Chapter 09
Bintang di langit pun hendak dicurinya, maka dapat dibayangkan betapa aneh martabat manusia aneh ini. Barang berapa apapun, bila sudah diincar olehnya, jangan harap kau dapat melindungi atau dapat menyimpannya dengan aman. Sebelum barang sampai di tangannya, dia takkan berhenti bekerja.
Segera sinar matahari di timur, Kwe Lih angkat tangan memberi salam hormat. "Silakan, Si Heng, apa kau juga?" berkata. "Eh, Sipeng, aku nasihatkan padamu, jangan kau pancing ikan ini." "Mengapa?" "Duri ikan akan mencocok tanganmu." Disebelah samping, Sam Gan Todjin tertawa dingin. "Maling tua, apa maksud ucapanmu itu?" Setelah menyapu pandang keempat penjuru, segera Tou Sing To Gwat membuka suara lagi. "Entah mengapa, hati Lohu hari ini tidak tenteram, dan timbul kekhawatiran dalam benakku untuk menasehati kalian. Kalau kalian tidak mau mati konyol, ada baiknya kalian jangan sentuh benda keramat yang membawa banyak bencana ini."
Semua hadirin menjadi melongo heran dan saling memandang. Tidak seorang pun dapat menebak apa yang ada di balik ucapan Sipencuri lihai itu. Walaupun terkenal sebagai manusia yang sudah dilayani dan susah diajak kompromi, tapi perkataannya selalu dapat dipercaya. Belum pernah bicara main-main atau ingkar janji.
Suasana di seluruh gelanggang menjadi sunyi senyap tanpa suara. In Hong Lokoay agaknya tidak percaya, serunya. "Maling tua, kau jangan main gertak dengan ucapan teka-tekimu itu. Kenapa tidak kau terangkan sejelasnya maksudmu itu?" "Omonganku sampai disini saja, titik. Percaya atau tidak, terserah kalian. Aku, Maling Tua, minta diri!" Habis berkata, dengan cepat ia menggelundung pergi dan menghilang dalam sekejap mata.
Pedang Berdarah memang tidak mengherankan bahwa pedang berdarah adalah sebuah benda keramat yang dapat menyedot hati manusia. Meskipun tahu berbahaya, tapi mereka ingin untuk memilikinya. Begitulah, setelah saling merasa curiga, kuatir, dan bimbang, akhirnya pandangan semua mata tertuju lagi ke arah buntalan kain di atas tanah itu.
Para tokoh silat yang berada di tengah gelanggang itu rata-rata adalah gembong penjahat yang kejam dan telengas. Siapa berani turun tangan lebih dulu, pasti lawan-lawannya akan serentak menyerang menamatkan jiwanya. Oleh karena itu, beberapa saat itu suasana menjadi agak tenang, dan semua orang mengambil sikap untuk menonton saja sementara.
Tahu-tahu, seorang tua baju kuning dengan langkah tenang dan tetap berjalan memasuki gelanggang dan langsung menghampiri ke arah Tjiu Ou Tjiu Tjong Lun berempat. Di hadapan mereka, ia hentikan langkahnya. Orang tua baju kuning ini bukan lain adalah seorang tua yang sembunyi di atas pohon di samping Go Bing dan orang berkedok itu.
Jubah panjang di depan dadanya tersulam bunga besar, jelas menunjukkan kedudukannya. Pertama-tama, In Hong Lokoay berseru kejut, lalu serunya. "Eh, sungguh di luar dugaan bahwa It Tjiang Toan Hun, Tjiu Eng Lian, kiranya juga sudah menjadi anggota Bwe Hwa Hwe?" It Tjiang Toan Hun menyahut dingin. "Memangnya kenapa, apa tidak boleh?" In Hong Lokoay menjengkelkan, katanya. "Setiap orang mempunyai cita-citanya sendiri. Ah, buat apa aku banyak mulut!"
Kedua mata It Tjiang Toan Hun berkilat, menyapu pandang ke seluruh gelanggang. Serunya lantang. "Buntalan kain ini menurut perintah ketua kami harus dilindungi dan diantar ke markas besar. Apa di dalamnya adalah pedang berdarah atau bukan, cahaya sendiri pun tidak mengetahui. Kini kupersilakan para hadirin sekalian berpikir-pikir dulu sebelum bertindak. Jikalau kalian mendengar nasehat berharga dari Simaling Tua tadi dan tidak turun memperebutkan buntalan ini lagi, biarlah aku mewakili perkumpulan kami menyatakan banyak terima kasih. Atau sebaliknya, cahaya sedang bertugas menurut perintah, terpaksa aku harus melayani setiap kehendak kalian beramai-ramai."
Keadaan dalam gelanggang menjadi hening lelap. Dengan penuh keharuan, Go Bing berkata kepada seorang berkedok. "Bukankah buntalan kain itu adalah benda yang dititipkan kepada Siang Sian Hun dari seorang tua yang hampir mati itu, hingga menyebabkan kematian Siang Siau Moay dan Li Bun Siang?" "Benar!" "Jadi sipembunuh adalah orang dari Bwe Hoa Bwe?" "Belum tentu. Ucapan Tou Sing To Gwat, Si Ban Tjwan, tadi harus diperhatikan. Mungkin ada udang di balik batu!"
"Aku ingin mengambil buntalan kain itu untuk mengejar sipembunuh itu. Kalau barang itu sudah berada di tangan kita, tidak perlu disangsikan, pasti sipembunuh itu akan muncul sendiri?" "Saudara kecil, apa kau benar-benar hendak turut campur?" "Aku pernah berjanji di hadapan Nona Siang untuk menyelidiki jejak sipembunuh itu. Apalagi aku sudah bersumpah hendak membunuh manusia durjana yang menggunakan racun tanpa bayangan itu. Pada hakekatnya, tujuan utamaku bukan melulu merebut Pedang Berdarah ini." "Saudara kecil, apa kau ada pegangan untuk dapat merebut barang itu?" "Akan kucoba sekuat tenagaku," sahut Go Bing.
"Mereka adalah gembong-gembong besar yang berkepandaian tinggi. Kau akan menjadi sasaran empuk bagi mereka!" "Aku tidak peduli akan hal itu." Pada saat itu, sebuah bayangan kecil lenjir melayang tiba dari tengah udara, setelah jumpalitan tiga kali, terus melayang dengan entengnya memasuki gelanggang.
Pertunjukan ilmu ringan tubuh yang mengejutkan ini membuat semua hadirin tergetar kesima. Orang yang berputar di tengah udara dan hingga di tanah ini ternyata adalah seorang gadis yang cantik, molek, menggiurkan, mengenakan baju serba putih.
Bahwa ilmu ringan tubuh jarang terlihat di dunia persilatan dipertontonkan oleh seorang gadis muda belia dan cantik rupawan lagi, benar-benar mengejutkan hati semua hadirin. Go Bing sudah berdiri dan bersiap hendak melompat turun, tapi seorang berkedok keburu mencegah. Katanya, "Saudara kecil, kedatangan gadis ini sangat aneh dan mendadak. Kenapa kau tidak sabar sebentar? Siapa tahu ada sesuatu kejadian di luar dugaan!" Terpaksa Go Bing duduk lagi di atas dahan pohon.
Terdengar gadis cantik bagai bidadari itu tengah berkata. "Sian Nio segera akan tiba. Sementara, kuharap kalian mundur lima tombak jauhnya!" Ucapan ini menimbulkan suasana bingung dalam gelanggang. Tokoh-tokoh silat yang berada di tengah gelanggang mengunjuk rasa kejut dan heran, beramai-ramai mereka mundur teratur dan menyingkir memberi sebuah jalan. Hanya Tang Hay Hi Hu dan beberapa orang yang menganggap dirinya berkedudukan tinggi masih ragu-ragu tanpa bergerak.
It Tjiang Toan Hun mengekeh tawa dan berseru. "Kalau Sian Nio akan datang, memang kita sekalian harus mengundurkan diri. Maka buntalan kain ini, sementara waktu, biar Lohu simpan kembali. Nanti, biarlah kita rundingkan lagi bagaimana cara menyelesaikan urusan ini?" Dalam berkata-kata itu, ia melangkah maju dan ulurkan tangannya hendak mengambil buntalan kain itu.
In Hong Lokoay dan Sam Gan Todjin berbareng maju satu tindak. Disebelah sana, Tang Hay Hi Hu pun perlahan-lahan angkat kedua tangannya. Jikalau It Tjiang Toan Hun benar-benar mengambil buntalan kain itu, ketiga orang ini pasti akan melancarkan serangan berbareng. Adalah Tjit Ou Tjiu dan ketiga orang tua seragam hitam pun merapat di belakang It Tjiang Toan Hun, bersiap menjaga segala kemungkinan.
Maka suasana dalam gelanggang mulai tegang, mendebarkan hati. Sepasang mata gadis cantik yang jeli itu memancarkan sinar tajam yang aneh. Suaranya tajam tandas. "Silakan kalian mundur lima tombak jauhnya, biarkan benda itu tetap di tempatnya!" Sungguh tak nyana, para gembong iblis yang kejam dan ternama itu ternyata takut dan tunduk betul karena bentakan gadis ini. Tanpa merasa, mereka mundur teratur perlahan-lahan, tapi mereka masih ndablek, tiada seorang pun yang mundur sejauh lima tombak.
Go Bing terheran-heran dan tak habis mengerti. Tanyanya, "Bong Bian Heng, tokoh macam apakah Sian Nio itu?" Seorang berkedok menekan suaranya sedemikian lirih, sahutnya. "Pek Hoa T Sian Nio!" "Pek Hoa T Sian Nio" (Dewi Rambut Putih).
"Benar, Pek Hoa T Sian Nio. Namanya sudah menggoncangkan dunia kangouw pada 60 tahun yang lalu. Selamanya, ia jarang muncul di dunia persilatan. Tentang asal usul atau riwayatnya, mungkin tiada seorang pun yang mengetahui!" "Orang-orang yang hadir hari ini adalah tokoh-tokoh lihai yang besar namanya. Sungguh tak nyana, sedemikian takut mereka terhadap Dewi Berambut Putih itu." "Betapa tinggi kepandaian Pek Hoa T Sian Nio, susah diukur. Gadis itu adalah muridnya, kepandaiannya saja agaknya lebih tinggi dan lebih lihay dari siapa saja yang hadir dalam gelanggang itu."
Diam-diam, Go Bing menimang dalam hati. "Betapa tinggipun kepandaian Pek Hoa T Sian Nio itu, masa bisa lebih tinggi dari kepandaian Suhu?" Sementara itu, wajah si gadis semakin kaku dingin. Suaranya mengancam. "Apa kalian sudah dengar omonganku?" It Tjiang Toan Hun mendadak mengulapkan tangan bersama Tjit Ou Tjiu berempat. Perlahan-lahan, mereka mundur lima tombak jauhnya. Terpaksa, Tang Hay Hi Hu, In Hong Lokoay, dan Sam Gan Tojin, tiga gembong iblis ini pun turut mundur tanpa berani banyak mulut.
Sedemikian sunyi dan hening lelap suasana gelanggang pertarungan yang ramai tadi, seumpama jarum jatuh pun bisa terdengar. Namun demikian, dalam keheningan ini terkandung ketegangan hati yang menggetarkan semangat. Bahwa Pek Hoa T Sian Nio benar akan berkunjung dan turut hadir tanpa diundang, benar-benar di luar dugaan semua orang. Apakah tokoh misterius berkepandaian tinggi, susah diukur itu juga hendak ikut merebut pedang darah? Kalau Pek Hoa T Sian Nio benar-benar mengincarnya, maka semua hadirin harus mengalah dan mandah saja, barang itu diambil olehnya.