Chapter 12
"Akan tetapi, di mana letak keanehan dan betapa tinggi harga pedang berdarah ini?" Menurut kabarnya, bila siapa dapat memiliki pedang berdarah, lantas dapat menemukan sejilid kitab pelajaran silat yang tiada taranya, setelah dapat melatih sempurna, akan tiada lawannya di seluruh dunia.
Go Bing semakin bingung dan penuh pikiran, berbagai peristiwa yang beruntun terjadi ini benar-benar merupakan teka-teki yang susah dipecahkan olehnya. Teringatlah akan tugas yang dibebankan oleh Suhunya, yaitu harus memenggal kepala Tiang-un Suseng. Kenyataan bahwa Tiang-un Suseng sekarang sudah mati, maka ia harus segera kembali melaporkan hal ini dan minta petunjuk sang guru selanjutnya.
Tentang kematian Siang Siau-moay dan Li Bun-siang terpaksa ia harus menunda sementara waktu, biar kelak dilanjutkan lagi penyelidikan ini pada lain kesempatan. Karena pikirannya ini, segera ia berkata kepada seseorang berkedok, "Saya masih banyak urusan yang harus dikerjakan, terpaksa kita harus berpisah untuk sementara waktu!" Dengan rasa berat, seseorang berkedok berkata, "Apakah memerlukan tenagaku untuk membantu?" "Terima kasih, rasanya tidak perlu!" "Ya, kuharap tidak lama lagi kita dapat bertemu pula!" Sekali melompat tinggi, Go Bing melesat keluar dari dalam rimba, terus berlari kembali mengikuti jalan besar.
Hari kedua, tibalah dia di gua tempat kediaman Gurunya. Waktu memasuki gua, tiada terdengar bentakan gurunya yang sudah kebiasaan itu, hatinya berdetak tidak tenteram, langkahnya dipercepat memburu masuk. Terlihat gurunya tengah duduk menggelendot dinding, mata tunggalnya sudah kehilangan sinar murni yang biasa menjedot semangat orang.
"Kau sudah kembali?" suaranya kedengaran sangat lelah. Go Bing menyahut, "Kau." "Bagaimana kau, orang tua?" "Aku sudah tak kuat lagi, kau kebetulan kedatanganmu ini." "Apa, apa kau mengalami sesuatu?" "Bagaimana tugasmu?" "Tiang-un Suseng sudah mati, bunuh diri." "Bunuh diri, mana batok kepalanya?" "Murid, eh, aku hanya melihat kuburannya." Mata tunggal Sia-sin Kho Jiang membelalak besar, serunya tergetar, "Darimana kau ketahui bahwa dia mati bunuh diri?" "Kebetulan kujumpai seorang sahabatnya yang sembahyang di kuburannya, dari mulutnyalah kuketahui." "Hm, kepandaian dan kecerdikan Tiang-un Suseng merupakan pentolan di antara sepuluh kawannya, bunuh diri... Apa kau melihat sendiri jenazahnya?" Go Bing menggeleng kepalanya.
"Kau harus mengeduk kuburannya untuk mengetahui kebenarannya. Kematian Ci Khong sigundul itu, cukup membuat para kurcaci ini waspada, mereka tidak akan sayang menggunakan segala akal muslihat demi keselamatan jiwa-nya sendiri. Siaucu, dulu waktu Lohu dicelakai sebelumnya telah keracunan oleh mereka, untung mengandal Siankang aku masih dapat melindungi nadi jantungku, sehingga tidak segera mati. Sekarang racun itu sudah luber dan menjalar semakin dalam, Lohu sudah tidak lama dapat hidup lagi."
Rambut dan jenggot Sia-sin Kho Jiang bergerak-gerak, dia tengah paksakan diri unjuk bicara, tangannya bergoyang cepat, katanya, "Dengar kataku, dua puluh tahun yang lalu di puncak Sin-li-hong, digunung Bu-san, aku disergap oleh tujuh orang di antara 'Bui lim-sip-yu' yang kenamaan di dunia persilatan. Dalam pertempuran itulah baru kuketahui bahwa sebelumnya aku telah dibokong, tubuhku terkena racun yang amat berbisa, kepandaianku sudah susut separoh lebih, untung saat itu aku dapat melindungi nadi dan jalan darah terpenting menggunakan Kiu yang-sin-kang, untuk sementara aku dapat mencegah racun itu supaya tidak menjalar karena aku hanya bertempur seru."
Mendengar sampai di sini, saking tegang, jantung Go Bing berdetak cepat, darahpun bergolak dalam tubuhnya. Berhenti sejenak, lalu Sia-sin Kho Jiang melanjutkan ceritanya lagi, "Betapa gusar dan benci Lohu waktu itu, maka sewaktu turun tangan aku pun tidak kepalang tanggung lagi, sekaligus kulukai lima di antara mereka, tapi karena tubuh keracunan, tenaga murni susah dikerahkan lagi, maka aku mandah dikorek sebuah mataku dan dikutungi kedua kakiku, terus dibuang ke dalam jurang di puncak Dewi suci."
Sepasang mata Go Bing merah membara, beringas, napaspun memburu cepat. Setelah napasnya yang memburu tenang kembali, Sia-sin Kho Jiang melanjutkan lagi, "Untung Tuhan maha pengasih, jiwa Lohu belum tiba ajal, aku tersangkut di atas pohon-pohon jalar dan tertolong oleh seorang penebang kayu, setelah susah payah secara sembunyi-sembunyi aku menyingkir dan mengumpet di jurang Tiam-cong-san ini. Teringat olehku akan keadaan pertempuran hari itu, baru aku insaf bahwa biang keladi semua peristiwa ini kiranya adalah Suhengmu Loh Cu-gi itu, tidak kau jangan pandang dia sebagai Suheng, kau belum resmi menjadi muridku. Binatang rendah itu waktu itu juga turut hadir, namun dia hanya menggendong tangan menonton saja."
"Loh Cu-gi?" "Ya, benar, apa kau pernah dengar jejaknya di kalangan Kangouw?" "Konon empat belas tahun yang lalu, setelah dia merebut kedudukan tokoh silat nomor satu dari seluruh jagad ini, terus menghilang tanpa meninggalkan jejak." "Kau harus cari dia sampai ketemu, dan bunuh serta cacah hancur tubuhnya." "Baik, pasti akan kulakukan." "Oleh karena itulah, dulu Lohu bersumpah untuk tidak terima murid lagi seumur hidup. Selain Ci Khong Hwesio, Tiang-un Suseng, masih ada lima kurcaci lainnya."
"Siapakah kelima kurcaci itu?" "Lokiam, Leng Hun seng ciangbunjin Ceng-sengpay, Ngo-ouw Pangcu Coh Pin, dan Goan Hi dari Siau-lim." "Akan selalu kuingat kelima kurcaci ini!" geram Go Bing. Sejenak Sia-sin Kho Jiang pejamkan mata untuk istirahat, lalu katanya lagi, "Siaucu, latihan Kiaukang mu baru mencapai tingkat keempat, pasti kau bukan tandingan Loh Cu-gi murid durhaka itu." "Dia sudah melatih sampai tingkat keberapa?" "Mungkin sudah sampai tingkat kesepuluh!" Go Bing melonjak kaget, serunya, "Tingkat kesepuluh, bukankah lebih tinggi dua tingkat dari kau orang tua sendiri?" "Latihan bajingan durhaka itu sebenarnya sudah men-capai tingkat keenam, setelah aku celaka, dia mencuri sejilid Kiu yang-cin-keng dan sebutir Kiuyang cau-ko yang kuperoleh secara kebetulan."
Suma Bing tertegun heran memandangi wajah Suhunya, dia belum pernah dengar perihal Kiuyang-cau ko segala. Setelah istirahat sekian lamanya, Sia-sin Kho Jiang ber kata lagi, "Sebutir Kiuyang-cau-ko kiranya cukup membantu untuk melatih Kiukang sampai tingkat kesepuluh. Di seluruh jagad pada saat ini, mungkin tiada seorangpun yang kuat melawannya, agaknya Lohu harus membawa dendam nestapa ini ke alam baka!" Kata Suma Bing penuh haru dan sedih, "Apa benar-benar tiada tandingan di seluruh jagad?" "Ada, selain..." "Selain apa?" "Kecuali mendapat..." "Cobalah kau terangkan!" "Hiat-kiam Mo-hoa!" Kedua mata Suma Bing memancarkan sinar aneh, katanya gemetar, "Hiat-kiam Mo-hoa?" "Benar, carilah Pedang berdarah dan Bunga Iblis. Dua benda mestika di Bu-lim, bila siapa mendapatkannya dapat melatih suatu ilmu silat tiada taranya di seluruh kolong langit ini."
"Pedang berdarah..." "Bagaimana?" "Tanpa sengaja aku mendapatkan sebilah pedang, namun entah tulen atau palsu!" "Mata tunggal Sia-sin membelalak bundar besar, bibirnya tergetar sampai sekian lamanya baru tercetus perkataannya, "Coba kulihat." Lekas-lekas Go Bing merogoh kantong mengeluarkan pedang berdarah itu, dengan kedua tangannya ia angsurkan ke hadapan Suhunya. Cepat-cepat Sia-sin Kho Jiang menyambut dan terus melolosnya keluar, seketika sinar merah marong mencorong keluar menyilaukan mata dan menerangi seluruh ruangan.
"Siaucu, ambil secawan air." Sebentar Go Bing memandang Suhunya penuh kecurigaan, lalu berlari mengambil secawan air. Sia-sin merendam ujung pedang ke dalam air dan tak lama kemudian lantas membantingnya di atas tanah, serunya, "Palsu!" "Palsu!" "Darimana kau orang tua berani memastikan?" "Pedang berdarah yang tulen direndam dalam air bisa berobah menjadi darah, itu berarti kalau pedang berdarah itu tulen maka air dalam cawan itu segera berobah menjadi darah!" "O, direndam menjadi darah!" "Siaucu, kau harus mendapatkan Pedang berdarah dan bunga iblis, bunuh..." Tubuh Sia Sin Kho Jiang yang renta loyo semampai di dinding batu.
"Suhu, kau..." "Siaucu, sesudah kau menyelesaikan tugas yang belum terlaksana itu, kau boleh kuijinkan menjadi muridku." Go Bing maju memayang tubuh Suhunya yang sudah lebih lunglai, tak tertahan air mata membanjir keluar, seseorang tua aneh yang membesarkan dirinya ini agaknya sudah kehabisan tenaga, seumpama pelita kehabisan minyak atau pohon yang sudah keropos, tinggal menunggu waktu saja.
Lam-sia, salah seorang tokoh yang terkenal lihay kepandaiannya dan aneh sifatnya, akan mengakhiri hidupnya yang telah menggemparkan dunia secara diam-diam! "Suhu, eh, tidak dapatkah kau orang tua menceritakan sedikit perihal asal usulku?" Terbangun semangat Sia-sin, dengan susah payah ia berkata, "Sudah tentu Lohu harus memberi tahu kepadamu. Lima belas tahun yang lalu, di luar gua kudengar di puncak bukit terdengar suara pertempuran yang gegap gumpita, dua jam kemudian kau melayang jatuh dari puncak bukit itu, dan kebetulan dapat Lohu-tangkap, hanya kebetulan saja, atau mungkin kau sudah hancur lebur terjatuh di atas batu-batu gunung itu. Kau saat itu mungkin tidak lebih berumur tiga tahun, napasmu sudah berhenti, untung nadi jantungmu masih belum putus, tulang igapun patah lima, seluruh urat nadi tergetar putus."
Tubuh Go Bing terasa membeku, giginya berkereotan saling beradu. "Didepan dadamu masih terdapat sebuah luka lagi, terpaut setengah dim, menembus jantung. Selamanya Lohu tidak percaya akan adanya nasib, itu hanya kebetulan saja, kebetulan! Terkecuali ilmu Kiukang Lohu, seluruh jagad ini tiada seorangpun yang dapat menarik kembali nyawamu yang sudah dipinggir jurang kematian." Go Bing semakin tenggelam dalam lamunannya. Teringat olehnya akan cerita tentang perihal pedang berdarah.