Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 96

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 96

"Kalau begitu, cepat katakan secara terus terang." Kakek cebol berdeham, lalu berkata, "Untuk menjalani pengobatan dengan cara Thian Long Eng, pertama-tama harus dilakukan pembalikan nadi guna menggiring hawa murni agar kembali ke poros sebenarnya. Setelah itu, baru dilakukan pengurutan pada tiga puluh enam jalan darah di tubuhnya; bahkan setiap dua belas jam sekali harus dilakukan pengurutan ulang. Coba bayangkan sendiri, mereka adalah muda-mudi yang baru beranjak dewasa, bagaimana mungkin perbuatan semacam ini bisa dilakukan secara sembarangan?"

Setelah persoalannya diterangkan, ketiga manusia bermuka jelek itu baru mengerti sebabnya Sik Tiong Giok merasa serba salah.

Tiba-tiba memancar sinar tajam dari balik mata si menantu bermuka jelek, Huan Sim. Segera ia berseru, "Selain ketiga puluh enam jalan darah di sekujur badannya harus diurut, bahkan setiap dua belas jam diulangi sekali lagi... bagaimana nasib anakku ini selanjutnya?"

"Itulah sebabnya orang lain jadi serba salah," tukas kakek cebol.

"Apakah masih ada cara lain yang lebih baik lagi?" tanya Huan Sim cepat.

"Sudah tidak ada lagi."

"Aku tahu sekarang apa sebabnya dia menyuruh kau yang tampil. Ah," Huan Sim menghela napas.

Kakek cebol ikut menghela napas, lalu menyambung, "Tapi masih ada seorang lagi yang selalu menghalangi aku, bahkan bermaksud mencelakai jiwa si bocah kecil."

"Apa maksudmu siluman perempuan itu sudah muncul lagi di dunia ini?"

"Ya, ketika menginap di Hap Kang tempo hari, dia berkomplot dengan Pat Huang Sin Mo. Dia bermaksud menyatroni kita, bahkan sempat menyemburkan cairan penghancur tulang ke dalam kamar yang dihuni bocah ini. Untung kita bertindak cepat, kalau tidak, entah bagaimana jadinya."

Mendengar perkataan tersebut, Huan Sim memandang sekejap wajah kedua adiknya, lalu berkata dengan suara berat, "Saudara Kongsun, segala sesuatunya terserah kepadamu. Asalkan engkoh cilik Sik tidak menolak, apa lagi yang bisa kami katakan..."

"Toako, aku rasa lebih baik kita rundingkan dulu persoalan ini dengan anak Li!" sela si duka bermuka jelek, Huan Ki.

Huan Sim mengangguk-angguk, kembali ia memberi isyarat mata ke arah kakek cebol, kemudian beranjak pergi. Sepeninggal mereka, kakek cebol berpaling ke arah Sik Tiong Giok dan berkata sambil tertawa, "Nah, anak muda, ikutilah aku. Bagaimana kalau kita bicarakan persoalan ini baik-baik?"

"Apalagi yang hendak dibicarakan? Apa bedanya dengan berbicara di sini?"

"Baik, asalkan kau mau berterus terang, apa pula yang harus kutakuti?"

"Sudahlah, cepat kau utarakan apa yang hendak dibicarakan," seru Sik Tiong Giok tertawa.

"Orang lain telah setuju, bagaimana dengan kau sendiri dalam pengobatan ini?"

"Tidak sulit. Kalian harus melakukan perlindungan di luar ruangan. Asal tidak sampai mengejutkan aku, dalam satu jam saja aku sudah selesai mengurut."

"Enak benar perkataanmu!" seru kakek cebol sambil tertawa.

"Memangnya tidak sulit..."

"Hmm, bagaimanapun juga dia masih seorang gadis perawan. Setelah kau permainkan dalam keadaan bugil tanpa sehelai busana pun..."

"Susiok cebol," tukas Sik Tiong Giok sebelum kakek cebol menyelesaikan perkataannya, "kau adalah seorang cianpwee, kuharap bicaramu agak lebih jelas. Aku bermaksud mengobati lukanya, mengapa kau menuduhku mempermainkannya?"

"Sekalipun kau bermaksud mengobati lukanya, tolong tanya, setelah sekujur badan nona itu kau raba dari atas sampai ke bawah, apakah besoknya dia masih laku untuk kawin?"

"Apa sangkut pautnya soal itu denganku?" jawab Sik Tiong Giok tertegun.

"Kau tahu bahwa seorang lelaki memandang tinggi harga diri dan seorang wanita memandang tinggi kesucian diri. Biarpun kau berhati jujur, tapi setelah kalian berada di dalam kamar berduaan, apalagi si nona dalam keadaan bugil total, bagaimana cerita orang yang mengetahui kejadian ini?"

Sik Tiong Giok terbungkam. Lama setelah tertegun, ia berkata agak tersipu, "Lantas... bagaimana baiknya? Aku pun tak pernah berpikir sampai ke situ."

"Sekarang hanya ada satu cara untuk mengatasi persoalan ini. Masalahnya, kau bersedia menerima cara itu atau tidak?"

"Susiok, aku tahu kau pasti punya cara, ayo cepat utarakan."

"Satu-satunya jalan adalah menyanggupi untuk memperistri nona itu di kemudian hari. Setelah lamaranmu diterima dan secara resmi sudah mempunyai ikatan suami istri, dengan sendirinya kau bisa melakukan pengobatan tersebut secara leluasa. Bagaimana? Setuju tidak?"

Sik Tiong Giok menggelengkan kepalanya berulang kali. Setelah termenung, ia menyahut, "Aku tak bisa menerima syarat ini..."

"Kenapa?" tanya kakek cebol dengan mata melotot, "ketiga manusia jelek telah berhasil mengobati lukamu, masa kau tak tahu balas budi?"

Sik Tiong Giok tetap menggeleng. "Siapa bilang aku tak tahu balas budi? Masalahnya sekarang, apakah si nona bersedia menerima tawaran ini?"

"Soal itu tidak perlu kau urusi. Pokoknya serahkan saja kepadaku, tanggung beres. Yang penting sekarang adalah anggukan kepalamu tanda setuju."

Dengan perasaan tidak enak, Sik Tiong Giok menghela napas panjang. "Baiklah, terserah kepada kemauan Susiok."

Sementara pembicaraan mereka masih berlangsung, si menantu bermuka jelek menghampiri dan berkata kepada kakek cebol sambil tertawa, "Segala sesuatunya telah selesai dibicarakan dan dia pun telah menyatakan persetujuannya. Entah bagaimana dengan jawaban engkoh cilik Sik?"

Kakek cebol tertawa. "Tentu saja dia pun telah memberikan persetujuannya. Kalau tidak, hendak ke manakah dia mencari istri yang begitu cantik jelita?"

"Sungguh tak disangka, kami tiga bersaudara harus merebut seorang menantu jauh dari ribuan li sana..." sela Dewa Guntur bermuka jelek, Huan Siau, sambil tertawa.

"Ah, perkataan Cho losam terlalu tak enak didengar. Kita kan mencarikan menantu untuk putrimu, masa dibilang merampas?" Perkataan ini segera disambut gelak tawa semua orang.

Tiba-tiba Huan Sim berpaling ke arah Sik Tiong Giok, "Engkoh cilik, kapan kau akan mulai turun tangan?"

"Tengah malam nanti... cuma soal perlindungan..."

"Tidak usah khawatir, aku dapat mengaturkan semuanya untukmu. Pokoknya kami tak akan membiarkanmu terkejut."

"Masalah yang paling kukhawatirkan adalah bubuk racun penghancur tulang dari Hua Siu Mo Li. Benda beracun itu tak bisa dibendung dengan mengandalkan ilmu silat."

"Apa yang mesti ditakuti?" tukas Huan Siau. "Paling banter selembar jiwaku harus melayang. Pokoknya tak usah khawatir, biar harus berkorban pun kami tak akan membiarkan kalian terganggu."

Malam itu, saat suasana mulai hening, Sik Tiong Giok memasuki ruang belakang. Nona Huan Li Ji telah dibaringkan di atas pembaringan di sudut ruangan. Tampaknya nona itu gelisah; meskipun sudah tertidur, selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap, memperlihatkan pakaian tidur tipis berwarna hijau serta sepasang paha yang putih mulus.

Sik Tiong Giok keheranan. Pikirnya, "Sungguh aneh, andaikata ia menderita jalan api menuju neraka, seharusnya sekujur tubuhnya kaku. Mengapa ia bisa tidur begitu nyaman?"

Namun, ia berpikir lagi, "Tapi justru ada baiknya. Mengapa tidak kugunakan kesempatan ini untuk menotok jalan darahnya agar mempermudah pengobatan nanti?"

Ia berjalan mendekati pembaringan, tetapi baru saja akan menotok jalan darah Hek Tian Hiat di tubuh Huan Li Ji, sebuah tangan menepuk bahunya. Seseorang berkata dengan suara sedingin es, "Jangan kau sentuh dia, aku telah mengobati luka yang dideritanya..."

Peristiwa yang sangat mendadak ini mengejutkan Sik Tiong Giok. Ia membalikkan badan. Ternyata manusia aneh berbaju hitam itu telah berdiri di belakangnya, hanya saja perawakan tubuhnya tidak setinggi yang pernah dijumpai sebelumnya. Dalam terkejut, Sik Tiong Giok tertegun.

Sambil tertawa ringan, manusia aneh berbaju hitam itu berkata lagi, "Engkoh cilik, kau tak pernah menyangka bukan bahwa aku akan muncul di tempat ini?"

Setelah menenangkan pikiran, Sik Tiong Giok menjawab dingin, "Sudah kuduga kau akan kemari."

"Cuma tidak menyangka kalau aku akan tiba pada hari ini, bukan?" sambung manusia aneh berbaju hitam itu sambil tertawa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment