehnya, ia cuma mengawasi si kakek cebol dengan mulut membungkam. Cepat-cepat si dewa guntur bermuka jelek, Huan Siau, berteriak, "Engkoh cilik, asal kau sanggup menolong, permintaan apa pun yang kau ajukan akan kupenuhi. Ayolah cepat kau katakan."

Sik Tiong Giok tetap memandang ke arah kakek cebol, lalu pelan-pelan berkata, "Susiok, mari kita berbicara di luar."

Kakek cebol segera melayangkan pandangannya ke wajah semua orang, lalu mengangguk dan beranjak keluar. Sik Tiong Giok segera mengikuti pula di belakangnya, mereka berbisik-bisik di sudut halaman sana. Tampak si kakek cebol mengerutkan dahinya sambil menggeleng, menyusul kemudian menjulurkan lidahnya dengan perasaan kaget dan keheranan.

Si menantu jelek, Huan Sim, yang menyaksikan kesemuanya itu segera berseru lantang, "Engkoh cilik, apabila kau menjumpai kesulitan mengapa tidak kau utarakan saja secara blak-blakan?"

Kakek cebol segera menyahut, "Cho Lotoa, jangan terburu-buru dulu, bagaimana kalau kemari dulu untuk dirundingkan bersama?"

Dengan langkah lebar ketiga orang manusia jelek itu segera mendekati mereka. Pertama-tama si dewa guntur bermuka jelek, Huan Siau, yang berseru lebih dulu, "Apakah anak Li masih dapat ditolong?"

"Tentu saja," sahut kakek cebol tertawa, "ilmu *Thian Long Eng* memang khusus untuk mengobati luka akibat jalan api menuju neraka."

"Kalau memang begitu, bagaimana kalau Sik siauko segera turun tangan?"

"Tidak semudah itu," tukas kakek cebol menggeleng.

"Kenapa?" seru dewa guntur bermuka jelek, Huan Siau, dengan mata melotot, "apakah kami telah menyusahkan dia sehingga ia keberatan untuk memberi pertolongan? Baiklah Engkoh Cilik Sik, aku mohon maaf kepadamu."

Sambil berkata ia benar-benar akan berlutut untuk minta maaf. Tentu saja tindakannya ini membuat Sik Tiong Giok menjadi kerepotan dan buru-buru mencegah perbuatannya itu.

"Hei Cho Losam, bagaimana kalau kau jangan bertingkah lebih dulu...?" tegur kakek cebol sambil tertawa.

"Tikus bumi, kau toh tahu kami tiga bersaudara hanya mempunyai seorang anak gadis, dan sekarang sudah gawat sekali keadaannya. Bila dia sampai mati, apa arti kehidupan kami di dunia ini?"

"Ya, aku pun mengerti, tapi paling tidak toh mesti mendengarkan dulu keterangan kami hingga selesai sebelum berulah bermacam-macam."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment