Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 04

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 04

Laig2 Go Bing harus melejit ke samping, "Sret" seketika sinar terang berkilatan, kiranya si pemuda telah menjorong pedang panjang, dan belum sempat Go Bing membuka suara lagi, si pemuda telah berteriak panjang, pedang di tangannya menusuk enteng ke depan, kelihatannya tusukan ini biasa saja, tapi sebenarnya mengandung perubahan tersembunyi yang susah diukur kehebatannya, sebelum ujung pedang menusuk tiba di depan tubuh, susahlah diduga sasaran mana yang diincarnya, dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu pedang si pemuda sudah hebat dan sempurna betul.

Bagai bayangan setan iblis, lagi-lagi tubuh Go Bing berkelebat menghilang, mulutnya berseru, "Inilah jurus ketiga!" Begitu si pemuda melancarkan tusukannya, bayangan musuh seketika menghilang, maka suaranya terdengar di belakangnya, keruan hatinya tergetar kecut, sambil kertak gigi ia ayunkan pedangnya ke belakang sambil memutar tubuh, gerak perobahan yang cepat ini benar-benar membuat orang kagum meleletkan lidah, namun demikian kepandaian lawan beberapa tingkat lebih tinggi dari kemampuannya.

"Lepas tangan!" Dalam bentakan dingin itu, si pemuda rasakan pergelangan tangan tergetar, tahu-tahu pedang panjangnya sudah terampas oleh lawan, saking kecut serasa jiwanya melayang ke awang-awang, dengan ketakutan ia mundur beberapa langkah.

Ia menyesal karena memandang rendah kepandaian musuhnya ini.

Go Bing membolak-balikkan pedang, lalu melontarkan balik sambil berseru, "Sambutlah." Si pemuda menyambut pedang, wajahnya berobah-ubah tak menentu.

Go Bing mendengus sekali, lalu bertanya, "Sikorban ini benar-benar adalah tunanganmu?" "Tidak salah!" sahut si pemuda sambil kertak gigi.

"Kau belum memeriksa, lantas dengan alasan apa kau menuduh orang seenaknya?" "Aku hanya melihat kau di sini, masa bisa." "Aku mendengar teriakan mengerikan, lalu bergegas memburu tiba, selain si korban ini tak kulihat bayangan seorang pun, kalau dia benar-benar adalah tunanganmu, tentu kau dapat mencari sumber penyelidikanmu." Pada saat itulah sebuah bayangan langsing terbang tiba dalam gelanggang pertempuran, waktu Go Bing menoleh, ternyata si pendatang ini adalah seorang gadis ayu jelita, wajahnya cerah secantik bidadari.

Si pemuda berseru girang dalam dukanya, "Hun-ci, lihatlah adik Moay." Si gadis memutar bola matanya melihat jenasah di atas tanah, seketika ia terbelalak ngeri dan berobah air mukanya, mulutnya memekik keras, "Li Bun siang, apakah yang telah terjadi?" Kiranya nama si pemuda adalah Li Bun siang.

Li Bun siang tergagap sambil menunjuk Go Bing, "Dia." Bergegas si gadis maju sambil melepaskan mantelnya, terus ditutupkan di tubuh adiknya, seketika air mata membanjir bagai air mancur, pekiknya penuh duka, "Adik Moay, biar cicimu membalas sakit hatimu ini."

Memutar tubuh, dia menghadapi Go Bing, wajah jelita itu menunjukkan nafsu membunuh yang menggelora, serunya bengis, "Bangsat, aku Siang Siau-hun berumpah pasti membeset kulitmu dan mencacah jiwamu." Go Bing berseru gugup, "Nona, aku..." Saking duka hati Siang Siau-hun terasa bagai diiris-iris.

"Serahkan jiwamu!" Bentaknya disertai serangan kilat, menjohohkan tubuh Go Bing, sedang tangannya yang lain bergerak seperti cakar garuda mencengkram ke ulu hatinya, betapa kejam dan ganas serangan ini, sehingga dalam sekejap saja Go Bing merasakan gebrakan ingin mati.

Go Bing membolang-balingkan pedang, lalu melontarkan balik sambil berseru, "Sambutlah." Si pemuda menyambut pedang, wajahnya berobah-ubah tak menentu.

Go Bing mendengus sekali, lalu bertanya, "Sikorban ini benar-benar adalah tunanganmu?" "Tidak salah!" sahut si pemuda sambil kertak gigi.

"Kau belum memeriksa, lantas dengan alasan apa kau menuduh orang seenaknya?" "Aku hanya melihat kau di sini, masa bisa." "Aku mendengar teriakan mengerikan, lalu bergegas memburu tiba, selain si korban ini tak kulihat bayangan seorang pun, kalau dia benar-benar adalah tunanganmu, tentu kau dapat mencari sumber penyelidikanmu." Pada saat itulah sebuah bayangan langsing terbang tiba dalam gelanggang pertempuran, waktu Go Bing menoleh, ternyata si pendatang ini adalah seorang gadis ayu jelita, wajahnya cerah secantik bidadari.

Si pemuda berseru girang dalam dukanya, "Hun-ci, lihatlah adik Moay." Si gadis memutar bola matanya melihat jenasah di atas tanah, seketika ia terbelalak ngeri dan berobah air mukanya, mulutnya memekik keras, "Li Bun siang, apakah yang telah terjadi?" Kiranya nama si pemuda adalah Li Bun siang.

Li Bun siang tergagap sambil menunjuk Go Bing, "Dia." Bergegas si gadis maju sambil melepaskan mantelnya, terus ditutupkan di tubuh adiknya, seketika air mata membanjir bagai air mancur, pekiknya penuh duka, "Adik Moay, biar cicimu membalas sakit hatimu ini."

Memutar tubuh, dia menghadapi Go Bing, wajah jelita itu menunjukkan nafsu membunuh yang menggelora, serunya bengis, "Bangsat, aku Siang Siau-hun berumpah pasti membeset kulitmu dan mencacah jiwamu." Go Bing berseru gugup, "Nona, aku..." Saking duka hati Siang Siau-hun terasa bagai diiris-iris.

"Serahkan jiwamu!" Bentaknya disertai serangan kilat, menjohohkan tubuh Go Bing, sedang tangannya yang lain bergerak seperti cakar garuda mencengkram ke ulu hatinya, betapa kejam dan ganas serangan ini, sehingga dalam sekejap saja Go Bing merasakan gebrakan ingin mati.

Go Bing membolang-balingkan pedang, lalu melontarkan balik sambil berseru, "Sambutlah." Si pemuda menyambut pedang, wajahnya berobah-ubah tak menentu.

Go Bing mendengus sekali, lalu bertanya, "Sikorban ini benar-benar adalah tunanganmu?" "Tidak salah!" sahut si pemuda sambil kertak gigi.

"Kau belum memeriksa, lantas dengan alasan apa kau menuduh orang seenaknya?" "Aku hanya melihat kau di sini, masa bisa." "Aku mendengar teriakan mengerikan, lalu bergegas memburu tiba, selain si korban ini tak kulihat bayangan seorang pun, kalau dia benar-benar adalah tunanganmu, tentu kau dapat mencari sumber penyelidikanmu."

Namun gejolak hati ini hanya sekilas saja merisaukan hati, pada lain kejap kedua tangannya bergerak dan tubuh melejit menyerang Go Bing lagi.

Mau tak mau Go Bing harus ambil keputusan nekat dan tegas, kalau lawan tidak ditundukkan, hakikatnya tiada kesempatan baginya untuk memberi penjelasan, sebenarnya dengan kepandaiannya gampang saja tinggal pergi, tapi dengan tuduhan dosa tak terampunkan itu, kalau tersiar luas di kalangan kangouw, susahlah dibayangkan akibatnya, sambil berpikir-pikir itu kedua tangan bergerak melingkar dan menyapu, seruannya keras tertahan, segera terdengar Siang Siau-hun tersurut mundur lima langkah, dari mulut kecilnya meleleh keluar darah segar.

Gerak-gerak Go Bing tidak berhenti sampai di situ, sebat luar biasa ia memutar tubuh terus melesat tiba di depan Li Bun siang, dari samping dilancarkan sebuah pukulan, tanpa sempat menggerakkan pedangnya Li Bun siang mendem keras badannya meliuk dan jatuh duduk di atas tanah.

Perlahan-lahan Go Bing putar tubuh menghadapi Siang Siau-hun, ujarnya, "Siang-kohnio, maafkan perbuatanku ini, aku tidak sengaja hendak melukaimu, tapi kau terlalu mendesak hingga terpaksa aku harus turun tangan." "Bangsat cabut, ingin nonamu ini mencacah tubuhmu dan minum darahmu." "Nona suka kah kau dengan sepatah kataku?" Siang Siau-hun sudah nekat, matanya merah membara, tubuhnya gemetar saking duka dan gusar, wajahnya membesi tanpa ekspresi, tangan diangkat lagi-lagi ia hendak melancarkan serangannya.

Pada saat-saat genting inilah sebuah bayangan tinggi lencir mendadak terbang datang dari belakang phon lima tombak sana, sekali berkelebat bayangan ini sudah berdiri di hadapan mereka, bayangan ini ternyata adalah seorang yang mengenakan pakaian hijau.

Siang Siau-hun sudah pasti bahwa si algojo yang membunuh dan memperkosa adiknya adalah Go Bing, ingin rasanya menelan musuh ini bulat-bulat.

Makanya munculnya si orang berkedok ini sedikit pun tidak dihiraukannya, adalah Go Bing malah melihat tegas, cara orang baju hijau ini bergerak sungguh sangat aneh dan menakjubkan, ginkang orang ini.

"Nona berhenti sebentar!" Seru orang berkedok itu, suaranya dingin menggiriskan tubuh membuat bergidik pendengarnya.

Berdetak jantung Siang Siau-hun, serangannya dibatalkan, lalu mundur satu langkah, baru sekarang ia melihat kehadiran si baju hijau berkedok yang berdiri di depannya.

Suara kata dingin tadi terang diucapkan olehnya, maka dengan gemes ia bertanya, "Siapa tuan ini?" "Orang lewat!" Sahut si orang berkedok seenaknya.

"Hm, apa tujuan tuan muncul di sini?" "Untuk melerai!" "Apa maksudmu?" "Kepandaian nona tidak lemah, tapi kau masih bukan lawan engkoh kecil ini!"

Siang Siau-hun mengangkat alis, serunya geram, "Aku ingin mencacah hancur tubuhnya." "Karena adikmu dibunuh dan diperkosa?" "Ya, tuan orang lewat, silakan lanjutkan perjalananmu!"

"Dengan alasan apa nona memastikan bahwa engkoh kecil ini adalah sipembunuh yang memperkosa adikmu itu?" "Ini." Siang Siau-hun melengak bungkam, tergugahlah hatinya, karena pertanyaan ini seketika ia terhenyak di tempatnya, bola matanya melirik ke arah Li Bun siang yang berdiri di samping sana.

Dengan haru dan rasa terima kasih yang tak terhingga Go Bing meliring ke arah si orang berkedok, terdengar si orang berkedok bicara lagi, "Dalam peristiwa ini Lohu dapat menjadi saksi." "Saksi?" Jengkel Siang Siau-hun dengan geramnya.

"Ya!" "Punya bukti apa kau hendak menjadi saksi, apa kau tahu siapa pembunuh itu?" "Engkoh kecil ini datang kemari setelah mendengar teriakan adikmu yang sudah menjadi korban, ini Lohu melihat sendiri." Siang Siau-hun mendesak maju dan berseru haru, "Jadi tuan mengetahui siapakah pembunuh itu?" "Sudah tentu!" Sahutnya, dua jalur sinar dingin mencorong keluar dari belakang kedoknya menatap ke arah Li Bun Siang.

Li Bun Siang bergidik lemas, serunya gugup, "Hun-ci, waktu aku memburu tiba, kulihat bocah ini tengah berdiri di samping jenasah adik Moay, dia." Mata Go Bing pun tidak kalah tajamnya dan bengisnya menyapu Li Bun Siang, suaranya mendesis, "Siaucu mengingat si korban ini adalah tunanganmu, aku tidak ambil panjang urusan ini, kalau tidak sejak tadi sudah kulumas nyawamu, berani kau memfitnah semen-semen tanpa bukti?" Suara si orang berkedok dingin menyambung ucapan Go Bing, "Tapi Lohu melihat kau berlari pontang-panting dan kembali lagi, waktu engkoh kecil ini datang tadi kebetulan kau baru saja lari pergi." "Bohong, dia adalah tunanganku, masa." Dengan penuh kecurigaan Siang Siau-hun bertanya pada orang berkedok, "Apakah keterangan tuan ini dapat dipercaya?" "Apa faedahnya aku berbohong!" Pucat pias wajah Li Bun Siang, tubuhnya gemetar keras.

Siang Siau-hun berbalik menghadapi Li Bun Siang, sinar matanya mengandung kebencian yang menyala-nyala, hardiknya bengis, "Li Bun Siang, coba kau katakan!" Mendadak Li Bun Siang menggembor keras bagai orang gila, tubuhnya terkapar jatuh, kedua tangannya mencakar dan menggaruk ke seluruh tubuhnya hingga seketika itu bajunya dedel dowel hancur lebur.

Perobahan mendadak yang tidak terduga ini membuat ketiga orang lainnya bercekat hatinya dan berdiri kesima.

Gesit sekali tubuh orang berkedok melejit maju mendekat, jari tangan menutuk dari jauh mengarah jalan darah Tiong-tong, jalan darah kematian di dada Li Bun Siang, setelah berkelejet sekali tubuh Li Bun Siang diam tak bergerak, mati!

Bergetar hati Go Bing, sebelum sempat ia buka suara, Siang Siau-hun sudah memburu maju beberapa langkah, matanya menatap tajam sambil menuding orang berkedok, suaranya gemetar, "Tuan, apa maksudmu ini?" "Membebaskan dia dari penderitaan!" "Apa bebas dari penderitaan?" "Ya." Ucapan ini seakan menhentikan napas Go Bing dan Siang Siau-hun, wajah mereka menunjukkan perasaan penuh curiga dan ketakutan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment