Chapter 02
Karena ribut ini sudah menggemparkan para hwesio lain dalam biara, ketika si pemuda melenggang melewati samping patung pemujaan, belasan hwesio sudah bersiaga mencegat di depannya. Dari belakang terdengar seruan gusar kedua hwesio tua tadi: "Kedatangannya bermaksud jahat, cegat dia!" Serentak, belasan hwesio itu berjajar menghadang di tengah jalan. Sambil berjalan, si pemuda berkata mengancam, "Kalau kalian tahu diri, lebih baik menyingkir. Aku tidak ingin melukai kalian."
"Bocah sombong, rasakan ini!" Serempat, kepalan dan jotosan beruntun dilancarkan untuk merintanginya.
Sekilas, berkelebat sinar merah dalam mata si pemuda. Sebelah tangan diangkat dan diayun, seketika terbit angin badai menghembus deras ke depan. Sontak, terdengar suara keluhan dan kesakitan. Beberapa hwesio yang memberondong tiba-tiba terpental jauh oleh gulungan angin kencang yang menerjang mereka. Hanya sekali berkelebat bayang si pemuda, tahu-tahu sudah tiba di pekarangan dalam.
"Tang-tang-tang!" Lonceng tanda bahaya bergema keras, maka ributlah suasana dalam biara itu. Para hwesio yang tak terhitung banyaknya bergegas berlarian keluar dari empat penjuru sambil membekal golok dan pentungannya. Mereka berdiri rapi bagai pagar mengepung si pemuda.
"Kalian mundur!" Mendengar suara keras berwibawa ini, serempat para hwesio membungkuk tubuh dan merangkap tangan, terus mundur ke samping. Di tengah ruangan sana berdiri seorang hwesio berusia lanjut mengenakan kas warna merah marun. Sepasang matanya berkilat-kilat menatap si pemuda. Tanyanya, "Siau-sicu, siapakah namamu?"
"Go Bing!" "Ada urusan apa kau mencari lolap?" Pandangan dingin bagai aliran listrik, Go Bing, mata menyorong ke arah si hwesio tua, "Kau inikah Tji Kong Hwesio!" tanyanya lantang.
Ucapannya ini menimbulkan gereman gusar dari semua hwesio yang hadir. Tidak ketinggalan si hwesio itu pun berobah air mukanya. "Omitohud, itulah gelaranku," ujarnya.
Go Bing ulurkan jari tengah tangan kanannya. Secarik sinar terang mencorong keluar dari tengah jarinya. Katanya dingin, "Apa kau masih kenal ini?" Seketika, wajah Tji Kong Hwesio berobah pucat lesi dan terhuyung mundur ketakutan. Mulutnya mendesis, "Mo hoan" (cincin iblis).
"Tidak salah!" Begitu "Mo-hoan" disebut, seketika gemparlah seluruh hadirin. Semua hwesio yang hadir berobah pucat dan bergemetaran.
"Apa hubunganmu dengan Sia-Sin Kho Djiang?" Suara Tji Khong tergetar menahan gelora hatinya.
"Muridnya!" "Dia."
"Belum mati?" Hawa membunuh di wajah Go Bing semakin memuncak. Mendengus sekali, dia menjawab, "Hal itu kau tidak perlu tahu!" Otot di jidat Tji Kong Hwesio merongkol keluar. Keringat pun membajir membasahi tubuh. Tanyanya gemetar, "Kau, apa maksud kedatanganmu?"
"Mengambil batok kepalamu!" Betapa keder dan takutnya para hwesio mendengar nama Sin-sin Kho Djiang, serta mendengar si pemuda hijau ini berani hendak mengambil batok kepala ketuanya. Semua menggeram gusar. Masa mereka harus diam saja membiarkan orang memenggal kepala ketuanya? Satu bergerak, yang lain mengikuti, beramai-ramai mereka merubung tiba di depan ruang besar.
Dengan pandangan dingin, Go Bing menyapu pandang ke arah para hwesio itu, lalu serunya dengan datar: "Tji Khong Hwesio, aku tidak suka membunuh orang yang tidak berdosa. Lebih baik kau perintahkan mereka menyingkir saja!" "Sudahlah!" Teriak Tji Khong keras sambil mengebutkan lengan jubahnya yang besar. Seruannya hampir mengeluh, "Saudara-saudara dan semua anak muridku, lekas kalian mundur!" Sejenak, para hwesio itu merandek. Tidak mundur, malah dengan nekad mereka maju lagi.
"Tji Khong, maaf, aku hendak turun tangan," habis ucapannya, tubuh pun menerjang maju. Sebuah jotosan mengarah tepat ke dada Tji Khong.
Serangan pukulan ini bukan saja sangat cepat laksana kilat, juga hebat dan seram. Meskipun kelihatannya hanya sekali pukulan, namun di antaranya mengandung banyak perobahan yang susah diselami. Seluruh jalur darah di dada lawan sudah dalam incaran cengkeramannya.
Sudah tentu Tji Khong tidak menerima binasa. Akan tetapi, kecepatan musuh turun tangan tiada kesempatan lagi untuk dirinya berkelit atau balas menyerang. Dalam saat-saat jiwa di ambang pintu kematian, sekuatnya ia lintangkan tangannya untuk menjaga di depan dada.
"Blang" disertai suara keras seperti orang hendak muntah dari mulut Tji Kong, tubuhnya terhuyung surut tinggal langkah ke belakang.
Bersamaan dengan itu, dua batang tongkat besar dan tiga sinar pedang berbareng memberondong mengurung tubuh Go Bing dengan serangan yang tidak kalah hebatnya.
Tanpa berpaling lagi, sebelah tangan diayun ke belakang, terbitlah angin deras bergulung-gulung menerpa ke belakang, hingga tujuh hwesio yang menyerang di dirinya terpental pontang-panting ke empat penjuru. Hampir saja mereka tidak kuat lagi mencekal senjata masing-masing. Masih untung Go Bing masih belum mau turun tangan jahatnya. Sebat luar biasa, tubuh Tji Khong berkelebat lari memasuki Taytian.
"Tji Khong, kemana kau hendak lari?" Seru Go Bing. Belum habis ucapannya, tubuhnya pun sudah melejit tiba bagai kilat menghadang di hadapan Tji Khong.
Terasa semangat Tji Khong bagai terbang ke awang-awang. Dilihatnya bibit bencana yang menyertai kedatangan anak muda ini berkepandaian tidak kalah lihay dari Sia-sin Kho Djiang dulu. Jelas bahwa dirinya tentu bukan tandingan musuh. Elmaut kematian terbayang di depan matanya, hingga wajahnya yang pucat lesi berobah kehijau-hijauan.
Go Bing kerahkan tenaganya di jari tengah. Maka menyoronglah sinar dingin dari "cincin Iblis" itu lebih lebar dan terang. Perlahan-lahan, tangan bergerak di mana sinar dingin itu menyambar. Terdengarlah suara jeritan panjang yang menyayat hati.
Kepala Tji Khong yang gundul terbang meninggalkan tubuhnya. Darah pun menyembur keras bagai mata air dari luka di lehernya. Mayatnya terkapar di lantai tanpa bergerak lagi.
Seketika, para hwesio yang memburu tiba di depan pintu Tay Hiong Po Tian terkesima menyaksikan adegan pembunuhan yang aneh dan kejam ini. Mereka terlongong bagai patung dan kehilangan semangat dan kesadaran.
Dengan tenang dan seenaknya, Go Bing mengeluarkan sebuah kantongan dan memasukkan kepala Tji Khong ke dalamnya. Sekali melejit, tubuhnya terbang melewati kepala para hwesio dan menghilang di tengah udara dalam sekejap mata.
Sayup-sayup terdengar gema lonceng pertanda duka cita dari pada biara Pek Hun Ko Sat.
Dalam pada itu, begitu sampai di luar dengan kecepatan yang susah diukur, Go Bing berlarian keras. Cuaca masih tetap gelap, namun hujan dan angin badai sudah lama berhenti. Di tengah keremangan cuaca itu, dia berlari tiba di depan sebuah gua.
"Siapa?" Bentakan dingin dan serak terdengar dari dalam gua.
"Murid sudah kembali, Suhu." "Apa tugasnya sudah kau selesaikan?" "Sudah selesai menurut perintah!" "Masuklah!" Sambil menjinjing kantongannya, Go Bing berkelebat memasuki gua. Gua itu tidak terlalu dalam. Di tengah gua, tersulut api unggun. Di bawah penerangan api unggun itu, terlihat di pojok dinding sebelah dalam sana berduduk sila seorang aneh yang rambut dan cambang bauknya menutupi mukanya. Matanya tinggal sebelah, dan merem melek. Kedua kakinya sudah buntung, tinggal tulang keringnya saja yang masih kelihatan memutih.
Go Bing meletakkan buntalan kantongannya serta berkata, "Suhu." Mata tunggal si orang aneh mendelik sinar matanya hijau mengancam. Desisnya gusar, "Bocah, sekali lagi kau berani memanggil 'Suhu', kubunuh kau?" Go Bing menyahut sedih, "Budi kau, orang tua, membesarkan murid selama lima belas tahun ini."
"Kentut! Dulu secara kebetulan kau terjatuh dalam tanganku. Itu pertanda ajalmu memang belum tiba saatnya. Lohu menolong dan memberi pelajaran silat kepadamu adalah supaya kau kelak dapat menyelesaikan urusanku. Budi apa segala." "Akan tetap, Suhu." Si orang aneh ayunkan tangannya. Seketika, Go Bing tersurut mundur tiga langkah dengan ketakutan. "Bocah, ingat, panggil aku Kho Lo-sia (Kho tua sesat). Kau dengan tidak, dulu Lohu sudah bersumpah untuk tidak terima murid selama hidup!" Di mulut Go Bing mengiyakan, namun dalam hati ia membatin, "Kau melarang aku memanggil kalau dalam hati aku tetap menganggap kau sebagai Suhu, bukankah beres."
Selama lima belas tahun ini, berkawan dengan seorang aneh yang cacat kedua kakinya dan sebuah matanya. Bermula, dia menyangka seorang aneh ini sudah gila atau sinting. Lama kelamaan, menjadi kebiasaan. Dalam ingatannya, yang pertama memang gurunya ini sangat aneh dan sesat tindak tanduk dan ucapannya selalu bertentangan dengan adat dan peraturan umum. Selain kata "Sesat", susahlah mengungkap keanehan wataknya itu.
Terhadap riwayat hidup suhunya ini, boleh dikata hanya samar-samar saja diketahui dari mulut orang-orang di kelangan Kang-ouw. Yang jelas diketahui hanyalah bahwa nama Sia-sin Kho Djiang (Kho Djiang si malaikat sesat) sudah sejak dua puluh tahun yang lalu menggetarkan dan menciutkan nyali setiap toko silat dari aliran hitam maupun golongan putih.
Selama belasan tahun dirinya dibimbing sampai besar, mengajarkan kepadaian silat, lagi kepadanya hakikatnya hubungan mereka adalah guru dan murid. Namun, dia melarang mengakui hubungan antara guru dan murid ini.
Teringat, sebelum dirinya melaksanakan perintah suhunya pergi membunuh orang, si orang aneh ini hanya menerangkan bahwa orang yang harus dibunuhnya ini adalah salah satu biangkeladi yang menggunakan akal muslihat menyebabkan sebuah mata dan kedua kakinya menjadi cacat selamanya. Selain itu, apapun tidak diterangkan.
"Buka kantongan itu!" Segera Go Bing mengerjakan apa yang diminta dan mengeluarkan batok kepala gundul itu. Sia-sin Kho Djiang mengekeh tertawa. Serunya, "Tidak salah, memang dialah Tji Khong si kepala gundul itu. Bawa ke belakang gua dan direndam dalam obat supaya tidak membusuk." Go Bing mengiyakan, terus masuk ke gua belakang. Tidak lama kemudian, ia berjalan keluar lagi.
Sia-sin Kho Djiang ulapkan tangannya dan berkata, "Bocah, kau duduklah." Go Bing duduk di tepi api unggun.
Terdengar Sia-sin Kho Djiang menyambung katanya, "Siaucu, Lohu pernah melulusi setiap kali kau selesai mengerjakan tugasmu. Aku menjawab satu pertanyaanmu. Sekarang kau tanyalah?" "Murid."