Chapter 02
Namun, sejak hancurnya Sian Thian San, dunia persilatan telah dimulainya suatu babak baru dalam sejarah persilatan di Daratan Tengah ini, meski dengan adanya Hok Khi pun tetap tidak dapat berbuat banyak.
Tujuh bulan berlalu dengan cepat.
Bahkan, sejak hancurnya beberapa partai besar, desas-desus kekuatan, kekejaman, dan ambisi untuk menguasai dunia dari orang-orang Jit Cu Kiong semakin menyebar ke seluruh Tionghoan.
Rimba persilatan serasa mati.
Tidak ada orang yang berani memunculkan diri lagi.
Apalagi saat tersiar kabar munculnya seorang dedengkot sakti dari negeri Jawa Dwipa yang menjadi pelindung di balik Jit Cu Kiong.
Yang paling menyedihkan ialah para ciang bun jin kelima partai besar ditawan oleh begundal-begundal Jit Cu Kiong ini.
Banyak tokoh-tokoh tua yang sudah lama mengasingkan diri akhirnya bermunculan.
Namun, mereka pun tidak dapat berbuat banyak karena kekuatan Jit Cu Kiong terlalu kuat, dan mereka pun hanyalah merupakan kumpulan-kumpulan kecil yang bergerak sendiri-sendiri. Waktu itu telah genap tujuh bulan dunia persilatan terdiam.
Kejahatan orang-orang Jit Cu Kiong kian merajalela.
Banyak tawanan jago-jago persilatan dari berbagai cabang yang dibunuh di atas "Panggung Penghukum Dewa" yang didirikan oleh Po Tee Giok setengah bulan terakhir ini.
Setiap dua hari ada saja satu orang jago aliran putih yang disembelih dengan sadis di panggung tersebut.
Total yang sudah mati hingga saat itu sudah lima belas orang.
Mayatnya tidak dikuburkan, melainkan hanya dibuang saja di bawah panggung dan dibiarkan membusuk sampai habis dimakan burung gagak.
Tuntutannya hanya satu, yaitu meminta orang-orang dari Sian Thian San untuk menyerahkan diri.
Matahari semakin tinggi menjelang tengah hari, sesosok bayangan pria berjubah hitam tiba-tiba telah berada di atas panggung tersebut.
Di tangannya menyeret dua orang tua berpakaian lusuh.
Salah satunya berpakaian tambal-tambalan yang tidak lain adalah Kiam Lek Cu (Si Pedang Petir) Ciang Wi Tosu, yang merupakan ciang bun jin Go Bie Pai, serta Liong Tung Sin Kai (Pengemis Sakti Tongkat Naga) Lok Kai, yang juga adalah ciang bun jin Kay Pang Cabang Selatan.
Tiba-tiba terdengar suara tawa dari pria tersebut.
Tanpa berbicara apa pun, kedua tangannya bergerak dan satu per satu mematahkan kedua lengan dua orang tawanan itu, kemudian dilemparkan kepada kawanan anjing buas yang dirantai di bawah panggung.
Ini menimbulkan jeritan kesakitan yang amat memilukan.
Bahkan, pria itu mulai mencongkel mata kedua orang itu lalu melemparkannya kepada anjing-anjing tersebut.
Semua ini dilakukan dengan sadis dan tidak mengenal perasaan.
Wuuuussssh! Blammm! Sementara dia melakukan hal itu, tiba-tiba pria berpakaian hitam tersebut melompat ke atas menghindari serangan pukulan berapi yang dahsyat.
Namun, dia kecele karena pukulan tersebut ternyata tidak ditujukan kepadanya.
Melainkan kepada kedua tokoh yang sudah sekarat itu.
Dalam sekejap saja kedua tubuh itu hangus dan lenyap dari tempat itu.
Sementara pria berpakaian hitam itu sudah tegak kembali di tempatnya tadi sambil memandang tajam ke arah pendatang baru yang baru muncul.
Terdengar suara yang perlahan dan halus seperti orang berdoa: "Semoga locianpwe berdua memaafkan cahye. Cahye hanya bermaksud membebaskan ji wie locianpwe agar tidak menderita lagi?"
"Siapa yang mencari perkara dengan Hek Jiu Mo (Iblis Bertangan Hitam)?" Pria berjubah hitam, yang ternyata adalah tokoh sesat yang telah lama menghilang dari dunia persilatan itu, membentak dengan suara dingin.
Namun, dia tertegun sejenak karena di depannya telah berdiri seorang remaja tanggung yang memakai jubah merah dengan lengan yang tergulung sampai ke siku.
"Hem! Hek Jiu Mo (Iblis Bertangan Hitam), kalian mencari orang-orang Sian Thian San, bukan? Sekarang sudah ada di depanmu, kau tunggu apa lagi?" Remaja tanggung itu balas menatap pria tersebut dengan tatapan tajam.
"Hahaha, kukira siapa? Tidak tahunya hanya anak kemarin sore yang mencoba berlagak. Apakah Sian Thian San memang sudah kehilangan jagoannya sehingga mengajukan anak kecil ini? Sungguh memalukan!" Suaranya menggelegar, sengaja diperdengarkan ke angkasa.
Namun, belum habis suaranya, tiba-tiba terdengar suara, "Jangan takabur kau, belum tentu kau sanggup bertahan dua puluh jurus dengannya!" Terdengar suara mendengus dingin di belakangnya.
Cepat dia berpaling, ternyata di belakangnya sudah berdiri sekitar delapan orang yang berpakaian dan berkerudung hitam seperti kerucut.
Cepat dia berlutut menyembah.
"Hehee, kau tidak percaya perkataanku, bukan? Kalau begitu kuberikan kesempatan padamu untuk menjajalnya. Kalau kau menang, barulah kau bunuh diri!" Kembali terdengar suara dingin itu menyahut.
Hek Jiu Mo (Iblis Bertangan Hitam) segera mengangkat mukanya dan membalikkan tubuh memandang remaja tanggung di depannya dengan sorot mata ganas.
Tanpa bersuara lagi, mulutnya memekik nyaring dan sudah menerjang dengan kecepatan kilat menyerang dengan dua pukulan dahsyat ke arah lawannya itu.
"Huh, tidak tahu diri!" Remaja tanggung itu mendengus sambil memandang dengan mata berkilat.
Tubuhnya tetap diam di tempat, namun saat pukulan lawan hampir menyentuh tubuhnya, tiba-tiba bayangan tubuhnya berubah menjadi dua dalam pandangan Hek Jiu Mo (Iblis Bertangan Hitam).
Dia terkejut dan berusaha menarik pukulannya, namun terlambat.
Sebuah pukulan keras berhawa panas telak menghantam dadanya.
Tubuhnya terlempar bagai layang-layang putus dengan dada hangus.
Ternyata dia telah terkena salah satu jurus dari Hok Liong Hwee Sian Ciang (Telapak Dewa Api Penakluk Naga).
Sebenarnya Hek Jiu Mo (Iblis Bertangan Hitam) bukanlah tokoh kacangan.
Dia adalah salah satu dari Lima Siluman Bumi yang telah berhasil ditaklukkan oleh pihak Jit Cu Kiong, namun dia terlalu memandang enteng lawan.
Sementara remaja tanggung itu, yang tidak lain adalah Beng Sian, murid terkasih dari Sian Lee.
Sejurus kemudian dia menyapu kedelapan orang yang telah hadir di tempat itu, kemudian mendengus.
"Hah, tak kusangka hari ini bisa mendapat penyambutan yang semeriah ini darimu, orang marga Po? Tapi kau terlalu keji dengan mengadakan pembantaian ini?"
"Hehehe, Bocah setan, mengandalkan apa kau mau mengguruiku? Apa kau pikir masih dapat lolos dari tempat ini dalam keadaan hidup?" Suara pemuda itu, yang tidak lain adalah Po Tee Giok, dingin dengan mata mencorong tajam memperhatikan Beng Sian dari balik kerudungnya.
"Hoho, aku tidak akan datang kalau tidak yakin akan kemampuanku. Sekarang katakan apa maumu?" Tandas Beng Sian dengan suara tidak kalah dinginnya.
"Hem, aku mau kepala Pat Sian dari Sian Thian San. Kalau tidak, aku akan bunuh semua tokoh-tokoh persilatan ini di atas panggung ini. Akan kulihat bagaimana kalian dapat menyelamatkannya."
"Huaaahahahaha! Kau pikir Pat Sian adalah anak kemarin sore? Aku justru membawa pesan guruku untuk disampaikan kepada kalian."
"Siapa gurumu?" Terdengar suara mendengus dari samping kiri Po Tee Giok.
Ternyata adalah seorang tua berkerudung hitam yang tidak mau memperlihatkan wajahnya.
Melihat lagak orang berkerudung tersebut, timbul sifat angkuh dari Beng Sian, "Heh, tidak ada urusanmu di sini, anjing penjilat! Kalau kau bisa mengalahkanku, aku akan memperhitungkanmu!"
"Baik, apa susahnya menangkapmu!" Belum lagi kata-kata habis diucapkan, tubuh orang berkerudung hitam itu melesat dengan kecepatan bagai sambaran kilat.
Jari-jari tangannya bagai capit baja menjepit ke tubuh Beng Sian.
"Heh, jika aku dapat kau tangkap sedemikian mudahnya, maka aku akan menarik diri dari Delapan Dewa Pelindung Sian Thian San!"
Beng Sian mendengus sambil tertawa hambar.
Tidak tampak sedikit pun kegugupan di wajahnya.
Tanpa menggerakkan kakinya, tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi tiga bayangan, dan dalam sekejap semua serangan itu telah dihindarinya dengan manis.
Hal itu tentu mengejutkan orang berkerudung tersebut.
Tanpa berhenti, tubuhnya berputar cepat dan mengirimkan delapan belas serangan dari atas yang menghadang semua gerak dari Beng Sian.
Tenaga yang dikerahkannya pun bukan main-main, bagaikan gugurnya gunung dahsyatnya.
Sesaat semua pukulan itu akan menghantam Beng Sian, tiba-tiba tubuhnya merendah dan berputar maju dengan cepat menyongsong pukulan-pukulan tersebut dari arah bawah.
Jurus ketiga dari Hok Liong Hwee Sian Ciang (Telapak Dewa Api Penakluk Naga) segera dilancarkan dengan pengerahan tenaga penuh.
Dhuaaaarrr! Delapan belas bayangan pukulan tersebut sirna, hanya tampak sepasang telapak tangan yang beradu dan menimbulkan ledakan yang dahsyat.
Orang berkerudung itu terlempar ke belakang dan muntah darah, sedangkan Beng Sian tergentak ke belakang selangkah.
"Iiihh!" "Hebat!" Terdengar seruan kaget bercampur dengan pujian.
Sesungguhnya, hampir tiada seorang pun yang percaya.
Remaja itu baru berapa tahun berlatih, tapi tenaga dalamnya sudah mampu mengungguli rekan mereka yang tidak lain adalah Bu Tek Thian Mo (Iblis Langit Tanpa Tanding), yaitu seorang dari antara Lima Iblis Langit yang sudah lama mengasingkan diri.
Diam-diam mereka terkejut, baru salah satu dewa pelindungnya saja sudah begini hebat. Sampai di manakah kekuatan Sian Thian San yang sebenarnya? Kalau dipikir, memang mereka sangat mudah menaklukkan Sian Thian San tempo hari dikarenakan hampir semua jago-jagonya tidak berada di tempat.
Beng Sian masih tetap berdiri tegak, sedangkan di sudut sebelah kanan tampak seorang berkerudung yang lain, yang memiliki tubuh berbau kuburan, sedang memandang ke arahnya dengan sorotan mata yang tajam bagai sembilu.
Pelan-pelan orang ini berjalan ke arahnya.
Saat itu juga Beng Sian merasakan tekanan yang amat kuat mengurungnya dari berbagai penjuru.
Tahulah dia bahwa lawan kali ini tidak boleh dipandang ringan.
Paling tidak, dia bisa mendeteksi bahwa tenaga orang ini masih di atas lawannya yang pertama.
Kedua tangannya dibuka ke samping dengan jari-jari menghadap ke bawah.
Saat itu juga dia mengerahkan tenaga Hok Liong Hwee Sian Ciang-nya.