Halo!

Panggung Penghukum Dewa - Chapter 04

Memuat...
Panggung Penghukum Dewa

Chapter 04

Semuda ini sudah mampu membuat terobosan yang luar biasa dalam ilmu silat.

"Sayang sekali jika aku harus melenyapkanmu." "Bersiaplah!" Ki Reksa Sadewa berkata dengan aksen latah tanpa menggerakkan bibirnya.

Sementara itu, tenaganya mulai dipancarkan untuk mengurung Sian Lee dari berbagai penjuru.

"Orang tua, selamanya daratan Tionggoan dan JawaDwipa terpisah jauh dan tidak saling menyinggung. Mengapa kalian datang mengacau dan berbuat jahat di sini?" jawab Sian Lee dengan suara datar.

"Anak muda, Sian Thian San dan Istana Atas Angin selalu menyombongkan diri sebagai satu-satunya kekuatan yang dapat menjaga perdamaian dunia sehingga berusaha menyingkirkan kami yang dianggap sesat. Dendam ini sudah lama terpendam di hati kami." "Kau pun tidak perlu banyak bicara lagi!" Berkilat mata Sian Lee.

Saat itu juga dia mengerahkan tenaganya menolak desakan tenaga lawan ini sehingga terjadi benturan tenaga yang kasatmata. Akibatnya, terdengar jeritan-jeritan kecil di sekeliling saat orang-orang yang bersembunyi terdesak dan akhirnya bermunculan satu per satu, lalu berdiri dengan pandangan garang.

"Perbuatan kalian menghancurkan Sian Thian San belum sempat kuperhitungkan, agaknya Thian memang sudah mengatur semua ini." "Hem, baiklah, apa maumu sekarang...?" jawab Sian Lee dengan suara datar, dengan nada menantang.

"Bagus, kau berjiwa besar. Aku akan bermurah hati untuk memberimu kematian yang utuh?" Kembali kakek itu tertawa.

"Menilik gelagat ini, selain bertempur denganmu, aku tak punya pilihan, bukan?" Kembali Sian Lee menyindir dengan suara sinis.

Mata kakek itu melotot. Wajahnya memerah seketika.

"Kau takabur sekali, apa kau pikir dapat lolos dari tanganku?" "Mohon tanya, apakah kepandaianmu, orang tua, dapat melebihi kesaktian 'Si Penunggang Jagat'?" Ki Reksa Sadewa melengak mendengar pertanyaan ini. "Huh, apa hebatnya si bangsat itu? Tak perlu kau menggunakan namanya untuk menggertakku!" "Maaf, aku tidak bermuka tebal untuk mendongkrak namanya. Pengelana Tangan Sakti tidak hanya kudapatkan dengan mendompleng nama orang. Hanya saja aku mendapat wasiatnya untuk mencari kau, orang tua, dan mengembalikanmu ke penjara abadi di Istana Atas Angin—entah kau suka ikut atau tidak...." Mendelik mata Ki Reksa Sadewa.

Wajahnya memerah karena gusar.

"Baik, anak muda, agaknya aku harus melenyapkan kesombonganmu dulu!" Tiba-tiba mulut Ki Reksa Sadewa tertawa keras. Suaranya membahana bagaikan dentuman halilintar yang dahsyat, menyerang Sian Lee. Hakikatnya, itu adalah Ajian Kidung Ngampar yang sangat dahsyat. Tingkatan ajian ini berada setingkat lebih tinggi dari Gelap Ngampar. Kehebatannya adalah menyerang melalui getaran ultrasonik di alam, mengubahnya menjadi tenaga penghancur, dan menjalar melalui suara sehingga mampu melumpuhkan tenaga lawan, sehebat apa pun dirinya. Hakikatnya, hampir mustahil ada manusia yang sanggup menghadapi ilmu ini tanpa terluka. Sekarang, ilmu tersebut digunakan menyerang Sian Lee.

Tampak tubuh Sian Lee bergetar sesaat. Segera dia mengerahkan seluruh tenaganya. Hanya sesaat, kemudian tenang kembali. Matanya terpejam dan mulai mengikuti alur tenaga dari ajian tersebut. Sejak memahami Ajian Bataracaya Sakti yang dilebur dengan intisari 72 ilmu warisan Tat Mo Couwsu serta semua ilmu yang dia miliki sebelumnya, dia telah menyingkirkan penghalang dari semua ilmu yang ada sehingga dengan sekali lihat, rasa, atau dengar saja dia dapat menciptakan penangkalnya.

"Mustahil!" Terdengar pekikan nyaring dari mulut Ki Reksa Sadewa.

Detik itu juga tubuhnya lenyap dari hadapan Sian Lee. Tak terjadi apa-apa saat tenaga yang membalik menghantam bangunan megah di belakang Ki Reksa Sadewa. Namun, sesaat kemudian saat angin bertiup, bangunan itu runtuh menjadi serbuk halus. Saat itu juga, terdengar seruan-seruan kaget dari mulut para jago yang mengepung tempat tersebut.

"Mustahil! Seumur hidup belum pernah ada ilmu lain yang dapat mengalahkan ilmu ini kecuali bertarung seimbang." "Ilmu apa yang kau gunakan, bocah...?" Ternyata kakek itu telah berada di belakang Sian Lee, memandang pemuda itu dengan wajah pucat pasi.

Sian Lee menarik napas panjang dan menatap dingin pada kakek tersebut.

"Ilmu itu adalah Thiankang (Titah Dewa Langit) yang baru kuciptakan setelah merasakan getaran dan daya penghancur ajian yang baru saja kau keluarkan, orang tua. Yah, memang belum sempurna, tapi aku yakin dua atau tiga kali lagi kugunakan, pasti akan lebih hebat lagi!" "Bocah setan!" Tampak Ki Reksa Sadewa tergerak mundur dengan tubuh bergetar. Dia sungguh terkejut sekali, orang yang dapat menciptakan ilmu penangkal terhadap ilmu lawan dengan sekali lihat dan merasakan, sungguh seorang yang luar biasa. Pemilik Istana Atas Angin maupun penguasa Sian Thian San dulu pun tidak ada yang seperti itu. Segera dia sadar bahwa sangat mustahil memenuhi ambisinya untuk menguasai daratan Tionggoan ini.

Perlahan, dia menarik napas panjang.

"Kali ini Bintang Pamungkas (Kemujuran) benar-benar berpihak pada Sian Thian San. Baiklah, aku akan mengundurkan diri dari sini dan tidak akan kembali lagi ke Tionggoan ini, namun sudilah kiranya engkau memenuhi dua keinginanku?" Kakek itu menatap tajam kepada Sian Lee dengan tatapan penuh harap.

Sian Lee terhenyak dan balas menatap orang tua di depannya ini.

"Silakan, orang tua, bicara?"

"Pertama, kita adu dalam gerakan silat. Dan kedua, akan kusampaikan jika aku kalah. Bagaimana?"

"Baik! Silakan, orang tua, mulai!" Sian Lee mengangguk sambil mempersilakan.

Ki Reksa Sadewa mendengus sekali, kemudian tubuhnya bergerak dengan kecepatan tinggi, menyerang dengan jurus-jurus silat. Saat itu juga terjadi pertukaran jurus yang amat dahsyat dan aneh dari kedua orang tersebut. Yang lebih aneh lagi, pertarungan itu hanya berlangsung dalam lima gebrakan. Namun, dalam lima gebrakan itu, Ki Reksa Sadewa telah mengerahkan semua jurus silat dan ajian yang paling aneh dan dahsyat yang diketahuinya, seperti Aji Wisanggeni, Aji Serat Biru, Ajian Cakrabuana Sukma, Ajian Gelap Sewu, dan Ajian Lembur Kuning yang mengerikan. Namun, dia terkejut karena tetap saja serangannya tak bisa menyentuh seujung baju pun dari pemuda tersebut. Bahkan dia merasa semua serangannya melempem dan tak bisa dikembangkan di bawah tekanan lawan yang hanya menangkis seadanya, tetapi berakibat semua pukulannya tak bisa maju. Merasa semua usahanya sia-sia, segera dia mengundurkan diri setelah gebrakan kelima.

"Anak muda, aku menunggumu di Istana Mustika Langit." Tanpa banyak bicara, kakek itu lalu membalikkan tubuhnya dan berlalu dari situ. Diikuti semua murid-muridnya yang berasal dari luar Tionggoan tersebut. Tersisa empat orang di antara Lima Iblis Langit yang masih hidup, serta dua orang sisa dari antara Lima Siluman Bumi. Tadinya mereka mengikuti Po Tee Giok.

Sian Lee tidak menghalangi kepergian orang tua itu. Ucapan "Menunggumu" sudah cukup baginya. Dan melihat pamor datuk sesat itu, dia yakin takkan ingkar janji. Maka, walaupun dia juga mengetahui saat bayangan Po Tee Giok melarikan diri dari situ, hal itu sudah tidak digubrisnya lagi. Diam-diam, dia menarik napas panjang. Tak disangkanya, kekacauan ini bisa berakhir tanpa banyak kesulitan seperti ini.

Tiba-tiba dia berlutut dan berseru, "Orang tua berdua, murid Sian Lee mohon petunjuk." Ternyata di depannya telah berdiri Lo Jin dan si Kakek Penunggang Jagat yang memandangnya sambil tersenyum.

"Hemm, satu kesulitan sudah teratasi, namun belum selesai. Kau masih harus menjawab tantangan Ki Reksa Sadewa untuk pergi ke Istana Mustika Langit." Selesai berkata demikian, tubuh keduanya lenyap.

Sementara keenam iblis sesat itu sudah berlutut di depan Sian Lee. "Sesungguhnya setelah menyaksikan pertarungan tadi, mereka telah takluk lahir batin dan menyadari kemampuan mereka yang jauh di bawah orang Taihiap." "Apa yang harus kami lakukan?"

"Asal kalian insaf, aku tidak akan memperpanjang lagi masalah ini." Sian Lee berkata sambil berbalik meninggalkan tempat tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment