Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 99

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 99

Sambil tersenyum, Sik Tiong Giok berkata, "Biarpun jumlah kalian amat banyak, sayang sekali orang-orangmu itu tak akan sanggup membuat aku, Sik Tiong Giok, menjadi tunduk dan takluk. Apalagi di dalam Lembah Lu Hoa Kok ini pun masih terdapat tuan rumahnya."

Mendengar bahwa lawannya adalah Sik Tiong Giok, utusan lencana emas Bong Sim Cuan tertawa seram. "Oh, rupanya kau adalah Pangeran Serigala yang baru muncul dalam dunia persilatan belakangan ini. Kebetulan sekali, sesungguhnya kedatanganku hari ini adalah untuk mencari kau."

"Oh ya? Tapi rasanya kita tak saling mengenal, berjumpa pun belum pernah. Ada urusan apa kalian datang mencariku?"

"Kami mendapat perintah dari Mo Cu untuk meminjam sebuah kotak Giok Hap Gi Ciau darimu. Bilamana kau tahu diri, harap serahkan saja benda tersebut padaku agar tidak perlu terjadi pertumpahan darah yang tak berguna."

"Oh, rupanya kau datang disebabkan kotak Giok Hap Gi Ciau tersebut, tapi sayang benda itu merupakan tanda kepercayaan bagi mereka yang setia kawan dan jujur; tak mungkin bisa kupinjamkan kepada manusia-manusia busuk semacam kalian."

"Hm, kalau begitu kau keberatan untuk meminjamkan kepada kami?" dengus utusan lencana emas ketus.

"Boleh saja kalau ingin meminjam, tapi harus ada jaminannya yang berharga."

"Jaminan apa yang kau inginkan?"

"Sesungguhnya sederhana sekali, hanya aku khawatir kau tak akan bisa memenuhinya."

"Benda apa pun yang dikehendaki Istana Iblis Kota Merah, tak ada orang yang berani membangkangnya."

"Benarkah kalian bisa memenuhinya?" ujar Sik Tiong Giok sambil tertawa. "Percuma saja kalau hanya bicara di bibir, apalagi bila sudah kuutarakan nyatanya tak mampu kalian penuhi, lantas bagaimana jadinya?"

"Cepat kau katakan! Dengan nama serta kedudukan Istana Iblis Kota Merah dalam dunia persilatan, aku yakin tiada persoalan yang tak bisa diwujudkan."

Tiba-tiba paras muka Sik Tiong Giok berubah menjadi serius. Lambat-lambat dia berkata, "Kotak Giok Hap Gi Ciau merupakan sebuah benda mustika bagi kaum pendekar dan ksatria dalam dunia persilatan. Benda itu lebih-lebih merupakan lambang bagi para patriot yang bertujuan memperjuangkan kebebasan bangsa dan negaranya dari cengkeraman kaum penjajah, sehingga boleh dibilang tak ternilai harganya. Aku rasa belum tentu ada benda setanding yang bisa dipakai untuk menjamin benda tersebut."

"Hei, sudah setengah harian lamanya kau mengoceh, bukankah semua perkataanmu itu percuma saja?" sela utusan lencana emas.

Sik Tiong Giok mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian menyahut sambil tertawa, "Tapi masih ada satu benda yang rasanya cukup sebagai jaminan."

"Benda apakah itu?"

"Batok kepala dari tujuh iblis!"

Begitu perkataan tersebut diutarakan, tiga manusia jelek serta kakek cebol segera tertawa terbahak-bahak saking gelinya, sedangkan ketiga utusan itu mencak-mencak karena mendongkol.

Utusan lencana emas segera mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya dan diangkat tinggi-tinggi ke atas sambil membentak, "Tiga puluh enam Thian Kang Busu, dengarkan baik-baik! Segera hancurkan Lembah Lu Hoa Kok ini sehingga rata dengan tanah, tangkap hidup-hidup Pangeran Serigala, laksanakan perintah ini baik-baik!"

Kawanan lelaki berbaju hitam yang berada di sekeliling tempat itu segera mengiakan bersama, kemudian menerjang ke bawah dengan kekuatan yang mengerikan.

Menantu bermuka jelek, Huan Sim, membentak keras. Dia menyambar senjata Sian Jin Ciang-nya lalu melancarkan serangan lebih dulu dengan menggunakan jurus 'menyapu rata selaksa prajurit'.

Tiba-tiba saja kawanan lelaki berbaju hitam itu menyebarkan diri ke empat penjuru. Si menantu bermuka jelek, Huan Sim, segera menggetarkan sepasang Sian Jin membentuk segulung cahaya tajam yang menghadang sembilan orang Busu Thian Kang tersebut. Sementara kedua puluh orang lainnya bersama-sama menerjang ke arah Sik Tiong Giok.

Si Duka bermuka jelek, Huan Ki, si Dewa Guntur bermuka jelek, Huan Siau, serta si kakek cebol tidak tinggal diam; serentak mereka maju menghadang dan berkobarlah suatu pertarungan yang amat sengit.

Sik Tiong Giok memandang sekejap ke tengah arena, kemudian bagaikan tak pernah terjadi suatu apa pun dia berkata kepada si utusan lencana emas sambil tertawa, "Aah, tidak kusangka kalau benda milikmu itu mempunyai daya pengaruh yang hebat. Benda apa sih namanya?"

Utusan lencana emas tertawa dingin. "Hmm, tak nyana pengetahuan si bocah cilik begitu rendah sehingga lencana tujuh iblis dari Istana Jit Mo Hu pun tidak dikenal. Buat apa kau berkelana di dalam dunia persilatan?"

Sik Tiong Giok segera tertawa. "Aah, bukankah di atas bambu kecil itu tergantung tujuh buah kepala tengkorak? Itukah yang bernama lencana tujuh iblis? Benar-benar susah dipercaya, coba pinjamkan kepadaku."

Utusan lencana emas tertawa dingin, "Hmm, manusia macam kau masih belum pantas untuk meminjamnya."

Belum habis ia berkata, mendadak tangan kanannya menjadi lemas dan lengan tersebut segera terkulai ke bawah tak bertenaga. Lencana tujuh iblis yang semula berada dalam cekalannya pun tak bisa dipegang lagi. Dalam kagetnya, cepat-cepat ia berusaha menyambar lencana tersebut dengan tangan kirinya, sayang sekali usahanya itu terlambat satu langkah.

Tahu-tahu terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, menyusul kemudian terdengar utusan lencana tembaga dan utusan lencana baja membentak bersama. Menanti dia mendongakkan kepalanya, tampak Sik Tiong Giok telah berdiri kembali di tempat semula dengan senyuman dikulum; dalam genggamannya ia masih memegang lencana tujuh iblis milik mereka.

Peristiwa ini segera mengejutkan ketiga orang utusan pencabut nyawa itu. Kegagahan dan kegarangan yang mereka tunjukkan tadi pun kini hilang lenyap tak berbekas. Paras muka mereka berubah menjadi pucat pias seperti mayat, tubuh mereka berdiri kaku di tempat bagaikan patung; untuk sesaat mereka tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Sik Tiong Giok yang berhasil merampas lencana tujuh iblis pun sedang mengamati benda tersebut dengan saksama. Ternyata ketujuh butir kepala itu, tiga besarnya hanya sekepalan, rambut dan kumis semuanya utuh, bahkan wajahnya seperti wajah manusia biasa. Dari ketujuh butir kepala itu, tiga di antaranya adalah kepala perempuan. Agaknya benda tersebut telah direndam dalam obat sehingga menyusut menjadi kecil. Salah satu kepala itu berwajah mirip sekali dengan Huan Li Ji, tapi mirip juga wajah Cu Siau Hong; cantik, menarik, dan mempesonakan hati.

Sik Tiong Giok yang menyaksikan hal ini seakan-akan tersentuh hatinya oleh suatu persoalan. Semacam perasaan gusar karena dipermainkan timbul dari hatinya. Mendadak ia membentak keras, "Hm, aku kira benda mustika apa yang begitu berharga, ternyata tak lebih cuma beberapa butir kepala manusia yang sudah mampus! Huh, aku mah tak sudi, ini kukembalikan kepada kalian!"

Sambil berkata, ia segera mengerahkan tenaga dalamnya ke dalam lencana tujuh iblis itu. Secepat sambaran kilat, benda itu segera meluncur ke arah Ule. Betapa gembiranya Ule ketika menjumpai lawannya mengembalikan lencana tujuh iblis itu kepadanya. Dalam hati ia berpikir, "Hmm, tampaknya cuma seorang bocah dungu yang belum berpengalaman, sehingga tidak diketahui betapa lihainya lencana itu."

Sementara di hati kecilnya berpikir begitu, tangannya segera bergerak cepat untuk menyambut lencana tersebut. Siapa tahu Sik Tiong Giok telah bermain gila dengan lencana tujuh iblis itu; bila tangannya sampai menyentuh benda tersebut, maka lencana tujuh iblis akan hancur berantakan. Di saat kelima jari tangannya hampir menyentuh lencana tujuh iblis itulah, mendadak benda itu melejit setinggi tiga depa ke tengah udara.

Peristiwa tersebut bukan saja mengejutkan si Ule, berhubung benda tersebut melejit ke atas, otomatis terlepas pula dari lingkaran daya pengaruh yang dipancarkan Sik Tiong Giok. Hal ini membuat anak muda tersebut turut merasa terkejut pula.

Dari balik kegelapan terdengar seseorang berkata dengan suara yang menyeramkan, "Bocah keparat Sik, percuma saja kau membuang tenaga dalammu. Jangan harap lencana tujuh iblis dapat kau hancurkan dengan tipu muslihatmu itu."

Sementara pembicaraan berlangsung, lencana tujuh iblis itu melambung di tengah udara lalu secepat sambaran petir meluncur ke arah mana berasalnya suara tersebut. Sudah barang tentu Sik Tiong Giok merasa tak puas setelah menyaksikan kejadian ini. Baru saja ia berniat melakukan pengejaran, siapa tahu pada saat itulah kejadian aneh kembali berlangsung.

Sewaktu sampai di tengah jalan, tiba-tiba lencana tujuh iblis itu kembali berhenti, seakan-akan terhadang oleh suatu kekuatan yang besar sekali. Benda itu melejit dan akhirnya terlempar keluar perkampungan. Kejadian ini sekali lagi mengejutkan Sik Tiong Giok serta tiga utusan pencabut nyawa; mereka tahu di situ telah hadir lagi jago-jago yang tangguh.

Sementara mereka masih diliputi perasaan kaget dan terkesiap, dari balik wuwungan rumah di sebelah timur telah muncul tiga sosok bayangan manusia dan langsung melayang turun ke atas tanah. Sik Tiong Giok segera mengamati bayangan tersebut dengan saksama; ternyata ketiga orang yang muncul adalah Pat Huang Sin Mo, Mo Shia Yu, seorang kakek botak, serta seorang perempuan cantik berpakaian pendeta.

Begitu memunculkan diri, ketiga orang utusan pencabut nyawa itu segera maju ke depan dan berlutut di hadapannya. Dengan suara dingin, kakek botak itu segera berkata, "Kalian sudah banyak tahun berdiam di Istana Mo Hu, tentunya mengetahui juga tentang peraturan dari lencana tujuh iblis, bukan?"

Ketika mendengar teguran itu, tiba-tiba saja sekujur badan ketiga orang utusan pencabut nyawa itu gemetar keras.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment