Chapter 03
"Go Bing atau Bu Bing, hampir sama nadanya dalam ucapanmu. Itu berarti kau sendiri tidak memiliki nama. Mengenai riwayatmu, sedikit pun Lohu tidak mengetahui. Sekarang pertanyaan sudah selesai!"
Go Bing merasa geli dan mengangkat bahu. Pertanyaannya menjadi sia-sia. Baru saja ia hendak membuka mulut lagi, Sia-sin Kho Djiang sudah mengisyaratkan dengan tangan. "Kalau masih ada pertanyaan, tanyakanlah setelah kau selesai mengerjakan tugasmu."
Go Bing menelan ludah dan mengurungkan ucapannya. Namun, timbullah rasa sedih dalam benaknya bahwa ternyata dirinya adalah insan yang harus dikasihani tanpa mengetahui riwayat sendiri. Suhu sendiri pun tidak mengetahui, bukankah teka-teki riwayat hidupnya takkan terpecahkan selama hidup ini.
Go Bing, Bu Bing (tak bernama), sungguh tak terduga. Hanya nama saja dirinya tidak punya. Bagaimana dirinya sampai dibimbing dan dibesarkan oleh Sia-sin Kho Djiang, tiada pangkal mulanya yang dapat diingat. Mungkin dari permulaan apa yang pernah dialami, dapat dicari pangkal sumbernya. Akan tetapi, dia tahu akan sifat aneh gurunya; tiada gunanya banyak tanya. Satu-satunya jalan hanya menunggu kesempatan lain yang akan datang.
Mata tunggal Sia-sin Kho Djiang berkedip-kedip, katanya, "Siaucu, dengarlah. Orang kedua yang harus kau bunuh adalah Tiang-un Suseng."
"Tiang-un Suseng (pelajar nestapa)?"
"Tidak salah. Apa kau pernah dengar tentang orang itu di kalangan kangouw?"
"Pernah kudengar. Nama pendekar dan kepahlawanan Tiang-un Suseng."
"Bohong! Nama kosong dan perbuatan palsu kaum keroco di kalangan bulim sangat banyak!"
"Aku hanya dengar dari cerita sementara orang."
"Tiang-un Suseng tiada mempunyai tempat tinggal tetap. Kau harus lebih banyak mengeluarkan tenaga untuk mencari jejaknya."
"Mengapa kau orang tua tidak secara total menyebutkan nama-nama orang yang harus kubunuh? Kalau dapat sekaligus kubereskan, bukankah menghemat tenaga dan waktu untuk pulang pergi?"
"Siaucu, ambekmu terlalu besar. Apa kau kira setiap orang yang harus kau bunuh ini sama rata dengan Tji Khong, si kepala gundul yang tidak becus ini?"
"Maksudku, orang yang harus kucari itu mungkin tidak ketemu dan secara kebetulan dapat berbentrok dengan yang lain."
"Memang omonganmu sangat beralasan, tapi apa yang pernah Lohu ucapkan tidak pernah kujilat kembali."
Go Bing tidak membuka suara lagi, dengan langkah lebar dia meninggalkan gua itu. Sejak kecil hidup bersama Sia-sin Kho Djiang, sedikit banyak sifat aneh gurunya itu menular pada muridnya.
"Siaucu, kau kembali!"
"Kau masih ada omongan lagi?"
Walaupun Sia-sin tidak mengizinkan dia memanggil "Suhu" dan harus memanggil "Kho Lo-sia", tapi dia tidak mau secara terang-terangan menyebut itu. Sebab, meskipun hubungan mereka tidak resmi, hakikatnya adalah guru dan murid. Dan sebab yang lebih penting adalah bahwa dirinya senantiasa harus berkelana di kalangan kangouw. Sifat menyendiri yang aneh sudah berdarah daging dalam tubuhnya.
Membunuh Tji Khong hwesio merupakan tugasnya yang pertama kali. Sebelumnya, belum ada seorang pun yang mengenal dirinya di kalangan kangouw.
Terdengar Sia-sin berkata haru, "Kalau kau bertemu dengan orang yang dapat menggunakan 'Pekdjiau', tidak peduli siapa dia dan apa kedudukannya, kau tidak boleh turun tangan. Lebih penting lagi, jangan kau katakan jejakku ini. Ingatlah hal ini."
"Lalu mengapa?"
"Kenapa, kau tidak perlu tahu!"
"Masa, murid Sia-sin Kho Djiang harus takut?"
"Kentut! Siapa bilang bocah macammu ini adalah muridku?"
"Akan tetapi, kepandaian silatku dan cincin iblis ini, bukankah itu berarti mencuri kelintingan menutupi telinga sendiri?"
"Berani banyak bacot lagi kubunuh kau."
Apa boleh buat, Go Bing mengangkat bahu, lalu tinggal pergi keluar gua. Malam itu juga dia tinggalkan gunung tempat suhunya bersemayam dan menginap di sebuah hotel. Terdengar olehnya banyak para tamu penginapan itu tengah ribut-ribut mempercakapkan tentang murid Sia-sin Kho Djiang yang muncul lagi di kalangan kangouw. Sekali gebrak menanggalkan batok kepala Tji Khong hwesio, ketua biara Peksat.
Selama malang-melintang dulu, Sia-sin Kho Djiang selalu menuruti kata hatinya. Sifatnya jahat tapi jantan. Dikatakan sesat bukan karena dia adalah penjahat besar yang laknat, adalah karena sifatnya yang aneh. Semua perbuatannya bertentangan dengan kehendak umum. Dan lagi, ilmunya sangat tinggi, maka orang-orang memberikan julukan Sia-sin (malaikat sesat) padanya.
Timbullah dugaan dalam benak Go Bing, mungkin peristiwa pembunuhan di Peksat telah menggemparkan seluruh bulim. Untung, selain para hwesio itu, tiada seorang pun yang mengenal wajah dirinya. Kalau cincin iblis di tangannya tidak diketahui orang, asal-usul dirinya masih dapat dirahasiakan. Kalau tidak, tentu membawa banyak kesukaran akan tugas yang harus dilaksanakan itu. Maka, terpaksa ia tanggalkan Mo-hoan dari jarinya dan disimpan di dalam kantong bajunya.
**2. MAYAT JELITA DI DALAM HUTAN**
Waktu terang tanah, dia tinggalkan penginapan dan berjalan seenaknya di jalanan raja tanpa tujuan yang menentu. Tiang-un Suseng tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Sedemikian besar kangouw ini, mencari seorang berarti mencari sebatang jarum di lautan. Disamping itu, nama Tiang-un Suseng sangat disanjung-puji sebagai seorang pendekar budiman yang tenar. Sekali dia menemui ajalnya, gelombang heboh kematiannya dapat dibayangkan. Akan tetapi, perintah guru bagaimanapun harus dilaksanakan.
Tapi bila teringat kejadian betapa kejamnya waktu suhunya dikorek sebuah matanya dan kedua kakinya dikutungi, ia maklum akan dendam kesumat suhunya ini. Mereka lebih dulu mencelakai gurunya dengan cara keji dan busuk. Kini, kalau dirinya membunuh mereka agaknya sangat setimpal dan tiada salahnya.
Bagaimana wajah dan perawakan Tiang-un Suseng sedikit pun dia belum mengetahui. Seumpama bertemu di tengah jalan juga tidak mungkin mengenalnya. Lagipula, tidak mungkin ia bertanya pada orang lain.
Tengah berjalan, sebuah suara yang melengking mengerikan bergema di tengah udara dari kejauhan sana. Suara itu membuat bulu kuduk orang merinding mendengarnya. Terkesiap hati Go Bing, terbangun semangat dari lamunannya, lalu dengan cermat dia pasang telinga. Tapi setelah suara jeritan itu tak terdengar lagi suara lain atau reaksi apa pun, dari arah suara yang melengking tinggi itu agaknya tidak jauh di depan jalanan sana, maka secepat kilat tubuh Go Bing berkelebat melayang ke depan dengan kecepatan bagai anak panah.
Sebelah samping kanan dari jalan itu adalah sebuah hutan kecil, sebelah kiri adalah padang rumput yang luas tak berujung pangkal. Sekilas ia berpikir cepat-cepat, ia memutar arah memasuki hutan di depannya ini. Kedua matanya bagai kilat menyapu keempat penjuru.
Kira-kira sepuluh tombak di depan sana tampak sesosok tubuh seorang wanita rebah membujur di atas tanah. Baju atasnya hancur lebur, sedang bawah tubuhnya tanpa mengenakan seutas benang pun. Seketika merah padam wajah Go Bing, hati berdetak keras napas pun memburu. Baru saja hendak memutar tubuh tinggal pergi, sekonyong-konyong tergeraklah hatinya. Bukankah suara jeritan panjang tadi adalah suara seorang wanita? Apa mungkin dia ini? Karena pikirannya ini, ia putar balik lagi sambil menahan gelora hatinya. Ia maju mendekat dan melihat lebih tegas.
Terlihat olehnya orang itu adalah seorang gadis remaja. Kedua matanya tertutup rapat, dari lubang panca inderanya mengalir darah segar. Kedua tangannya mencengkeram kencang ke dalam tanah, bawah tubuhnya merah bernoda darah. Tergetar kecut hati Go Bing, batinnya, "Mayat seorang wanita yang diperkosa dulu sebelum dibunuh."
Meski menghadapi sesosok mayat, namun bagi jiwa muda yang belum pengalaman mengalami gelora hidup manusia dan usia yang baru menanjak dewasa seperti Go Bing, hampir tidak kuat menahan gejolak hatinya. Terasa jantungnya hampir melonjak keluar. Tapi itu kejadian dalam sekejap saja. Lantas terpikir olehnya, inilah tragedi mengenaskan yang penuh diliputi suasana seram mengerikan. Gadis remaja ini kira-kira baru berusia lima belas, enam belas. Mengapa diperkosa dan dibunuh orang? Lalu siapakah dia? Orang dari kalangan persilatan atau... "Siapakah algojo yang berbuat demikian kejam? Harus dibunuh!" demikian ia menggumam seorang diri.
Lalu terpikir dalam hatinya, "Gadis ini diperkosa dan dibunuh oleh bangsat rendah yang tidak bertanggung jawab, mengenaskan dan harus dikasihani. Aku tidak bisa membiarkan jenazahnya demikian saja. Aku harus menguburkannya!" Baru saja hatinya mengambil ketetapan, mendadak terdengar suara dingin mengejek di belakangnya, "Bukankah perbuatan saudaraku ini sangat telengas!"
Sungguh kejut Go Bing bagai disengat kala. Lekas-lekas ia memutar tubuh. Dilihatnya tiga tombak jauhnya berdiri seorang pemuda gagah yang mencoreng pedang tengah mengawasi dirinya. Wajahnya membeku geram dan penuh hawa membunuh. Diam-diam Go Bing mengeluh, "Celaka, kalau orang salah paham, bagaimanapun susah menerangkan peristiwa ini." Dari itu diapun balas bertanya dingin, "Apa yang kau katakan?"
"Di siang bolong, saudara berani memperkosa dan membunuh seorang wanita lemah."
"Tutup mulutmu!" hardik Go Bing dengan amarah yang menggelora di dada. "Dengan alasan apa kau memfitnah orang semena-mena?"
"He he he he, saudara tak perlu main debat, kenyataan di depanmu itu membuktikan—"
"Sekali lagi kau berani buka bacot kubunuh kau!"
Wajah beku pemuda itu berubah abu-abu. Maju berapa langkah dia memandang tajam ke arah mayat wanita itu. Mendadak ia menggerung gusar dan memaki, "Bangsat cabul! Berani kau memperkosa dan membunuh tunanganku! Kalau hari ini aku tidak mencacah jiwamu, aku bersumpah tidak menjadi manusia!" Sambil berkata-kata itu tubuhnya menerjang maju sambil menggerakkan kedua tangannya melancarkan serangan hebat.
Mendengar si korban adalah tunangan orang, timbullah rasa simpatik dalam benak Go Bing. Tanpa membalas, dengan ringan sekali ia berkelit ke samping delapan kaki sambil berseru; "Hai, berhenti dulu!" Bagai tidak mendengar, si pemuda masih melancarkan lagi dua pukulan keras dengan kalap.