Chapter 10
Go Bing berpikir, peduli apa dewi atau dewa, lebih penting baginya mencari tahu jejak si pembunuh dengan menggunakan racun itu. Habis perkara, kalau dalam otaknya dia berpikir begitu, segera ia bertindak. Mendadak, tubuhnya melejit tinggi dan menubruk masuk ke dalam gelanggang. Siorang berkedok ingin mencegah, tapi sudah tidak keburu lagi. Kehadirannya yang mendadak membuat semua orang terperanjat serta melihat tegas, kiranya hanya seorang muda yang masih hijau pelonco ini. Wajah mereka mengunjuk rasa heran dan bertanya-tanya.
Bola mata si gadis cantik berputar-putar, tergerak hati kecilnya. Sebesar usianya itu, baru pertama kali ini dilihatnya seorang pemuda yang gagah ganteng mempunyai daya tarik yang meluluhkan hati setiap insan lawannya. Hanya sayang, sikap gagahnya itu mengandung kecongkakan.
Begitu menginjak tanah dan berdiri tegak, Go Bing langsung menghampiri buntalan kain itu tanpa memperdulikan orang lain di hadapannya. "Berhenti!" suara si gadis membentak halus. Tanpa diminta lagi, Go Bing menghentikan langkahnya dan bertanya, "Ada keperluan apa, nona, menghentikan aku?" "Apa yang hendak kau buat?" "Mengurus pekerjaan!" "Mengurus pekerjaan apa?" "Tiada perlunya kau memberitahu aku." Berobah kelam wajah si gadis, timbul hawa membunuh pada air mukanya.
Sementara itu, sekali berkelebat, tahu-tahu Go Bing sudah menjemput buntalan kain itu di tangannya. Kecepatan gerak tubuhnya benar-benar membuat semua orang melelet lidah. Para tokoh silat di luar gelanggang pun tunduk mundur lima tombak jauhnya karena gentar mendengar nama Pek Ho Sian Nio. Kini, pemuda tak bernama dan masih hijau ini secara terang-terangan berani merebut barang incaran mereka dalam gelanggang. Hal ini merupakan suatu kesempatan bagi semua orang, malah mereka dapat menganggap si pemuda sebagai biang keladi dalam kekacauan yang berani membangkang perintah Si Dewi Rambut Putih.
Adalah gadis ayu rupawan itu malah tertegun kaget, benar-benar diluar dugaannya bahwa si pemuda ini ternyata tidak memandang sebelah mata perintah Pek Hoat Sian Nio. Maka terdengar In Hong Lokoay memelopori membantak, "Siaucu, letakkan buntalan itu!" Berbareng, tubuhnya berkelebat menerjang maju dengan kecepatan seperti angin lesus.
"Kembali!" diselingi suara bentakan nyaring ini, terjangan langsing tubuh si gadis berkelebat, tangannya membuat sebuah lingkaran terus disorong ke depan menyongsong kedatangan tubuh In Hong Lokoay yang menerjang datang. Karena dorongan ini, tubuh In Hong Lokoay terdampar terbang balik ke tempatnya. Hampir dalam waktu yang bersamaan, Sam Gan Tojin pun sudah menubruk tiba sambil mengayun tangan kanan mengenjet muka Go Bing, sedang tangan kiri dengan kecepatan kilat mencengkram ke arah buntalan itu.
"Bum!" diselingi suara tertahan keras, Sam Gan Tojin terhuyung mundur sepuluh langkah, dari ujung mulutnya melelah darah segar. Suasana di luar gelanggang menjadi gempar. Bahwa nama dan kedudukan Sam Gan Tojin sangat tenar dan tinggi, bukan nama kosong belaka, tapi baru setengah jurus saja telah dapat dikalahkan oleh seorang pemuda yang masih hijau, benar-benar membuat semua orang sangsi akan penglihatan sendiri. Apalagi cara bagaimana si pemuda melukai Sam Gan Tojin, mungkin hanya beberapa orang saja yang dapat melihat tegas.
Hati si gadis pun bukan alang kepalang kejutnya, tahu dia bahwa kepandaian si pemuda ini ternyata sangat mengejutkan. Sambil mengusap noktah dara di bibirnya, Sam Gan Tojin berseru dengan penuh kebencian, "Siaucu, beritahukan namamu?" Go Bing menyebut dingin, "Kalau kau tahu gelagat, lekaslah mengelinding jauh sedikit!" Hitung-hitung nama Sam Gan Tojin sangat ternama dan sangat disegani di kalangan kangouw, mana kuat ia menahan hinaan ini, apalagi lawannya ini hanya seorang pemuda yang berusia belum lebih dari dua puluh tahun. Saking gusar, ia membentak keras, "Siaucu, biar kubunuh kau!" sambil mengerahkan setaker tenaganya, tubuhnya merangsak maju melancarkan pukulannya dengan derasnya.
Go Bing ganda tertawa dingin dan membentak, "Kau ingin cari mampus sendiri!" Buntalan dipindah ke tangan kiri, tangan kanan pun membalik dan menyurung ke depan segulung gelombang panas dengan perbawa bagai geledek menyambar bergulung-gulung mendampar ke depan. Maka terdengarlah suara ledakan keras yang memekakkan telinga dan menyedot semangat, diselingi teriakan panjang mengerikan menggetarkan seluruh arena pertempuran. Di tengah gelombang terpaan angin keras itu, tubuh Sam Gan Tojin terbawa terbang setinggi tiga tombak, mulutnya menyembur darah dan terbanting keras tanpa bergerak lagi.
Pukulan Go Bing ini telah menggunakan kepandaian sakti Kiy yang sin kang yang menjagoi seluruh dunia, namun karena selama hidup dan mengembara, Sia sin jarang menggunakan kepandaian ini, maka semua tokoh silat yang hadir, termasuk si gadis, tiada seorang pun tahu kepandaian apa yang telah digunakan oleh si pemuda ini.
Wajah gadis baju putih berobah asam, sungguh sukar dibayangkan betapa tinggi kepandaian silat pemuda ini. Timbul suatu perasaan yang susah dilukiskan dalam hatinya. Sam Gan Tojin terhuyung-huyung berdiri perlahan-lahan, dia tinggalkan gelanggang sambil beringsut-ingsut.
Gerak-gerik si gadis baju putih adalah sedemikian lemah gemulai, terdengar suaranya tawar bertanya kepada Go Bing, "Bolehkan saudara memberitahukan namamu?" "Ini... agaknya tidak perlu!" "Saudara datang untuk merebut Pedang Darah juga?" "Boleh dikata betul, tapi juga tidak benar." "Apa maksudmu ini?" "Tujuan yang penting tidak terletak pada Hiat Kiam ini, tapi dari Hiat Kiam ini aku akan mencari jejak seorang pembunuh." "Sian Nio segera tiba, silakan saudara letakkan buntalan itu dan menyingkir keluar gelanggang." Go Bing mendengus dan menyahut dingin, "Selamanya aku tidak senang diperintah orang lain."
Berobah air muka si gadis baju putih, suaranya mengancam, "Apa kau dapat berbuat seenakmu di sini?" "Aku bebas melakukan apa yang ingin kuperbuat, tidak percaya, boleh kau coba-coba." Suasana dalam gelanggang mencekik leher lagi, kalau kedua muda-mudi ini saling gebrak, bakal terjadilah pertempuran yang dahsyat yang jarang terlihat di bulan, siapa yang takkan senang kalau dunia ini aman tentram tanpa perang. Adalah daya tarik Hiat Kiam itu sedemikian besar sehingga susah menarik pikiran tamak untuk tidak memilikinya.
Pada saat itu, sebuah tandu warna hijau mulus berayun-ayun memasuki gelanggang, tandu sedemikian besar dipukul begitu enteng bagai memikul kapuk dengan cepat sekali dalam sekejap mata tandu itu sudah tiba di tengah gelanggang. Kerai di depan tandu tertutup rapat, tidak kelihatan siapa yang duduk di dalamnya. Keempat orang pemikul tandu itu adalah gadis-gadis yang masih muda belia dan cantik-cantik lagi mengenakan seragam hijau mulus.
Sorot mata semua orang tertuju ke arah tandu yang baru datang ini. Setelah tandu diletakkan di tanah, keempat gadis baju hijau itu berjajar di dua pinggir pintu. Suasana tegang dan seram meliputi seluruh hadirin, air muka si gadis berobah pucat dengan sinar kebencian yang sangat ia melerok kerah Go Bing, lalu berpaling dan menghampiri ke depan tandu. Tubuh sedikit membungkuk, mulutnya komat-kamit, mungkin tengah melapor keadaan yang terjadi di dalam gelanggang ini.
Tanpa merasa berdetak keras hati Go Bing, tidak lama kemudian, gadis baju putih itu memutar tubuh dan maju beberapa langkah terus menggape ke arah Go Bing dan berseru, "Sian Nio mengundang kau mendekat!" Go Bing tertegun melongo, tanyanya, "Maksud nona adalah aku?" "Siapa lagi kalau bukan kau!" Diam-diam Go Bing membatin, "Justeru aku tidak percaya segala kabar angin itu, Pek Hoat Sian Nio apa segala dapat mengapakan aku." Maka sambil membusung dada dan mengangkat kepala, ia maju mendekat dengan langkah lebar ke arah tandu itu.
Di antara jarak delapan kaki dari tandu itu, segera salah satu gadis berbaju hijau itu angkat tangan dan berseru, "Berhenti di situ!" Go Bing menurut, menghentikan langkah, dengan kencang ia masih memegang buntalan kain yang diperebutkan itu. Kerai tandu terbuat dari anyaman butir-butir mutiara yang kecil lembut, orang di dalam tandu dapat melihat keluar dengan tegas, namun orang di luar susah melihat tembus ke dalam tandu. Dengan sikap angkuh dingin, Go Bing menatap pintu tandu, diam-diam hatinya berpikir, "Aku akan kulihat kau dapat berbuat apa terhadapku?"
Lama dan lama kemudian, baru terdengar suara lembut halus dari dalam tandu, "Siapa namamu?" Tanpa merasa tergerak hati, Go Bing, Pak Hoat Sian Nio serasi dengan nama ini, tentu dia adalah seorang nenek-nenek tua yang sudah berambut uban, tapi didengar dari suaranya yang halus nyaring, agaknya usianya masih muda. Karena itu, dengan sikap kaku, ia menyahut, "Aku yang rendah adalah kaum keroco di kalangan kangouw, reasanya tidak perlu menyebut nama apa segala." "Kau dari perguruan mana?" "Hal itu aku tidak dapat memberi tahu!" "Hm, sedemikian congkak dan sombong kau ini?" "Jauh dari pada sombong dan congkak, karena memang begini tabiatku!"
Keempat gadis baju hijau di pinggir tandu itu bersama mengunjuk rasa heran dan kejut, baru pertama kali ini mereka melihat dan dengar ada orang berani main bantah dengan Sian Nio, lagipula nada ucapan Sian Nio pun agak berbeda dari biasanya. Sejenak Go Bing ragu-ragu, lantas ia balas bertanya, "Kau adalah Pek Hoat Sian Nio yang disanjung puji oleh dunia persilatan?" "Ya, benar, kau datang untuk merebut Hiat Kiam itu?" "Bukan, harus dikatakan mencari jejak seorang pembunuh!" "Tapi Hiat Kiam itu sudah kau rebut?" "Justeru dari benda inilah aku hendak mencari jejak manusia kejam itu!" "Apa kau tahu kedatangan semua yang hadir di sini justeru hendak merebut benda itu?" "Itu aku tahu." "Lalu bagaimana kau hendak menghadapi mereka?" "Setelah urusanku beres, benda ini segera kukembalikan kepada mereka, aku sendiri tidak kepingin memiliki benda pembawa bencana ini." "Hm, sementara aku dapat percaya ucapanmu itu."
"Apa kedatangan Sian Nio juga hendak merebut Hiat Kiam ini?" "Tidak!" Penyahutan pendek dan tegas ini membuat Go Bing melengak, kalau Pek Hoat Sian Nio sendiri berkata bahwa kedatangannya bukan karena hendak merebut Hiat Kiam, hal itu sudah dapat dipercaya, tapi untuk apa dia datang kemari. "Nak, kau tidak percaya, bukan?" Panggilan "nak" ini membuat tergetar seluruh tubuh Go Bing, baru pertama kali inilah selama hidup ia mendengar orang memanggilnya dengan sebutan itu. Maklum, selama bercampur dengan suhunya, Sia Sin Kho Djing selalu memanggilnya dengan siaucu, sebutan ini menimbulkan suatu perasaan ganjil dalam sanubarinya. Tapi selang tak lama, teringat olehnya kebiasaan watak Sia Sin serta tindak-tanduknya, maka dengan sikap kaku dingin, ia menyahut, "Apakah panggilanmu itu tidak berkelebihan." "Eh, apa makmudmu, usia setuaku ini apa tidak boleh panggil kau anak?" "Dalam dunia persilatan mengutamakan luhur budi dan bijaksana." Keempat gadis hijau di pinggir tandu lekas-lekas menutup mulut dengan lengan baju mereka, hampir saja mereka tak kuat menahan rasa gelinya.