Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 06

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 06

Seseorang berkedok turut bicara lagi, "Nona Siang, urusan selanjutnya di sini biarlah kau bereskan sendiri, Lohu akan mencari jejak seseorang tua luka berat hampir mati itu, akan kuperiksa sepanjang jalan sepuluh li ini, jikalau benar jenasah orang itu berada di sana, maka kau harus mencari tahu ke Yong-ong-bio di Seng-toh itu, atau sebaliknya inilah tipu muslihat orang-orang licik dari dunia persilatan, kalau tidak bisa mencari tahu barang macam apakah dalam buntalan itu, maka susahlah untuk mencari tahu siapakah sipenyebar racun itu." Siang Siau Hun terharu dan sangat berterima kasih.

"Cianpwe seorang budiman yang suka membantu kesukaran orang lain, tapi bagaimana baik menyukarkan." "Hahahaha, nona Siang, bukankah Thay-kek-tjhiu siang Se-ing adalah ayahmu?" "Lho, apa cianpwe kenal pada ayah?" "Boleh dikata sahabat lama, maka sudah tentu dalam peristiwa ini Lohu harus turut campur!" Merah kedua mata Siang Siau Hun, ia membungkuk memberi hormat serta berkata, "Kalau begitu cianpwe adalah seangkatan dengan ayah, harap sukalah memberitahu nama." "Jangan, tak usah" tukas seseorang berkedok, "Sudah lama Lohu mengasingkan diri dan melupakan nama sendiri." Lalu ia berputar berkata pada Gi Bing, "Saudara kecil, apa kau ada minat turut pergi menyelidiki ke depan sana?" Otak Go Bing berkerja cepat, "Agaknya orang berkedok ini berpengalaman luas di kalangan kangouw, menggunakan kesempatan ini baik aku bersahabat dengan dia, dari mulutnya mungkin aku dapat mencari tahu jejak Tiang-Un Suseng!" Oleh karena itu, segera ia melulusi, "Memang aku bermaksud demikian!" "Kalau begitu, marilah segera kita berangkat." Dua sosok bayangan dengan kecepatan seperti meteor terbang menghilang dari pandangan mata, tanpa terasa lagi-lagi dari mulut Siang Siau Hun tercetus kata-kata, "Manusia yang bersifat aneh!" Dalam benaknya terkandung suatu perasaan yang menyegarkan tubuhnya, seakan-akan ia kehilangan sesuatu dan seolah-olah menemukan sesuatu apa pula!

Dalam pada itu, dengan kecepatan lari Go Bing dan orang berkedok itu, dalam waktu singkat sepuluh li sudah dicapai, sepanjang jalan sudah mereka teliti dan selidiki, namun tidak ditemukan seperti apa yang diceritakan Siang Siau Hun tentang orang tua yang terluka berat dan hampir mati, jangan kata mayatnya, bayangannya saja tidak kelihatan.

Seseorang berkedok menghela napas, katanya, "Gelombang perkitaian di kalangan kangouw sangat berbahaya, agaknya lagi-lagi suatu peristiwa yang susah dipecahkan." Gerak kaki mereka semakin lamban, selama dalam perjalanan sudah berulang kali Go Bing hendak membuka mulut menanyakan tentang jejak Tiang-Un Suseng, tapi tidak tahu dia dari mana ia harus membuka mulut.

Seseorang berkedok telah membuka mulut lagi, "Saudara kecil, kemanakah tujuanmu?" "Tiada tujuan yang menentu, kemana-mana pun boleh jadi." "Lohu ingin bersahabat dengan kau, bagaimana pendapatmu?" "Hal ini sudah tentu boleh!" "Saudara kecil, lulus dari perguruan mana?" Go Bing ganda tersenyum, katanya, "Kita mengikat persahabatan sejati saja, bagaimana?" "Apa yang dinamakan persahabatan sejati?" "Tuan tidak perlu menanyakan asal usul dan riwayatku, akupun tidak usah menanyakan nama atau gelaranmu, umpamanya kalau aku minta kau menanggalkan kedokmu, itu bukankah membuat kau serba susah, kalau tuan mengenakan kedok itu tentu mempunyai kesukaran sendiri. Maka itu kita mengikat persahabatan sejati, dua belah pihak sama membawa keuntungan masing-masing." Seseorang berkedok tertawa gelak-gelak, serunya, "Tepat, sungguh tepat! Tapi lantas bagaimana memanggil nama masing-masing?" "Dilihat dari usia tentu kau jauh lebih tua, baiklah kupanggil kau Bong-bian-heng (kakak berkedok), tentang aku, terserah kau mau panggil aku apa?" "Bagus sekali, aku lebih tua dan menjadi kakak, baiklah kupanggil kau 'Saudara kecil' saja?" "Aku sih menurut saja." "Saudara kecil, kalau kau tiada apa-apa yang perlu dikerjakan." "Yang dimaksud tiada tujuan tertentu adalah sekarang ini," demikian tukas Go Bing memberi penjelasan, "Kelak tidak termasuk dalam maksudku itu." "Baiklah kita persoalkan sekarang ini, kau ikut aku pergi ke suatu tempat, lalu kita sama-sama pergi menyelidiki barang yang dititipkan non Siang dan telah tercuri hilang itu, asal kita dapat menemukan barang itu, tentu mudah saja kita mengejar sipembunuh yang telah meracuni adik nona Siang dan Li Bun siang itu." "Kemana Bong-bian-heng hendak pergi?" panggilan ini boleh dikata tidak berarturan dalam garis sopan santun, dasar murid Sia-sin yang terkenal sesat dan suka membangkang dari garis umum sedikit banyak Go Bing ketularan sifat gurunya itu, sedikit pun ia tidak ambil peduli pendapat itu, justeru seseorang berkedok pun tidak ambil perhatian malah ia tertawa geli dalam hati.

"Pergi menyambangi seorang sahabat lama." "Orang macam apakah dia?" "Sahabatku itu sudah meninggal dunia." "Lalu." "Pergi sembayang di depan kuburannya." "Oh, jadi begitu!" Selama dua jam Go Bing mengintil di belakang seseorang berkedok sampai mereka tiba di depan sebuah lereng gunung kecil, benar juga di sana dilihatnya sebuah gundukan tanah tinggi di antara semak-semak rumpun bambu.

"Inilah dia." "Berapa lama sahabatmu meninggal?" "Belum lama ini." Dalam berkata-kata itu mereka sudah tiba di depan kuburan, waktu Go Bing angkat kepala memandang batu nisan, seketika tubuhnya tergetar hebat, meski sudah sekuat tenaga ia menekan gelora hatinya, tapi tidak urung air mukanya berobah juga, sebab apa yang dihadapinya ini benar-benar di luar dugaannya, hampir saja ia tidak percaya akan apa yang dilihatnya.

Diatas batu nisan itu jelas tertulis "Tempat istirahat Tiang-Un Suseng Po Djiang". Delapan huruf besar. Dia mendapat tugas dari gurunya untuk memenggal kepala Tiang-Un Suseng, sungguh tak terduga olehnya bahwa orang yang tengah dicari itu ternyata sudah terpendam dalam tanah.

Setiap kali ia menyelesaikan tugas gurunya melulusi untuk menjawab satu pertanyaannya, sebetulnya segala apa yang ingin diketahui terlalu banyak, sekarang kesempatan untuk bertanya itu mungkin sudah ludas, justeru yang paling penting dan dikuatirkan mungkin gurunya akan menyesal dan berduka karena kematian musuh besarnya ini.

"Saudara kecil, agaknya kau sangat haru?" tanya seseorang berkedok.

Sadari dari lamunannya terkejutlah hati Go Bing, sahutnya segera, "Ya, betul memang sangat mengharukan!" "Apa kau kenal dengan Tiang-Un Suseng?" "Tidak kenal orangnya tapi pernah kudengar namanya, menurut kabarnya dia seorang pendekar yang menunjung pribudi, namanya tegar dan cemerlang, entah mengapa dia meninggal dunia?" "Dia meninggal karena menghabisi jiwanya sendiri." "Bunuh diri?" "Ya, benar" "Kenapa?" "Julukannya saja Tiang-un (selalu berduka), sudah tentu dia seorang yang membenci dunia fana ini, akan tetapi yang mendorong dia nekat membunuh diri karena akhir-akhir ini dia sadar bahwa dahulu kala dia pernah melakukan perbuatan tercela, maka dia bunuh diri untuk menebus dosanya itu." Tergerak hati Go Bing, tanyanya lagi, "Entah perbuatan apakah itu, masa sedemikian berat?" "Waktu dia bunuh diri aku tidak disana, ini hanya menurut kabar yang tersiar di kalangan kangouw!" "Tahu salah tapi tidak memperbaiki, masa dengan bunuh diri lantas bisa." "Saudara kecil, mungkin perbuatannya itu merupakan kesalahan yang sudah ditolong lagi?" "Kalau kesalahan tanpa sengaja, kalau sudah salah memang salah, apa perlu ditakutkan lagi!" "Seumpama kesalaha tanpa sengaja, lantas melahirkan suatu akibat yang berat, umpamanya membahayakan jiwa orang lain, lalu bagaimana dia harus menerangkan perbuatannya itu kepada sahabat-sahabat di kangouw?" Go Bing bungkam seribu bahasa.

Seseorang berkedok merubah haluan kata-kata, "Akhir ini, kabarnya ada seorang pemuda yang tidak diketahui namanya, ia mengaku sebagai murid Sia-sin Kho Djiang, mendatangi Peksat mengambil batok kepala Tji Khong hwesio, apakah saudara kecil pernah dengar berita ini?" ~ sinar matanya yang tajam dingin dengan tajam menatap wajah Go Bing.

Terkesiap hati Go Bing, waktu berada di Peksat ia memperkenalkan diri sebagai Go Bing, mungkin pihak sana salah dengar dan menganggap Bu Bing (tak bernama), maka kabar itu mengatakan dirinya sebagai pemuda tak bernama, maka dengan pura-pura heran dan kejut ia balas bertanya, "Apa benar ada peristiwa itu?" "Menurut hematku tidak mungkin kabar itu bohong, akan tetapi urusan ini membuat orang bertanya-tanya." "Mengapa?" "Menurut kabarnya, Kho Djiang sisesat dari selatan itu sudah mati pada dua puluh tahun yang lalu, semasa hidupnya ia mempunyai seorang murid, bernama Lo Tju-gi, empat belas tahun yang lalu waktu diadakan du kepandaian di puncak Hoa-san dia merbut kedudukan tokoh silat nomor satu di seluruh jagat ini, sejak itu dia terus menghilang dari dunia persilatan, lalu darimana pula baru-baru ini mendadak muncul seorang muridnya, tapi menurut berita itu katanya sipemuda tak bernama itu membekal cincin iblis tanpa pengenal dari Lam-sia dan hal ini tidak mungkin palsu." Baru sekaranglah Go Bing mengetahui bahwa gurunya ternyata pernah mempunyai seorang murid lainnya, tapi menurut kata gurunya bahwa pada dua puluh tahun yang lalu dia sudah bersumpah untuk tidak menerima murid, apa mungkin sumpahnya itu ada hubungan erat dengan Lo Tju-gi atau suhengnya itu? Otaknya berpikir demikian, namun mulutnya berkata "Ya hal itu benar-benar membuat heran dan tak mengerti!" Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara bentakan-bentakan nyaring dari kejauhan di balik lereng sebelah sana, sejenak seseorang berkedok pasang kuping, lalu berkata, "Mari kita coba lihat!" Berbareng mereka melesat dan berlari kencang ke balik lereng sebelah sana, di balik lereng ini adalah sebuah tanah datar kira-kira satu bau luasnya, hutan lebat mengelilingi separoh tanah berumput dan di tanah berumput inilah berkelebat banyak orang, ada tosu, ada hwesio, dan ada juga orang preman sekitar lima puluhan orang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment