Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 07

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 07

Tiga orang tua berpakaian serba hitam terkepung di tengah-tengah, dan di sebelah sana, seorang laki-laki pertengahan umur berbaju abu-abu tengah bertempur seru melawan seorang Thau-to (hwesio yang memelihara rambut). Teriakan dan bentakan mereka yang keras terdengar sampai jauh.

Go Bing dan seseorang berkedok menyembunyikan diri di antara rumpun lebat di atas sebuah pohon besar, dan dari ketinggian inilah mereka diam-diam menonton pertempuran seru ini.

Sebuah bentakan keras disertai suara jeritan yang mengerikan menggetarkan seluruh hadirin. Darah segar menyembur deras bagai anak panah dari mulut si Thau-to, dan tubuhnya terkapar keras di atas tanah.

Laki-laki pertengahan umur berbaju abu-abu menyapu pandang keempat penjuru, suaranya dingin melengking. "Masih ada kawan mana yang menginginkan pedang berdarah ini? Silakan!" Seorang hwesio gendut yang menyeret Hong-piang-djan (tongkat kaum hwesio) melangkah maju masuk gelanggang.

Go Bing tidak tahan bertanya kepada seseorang berkedok dengan suara lirih, "Mereka tengah memperebutkan 'pedang berdarah' apa?" "Ya, pedang berdarah merupakan benda pusaka dari dunia persilatan, juga benda keramat yang membawa bencana." "Bagaimana maksudnya ini?" "Setiap orang yang memiliki Pedang Berdarah, tiada seorang pun yang selamat jiwanya."

Dalam gelanggang sana, si hwesio yang bersenjata tongkat sudah bertempur seru melawan laki-laki berbaju abu-abu itu. Terlihat bayangan tongkat diputar kencang bagai sebuah gunung, kesiur angin pukulan pun tidak kalah hebatnya bagai badai gelombang menderu-deru menggetarkan bumi memekakkan telinga.

Sekilas Go Bing menyapu keadaan gelanggang pertempuran, lalu berkata lagi, "Bong-bian-heng, harap sukalah kau memberi sedikit penjelasan sekadaranya kepada saya?" "Menurut berita yang tersiar di Bulim, pedang berdarah menyangkut sejilid buku Bukip. Bagi siapa yang mendapatkan rahasia buku silat ini dapat melang melintang di kolong langit ini tanpa tandingan, tapi kebenarannya siapa pun tidak tahu."

Lima belas tahun yang lalu, pedang berdarah itu pernah muncul di dunia ini untuk ketiga kalinya. Pemiliknya adalah Swuhiap Suma Hong. Begitu berita itu tersiar luas, maka semua tokoh-tokoh silat dari segala aliran hitam atau putih mengiri dan mengincar benda keramat itu. Akhirnya, jejak suami istri Suhiap Suma Hong berdua ditemukan di puncak gunung Tiam-Tjong-san. Maka, di puncak Hou-thau-hong di gunung Tiam-tjong-san itu lah terbuka suatu penyembelihan besar-besaran untuk memperebutkan benda berharga itu.

Tanpa merasa, Go Bing bukankah gua tempat tinggal gurunya berada di bawah jurang di samping puncak Hou-thau-hong di gunung Tian-tjong-san itu.

Seseorang berkedok menyambung ceritanya lagi, "Suhiap Suma Hong, bersama istrinya San-hoa-li (wanita penyebar bunga), Ong Fang Lan juga terhitung tokoh silat kelas satu. Di bawah kerubutah ratusan gembong-gembong silat, mereka bertempur dengan gigih sampai titik darah penghabisan. Akhirnya, mereka rebah tak bergerak lagi di puncak itu. Malah, ada pula yang mengatakan ada seorang anak kecil berusia tiga tahun ikut meregang nyawa dalam keributan itu. Korban dari pihak pengeroyok pun tidak terhitung banyaknya."

Diluar sadar, Go Bing bergidik seram. Dalam dunia persilatan, sudah menjadikan suatu peraturan tidak resmi bahwa yang kuat pasti malang melintang menindas yang lemah, bunuh membunuh dan balas membalas ti

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment