Chapter 05
Seseorang yang berkedok menggelengkan kepala dan berkata, "Kalian terburu nafsu menyalahkan dia." "Jadi dia mati terbunuh?" tanpa merasa bahwa pertanyaan itu keluar dari mulut Go Bing.
Dengan suara yang sangat haru, orang yang berkedok itu berkata kepada Siang Siau Hun, "Nona, coba lihat cara kematiannya itu, apakah sama dengan kematian adikmu?" Go Bing dan Siang Siau Hun berseru kaget hampir bersamaan, "Tujuh lobang (panca indra) keluar darah." Memang, darah mengalir keluar dari mata, hidung, kuping, dan mulut Li Bun Siang.
Suara orang yang berkedok itu kini tidak lagi dingin dan menggiriskan, tapi berubah menjadi haru dan sembur, "Adikmu ini bukan mati karena diperkosa, tapi karena keracunan!" "Keracunan?" tergetar suara Siang Siau Hun.
"Ya, setelah aku melihat bocah ini, aku teringat bahwa racun jahat ini adalah yang sering dikabarkan sebagai bisa paling lihai, bernama racun tanpa bayangan." "Racun tanpa bayangan?" "Ya, racun tanpa bayangan! Racun tanpa bayangan ini boleh dikatakan merupakan racun yang paling jahat di kolong langit ini. Jika racun ini bekerja dalam tubuh, terasa sangat panas, seluruh tubuh gatal-gatal, susah ditahan, maka sipenderita menggaruk dan mencakar badan sendiri. Setelah mati, darah merembes keluar dari panca indra. Selayang pandang, tidak kentara adanya bekas-bekas keracunan, hampir mirip benar karena mati tergetar remuk oleh pukulan berat, maka itu dinamakan racun tanpa bayangan." Mendengar keterangan ini, Go Bing menghela napas dalam, sungguh ajaib bahwa di dunia ini ternyata ada bisa yang sedemikian jahat.
Siang Siau Hun menutupi mukanya, dan suara orang yang berkedok itu bertanya lagi, "Apa nona mempunyai musuh besar?" "Tidak ada!" jawab Siang Siau Hun sambil mengusap air mata. "Apalagi adikku belum penuh berusia enam belas, selama ini belum pernah kelana di kangouw, sudah tentu tak perlu diragukan adanya musuh besar apa pun. Adalah kematiannya ini yang membuat aku tak habis mengerti." "Lalu saudara kecil ini?" "Dia bernama Li Bun Siang, kawan karib adikku sejak kanak-kanak, dia pun jarang kelana di Bulim." Go Bing turut bicara, "Apakah adikmu membawa suatu benda apa yang bisa membuat tokoh kangouw mengincar dan ingin merebutnya?" "Ya, itu satu kemungkinan," sambung orang yang berkedok itu sambil manggut-manggut.
Siang Siau Hun mengiakan, tapi lantas menggelengkan kepala. "Benar-benar tidak!" "Tidak!" "Inilah mengherankan, mengapa orang membunuh adikmu dan Li Bun Siang ini. Coba nona pikir-pikir lagi, sebelum kalian tiba di sini, apakah suatu peristiwa terjadi yang harus diambil perhatian." Mendadak Siang Siau Hun melompat maju menubruk ke arah jenazah adiknya.
Orang yang berkedok itu membentak keras, "Jangan sentuh!" disusul tubuhnya menyambar maju dengan kecepatan yang susah diukur, ia menghadang di depan Siang Siau Hun. Sekuatnya Siang Siau Hun menghentikan luncuran tubuhnya, dan bertanya kaget, "Mengapa jangan?" "Menurut kabarnya, racun tanpa bayangan ini melebar ke seluruh tubuh si korban, jika nona menyentuh kulitnya saja, tentu kau pun akan mengikuti jejak adikmu bersama Li Bun Siang itu." Mengkirik bulu tengkuk Siang Siau Hun, keringat dingin membasahi tubuhnya.
"Nona ada menemukan apa?" tanya orang yang berkedok itu lagi. Dengan rasa pedih dan pilu, Siang Siau Hun memandang jenazah adiknya, dan menjawab, "Mendadak teringat olehku suatu peristiwa." "Peristiwa apa?" Karena heran dan ingin tahu perkembangan selanjutnya, Go Bing urungkan niatnya untuk pergi, ia maju mendekat sambil pasang kuping.
Siang Siau Hun berkata, "Kira-kira sepuluh li di depan jalan tadi, kita bertiga bertemu dengan seorang tua yang sudah hampir menemui ajalnya, karena terluka berat, dititipkan kepada kita bertiga sebuah barang yang minta tolong supaya dihantarkan ke Yok-ong Bio di luar kota Seng-toh. Barang itu harus langsung diserahkan kepada ketua kelenteng itu, karena kasihan kita." "Lalu kalian melulusi hendak menyampaikan barang itu?" tukas orang yang berkedok itu cepat.
"Ya, memang tujuan kita pun hendak ke Seng-toh." "Barang apakah itu?" "Agaknya sebuah kotak panjang yang dibungkus kain berminyak." "Mana barang itu?" "Disimpan oleh adikku! Justru tadi aku hendak memeriksa apa barang itu masih ada di tubuhnya." "Coba nona periksa menggunakan dahan pohon." Siang Siau Hun menjemput sebatang dahan pohon sebesar lengan, lalu mengcungkil-cungkil baju yang hancur lebur dan membalikkan juga tubuh adiknya, tapi apapun tidak kelihatan. Dengan kejut dan keheranan, ia berseru, "Sudah hilang!" Orang yang berkedok itu manggut-manggut, dan berkata, "Disitulah pangkal mula peristiwa ini. Barang itu pasti suatu benda berharga di Bulim, mungkin si orang tua yang sudah dekat ajal itu memang terluka berat dan terpaksa minta bantuan kalian untuk mengantarkan benda itu, dan juga mungkin karena dikejar-kejar musuh besar, lalu pura-pura terluka berat dan hendak mati, menitipkan barang itu kepada kalian adalah untuk mengelabuhi musuhnya itu, tapi bagaimana adikmu lantas bisa keluyuran seorang diri."
"Adikku masih bersifat kanak-kanak, karena sedikit selisih mulut, dia lantas berlari mendahului kita. Aku dan Li Bun Siang tidak ambil perhatian, berjalan seenaknya di belakang, akhirnya karena kuatir seorang diri, Li Bun Siang berlari menyusul ke depan, dan aku berjalan paling belakang. Sungguh tak terduga." Bicara sampai di situ, Siang Siau Hun tidak kuat lagi meneruskan penuturannya, air mata mengucur semakin deras.
Orang yang berkedok itu berdehem berat, lalu berkata, "Benar, menurut dugaanku, buntalan itu pasti berisi suatu benda pusaka apa yang sangat berharga di Bulim. Sipembunuh mungkin adalah si orang tua yang pura-pura terluka dan hampir mati itu. Setelah tipunya dapat mengelabuhi musuh-musuhnya, secepat terbang dia menyusul tiba dan membunuh adikmu untuk menutupi mulutnya, bahwa dia menggunakan racun tanpa bayangan. Tujuannya adalah hendak sekaligus secara tidak langsung hendak membunuh kalian bertiga. Dalam perhitungannya, setelah adikmu mati, tentu kalian akan menyentuh tubuhnya, dan ini berarti sekali panah terkena tiga ekor burung. Akan tetapi, juga kemungkinan adalah perbuatan musuh yang mengejar si orang tua hampir mati itu. Setelah dapat mengetahui tipu licik orang tua hampir mati itu, dia menyusul tiba terus membunuh adikmu!" Tanpa terasa, Go Bing mendengus sekali dan menggumam, "Jahat, harus dibunuh!"
Mendengar itu, Siang Siau Hun melirik ke arah Go Bing, tergerak hatinya, baru kini didapatinya pemuda yang salah sangkanya sebagai pembunuh adiknya ini ternyata adalah seorang pemuda yang cakep ganteng, tapi wajah yang ganteng itu bersemu hawa pembunuhan yang lebat. Daya tarik laki-laki jantan menyedot hatinya, tanpa terasa ia membungkuk minta maaf, "Sukalah dimaafkan kecerobohan ku tadi." "Tidak menjadi soal," sahut Go Bing kaku.
"Bolehkan kuketahui nama besarmu?" Berputarlah otak Go Bing, waktu di Pek Hun Ko Sat, ia pernah menyebut namanya sebagai Go Bing, kalau sekarang dikatakan, bukankah akan membuka rahasia dirinya? Hal itu tentu tidak menguntungkan dirinya untuk menuntut balas sakit hati gurunya kelak. Apabila Go Bing itu berarti dirinya tidak mempunyai nama, karena pikiran ini dengan tawar, dia menyahut, "Aku seorang keroco dari kangouw, kiranya tidak perlu nona mengetahui namaku."
Merah jengah wajah Siang Siau Hun, berpaling muka, dia bertanya kepada orang yang berkedok, "Apakah cianpwe mengetahui siapa-siapa kiranya yang menggunakan racun tanpa bayangan itu di kalangan kangouw?" Sejenak orang yang berkedok itu berpikir, lalu berkata, "Racun tanpa bayangan hanya kudengar dari cerita orang saja. Menurut keadaan kematian adikmu itu, persis benar dengan kabar cerita itu, jadi itu hanya dugaanku saja, benar atau tidak belum tentu dapat dipastikan. Namun, di kalangan kangouw sekarang ini yang merajai menggunakan racun berbisa terhitung Pak-tok Tangbun Lu, seorang."
"Apa tidak mungkin Pak-tok yang turun tangan?" "Tidak mungkin!" "Kenapa?" "Selain pandai menggunakan racun, juga ilmu silat Tangbun Lu lihat jarang ada tandingannya di dunia persilatan. Selama hidup ini, dia hanya punya seorang musuh yang paling ditakuti, itulah Sia-sin Sima Likaat Kho Djiang yang berjuluk Lam-sia." Bicara sampai di sini, dengan sengaja orang yang berkedok itu merandek, dan entah sengaja atau tidak, matanya melerok ke arah Go Bing.
Mendengar orang menyinggung nama gurunya, tergerak hati Go Bing, namun sejak kecil dia sudah digembleng Sima Likaat, tindak tanduk Sima Likaat yang bertentangan dengan kebiasaan umum sedikit banyak membawa pengaruh pada jiwanya. Perobahan perasaan hatinya tidak kentara dari lahir wajahnya. Pikirnya, "Kalau kepandaian racun utara sudah jarang menemui lawan di dunia persilatan, apalagi merupakan musuh bebuyutan suhunya, bukankah itu berarti bahwa kepandaian suhu mungkin lebih tinggi dari racun utara ini? Lalu, bagaimana terjadinya suhu sampai celaka di bawah tangan orang?" Tanpa merasa, mulutnya terpentang bicara, "Antara sesat dari selatan dan racun utara, itu siapakah lebih kuat dan lemah?" "Ilmu Hian-In-kang dari racun utara boleh dikata sukar dicari tandingannya, tapi Kiykang dari Lamsia justeru merupakan lawan mematikan bagi ilmu Hian-In-kang itu. Tapi, karena racun utara berkelbihan pandai menggunakan bisa, maka mereka masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan sendiri-sendiri."
"Tadi cianpwe belum memberi penjelasan mengapa racun utara tidak mungkin turun tangan?" Siang Siau Hun mengajukan pertanyaan lagi. Orang yang berkedok itu manggut-manggut, dan berkata, "Pertama, racun utara sangat menjunjung tingkatan dan kepandaiannya, tentu tidak mungkin ia turun tangan jahat kepada tingkatan rendah. Hal ini semua orang di kalangan kangouw tentu maklum. Kedua, seumpama terdesak oleh keadaan, dengan kepandaian silatnya pun tidak perlu dia menggunakan racun. Ketiga, sudah belasan tahun dia tidak pernah muncul di dunia persilatan, maka kukatakan."
Bola mata Siang Siau Hun berputar, "Apa tidak mungkin perbuatan anak muridnya?" Orang yang berkedok itu ragu-ragu, lalu berkata, "Ya, itu kemungkinan." "Aku bersumpah harus mencari tahu perbuatan siapa ini, untuk menuntut balas bagi kematian adikku dan Li Bun Siang." Suara Go Bing dingin kaku menyambung, "Secara kebetulan aku memergoki peristiwa ini, akan kubantu sekuat tenaga untuk menyelidiki siapa pembunuh adikmu itu." Ucapan ini di luar dugaan Siang Siau Hun, sungguh dia tidak habis mengerti bagaimana watak dan tindak tanduk pemuda ini sebenarnya. Bukan saja dingin dan garang serta congkak, namun ucapannya itu menunjukkan pula sifat jujurnya. Sinar matanya lagi-lagi menatap wajah cakep ganteng yang mengandung daya tarik bagi semua lawan jenisnya, lupa akan sifat dingin dan congkak orang terhadap dirinya, dengan suara lembut ia berkata, "Saudara menjunjung keadilan dan kebenaran, biarlah sebelumnya aku mengucapkan terima kasih." Go Bing ulapkan tangannya, "Itupun tidak perlu, aku bukan pendekar yang suka menanam budi. Tadi sudah kukatakan, secara kebetulan saja aku memergoki peristiwa ini, terpaksa aku harus ikut campur." Sahutan ini membuat Siang Siau Hun hampir susah bernapas, saking dongkol, raut mukanya mengelam, dan berkata, "Kalau begitu, tak berani aku menyusahkan saudara." Go Bing menarik muka wajahnya membesi, "Turut campur atau tidak adalah urusanku, nona tidak perlu banyak komentar. Selamanya aku melakukan apa kata isi hatiku, tiada sangkut pautnya dengan orang lain, dan orang lain pun tidak perlu memberi pendapat." Ucapan yang seakan-akan benar, tapi juga seolah-olah tidak mengenal perasaan ini, membuat Siang Siau Hun serba susah, dan berkata, "Saudara yang menjadi korban adalah adikku." "Adikmu adalah orang persilatan." tukas Go Bing tegas, "Sudah tentu sipembunuh itu juga orang persilatan. Orang persilatan mengurus persoalan Bulim, lalu apanya lagi yang salah?" "Orang aneh, ucapannya pun aneh," gerutu Siang Siau Hun, sambil berpaling muka, tapi setelah mengatakan itu, ia merasa ucapannya rada-rada kurang sopan, merah jengahlah raut wajahnya.