Chapter 97
"Cepat atau lambat toh sama saja, hanya tidak kupahami apa maksudmu datang kemari?"
"Aku datang kemari untuk melindungi putriku. Apakah ini salah?"
"Putrimu...?" Sik Tiong Giok membelalakkan matanya lebar-lebar dan berseru keheranan, "apakah Nona Huan adalah putrimu?"
"Betul, dia memang putri kandungku. Apakah kau tidak percaya?"
"Yang membuat orang sukar percaya adalah karena setiap orang sudah tahu kalau dia adalah putri Huan Lotoa. Mengapa secara tiba-tiba bisa menjadi putrimu?"
Manusia aneh berbaju hitam itu menghela napas panjang. "Aaai, kalau kau tidak mau percaya, ya, apa boleh buat. Toh, aku pun tidak berharap orang lain akan mempercayainya. Tapi yang pasti, demi darah dagingku sendiri, aku harus berupaya menyumbangkan segenap kemampuan yang kumiliki demi kebahagiaannya. Asal dia bisa hidup bahagia, maka aku pun merasa puas."
"Kalau kudengar nada suaramu itu, rasanya seperti amat kukenal. Sebenarnya siapa sih kau?"
Tiba-tiba manusia aneh berbaju hitam itu tertawa. "Apakah kau menganggap aku sebagai Kakek Serigala Langit? Bila begitu, dugaanmu tersebut salah besar."
"Lantas apa sebabnya aliran ilmu silatmu bisa sejalan dengan ilmu silat yang berasal dari Perguruan Serigala Langit?"
"Sekalipun aku bukan Kakek Serigala Langit, namun aku mempunyai hubungan yang mendalam dengannya."
"Lantas siapakah kau?"
Manusia aneh berbaju hitam itu menarik napas panjang. "Aku adalah seorang manusia yang sudah melupakan nama asliku sendiri. Bocah muda, jangan mendesak aku terus!"
Sik Tiong Giok termenung sambil berpikir sejenak, kemudian katanya, "Baiklah, aku tak akan menanyakan persoalan ini kepadamu. Lantas bagaimana dengan keadaan luka yang diderita Nona Huan ini?"
"Aku telah membantunya menembusi semua urat nadinya yang tersumbat dengan tenaga dalamku. Sekarang jiwanya sudah tidak berbahaya lagi, cuma kau harus membantunya untuk menguruti seluruh jalan darah di tubuhnya agar dia cepat pulih kembali seperti sedia kala."
"Menolong orang harus menolong sampai tuntas. Mengapa kau tidak membantunya untuk menguruti seluruh jalan darah di tubuhnya?"
Kembali manusia aneh berbaju hitam itu tertawa. "Nak, orang lain tak bisa membantumu dalam persoalan ini. Untung saja kalian sudah resmi menjadi suami istri, jadi sudah sepatutnya bila kau yang turun tangan menguruti seluruh badannya."
Begitu selesai berkata, ia segera melejit keluar dan bagaikan segulung asap hitam, ia lenyap tak berbekas dari pandangan mata.
"Di luar ruangan telah diatur penjagaan yang begitu ketat, akan kulihat bagaimana caramu pergi dari situ..." Namun, biarpun sudah didengarkan beberapa saat, suasana di luar masih tetap hening dan tak terdengar suara apa pun. Kenyataan tersebut membuat sang pemuda mau tak mau lantas mengagumi kepandaian orang itu.
Setelah menghela napas panjang, ia membalikkan badan lagi dan siap untuk menotok jalan darah tidur Nona Huan Li Ji agar mempermudah usahanya untuk menguruti sekujur badannya nanti. Namun, sebelum ia sempat turun tangan, mendadak Huan Li Ji membalikkan tubuhnya lalu duduk.
Ia masih tetap memejamkan matanya, tampak jelas kalau masih tertidur nyenyak, tapi pakaian tidurnya yang tipis telah tersingkap lebar sehingga tubuhnya yang putih bersih terlihat jelas di depan mata. Kedengaran nona itu mengigau, "Oooh... panas, panas sekali!"
Timbul rasa kasihan di hati Sik Tiong Giok melihat keadaannya. Tangannya yang semula berniat menotok jalan darah tidurnya kini berubah untuk menangkap lengannya, lalu tanyanya lembut, "Nona Li, apakah kau kegerahan?"
"Oooh... panas... aku kepanasan..." keluh Huan Li Ji dengan napas tersengal. Tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dan memeluk Sik Tiong Giok erat-erat.
Sik Tiong Giok segera merasa sebuah tubuh yang montok dan empuk bersandar di dalam pelukannya. Bau harum semerbak yang berhembus lewat membuat ia bagaikan orang mabuk. Sejak lahir hingga sekarang, walaupun ia pernah membopong tubuh Nona Bun Un ketika berada di Kuil Tay Hu Si tempo hari, namun keadaan pada waktu itu amat kritis sehingga ia tak sempat merasakan sesuatu apa pun. Sebaliknya, sekarang ia berada dalam suasana yang tenang, lagi pula berada dalam kamar berduaan saja. Bisa dibayangkan bagaimanakah perasaan pemuda tersebut setelah memeluk seorang gadis telanjang.
Jantungnya segera berdebar keras, peredaran darah di dalam tubuhnya pun semakin cepat, sepasang pipinya turut menjadi panas dan susah ditahan. Pada saat dia terbuai dalam rangsangan inilah, mendadak terdengar Huan Li Ji menjerit kaget, "Aduuuh...!"
Dalam jeritan kaget itu, sepasang lengannya yang sedang merangkul tubuh Sik Tiong Giok segera dilepaskan, sementara tubuhnya segera menyusup ke balik selimut hingga kepalanya pun ikut disembunyikan. Sik Tiong Giok yang menghadapi kejadian tersebut menjadi tertegun. Untuk sesaat, suasana di dalam ruangan itu menjadi makin hening.
Berada dalam keadaan begini, Sik Tiong Giok mulai menyumpahi diri sendiri, pikirnya, "Sik Tiong Giok, wahai Sik Tiong Giok, apa yang sedang kau lakukan? Mengapa kau justru timbul pikiran sesat? Terhitung perbuatan seorang lelaki sejatikah itu...?"
Sementara ia masih menyumpahi diri sendiri, dari balik selimut terdengar Huan Li Ji bertanya, "Siapa kau?"
"Aku bernama Sik Tiong Giok. Apakah Huan Toasiok belum membicarakan persoalan ini denganmu?"
Dari balik selimut segera berkumandang suara tertawa merdu, "Oooh, jadi kau adalah pangeran cilik. Ayah telah membicarakan persoalan ini denganku. Bukankah kau datang untuk mengobati lukaku...?"
"Asal kau sudah tahu, hal ini lebih baik lagi," kata Sik Tiong Giok tertawa, "bagaimana kalau sekarang juga kuurutkan jalan darah di tubuhmu?"
Huan Li Ji segera menyingkap selimutnya dan menongolkan wajahnya yang dihiasi senyuman manis, sahutnya sambil tertawa, "Silakan kau segera turun tangan!"
"Bila kau menutupi tubuhmu dengan selimut, bagaimana caraku untuk menguruti jalan darahmu?" tanya Sik Tiong Giok sambil tertawa rikuh.
"Lantas apa kehendakmu?" tanya Huan Li Ji sambil mengawasi pemuda itu tajam.
"Buka selimut itu dan berbaringlah secara baik-baik sambil mengendurkan seluruh badan, dengan demikian aku pun dapat mulai bekerja..."
"Boleh saja, tetapi mesti berjanji untuk memejamkan mata rapat-rapat dan tak boleh mengintip tubuhku."
Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Sik Tiong Giok memejamkan matanya rapat-rapat dan berkata sambil tertawa, "Nah, bersiap-siaplah, aku berjanji tidak akan membuka mataku untuk mengintip."
Kembali nona itu mengiakan, disusul kemudian terdengar suara pakaian yang disingkirkan. Sik Tiong Giok tahu kalau gadis itu sudah siap, maka bagaikan orang buta yang memijat, kesepuluh jari tangannya mulai bergerak menguruti sekujur badan nona tersebut.
Huan Li Ji hanya merasakan munculnya segulung hawa panas dari dalam pusar yang segera menyebar ke mana-mana. Dalam waktu singkat, sekujur tubuhnya sudah terasa menjadi nyaman dan segar. Selang beberapa saat kemudian, ketika Sik Tiong Giok menjumpai Huan Li Ji seperti lagi menikmati urutan tersebut tanpa berusaha untuk menghimpun tenaga dalamnya, cepat-cepat ia menegur, "Nona, caramu ini bisa melelahkan si kerbau tua!"
"Lalu apa yang mesti kuperbuat?" tanya Huan Li Ji dengan suara rendah.
"Kau mesti menghimpun tenaga dalammu dari dalam serta menggiring hawa murniku ke arah yang benar. Dengan begitu, jalan darahmu baru bisa ditembusi. Jika hal ini tidak kau lakukan, sampai matipun aku berusaha juga percuma."
"Aduh mak, mengapa tidak kau katakan semenjak tadi?" bentak Huan Li Ji.
Sepasang muda-mudi ini, meski mempunyai perasaan saling mencinta, namun sesungguhnya tidak terpengaruh oleh nafsu birahi. Di satu pihak berusaha untuk menolong orang dengan sepenuh tenaga, sebaliknya di pihak lain berusaha untuk menyembuhkan lukanya. Dengan kerja sama yang erat, usaha itu pun segera membuahkan hasil. Tanpa disadari, mereka telah mengerahkan tenaga dalam masing-masing untuk saling mengiring dan membaur; hawa murni pun segera menembusi jalan darah yang ada tanpa terbendung lagi.
Mendadak bergema suara yang lemah dari balik urat nadi gadis itu. Sik Tiong Giok tahu bahwa mereka sudah berada dalam keadaan yang paling kritis. Dalam keadaan begini, jika dia salah bertindak sedikit saja, maka dapat berakibat mencelakai seumur hidup nona tersebut. Karena itu, ia menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk meningkatkan bantuannya.
Selang beberapa saat kemudian, terdengar Huan Li Ji berteriak penuh kegembiraan. "Horee, aku telah sembuh sama sekali!"
Rupanya, di bawah urutan Sik Tiong Giok yang terakhir dengan tenaga penuh itu, jalan nadi Jin Meh dan Tok Meh-nya telah berhasil pula ditembusi. Tak heran kalau ia merasa begitu kegirangan. Saking gembiranya, ia sampai lupa diri; lupa kalau saat itu ia masih berada dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya. Begitu melompat bangun dari atas pembaringan, sepasang lengannya segera merangkul leher Sik Tiong Giok erat-erat. Dengan perbuatannya itu, maka tak bisa dicegah lagi seluruh bagian tubuh si nona, termasuk yang paling rahasia pun, turut tertera dengan jelas di depan mata.
Huan Li Ji baru teringat akan kebugilannya setelah menjumpai wajah Sik Tiong Giok berubah menjadi merah padam, sementara matanya yang tertegun mengawasi bagian rahasia tubuhnya tanpa berkedip. Ia segera menjerit kaget, kemudian dengan wajah tersipu-sipu karena malu, segera menyusupkan diri ke balik selimut.
Dengan wajah masih termangu, Sik Tiong Giok segera menegur, "Hey, mengapa sih kau ini?"
Sambil menongolkan wajahnya yang merah padam bagaikan kepiting rebus, Huan Li Ji berseru manja, "Kau jahat, jahat sekali! Siapa suruh kau membuka matamu serta mengintip badanku?"
"Aaah, rupanya soal itu, tapi kau sendiri yang kurang ajar..." kata Sik Tiong Giok tertawa.
"Bagaimana kurang ajarku...?"
"Siapa suruh kau melompat-lompat macam orang gila sehingga hampir saja menyumbat hawa murniku? Sudah lupa diri, sekarang masih menegur orang. Bayangkan saja."
"Sudahlah, apa yang hendak kau bilang?" tukas Huan Li Ji tiba-tiba.