Chapter 01
Darah yang mengalir memanjang sudah membeku seperti beratus ekor ular hitam yang mati kaku di bawah terik matahari.
Mayat-mayat dengan anggota tubuh yang tidak lengkap bergelimpangan di puncak Hou-thou-hong, di gunung Tiam-tjong-san; kepala, tangan, atau kaki berserakan di mana-mana, mengeluarkan bau amis yang memualkan.
Satu jam yang lalu, beberapa ratus gembong silat dari berbagai aliran atau golongan hitam dan putih telah melakukan suatu upacara penyembelihan besar-besaran di puncak gunung ini. Sekarang keadaan sudah tenang, namun bau darah dan keseraman masih meliputi bekas gelanggang jagal manusia ini.
Seorang wanita yang mengemban seorang anak kecil, kira-kira berusia tiga tahun, berjalan keluar sempoyongan dari balik batu gunung sana. Walaupun rambutnya awut-awutan, tubuhnya penuh luka, dan berlepotan darah, bajunya koyak-koyak tak karuan, namun semua itu masih belum dapat menutupi wajahnya yang ayu molek dan tubuh yang langsing menggiurkan. Di belakangnya, muncul pula seorang laki-laki pertengahan umur, berdagu panjang, dan berwajah putih halus, sambil berjalan dia sedang merapikan celana dan bajunya.
Si wanita langsung mendekati sesosok mayat yang penuh luka-luka dan susah dikenal lagi, perlahan-lahan ia berlutut di samping mayat dan menggumam dengan suara igauan, seperti orang bermimpi, "Hong-ko, aku tidak minta agar kau memaafkan aku, tapi kau harus mengerti, demi keturunan keluarga Suma, demi darah dagingmu, dan dendam kesumat ini, terpaksa aku berbuat demikian, aku."
Anak kecil di pelukannya mendadak menggigil gemetar dan mengejang, mulutnya yang kecil mengap-mengap, bibirnya gemetar, tapi sedikit pun tidak mampu mengeluarkan suara.
"Nak, apakah kau sangat menderita? Ibumu ingin menggantikan kau, oh, ibumu rela menderita segala kesengsaraan dalam dunia fana ini, asalkan dapat menggantikan jiwamu, nak," ratap si wanita.
Anak itu tetap membisu, kedua matanya terpejam, tubuhnya basah kuyup oleh keringat, wajahnya penuh diliputi hawa hijau, bibirnya mulai membiru, dan tubuhnya tak henti-hentinya berkelejetan, naga-naganya jiwa kecilnya tengah berontak dari renggutan elmaut.
Mendadak si wanita angkat kepala dan berseru kepada laki-laki pertengahan umur yang tengah berdiri kira-kira dua tombak jauhnya, "Kumohon padamu, tolonglah jiwa anakku ini."
"Menolong dia?" sahut si lelaki pertengahan umur sambil menyeriangi.
"Suara si wanita penuh mengandung permintaan dan harap," "kau sendiri pernah berjanji hendak menolong jiwanya?"
"Nadi pengantanya sudah putus, kalau aku menolong jiwanya dengan menggunakan Kiu-yang sin-kang, tenaga murniku akan susut terlalu banyak, dalam jangka waktu lima tahun aku tidak dapat bergebrak dengan orang, padahal tahun depan tibalah waktunya mengadu kepandaian di puncak Hoa-san, aku tidak mau kehilangan kesempatan memegang simbol teragung sebagai tokoh silat nomor satu di dunia!"
Wajah si wanita yang memang pucat kini semakin pucat keabu-abuan, dengan suara hampir menggila ia berseru, "Tadi kau mengatakan mau menolong anakku, kau menginginkan tubuhku, aku sudah berikan padamu. Oh, kumohon padamu, tolonglah jiwanya, aku rela selama hidup ini melayani kau, akan kupersembahkan segala milikku, termasuk jiwa ragaku."
"Tidak bisa!" "Kau tidak boleh begitu, tolonglah, tolonglah jiwanya."
"Maaf, aku tidak dapat melulusi permintaanmu!"
Seketika kedua mata si wanita mendelik, sambil menuding laki-laki pertengahan umur itu dengan suara melengking menyeramkan ia memaki, "Loh Tju-gi, binatang kau, anjing."
"Kau manusia hina dina, tubuhku sudah kau nodai, tapi kau..."
Sekilas wajah Lo Tju-gi berubah, tapi lantas pulih lagi seperti semula, katanya, "San hoa li, aku tidak mungkin menolongnya, tapi aku cinta padamu."
"Tutup mulut, binatang."
"San hoa li, memang tidak salah aku telah merasakan kenikmatan tubuhmu, akan tetapi jikalau bukan karena aku, mungkin hari ini kamu sudah menemui ajal!"
"Anjing, karena kau hendak melampiaskan nafsu kebinatanganmu, tujuan kau anjing hina dina ini, bukankah hendak mengangkangi 'Hiat-kiam' (Pedang darah)?"
Wajah si anak dari hijau telah berubah ungu gelap, berkelejetan semakin menjadi-jadi, rasa sakit yang sangat tengah menyiksa nyawa kecil yang sudah di ambang pintu kematian itu.
San hoa li memeluk anaknya semakin kencang, kedua matanya yang redup kuyu mengalirkan air darah dengan suara yang sangat memilukan ia berkata, "Nak, ibumu tak dapat menolong kau, tapi aku dapat membuatmu tidak menderita terlalu lama, nak, kau tidak akan menderita lagi selamanya!"
"Sret!" tangan San hoa li tahu-tahu sudah menghunus sebilah cundrik yang berkilauan, sambil menggertak gigi ia tusukkan cundrik itu ke ulu hati anaknya, namun cundrik itu hanya menusuk satu dim, tangannya sudah gemetaran hampir tak kuat lagi memegang cundrik itu. Setelah berkelejetan dua kali lagi, si anak kecil itu berhenti bergerak.
"Anakku, kau tidurlah tenang, menyusul ayahmu."
Diletakkannya jenasah anaknya di pinggir mayat yang penuh berlepotan darah itu, lalu ia berdiri, "Lo Tju-gi, kau ingat, pada suatu hari tentu cundrik ini akan menusuk ke dalam ulu hatimu, termasuk juga dada anak muridmu!"
Mendadak San hoa li mendongak dan tertawa panjang histeris, sekali berkelebat dengan cepat ia berlari turun gunung.
"Dia sudah gila!" Loh Tju-gi menggumam, di mana tangannya menyapu jenasah anak kecil itu terpental terbang masuk ke dalam jurang yang dalam di samping sana, lalu sekali melejit tubuhnya pun terbang menghilang dari pandangan mata.
Hujan lebat disertai angin puyuh membuat jagat remang-remang gelap, keadaan seluruh kehidupan dalam dunia fana ini menjadi sedemikian sunyi senyap yang terdengar hanyalah deru angin dan hujan, jarang terlihat ada manusia atau insan hidup berlalu-lalang di bawah hujan lebat ini.
Tapi di depan pintu sebuah biara "Peksat" (biara kuno awan putih) berdirilah seorang pemuda dengan tenangnya diterpa air hujan, dengan nanar kedua matanya memandang pintu biara kuno ini, pemuda ini kira-kira berusia tujuh belas delapan tahun, berwajah ganteng, dan membawa sedikit sifat keangkuhan, air mukanya penuh diliputi hawa membunuh membuat siapa yang bertemu pandangan bergidik seram ketakutan.
"Masa para kepala gundul ini semua sudah modar!" si pemuda bicara seorang diri, tangan diangkat dengan ringannya sebuah jarinya menyentil dari kejauhan.
"Blang" gelang besi di atas pintu biara itu mengeluarkan suara keras yang menggetarkan telinga, tidak lama kemudian pintu biara terpentang perlahan-lahan, seorang hwesio beralis tebal, bermata besar, dengan marah-marah melangkah keluar dari dalam, dan sebelum sempat membentak sapa, sinar matanya bentrok dengan pandangan si pemuda yang berdiri di bawah hujan lebat di depan pintu biara, tanpa merasa bulu kudunya mengkirik seran, diam-diam hatinya berkata, "nafsu membunuh yang besar!"
Dingin si pemuda menyapu pandang ke arah si hwesio, kaki diangkat ia langkahi undakan di depan pintu biara, sejenak si hwesio menenangkan hati lalu berkata dengan nada berat, "Sicu (tuan) harap berhenti!"
Si pemuda berhenti di undakan paling atas.
"Apa keperluan sicu berkunjung ke biara kita?" "Mencari Tji Kong si hwesio tua!" Berobah wajah si hwesio, semprotnya gusar, dia adalah taysu ketua, sicu bicaralah mengenal aturan!
"Ini, sudah terhitung paling beraturan!" "Huh," jengek si hwesio.
"Kau mengejek siapa?" Sontak timbullah gelora kemarahan di benak si hwesio, bentaknya keras, "Pek hun ko sat bukan tempat kau bertingkah tahu?"
Si pemuda melerok hina ke arah si hwesio serta ujarnya dingin, "Kau perlu memberitahukan kedatanganku dulu atau aku harus masuk sendiri?" "Silahkan sicu sebutkan namamu." "Bu (go) Bing!" "Bu bing" (tak bernama).
"Lebih baik kau jangan cerewet!" Si hwesio sudah tidak sabar menahan gusar, teriaknya menggeledek, "Siaucu."
"Plak!" seketika si hwesio terhuyung mundur tiga langkah, pipinya berpeta jelas bekas lima jari tangan, agaknya si pemuda masih berdiri tenang di tempatnya, dan bagaimana si hwesio kena ditempeleng dia sendiri tidak melihat, tahu-tahu pipinya sudah bengap.
Nada si pemuda tetap sedingin es, "Berani sekali lagi kau buka mulut kotor, akan kubuat kau selamanya tidak bisa bicara" Keder dan kuncuplah nyali si hwesio, tahu dia bahwa si pemuda dihadapannya ini ternyata berkepandaian silat sangat tinggi, tanpa merasa ia berdiri termangu di tempatnya tanpa berani membuka suara lagi.
Terdengar langkah berat mendatang, dua hwesio tua yang berusia 50-an bergegas mendatangi, selayang padang terhenyaklah mereka beberapa langkah jauhnya, dua pasang mata yang tajam berbareng menatap ke arah si pemuda.
Segera si hwesio yang barusan kena ditempeleng segera bersabda dan melapor dengan suara lirih, "Lapor Susiok, sicu ini ingin bertemu dengan ketua kita." Kedua hwesio tua mengiakan berbareng lalu salah seorang di antaranya lantas bertanya, "Apa sicu benar-benar hendak menemui ketua kami?" "Tidak salah!" "Harap sukalah terangkan maksud kedatanganmu ini!" "Setelah bertemu dengan Tji Khong Hwesio dia sendiri tentu akan tahu!" Berbareng kedua hwesio tua menarik muka, seorang yang lain segera menyahut, "Mengapa datang-datang sicu lantas memukul anak murid kami?" "Itu hanya suatu hukuman kecil bagi mulutnya yang kotor." Lagi-lagi kedua hwesio tua ini bersungut dongkol, salah seorang yang membuka suara dulu tadi bicara pula dengan sabar, "Kalau sicu tidak menerangkan maksud kedatanganmu, maaf pinceng tidak dapat melayani?" Si pemuda mendengus sekali, "Kalau begitu terpaksa aku mencari sendiri." Habis berkata dengan langkah lebar ia hendak memasuki pintu besar biara.
"Mana boleh kamu bertingkah di tempat Budha yang tenang suci." Kedua hwesio tua itu menghardik berbareng dengan melayangkan pukulan masing-masing.
Si pemuda tidak peduli dan bagai tak merasa apa-apa, kakinya masih tetap melangkah maju, "Plak" plok: dua suara nyaring menggema, seketika kedua hwesio tua merasakan pukulan mereka membal atau dirutul balik menerjang mereka sendiri, kontan tubuh mereka tergetar mundur sempoyongan, di tengah suara keluhan mereka, si pemuda sudah memasuki pintu biara dengan tenangnya.