Chapter 08
Tjui hun siu mendengus keras, ejeknya, "Apa tuan bermaksud menjajal kepandaian kami bertiga?" "Barang itu masih berada di tangan orang lain, apa ada harganya perkelahian itu?" "Lalu bagaimana pendapat tuan?" "Mengandal kepandaian masing-masing, siapa berkepandaian tinggi dia berhak memiliki benda itu."
Setelah saling berpandangan, Lam hong berseru berbareng, "Baiklah!" Mereka memutar tubuh, mengambil posisi masing-masing, menghadapi Tji ou tjiu berempat.
Disebelah sana, Tanghu Kwe Lih pun maju tiga langkah, suasana dalam arena seketika menjadi tegang. Semua tokoh silat yang hadir dengan mendelong mengawasi arena tanpa berkedip, sinar mata mereka mengandung maksud yang sama, itu adalah sinar mata serakah, licik, dan buas bercampur aduk menjadi satu.
Dalam pada itu, Tjit ou tjiu dan tiga orang tua seragam hitam sudah bersiap, punggung menduduki satu posisi tersendiri, mereka siap waspada menghadapi segala kemungkinan.
Tiba-tiba Go Bing bertanya lirih kepada seseorang berkedok, "Menurut pendapatmu, siapa yang bakal berhasil?" "Sudah diduga, menurut situasi dalam arena, kepandaian Tanghu agak lebih tinggi, tapi dalam jumlah, Lam hong berada di atas angin. Akan tetapi, tak peduli siapa yang bakal berhasil, mungkin susahlah dapat meninggalkan gelanggang pertempuran ini. Orang-orang gagah di luar gelanggang itu, di mana ada kesempatan, pasti juga akan turun tangan, dan entah masih berapa banyak tokoh-tokoh lihai lainnya yang main sembunyi. Lagipula, keempat tokoh lihai dari anggota Bwe hoa bwe itu pun bukan olah-olah hebat kepandaiannya." "Apa kamu ada maksud turun campur?" "Kau sendiri bagaimana?" Go Bing menggeleng kepala, maka seseorang berkedok berkata, "Akupun demikian."
Dimana terdengar suara bentakan riuh rendah, Lam hong serentak turun tangan menyerang ke arah Tjiu ou tjiu. Segera tiga orang tua seragam hitam melompat maju menandangi serangan mereka. Adalah pada saat yang bersamaan itu, si nelayan dari timur telah menubruk maju ke arah Tjong Lun, maka terbentanglah suatu pertempuran mati-matian yang seru dan gegap gempita.
Lam hong bertiga masing-masing menandangi tiga orang tua seragam hitam dari Bwe hoa hwe. Kepandaian dan iwekang mereka agaknya seimbang, maka susahlah dapat ditentukan siapa bakal unggul dan siapa asor. Lain halnya dengan kepandaian Tanghu, agaknya sedikit unggul dari Tjit ou tjium, namun untuk mengambil kemenangan dalam waktu dekat dan memperoleh barang yang diperebutkan, ia harus memeras keringat juga.
Delapan orang terbagi dalam empat pasang menunjukkan kepandaian masing-masing yang paling hebat dan simpanan yang paling lihai, hingga angin menderu, kerikil, dan debu berterbangan, diselingi suara bentakan dan geraman, malah terdengar juga suara menggeledek dari benturan angin pukulan yang dahsyat.
Tiba-tiba seseorang berkedok berseru kaget dan menyatakan keheranannya. Go Bing berpaling dan bertanya, "Apa yang mengherankan?" "Gembong-gembong silat dari Bwe hoa hwe tidak terhitung banyaknya, tokoh berkepandaian lebih lihat dari Tjong Lun tidak kurang jumlahnya, benda berharga sangat penting seperti pedang berdarah itu, mengapa tidak dilindungi oleh para jagoan yang lebih lihai, malah tidak terlihat adanya penyambutan atau bantuan."
Sekonyong-konyong terdengar sebuah suara serak dari samping sebelah sana, katanya, "Tuan ini terlalu banyak prihatin." Go Bing dan orang berkedok terperanjat, lekas-lekas mereka berpaling ke arah datangnya suara. Tampak di atas sebuah pohon besar yang jauhnya hanya tiga tombak dari tempat mereka sembunyi, duduk ongkang-ongkang di atas sebuah dahan, seorang tua yang berpakaian serba kuning. Seseorang tua berpakaian kuning ini sudah sejak tadi sembunyi di situ atau baru saja tiba, sedikit pun mereka tidak mengetahui. Jika dikatakan baru saja tiba dan tidak diketahui sedikit pun oleh mereka, maka kepadanan ringan tubuh yang hebat ini benar-benar membuat orang merasa kagum dan meleletkan lidah.
Sekilas Go Bing dan orang berkedok melirik ke arah si baju kuning, lalu berpaling lagi menyaksikan pertempuran seru dalam gelanggang. Mereka tidak bersuara lagi.
Karena sudah sekian lamanya belum dapat mengalahkan ketiga lawan seragam hitam ini, kumatlah sifat buas dan kegarangan Lam hong. Mereka menggeram dan berteriak-teriak seperti binatang buas, setiap jurus serangannya adalah pukulan dahsyat yang mematikan. Adalah ketiga orang tua berseragam hitam itu masih berlaku sabar dan tidak tamak kemenangan, mereka tetap tenang dan menjaga diri dengan rapat, lebih banyak membela diri daripada menyerang.
Disebelah sana, Tang hay hi hu mendesak Tjit ou tjhiu Tjong Lun sedemikian rupa hingga yang belakangan ini mencak-cak kerepotan, setiap saat jiwanya terancam bahaya. Dimana terdengar sebuah gerungan keras dan panjang, disusul terdengar seruan tertahan dari empat penjuru. Jubah panjang di depan dada Tjit ou tjhiu Tjong Lun tahu-tahu sudah sobek panjang, dan bertepatan dengan itu, sebuah buntalan kain berminyak sepanjang satu kaki menggelundung keluar dari dalam bajunya dan jatuh di tengah gelanggang, sedang Tjong Lun sendiri pun terhuyung mundur beberapa langkah.
Hati Go Bing berdetak keras, tanpa tertahan, ia pun berseru heran. Cepat-cepat seseorang berkedok sedikit menarik lengannya, memberi tanda supaya dia tidak bersuara lagi.
Sementara itu, Tang hay hi hu sudah ulurkan sebelah tangannya hendak meraup buntalan kain di atas tanah itu. Tiga gelombang angin deras bagai gugur gunung berbareng menerpa tiba, mengurung di seluruh tubuh Tang hay hi hu, tergetar mundur jumpalitan delapan kaki jauhnya.
Kiranya begitu, melihat Tang hay hi hu dapat mengalahkan Tjong Lun, lalu hendak menjemput buntalan di atas tanah itu, segera Sam hiong tinggalkan musuhnya, lalu berbareng meluruk tiba bersama, serta lancarkan tiga pukulan berat kepada Tang hay hi hu.
Sam hiong bertujuan sama, cara turun tangannya pun serentak dalam waktu yang sama pula.
Pada detik-detik Tang hay hi hu terpental oleh desakan pukulan gabungan Sam hiong, itu adalah sebuah bayangan orang dengan kecepatan yang susah diukur terbang menyamber buntalan kain di atas tanah itu. Sekali raup, tubuhnya terus melejit tinggi.
Menubruk tiba, meraup buntalan di tanah, lalu melejit tinggi, semua ini dilakukan sekaligus, boleh dikatakan secepat kilat.
"In Hong Lokoay, tinggalkanlah barang itu untuk Toayamu," bersamaan dengan datangnya suara, sebuah bayangan lain melesat tiba pula dari tengah udara bagai meteor terbang dengan cepatnya.
"Blang," kedua bayangan itu saling tumbuk di tengah udara, dan keduanya sama-sama terpental jatuh di atas tanah, dan buntalan kain itu juga terjatuh lagi di atas tanah di tengah-tengah antara mereka. Situasi yang menegangkan ini benar-benar membikin orang menahan gelora hatinya yang susah bernapas.
Kedua orang yang terpental jatuh itu, salah seorang adalah In Hong Lokoay, dan yang lain adalah Sang Gan Todjin dari Kong Tong pay. Dan dalam kejap, buntalan kain itu terjatuh di atas tanah lagi, kebetulan jarak di mana Sip hun siu, satu di antara Lam hong sam hiong, kira-kira hanya lima kaki. Gesit luar biasa, tangannya diulur hendak mengambil, tapi dengan kecepatan kilat, Tang hay hi hu mengayun sebelah tangannya, di mana angin pukulannya menyamber buntalan kain itu tergulung angin, menggelundung jauh melesat ke arah Tjiu hun sui. Hal ini sangat kebetulan bagi Tjui hun siu, girang luar biasa, ia ulurkan tangan menyambut.
"Bluk," "hoak," diselingi suara jeritan ngeri, Tjhiu hun siu menyemburkan darah segar dari mulutnya, tubuhnya sempoyongan mundur delapan kaki jauhnya.
Musuh licik yang memukul mundur Tjui hun siu hingga luka berat ini kiranya adalah In Hong Lokoay. Sekali lagi, buntalan kain itu terjatuh di tengah gelanggang.
Karena menubruk tempat kosong, Tang hay hi hu sangat gusar, tanpa menghentikan gerak tubuhnya, kedua tangannya menerjang maju ke arah Sip hun siu dengan seluruh kekuatan tenaganya, maka pukulan ini seakan gugur gunung dahsyatnya. Saat mana Sip hun siu tengah kesima karena tidak menduga, bukan saja tidak mendapatkan buntalan itu, malah Tjui hun siu terluka berat terbokong oleh In Hong Lokoay, sedikit pun ia tidak menduga bahwa pada saat itu juga dirinya terancam bahaya pukulan Tang hay hi hu. Waktu dia sadar dan coba berkelit, sudah tidak keburu lagi.
Sebuah jeritan panjang yang menggema di tengah udara menambah keseraman gelanggang pertempuran, tubuh Sip hun siu terbang jauh, dan muntah darah. Bersamaan dengan itu, Sam Gan Todjin dari Kong Tong pay sudah melesat tiba menjangkau buntalan di atas tanah itu.
"Bkang," tanpa ampun, Sam Gan Todjin pun juga terhuyung mundur diterpa angin pukulan yang bergulung tiba. Agaknya, Tjit ou tjiu Tjong Lun dari Bwe hwa hwe juga tidak tinggal diam, melancarkan pukulan hebatnya.
Situasi dalam gelanggang semakin kacau balau, para tokoh-tokoh silat yang menonton di luar gelanggang pun beramai-ramai merubung maju dan bimbang untuk turut ikut campur, tapi mereka pun tidak rela tinggal pergi begitu saja karena tengah ditunggunya kesempatan, ya, siapa tahu bahwa dirinya nanti yang bakal ketiban rejeki.
Dua di antara tiga dari Lam hong sam hiong sudah terluka berat, kesempatan untuk menang bagi mereka sudah nihil. Terdengar To bing siu mengerung keras, "In Hong Lokoay, Tang hay hi hu, kita bertemu pada lain kesempatan!" Namun seruannya ini sudah tidak menimbulkan perhatian orang, sebab perhatian orang tengah dicurahkan kepada buntalan kain itu. Segera Toh bing siu memanggul Sip hun siu dan mengemput Tjui hun siu, mencawat ekor, meninggalkan gelanggang.
Pada waktu itu, mendadak terdengar sebuah suara keras bagai kitat menggeledek di siang hari bolong, menggelegar memekakkan telinga semua hadirin, "Saudara-saudara sekalian, harap berhenti sebentar!" Tanpa merasa, para tokoh silat itu berbareng hentikan pertempuran dan berpaling ke arah suara itu, tedengar, maka terlihat seorang tua berambut putih pendek, gendut, lagi mendatangi dengan cepat, memasuki gelanggang seperti bola menggelundung. Seketika para hadirin mengunjuk rasa heran dan kejut, sudah sekian lama mereka kenal manusia kerdil buntak ini merupakan seorang tokoh yang paling susah dilayani, yaitu Tong sing to gwat, Si Ban-tjwan.