Chapter 98
Mendengar perkataan itu, Sik Tiong Giok segera tertawa. Timbul keinginannya untuk menggoda gadis itu, lalu ia menyambung, "Kenapa aku tak boleh bicara? Paling tidak, harus dijelaskan dulu siapa yang salah! Baik, sekarang kau berani jahat kepadaku, awas saja, tunggu nanti kalau kita sudah..." Mendadak ia menutup mulutnya dan segera menyembunyikan diri di balik selimut.
Sik Tiong Giok tertawa terbahak-bahak, "Haaah, haaah... mengapa tidak kau lanjutkan? Aku harus menunggu sampai kita kenapa?"
Huan Li Ji segera merasakan sepasang pipinya menjadi merah dan panas. Saking malunya, ia sampai tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ia pun menyembunyikan diri di balik selimut sambil membungkam diri.
"Tuttt, tuuuutt..." Pada saat itulah, dari kejauhan terdengar bunyi terompet tanduk kerbau yang dibunyikan keras-keras.
Huan Li Ji segera menongolkan kepala dari balik selimut dan berkata dengan gelisah, "Suara terompet itu merupakan tanda bahaya dari dusun kami. Sudah pasti ada musuh tangguh yang menyerang. Cepat berikan pakaianku itu, cepat, cepat, aku..."
Sik Tiong Giok pun merasakan ada keadaan yang tidak beres. Dengan cepat ia memadamkan lampu, lalu menyambar pakaian si nona dan memberikannya kepada si empunya seraya berbisik, "Kau baru sembuh dari sakit, jangan menghadapi musuh lebih dulu. Ayahmu telah melakukan persiapan yang cukup kuat, biar aku saja yang pergi menengok keadaan. Dalam kondisi demikian, paling baik kau jangan mengeluarkan tenaga lebih dulu, mengerti?"
Dengan penuh perasaan cinta, Huan Li Ji mengangguk, dan Sik Tiong Giok pun menyelinap keluar dari ruangan.
Malam itu sangat gelap tanpa rembulan. Sik Tiong Giok yang melayang ke tengah halaman segera mengamati keadaan di sekeliling dengan saksama. Ia menjumpai sesosok bayangan hitam meluncur datang dengan kecepatan tinggi. Melihat kedatangan bayangan tersebut, Sik Tiong Giok segera mengayunkan telapak tangannya, siap melancarkan serangan.
Mendadak terdengar bayangan hitam itu menyapa, "Pangeran kecilkah di situ?"
Sik Tiong Giok segera mengenali suara itu sebagai suara si Duka Bermuka Jelek Huan Ki. Ia segera menghindar ke samping dan menyahut dengan suara lirih, "Ji Siok, berapa banyak musuh yang datang? Sudahkah diketahui alirannya?"
"Belum begitu jelas. Si Tikus Bumi sedang pergi menyelidiki, tapi kedengarannya banyak juga yang datang. Bagaimana keadaan Li Ji sekarang?"
"Ia sudah sembuh sama sekali, hanya belum boleh menghadapi musuh."
"Kalau begitu, aku pun dapat berlega hati. Betapapun banyaknya musuh yang datang, aku percaya masih mampu untuk menghadapinya. Sekarang, harap kau kembali ke sisi Li Ji serta lindungi keselamatan jiwanya."
"Tak menjadi masalah. Yang kukuatirkan adalah manusia aneh berbaju hitam itu."
"Aku pun punya firasat, kemungkinan besar si manusia aneh berbaju hitam itu akan datang."
Belum habis perkataan itu diutarakan, mendadak Sik Tiong Giok berbisik, "Sst, ada orang datang, mari kita sambut kedatangan mereka." Selesai berkata, ia segera melompat maju untuk menyambut.
Bayangan manusia yang meluncur datang itu bergerak dengan kecepatan tinggi dan kelincahan tubuh yang mengagumkan. Sudah jelas ia merupakan seorang jago silat yang berilmu tinggi. Dengan suara keras, Sik Tiong Giok membentak, "Hei sobat, apa yang hendak kau lakukan?"
Orang itu tertawa dingin tiada hentinya, "Heeeh, heeeh, heeeh. Lebih baik tak usah kau campuri. Semenjak kapan benteng Sam Gi Poo di Lembah Lu Hoa Kok ini bertambah dengan seorang bocah jelek macam kau? Apakah Tiga Jelek dari Say Juan telah mengangkat seorang anak lagi?"
Biarpun ia mengejek tiada hentinya, tubuhnya justru menyelinap ke balik kegelapan dan enggan menampilkan diri. Sesungguhnya, Sik Tiong Giok merasa gusar setelah mendengar perkataan lawan yang tidak senonoh. Akan tetapi, pengalaman yang diperolehnya selama berkelana di dunia persilatan membuat anak tersebut cukup memahami kelicikan hati manusia serta betapa bahayanya dunia persilatan; sekali salah melangkah, akibatnya bisa fatal bagi keselamatannya.
Itulah sebabnya, biarpun di hati kecilnya ia mendongkol, perasaan tersebut tetap ditahan. Pelan-pelan ia menghampiri tempat persembunyian bayangan hitam itu, lalu sambil menatapnya lekat-lekat, ia berkata, "Sobat, kau tak usah menyelidiki siapa aku. Yang jelas, bila seseorang muncul di rumah orang lain di tengah malam buta, maka ia kalau bukan bajingan, tentu bandit. Hari ini perbuatanmu sudah ketahuan, maka jangan berharap keinginanmu bisa terwujud. Bila kau enggan menampilkan dirimu lagi, jangan salahkan bila aku tak akan sungkan-sungkan lagi."
Baru selesai berkata, diiringi suara desingan tajam, mendadak setitik cahaya menyambar ke arah tenggorokannya. Disusul kemudian terdengar orang itu berkata, "Kalau tak akan sungkan-sungkan, lantas kenapa? Nah, coba rasakan dahulu hadiahku ini."
Perbuatan orang itu betul-betul amat licik; ia melancarkan serangan lebih dulu dengan senjata rahasianya, kemudian baru menyapa. Diiringi seruan tertahan, Sik Tiong Giok segera roboh terkapar di atas tanah.
Dari balik kegelapan, segera melompat keluar sesosok bayangan hitam. Orang itu membungkus kepalanya dengan kain hitam dan mengenakan pakaian ringkas untuk berjalan malam. Pedang yang berada di tangannya kelihatan tajam serta memancarkan cahaya berkilauan. Ketika menjumpai Sik Tiong Giok roboh terkena senjata rahasia, ia segera berseru sambil tertawa tergelak, "Haahh, haahh, haah... manusia busuk, mulutmu berani bicara besar, nyatanya kau tak becus..."
Belum lagi perkataan itu selesai diutarakan, mendadak Sik Tiong Giok melompat bangun sambil membentak, "Siapa bilang aku tak becus? Lihat ini, kukembalikan senjata rahasiamu itu!"
Setitik cahaya tajam diiringi suara bentakan keras langsung menyambar ke tubuh orang itu. Dengan cekatan, orang tersebut menghindar ke samping kemudian berseru, "Kepandaian yang sangat hebat, tak nyana kau mampu menyambut senjata rahasia sambil mengembalikannya. Sayang sekali serangan itu tidak berhasil mengenai diriku."
Padahal, tujuan Sik Tiong Giok adalah membekuk orang itu hidup-hidup agar bisa diperiksa serta dikorek keterangan dari mulutnya, karena itulah serangan balasannya tadi tidak ditujukan untuk melukai lawan. Coba kalau bukan begitu, niscaya orang itu akan mampus atau paling tidak terluka parah.
Sementara senjata rahasia itu dilancarkan, Sik Tiong Giok ikut pula menerjang ke depan; tangan kirinya langsung mengancam sepasang mata lawan. Ternyata orang itu cukup cekatan, dengan gesit ia menghindar ke samping, lalu pedangnya bergerak cepat mengeluarkan jurus serangan "Tiga Gelang Menjerat Rembulan".
Sreeet, sreeet, sreeet! Secara beruntun ia melepaskan tiga buah serangan dengan gerakan yang cepat dan tepat. Jangan dilihat Sik Tiong Giok hanya bertangan kosong; sesungguhnya ilmu *Ki Na Jiu Hoat* yang dipergunakannya itu merupakan suatu ilmu kepandaian yang sangat menggetarkan dunia persilatan. Tidak nampak gerakan apa yang dipergunakannya, tahu-tahu saja gagang pedang lawan telah berhasil dipegang erat-erat. Menyusul kemudian bentakan keras menggema di udara, "Roboh kau!"
Ternyata orang itu menurut, diiringi dengusan tertahan, tubuhnya segera roboh terjengkang di atas tanah. Pada saat itulah, dari atas atap rumah melayang turun dua sosok bayangan manusia dan langsung menghadang di hadapan orang itu seraya membentak, "Bocah keparat, siapa kau? Berani amat mencampuri urusan kami!"
Sik Tiong Giok tersenyum, "Apa pula maksud kalian menyatroni Lembah Lu Hoa Kok di tengah malam buta begini? Paling tidak, kalian harus menyebutkan dulu siapa nama kalian."
Salah seorang di antara mereka segera menjawab, "Kami semua adalah Tui Hun Sam Cici (Tiga Utusan Pencabut Nyawa) dari Ci Shia Jit Mo (Tujuh Iblis dari Kota Merah). Adapun kedatangan kami di Lembah Lu Hoa Kok ini bermaksud untuk meminta semacam benda."
Sik Tiong Giok tidak mengetahui macam apakah Tujuh Iblis dari Kota Merah itu, ia agak tertegun. Mendadak dari kegelapan sana melompat keluar si kakek cebol yang segera menimbrung, "Hey anak muda, Tujuh Iblis dari Kota Merah bukan manusia baik-baik, apalagi anak buahnya. Lebih baik jangan beri kesempatan kepada mereka untuk kabur."
Sik Tiong Giok segera tersenyum lagi, ujarnya kemudian, "Kau tak usah kuatir, Paman Guru Cebol, setelah bertemu denganku, tanggung mereka tak akan punya peluang untuk pulang dalam keadaan aman dan selamat."
Utusan lencana emas, Bong Sim Cuan, tidak bicara lagi. Mendadak ia mendongakkan kepalanya dan memekik tajam; suaranya seperti tangisan setan, tajam, melengking, dan sangat tak sedap didengar. Begitu suara pekikan tersebut bergema, dari empat penjuru segera bergema pula suara sahutan yang amat keras. Suara itu begitu menyeramkan sehingga tidak mirip dengan suara manusia.
Sementara Sik Tiong Giok masih terkejut bercampur keheranan, tahu-tahu bayangan hitam telah bermunculan dari empat penjuru sekeliling tempat itu. Dalam waktu singkat, di sana telah bertambah dua puluh sampai tiga puluh orang lelaki berbaju hitam yang semuanya bersenjata terhunus; keadaannya sungguh menyeramkan.
Utusan lencana emas, Bong Sim Cuan, segera menghentikan suara pekikannya, lalu berkata kepada Sik Tiong Giok dengan suara sedingin es, "Nah, sudah kalian saksikan sekarang, seluruh Lembah Lu Hoa Kok telah terkurung rapat. Bila perintah kuberikan, maka dalam sekejap mata tempat ini akan menjadi abu."
Sementara itu, Tiga Manusia Jelek dari Say Juan telah memunculkan diri pula. Menghadapi situasi demikian, mereka telah mempersiapkan diri untuk melancarkan serangan.