Halo!

Panggung Penghukum Dewa - Chapter 01

Memuat...
Panggung Penghukum Dewa

Chapter 01

Sim Sian Li atau Rara Ayu yang telanjang tanpa pakaian melayang ringan bagaikan kapas ke tanah. Sesaat sebelum tubuhnya menyentuh tanah, sepotong jubah yang lebar telah menyambar dan menggulung tubuh yang indah berkilat itu, kemudian sepasang tangan yang kekar telah menadahnya dan memeluknya dengan erat.

"Li-moi, bertahanlah!" Suara Sian Lee setengah berbisik di telinga gadis itu. Sejenak dia memeriksa tubuh gadis itu, kemudian menarik nafas panjang.

Kemudian matanya dialihkan ke arah keempat gadis yang terkapar tak berdaya di depannya. Perlahan dia mendekati mereka, kemudian memasukkan pil obat ke dalam mulut mereka. Setelah itu, tubuhnya bergerak pergi dari tempat itu.

Khong Bhok Hwesio yang tadinya terluka dan baru selesai bermeditasi menyembuhkan luka dalamnya, segera berdiri dan berseru, "Sicu, gunakanlah Dipan Pualam Dingin yang ada di goa larangan di belakang kuil kami untuk menyembuhkan Li-Lihiap yang terluka. Tempat itu adalah daerah terlarang bagi Siauw Lim Sie kami, namun karena sicu berdua telah berjasa mempertahankan keutuhan kuil kami, maka sicu boleh menggunakan Gua Pualam dingin tersebut untuk mengobati?"

Sian Lee termenung sejenak. "Terima kasih, Paderi Agung, tolong tunjukkan jalannya?" Pemuda itu mempersilahkan. Saat akan berlalu dari tempat itu, sekilas dia melirik keempat gadis yang masih pingsan tadi. "Tolong rawat mereka dan bebaskan saja. Ilmu mereka telah musnah sebagian, jadi tidak perlu di khawatirkan."

Khong Bhok Hwesio mengangguk dan memerintahkan murid-muridnya untuk mengurusi. Kemudian dia pun berlalu dari situ dan mengantar kedua tamunya. Sian Lee memasuki gua Pualam dingin tersebut dan membaringkan Sim Sian Li di atasnya di dipan Pualam dingin. Sementara Khong Bhok Hwesio hanya tinggal di luar saja.

Sesaat kemudian dia sudah berdiri di sisi si gadis, tangannya menempel di pusar dan di ubun-ubun dari si gadis dan mulai mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan. Entah sudah berapa lama dia mengerahkan tenaga, tiba-tiba dia merasakan perasaan yang aneh. Tenaganya tidak bisa ditarik dari tubuh gadis tersebut. Merasakan keanehan ini, hatinya tidak tenang dan tenaganya mulai kacau.

Saat itulah terdengar bisikan lirih dari Sim Sian Li, "Lee-ko, tenangkan pikiranmu. Tenagaku sedang berputar dan menyatu dengan tenagamu, aku sudah mengerti rahasianya, aku merasakan suatu kekuatan yang amat dahsyat, sepertinya perpaduan tenaga Batara Naga Mas-ku dan Ajian Cara Pancasona serta telapak Begawan Pamungkas yang telah kau miliki telah saling melebur dengan Ilmu Delapan Dewa milikmu. Sebenarnya aku telah sembuh dari tadi, hanya jika kau menarik tenagamu, maka kaulah yang akan dirugikan karena kau akan kehilangan semua tenagamu. Ikutilah rapalan Ajian Bataracaya Sakti ini dan kita latih bersama."

Demikianlah Sim Sian Li atau Rara Ayu memberi petunjuk yang dia ingat pernah dibacakan oleh gurunya. Hanya saja dulu belum mampu untuk dilatihnya. Namun sekarang peningkatan terhadap ilmu tersebut telah menjadi mungkin dengan penemuan yang tidak terduga ini.

Sian Lee pun menurut saja, tak lama kemudian tubuh mereka berdua mulai memancarkan sinar terang. Dalam sekejab seluruh pakaian yang mereka kenakan telah hancur. Dengan mata tertutup, kedua muda-mudi ini merasakan tubuh mereka terangkat dan bergerak berputaran di udara, kemudian tangan Sian Lee terlepas dari tubuh Sim Sian Li dan turun perlahan di tanah.

Perlahan mereka membuka mata dan saling memandang. Saat itulah Sim Sian Li menjerit tertahan sambil memalingkan wajah ke kanan. "Eh, Li-Moi, ada apa?" Apa lukamu belum sembuh? Tanpa terasa Sian Lee mengeluarkan pertanyaan itu, namun belum habis pertanyaannya, tiba-tiba dirasakannya pertanyaannya itu sangatlah konyol bila dilihat keadaan mereka berdua. Mulutnya hanya melongo tak dapat melanjutkan kata-katanya, sementara matanya menatap terpesona tubuh gadis yang polos bagaikan pualam di hadapannya itu.

Agaknya si gadis dengan cepat menyadari akan hal ini, segera dia menjerit lagi dan membalikkan tubuhnya. Namun gerakan apapun itu tetap tak bisa menyembunyikan bentuk tubuhnya yang indah itu dari belakang sekalipun. Mereka terdiam sejenak.

"Li-moi, ahhh, maafkan aku, aku tak bermaksud berbuat kurang ajar padamu!" Sian Lee membalikkan tubuhnya membelakangi pemandangan yang indah itu. "Biar kuh carikan pakaian untuk kita?" Segera dia berlalu dari gua itu. Karena pikirannya khusuk, tanpa terasa dia justru berjalan cukup lama ke bagian dalam dari gua yang gelap itu.

Agak lama dia berjalan sampai mulut goa itu semakin menyempit hingga dia harus merangkak dan akhirnya keluar di ruangan lain yang lebih terang. Di pintunya tertulis: "Ruang Samadhi Tat-Mo Cousu". Matanya tertegun, ruangan itu sangat luas. Tidak ada satu bendapun di situ, namun setelah diperhatikan di seluruh ruangan, maka tampaklah di seluruh dinding ruangan itu ukiran-ukiran gambar serta tulisan kecil orang-orang bersilat dengan berbagai jurus yang dahsyat.

Sian Lee tertegun sejenak, saat matanya yang tajam memperhatikan dengan teliti tulisan dan gambar itu satu persatu, dia teringat semua jurus-jurus yang dilatih bersama dengan gurunya serta kakek aneh Penunggang jagat. Sekali lihat saja dia telah mengerti dengan baik, sehingga tanpa terasa tubuhnya bergerak perlahan mengikuti semua gerakan tersebut, diikuti tenaga Ajian Bataracaya Sakti di dalam tubuhnya yang baru saja dilatih bersama dengan Sim Sian Li tadi memancar keluar dan bergerak bergolak dengan cepat dan secara otomatis bergerak mengikuti setiap gerakan yang dilihat dengan mata kepalanya.

Tenaganya bergerak selaras dan bersambungan bagai air bah mengalir, sehingga menggerakkan ruangan tersebut. Empat jam lebih Sian Lee bergerak tanpa henti, tanpa dia sadari tenaga saktinya mulai menemukan bentuk dan penyaluran yang amat dahsyat sampai ke taraf kesempurnaan yang dia sendiri tak akan percaya. Bahkan semua ilmu-ilmu yang pernah dia miliki telah terbentuk dalam suatu penggabungan yang lebih sempurna, sehingga dapat digunakan atau saling bertukar sekehendak hatinya tanpa halangan.

Bahkan tanpa disadarinya dia telah melatih seluruh intisari dari 72 ilmu rahasia dari Siauw-Lim-Sie yang ratusan tahun ini tidak seorang pun dapat melatihnya, meskipun telah berubah dalam bentuk yang sedikit berbeda karena bercampur dengan ilmu-ilmu asing dari negeri Jawa Dwipa. Meski ciangbunjin saat itu Khong Bhok Hwesio sekalipun di usia tuanya hanya dapat menguasai dua belas ilmu saja dari tujuh puluh dua ilmu tersebut.

Guo Pualam Dingin adalah goa yang sangat terlarang bagi para murid Siauw-Lim-Sie, meski ketuanya sekalipun hanya sekali saja boleh memasuki daerah itu. Sementara 72 ilmu itu telah ditulis dan disimpan dalam ruang penyimpanan kitab kuil tersebut, namun tak seorang pun yang menyangka bahwa di dinding, jauh di belakang goa Pualam Dingin ada tertulis akan semua ilmu tersebut.

Sejenak kemudian dia berhenti dan menarik nafas panjang. Setelah itu dia berlutut sembilan kali dan berlalu dari ruangan tersebut. Saat dia kembali ke ruangan tempat Dipan Pualam Dingin, dia menemukan seperangkat pakaian hwesio di sana, namun dia tidak menemukan Sim Sian Li.

Cepat dia mengenakan pakaian itu sambil tersenyum-senyum, kemudian melangkah keluar dari goa Pualam Dingin tersebut. Sesampainya di luar, keadaan sepi. Tidak ditemuinya satu orang pun di situ, maka segera dia menuju ke paseban agung dari kuil itu untuk menemui Khong Bhok Hwesio yang sedang bersemedhi.

Khong Bhok Hwesio membuka matanya dan memandang Sian Lee dengan tajam. "Omitohud, sicu sudah keluar, bagaimana dengan Li-lihiap, apakah luka dalamnya sudah sembuh sepenuhnya?" Sian Lee membalas, "Salam Paderi Agung, cahye berterima kasih atas kebaikan hati losuhu mengijinkan kami melakukan pengobatan di Goa Pualam Dingin. Dia sudah sembuh sama sekali, hanya saja tadi dia lebih dahulu keluar dari goa tersebut, tidak tahu apakah ada murid-murid kuil uni yang melihatnya keluar atau tidak."

Sambil menghormat, Sian Lee balas bertanya. "Omitohud, pinceng akan menanyakannya?" Saat dia memberi tanda sutenya untuk mengecek. Beberapa saat kemudian dia telah kembali lagi sambil membawa sepotong batu pipih dan menyerahkannya pada Khong Bhok Hwesio.

Setelah membacanya, Khong Bhok Hwesio lalu menyerahkannya pada Sian Lee yang segera membacanya. Agaknya ini memang ditujukan kepadanya: "Aku kembali ke Istana Atas Angin, jagalah diri baik-baik sampai kita bertemu lagi." Sian Lee termangu-mangu sampai lama. Khong Bhok Hwesio dan para sutenya memaklumi keadaannya, sehingga hanya berdiam diri saja.

Akhirnya pemuda itu mengangkat kepalanya. "Paderi Agung, cahye sudah menerima kebaikan dari kuil Siauw-Lim-Sie ini, walaupun secara kebetulan, namun akupun tidak serakah. Maka sebelum cahye meninggalkan tempat ini, cahye ingin membantu Paderi Agung dan yang lainnya untuk memungkinkan pada peningkatan ilmu yang lebih tinggi lagi?"

Demikianlah Sian Lee kemudian membantu Paderi Agung dan ke lima sutenya untuk menyempurnakan ke duabelas ilmu yang mereka telah miliki sebelumnya. Tentu saja tidak sedikit kemajuan yang mereka peroleh. Hanya dalam waktu lima hari itu saja, kepandaian Khong Bhok Hwesio berenam telah mengalami kemajuan sepuluh kali lipat daripada keadaan lima hari sebelumnya.

Di bawah pengaruh dari Khong Bhok Hwesio dan Thian in Kiam ong, maka dikibarkanlah "Hok Khi" (Panji Orang Gagah Pembasmi Iblis), dengan harapan ini akan menjadi satu-satunya pertahanan terakhir dari kaum putih.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment