Halo!

Panggung Penghukum Dewa - Chapter 03

Memuat...
Panggung Penghukum Dewa

Chapter 03

Tekanan yang menghimpit Beng Sian sirna seketika, berganti hawa panas menyengat. Matanya mengawasi gerak-gerik kakek tersebut. "Marilah layani aku bermain-main sedikit!" Kakek itu melakukan gerakan menotok aneh yang mengurung dari delapan penjuru. Totokannya mendatangkan perbawa tenaga tajam berlipat ganda dari Bu-Tek Thian-Mo. Beng Sian merasakannya karena kedahsyatan totokan itu hampir membobol kekuatan *khie-kang* tubuhnya.

Namun, tubuh Beng Sian bergerak cepat sambil mengempaskan seluruh kekuatannya. Tangannya melakukan gerakan aneh yang membuat orang berkerudung terkejut. Dalam waktu singkat, terjadi pertukaran lima puluh jurus tanpa ada yang terdesak. Tubuh mereka terpisah cepat dalam jarak dua tombak. Kemarahan dan gengsi memuncak di ubun-ubun orang berkerudung itu. Tiba-tiba terdengar pekik menggelegar yang amat dahsyat. Tubuhnya melambung ke atas sambil melayangkan hujanan pukulan tajam. Inilah pengerahan seluruh kekuatannya. Ia bertekad memperoleh kemenangan dalam sekali serang.

Beng Sian tak membiarkan itu. Kedua kakinya terpantek di tanah sedalam setengah jengkal. Tubuhnya merendah ke belakang dengan menghadap ke atas. Tangannya tiba-tiba berubah menjadi api biru. Inilah pengerahan tertinggi dari Hok Liong Hwee Sian ciang. Kehebatan jurus ini terletak pada punggung yang merendah menempel di tanah. Saat itu, ia menyerap tenaga *yin* dari tanah sehingga tenaganya berlipat ganda, tersalur dibungkus kekuatan hawa panasnya. Beng Sian memukul dengan hawa panas berapi, namun kekuatan paling dahsyat terletak pada hawa dingin di balik pukulan itu, karena hawa dingin ini tak dapat ditahan, bahkan akan menyusup tenaga lawan dan menghancurkan pusat tenaga lawan sehingga lawan menjadi lumpuh.

"Blaaammmmm!" Terdengar ledakan dahsyat bagai gugur gunung. Semua orang terkejut. Tubuh orang berkerudung terhuyung lima langkah dengan tubuh bergetar keras. Sedetik kemudian, ia memuntahkan darah kental. "Hahahaha, adik kecil, kau hebat sekali. Keberanianmu benar-benar menambah semangatku yang sudah puluhan tahun tidak bergebrak. Mari, mari kutemani engkau menyingkirkan tikus-tikus ini?" Belum habis suara itu, muncul dua sosok bayangan dari arah berbeda. Sangat cepat sekali.

Satu bayangan muncul di samping kanan sambil terbahak-bahak kesenangan. Yang satu lagi berkelebat ke sebelah kiri Beng Sian dan menyapanya: "Adik Sian, minumlah ini dan sembuhkan lukamu dulu." Pendatang ini tak lain adalah Hong Er Yong. Sambil berdiri tegak menjaga di samping Beng Sian, ia memandang tajam ke arah kakek aneh yang terkapar di tanah sambil memuntahkan darah. Kemunculan bayangan kedua sungguh tak disangka oleh kakek yang baru datang itu. Diam-diam ia tercengang dan berdecak kagum: "Eh, nona cilik, umurmu hanya seukuran cucuku, namun kau hebat sekali, bisa datang tanpa sepengetahuanku. Benar-benar ombak sungai tiangkang mendorong ombak di depannya?"

Er Yong hanya tersenyum. "Mohon tanya, siapakah nama cucu tuan?" "Hem, anak bengal itu bernama Cui Im Yan." "Aakh, ternyata Cui Im Yan cici. Kalau begitu, tuan adalah Mo Kauw Kauwcu Kian Kun Mo Cui Ho Meng..." "Eh, kau juga kenal budak cilik itu?" Jawab kakek itu dengan wajah cerah. "Dia ada bersama dengan kami, bahkan merupakan salah satu dari Delapan Dewa Sian Thian San?" "Apa? Dia juga Dewa dari Sian Thian San?" Kakek itu bertanya penasaran, namun baru saja hendak melanjutkan, tiba-tiba terdengar bentakan keras. "Bangsat! Apa kalian kira tempat ini adalah tempat bernostalgia?"

Saking gusarnya, Cui Ho Meng memelototkan matanya kepada orang berkerudung yang mengeluarkan suara tersebut. "Penipu licik, murid durhaka, sampai ke liang kubur pun aku takkan dapat melupakan baumu yang busuk itu. Kebetulan kita bertemu di sini?" Tubuh Po Tee Giok gemetar sesaat, kemudian tenang kembali. Ia terkejut bahwa orang tua ini dapat mengenalnya, namun kembali ia tenangkan diri karena percaya pada kemampuan orang-orang yang dibawanya. "Hem, orang tua, kau tak usah gembar-gembor di sini, itu semua salahmu yang terlalu pelit membagi ilmu. Sekarang dengan kedudukanmu sebagai iblis dari *mo-kauw kauwcu*, siapakah yang akan kau bantu?"

"Huh, banyak bacot. Meskipun aku Kian Kun Mo, tapi tak dapat aku sejalan dengan pembokong licik sepertimu!" Bentak kakek tersebut sambil tubuhnya berkelebat menyerang dengan pukulan dahsyat dari Kian Kun Sin Kang ke arah Po Tee Giok. Pemuda itu segera menghindar ke belakang. Sedangkan tempatnya kemudian digantikan oleh dua orang berkerudung lain. Cui Ho Meng terkejut. Dari pertemuan tenaga barusan, ia dapat menduga kalau kekuatan lawan hanya setengah tingkat di bawahnya. Entah siapa mereka.

Saat itu, tiba-tiba terdengar suitan nyaring dari arah timur. Tubuh Po Tee Giok tersenyum mendengarnya. "Hahaha, selamat datang Guru!" Segera tubuhnya membungkuk ke arah sumber suara, diikuti yang lain. Cui Mo Heng yang merasa tidak dihiraukan jadi gusar bukan main dan membentak. "Bangsat, jangan salahkan aku yang tidak sopan?" Tenaga Kian-Kun Sin-Kangnya dikerahkan, kemudian memukul ke arah dua orang berkerudung yang tadi menghalanginya.

"Ddaaaarrrr!" Terdengar bunyi ledakan keras, namun bukan kedua orang berkerudung itu yang terlempar, melainkan Cui Mo Heng yang terdorong mundur sambil memuntahkan darah segar. Entah bagaimana, tahu-tahu di tengah panggung itu telah berdiri seorang kakek asing berjubah hitam dan bersorban hitam. Sementara itu, Beng Sian membuka mata setelah memulihkan luka dalamnya, kemudian bertanya kepada Er Yong. "Yong-Cici, siapakah orang tua ini...?" "Entahlah. Melihat gelagatnya, sepertinya kita bertemu lawan tangguh." Er Yong berbisik sambil terus menatap kakek itu yang juga menatapnya.

"Hehehe, Tee Giok, apakah ini nona kecil yang kau katakan tidak mau takluk?" Cepat-cepat Po Tee Giok maju ke muka dan menjawab. "Benar guru, mohon petunjuk..." "Baik, kau tangkaplah dia sekarang?" Kata kakek itu tenang sambil menyeringai. Po Tee Giok menganggukkan kepala sambil mendekati Er Yong. "Nona Yong, menyerahlah?" "Huh, kau pemuda mesum yang tak tahu diri, rasakan pedangku!" Bentak Er Yong dingin. Pedangnya langsung berkelebat mencecar dengan sembilan belas tusukan ke arah leher Po Tee Giok dengan jurus "10 Titisan Dewa Angin". Sementara tangannya mengerahkan Ajian Cakra Bayu menghantam dengan gencar.

Po Tee Giok terkejut. Belasan jurus di muka, ia hanya bisa menghindar dengan berat tanpa bisa melawan. Tiba-tiba, "Heh, sungguh bodoh, hanya Sepuluh Titisan Dewa Angin saja kau takutkan, lalu apa gunanya kau belajar jurus 'Seribu Bianglala Iblis'?" Terdengar makian kakek itu. Segera Po Tee Giok tersadar. Saat itu juga ia memekik nyaring dan mengerahkan Kian-Kun-Mo Kang yang andalan ketua *Mo-kauw* untuk menangkis pukulan gadis itu. Sedangkan pedangnya sudah diloloskan dan bergerak dengan ilmu "Seribu Bianglala Iblis" ajaran kakek asing itu untuk menggentak mundur lawan. Kali ini Er Yong tidak dapat berbuat banyak, keadaan mereka sama kuat. Bahkan dengan beberapa petunjuk dari kakek itu, pada jurus-jurus selanjutnya gadis itu terdesak hebat.

"Hahaha, Nona Yong, menyerahlah!" Sahut pemuda itu dengan suara bangga. Saat-saat menggenaskan itu, tiba-tiba Er Yong memejamkan mata. Gerakan kaki tangannya berubah, lebih sederhana, tidak ada keanehan di dalamnya, namun semua yang melihat terkejut. Semua serangan dan desakan Po Tee Giok kandas di tengah jalan. Dari mendesak, kini malah terdesak.

"MINGGIR?" Tiba-tiba terdengar bentakan kakek itu. Saat itu juga, tubuh Po Tee Giok tergeser ke pinggir panggung. "Istirahatlah Yong-moi, kakek ini bagianku!" Terdengar suara halus di telinga Er Yong. Tiba-tiba di hadapan kakek itu, entah bagaimana, tak seorang pun yang melihat, telah berdiri seorang pemuda tampan berpakaian putih dengan rompi kulit harimau putih, yang ternyata adalah Sian Lee. Kedua orang itu, satu tua dan satu muda, saling berhadapan. Pancaran tenaga yang amat kuat saling bentrok hingga seluas lima belas tombak.

Melihat kekuatan tenaga orang itu, diam-diam pemuda ini mencoba menduga: apakah ini tokoh sakti dari Istana Mustika Langit yang disebutkan oleh "Si Penunggang Jagat", yaitu: Ki Reksa Sadewa yang di negeri Jawa Dwipa lebih dikenal dengan julukan Maharaja Petaka Bumi, yaitu adik seperguruan dari Maharaja Petaka Langit yang menjadi ketua Istana Mustika Langit. Memang sejak semula ia sudah merasakan firasat amat kuat tentang adanya satu kekuatan tersembunyi ini, namun tak disangkanya akan secepat ini bertemu. Ki Reksa Sadewa juga dapat merasakan perbawa kekuatan Sian Lee yang dahsyat. Ia segera sadar bahwa murid-muridnya sekalipun takkan dapat mengatasi pemuda ini, itulah sebabnya siang-siang ia telah menunjukkan diri untuk menghadang pemuda tersebut.

Sementara itu, Sian Lee mengamati sekelilingnya. Walaupun wujud mereka belum kelihatan, namun pemuda itu dapat merasakan pancaran hawa sakti pekat yang telah mengurungnya. Getaran tenaga yang dipancarkan ke sekeliling dalam jarak lima tombak mendapatkan perlawanan kuat. Segera ia dapat mendeteksi orang-orang yang mengurungnya ada sekitar dua puluh orang banyaknya. Namun tak lama kemudian terdengar suitan nyaring dan di atas panggung itu telah berdiri bertambah enam orang yang ternyata adalah orang-orang muda semua. Mereka adalah Giok Hui dan kawan-kawan yang telah hadir di situ.

"Hem, anak muda, aku kagum dengan bakatmu."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment