Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 13

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 13

Lima belas tahun yang lalu, "Hiat-kiam" muncul lagi di dunia persilatan untuk ketiga kalinya. Pemiliknya adalah Suhiap Suma Hong, suami-istri. Lantas terjadilah pertempuran besar di puncak kepala harimau di gunung Tiam-coang-san, di bawah kepungan dan keroyokan beratus gembong silat dari aliran putih dan hitam. Suma Hong suami-istri bersama anaknya yang baru berumur tiga tahun semua mati mengenaskan!

Waktu dan alamat peristiwa itu semuanya cocok satu sama lain, apa tidak mungkin kalau dirinya ini adalah titisan anak kecil itu? Ja, takkan salah lagi, pasti aku inilah anak yang dilempar ke dalam jurang dan secara kebetulan telah ditolong oleh Suhu. Itu berarti bahwa dirinya adalah keturunan Suma Hong, jadi ia harus she Suma juga.

Terbayanglah mayat bergelimang di antara merah darah yang susah dikenal lagi di depan matanya. Ayahnya, Suhiap Suma Hong, dan ibunya, San-hoat-li Ong Fang-Ian, bertempur mati-matian sampai titik darah penghabisan dikepung sekian banyak tokoh silat, akhirnya menemui ajal, dan pedang berdarah pun direbut orang.

"Pedang berdarah" sudah seharusnya menjadi milik warisan orang tuanya, seumpama harus mengorbankan jiwanya pun harus kurebut kembali. "Bunuh! Biar darah mengalir, biar jiwa melayang, tapi jiwa para pengerojok itu pun harus dicabut." Lama dan lama sekali ia berteriak-teriak histeris bagai orang gila.

Sebuah helaan napas berat memulihkan kesadarannya, waktu ia menunduk hampir-hampir ia jatuh kelengar saking kaget, sebab Suhunya, atau berarti juga penolong jiwanya, sudah berhenti bernapas, kepalanya terkulai di depan dadanya. Ia meninggal dalam pelukannya!

Lama dan lama sekali, seakan dia kehilangan perasaan, kedua matanya kuyu dan redup memandang ke langit-langit gua. Saking bersedih, dia tidak bisa menangis juga tidak mengalirkan air mata. Sungguh mengenaskan kematiannya ini, namun lebih sengsara dengan penderitaan hidupnya ini.

Dari terang keadaan dalam gua menjadi gelap, dan dari gelap menjadi terang lagi. Itulah pagi hari pada hari kedua. Kedua matanya penuh tergenang air darah, terbayang suatu pikiran menggila dalam benaknya: Bunuh, ja, bunuh!

Diangkatnya jenazah Suhunya, lalu diletakkan di tengah-tengah gua, lalu dia berlutut dan berdoa, "Suhu, sewaktu kau hidup kau melarang aku menganggapmu sebagai guru, namun hakekatnya aku adalah muridmu. Sekarang aku akan memanggilmu demikian, budi mengasuh aku hingga besar selama lima belas tahun, muridmu bersumpah akan memberantas habis mereka itu untuk membalas budimu, Suhu, istirahatlah dengan tenang, harap di alam baka kau mendapat tahu dan melihat muridmu pasti akan melaksanakan tugas dan angan-anganmu yang belum selesai itu."

Baru sekarang dia bisa menangis tergerung-gerung, hingga lama sekali baru ia menghentikan tangisnya, sekali lagi dipandangnya jenazah Suhunya, dengan rasa pedih dan berat terpaksa ia tinggal keluar dan menutup mulut gua dengan batu-batu besar dan rumput-rumput kering untuk menutupi jejak.

Setelah itu, dikembangkannya ilmu ringan tubuhnya yang hebat berlarian cepat menuju ke puncak Hou-thau-hong. Tampak olehnya di mana-mana di atas tanah berserakan tulang-tulang manusia yang tidak lengkap, rumput liar pun sudah tumbuh tinggi. Kedua matanya mengembeng air mata, karena di antara sekian banyak tulang-tulang itu ada kerangka ayah-bundanya.

Tapi, cara bagaimana dirinya dapat mengenali? Rasa dendam dan benci sudah mencekam dalam hatinya. Akhirnya, terpaksa ia turun gunung, sepanjang jalan dia sudah mengatur segala rencana untuk melaksanakan sumpahnya itu. Nama-nama para musuh yang ikut menganiaya Suhunya sudah tercatat dan dapat dihitung, tidaklah sukar untuk melaksanakan tugasnya itu menurut catatan itu.

Terutama si durjana yang harus dicarinya adalah Suhengnya, Loh Cu-gi, yang telah menghianati perguruan dan perancang segala peristiwa penganiayaan itu, konon setelah merebut simbol sebagai jago nomor satu di seluruh jagad ini ia menghilang sejak empat belas tahun yang lalu, terpaksa dia harus perlahan-lahan dan sabar serta tahan uji untuk mencari jejaknya.

Bersama itu, teringat olehnya ucapan gurunya sebelum ajal bahwa Loh Cu-gi telah mencuri sejilid buku Kiukang dan sebutir Kiuyang-cau-ko yang susah dicari keduanya. Ilmu Kiukang itu mungkin sudah dilatihnya sampai pada tingkat kesepuluh, masih lebih tinggi dua tingkat dibanding Suhunya, sudah tentu dirinya bukan tandingan orang.

Benar, kecuali memiliki Pedang Berdarah dan Bunga Iblis, tapi apakah itu mungkin bisa terjadi? Konon Hiat-kiam berada di tangan "Iblis Timur", cara bagaimana bisa beralih di tangan Mokui? Susah diduga. Berapa banyak musuh-musuh besarnya termasuk yang turut berperang di puncak Hou-thau-hong di gunung Tiam-cong-san pada lima belas tahun yang lalu, yang terang "Iblis Timur" adalah salah seorang dari mereka itu, kalau dapat menemukan Iblis Timur pasti dapat mengejar jejak musuh-musuh besar lainnya.

Teringat akan Tang Mo, dingin dan bekulah hati Go Bing, nama iblis ini sejajar dengan Suhunya, Lam-sia, betapa tinggi kepandaiannya dapatlah dibayangkan. Sekarang tugas utama yang harus diselesaikannya yaitu membuktikan apa benar Tiang-un Suseng sudah mati atau hanya pura-pura mati.

Tidak perlu disangsikan, karena kematian Ci Khong, begitu mendengar berita ini para kawan-kawannya yang ikut dalam pengeroyokan dulu itu pasti sudah melarikan diri atau sudah pura-pura meninggal dunia. Selama satu hari satu malam melakukan perjalanan, akhirnya ia sampai juga di depan kuburan Tiang-un Suseng.

Sejenak ia ragu-ragu, akhirnya diangkat juga tangannya perlahan-lahan hendak membongkarnya kuburan di hadapannya ini untuk membuktikan kecurigaan hatinya, di saat ia mengerahkan tenaga dan hendak menghantamkan tangannya, itu tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, "Perbuatan tuan ini terlalu keji." Sungguh kejutnya bukan kepalang, memang luar biasa bahwa ada orang menggeremet tiba di sampingnya tanpa diketahuinya.

Terpaksa ia tarik pulang tangannya dan membalik tubuh secepat kilat, waktu ia angkat kepala memandang ke depan tanpa merasa dia berdiri melongo. Karena orang yang buka suara tak lain tak bukan adalah gadis baju putih, murid Peknio itu.

Bahwa sigadis baju putih ini mendadak muncul di situ benar-benar diluar dugaannya. "Apa tuan hendak membongkar kuburan dan menghancurkan jenazah?" "Membongkar kuburan memang benar, tapi belum tentu menghancurkan jenazah!" "Mengapa?" "Untuk membuktikan kebenaran orang dalam liang kubur itu." "Inilah aneh, masa orang mati ada tulen atau palsu?" "Itu kan urusanku sendiri!" "Apakah tuan bermusuhan dengan Tiang-un Suseng?" "Benar, memangnya kenapa?" "Orangnya mati, permusuhan pun ludas, bukankah perbuatan tuan ini keterlaluan?" "Itu bukan urusan nona."

Bola mata sigadis berputar, lalu mengunjuk senyum manis, ujarnya, "Tak perlu memperpanjang urusan ini, aku... aku bernama Ting Hoan, bolehkah aku mengetahui nama tuan yang besar?" Bahwa tanpa diminta, sigadis baju putih ini langsung memperkenalkan diri membuat dia melengak heran, hatinya membatin: Sekarang asal usulku sudah terang, namun aku punya she tak punya nama, untuk mengenang guru tercinta, baiklah aku mengambil nama pemberian Suhu, yaitu "Go Bing", dipetik huruf "Bing"nya.

Maka lantas sahutnya dingin, "Aku yang rendah, Suma Bing." "Suma Bing?" "Apa saudara pasti harus membongkar kuburan ini?" "Terpaksa harus kulakukan." "Selama hidup Tiang-un Suseng, Poh Jiang banyak melakukan kebaikan dan banyak menanam budi terhadap kalangan tertindas, sebenarnya ada permusuhan besar apakah dengan saudara?" "Untuk hal ini lebih baik nona Ting jangan banyak tanya." "Tapi aku juga harus mengetahui?" Berobah wajah Suma Bing, desaknya, "Lalu apa maksud nona Ting?" Ting Hoan, sigadis baju putih, membasut rambut di keningnya yang terhembus angin, seraya berkata, "Sebab Tiang-un Suseng berhubungan erat dengan perguruanku." "Hubungan apa, itu?" "Untuk hal itu kaupun tidak perlu mengetahui." Suara Suma Bing semakin kaku ketus, "Kalau aku tetap harus melakukannya?" Ting Hoan menarik muka, wajahnya berobah mengelam.

"Suma Bing, ada salah apa jenazah itu terhadap kau, mengapa harus kau bongkar kuburannya, kecuali..." "Bagaimana?" "Kecuali aku sudah kehilangan tenaga untuk merintangi perbuatan gilamu itu, atau jangan harap keinginan edanmu itu bisa terlaksana." "Jadi maksud nona memaksa hendak berkelahi dengan aku?" "Mungkin kalau terpaksa." Otak Suma Bing berputar cepat.

Sudah tentu dia harus mematuhi perintah gurunya, bila perlu seumpama mesti bermusuhan dengan Peknio pun akan ditandangi, asal seorang pun musuh perguruan tidak sampai lolos dari kematian. Dalam geramnya, tanpa banyak bicara lagi, mendadak ia angkat kedua tangannya, terus menghantam sekuat tenaga, gelombang tenaga dalam bagai gugur gunung segera melanda menerjang ke arah kuburan Tiang-un Suseng.

"Tahan!" Berbareng hardikan ini, sebelah tangan Tin Hon pun diayun, dari samping angin pukulan bagai angin badai menerjang ke depan, di tengah suara banturan mengeledek yang menggetarkan bumi, kedua orang ini masing-masing tersurut mundur satu langkah lebar, masing-masing terkejut atas kekuatan lawannya.

Suma Bing mendengus sekali, lalu berkata, "Apa nona benar-benar hendak merintangi perbuatanku?" "Bukankah sudah kukatakan sejak tadi?" "Kalau begitu jangan kau salahkan aku karena berbuat kejam," dalam berkata-kata itu wajahnya penuh terselubung hawa membunuh.

Tanpa merasa kecut hati, Ting Hoan, betapapun dia tidak ingin bertempur mati-matian terhadap lawannya ini. Akan tetapi, bagaimanapun dia tidak mengijinkan orang merusak kuburan Tiang-un Suseng. Selain itu, sebagai murid tersayang Pekhoatsian-nio yang ditakuti dan disegani oleh seluruh kaum persilatan, mana boleh mengunjuk kelemahan di hadapan orang, segera dengan galaknya ia maju mendesak dua langkah, sambil menantang, "Boleh kau coba-coba-" "Baik, sambutlah ini!" seru Suma Bing dingin, sekaligus lancarkan tiga kali serangan berantai, betapa kuat dan dahsyat pukulannya ini sungguh mengejutkan dan menggetarkan sukma.

Cepat-cepat tangan Ting Hoan berputar, membuat sebuah garis lintang, sambil menggeser kedudukan kaki ke arah kiri untuk memunahkan hamparan angin pukulan musuh di sambar itu juga dikirimnya sebuah pukulan menggeledek yang tidak kalah hebatnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment