Chapter 14
Pertempuran seru yang jarang terjadi di dunia persilatan telah terjadi. Kepandaian silat masing-masing telah mencapai tingkat tertinggi, dan keduanya melancarkan ilmu-ilmu lihay dari perguruannya. Yang satu adalah murid Lam-sian yang sudah kenamaan, sifat dan ilmu silatnya, dan yang lain adalah murid Peknio tersayang yang sudah menggetarkan Bulim pada enam puluhan tahun yang lalu. Untuk menjaga nama baik perguruan, masing-masing keluarkan simpanan kepandaian perguruan yang paling ampuh dan digdaya.
Angin di sekitar gelanggang pertempuran berputar dengan dahsyat dan deras, bagai angin lesus, sehingga debu membumbung tinggi ke angkasa. Lima tombak sekitar gelanggang, dahan dan daun pohon berguguran. Dalam sekejap mata, keduanya sudah bertempur lima puluh jurus, dan masih belum kelihatan pihak mana yang bakal unggul atau asor.
Tiba-tiba terdengar teriakan nyaring melengking, mendadak Ting Hoan merobah permainan silatnya, sekaligus ia pertunjukkan lima perobahan gerakan pelajaran tunggal perguruannya, hingga seketika bayangan pukulan berkelebatan bagai bayangan gunung dan rapat, tiada sedikit lobang pun. Selayang pandang, seperti puluhan kepalan berbareng melancarkan serangan yang dapat menambal langit dan menutup bumi, merangsang ke arah Suma Bing.
Bercekat hati, Suma Bing terpaksa ia pun harus bergerak cepat melindungi seluruh tubuh dengan rapat sekali. Sekonyong-konyong, tubuh Ting Hoan jumpalitan mundur delapan kaki jauhnya, hal ini membuat Suma Bing terheran-heran, dan tengah Suma Bing terlongo, itulah tubuh Ting Hoan sudah merangsak maju lagi secepat kilat, lima buah jarinya menjentik beruntun, maka lima jalur angin kencang yang tajam dengan suaranya yang memekakkan telinga melesat bagai geledek, tidak sampai di situ ia bergerak, tangan kiripun menyusul kirim sebuah hantaman dahsyat juga.
Serangan kali ini bukan saja hebat, juga sangat aneh, seakan-akan lambat, namun sebenarnya cepat luar biasa. Tergetar keras jantung Suma Bing, sebat luar biasa tubuhnya berkelebat menghindari serangan jari lawan, berbareng tangan kanan dijadikan ke depan menyambut serangan tangan kiri musuh, cara geraknya luar biasa, cepat, dan perobahan gerak tubuhnya benar-benar membuat siapa yang melihatnya merasa kagum dan melelet lidah.
Pada detik sebelum kedua pukulan mereka saling bentur, itulah, tiba-tiba Ting Hoan unjukkan kepandaiannya yang luar biasa, hakekatnya kedua pukulan itu pasti dan tentu akan saling bentur, tetapi dahsyatnya justru kali inilah Ting Hoan unjukkan kemampuannya di luar kemampuan orang lain, begitu tangan bergerak berputar membuat satu lingkaran, tenaga dalam bagai gelombang badai melanda keluar dari telapak tangannya terus menerjang maju.
"Blang" disertai suara tertahan yang keras. Kontan Suma Bing tergetar mundur tiga langkah, darah segar hampir menyembur keluar dari mulutnya. Tapi tenaga tolakan dari pukulan Suma Bing juga membuat Ting Hoan tergetar bergoyang-goyang.
"Suma Bing, kita sudahi sampai di sini saja, janganlah memperpanjang persoalan itu lagi, bagaimana?" "Tidak mungkin terjadi" "Jikalau pukulanku tadi kutambah lagi tiga bagian tenagaku, kau dapat membayangkan akan akibatnya?" "Jadi itu berarti kau sudah menanam budi atas keselamatan nyawaku?" "Buat apa kita harus bertempur mati-matian!" "Aku Suma Bing tidak sudi terima belas kasihanmu, budimu itu aku pun tidak terima." Wajah Ting Hoan berobah gusar dan penuh nafsu membunuh, suara dingin mencekam hati.
"Suma Bing, sebelum darah membanjir kau tidak rela menghentikan pertempuran?" "Kecuali kau tahu diri dan tinggal pergi!" "Apa kau sangka aku bisa berbuat begitu?" "Tentu kau bisa." Dengus Suma Bing tidak kalah angkuhnya.
Tangan pun perlahan-lahan diangkat lagi. Alis Ting Hoan tegak berdiri, "Wut" tanpa banyak cingcong lagi ia mendahului kirim serangannya. Bertepatan dengan serangan Ting Hoan ini, kedua tangan Suma Bing pun sudah diangkat setinggi dada terus disurung ke depan, gelombang panas bagai gugur gunung menggulung ke depan bagai hujan badai, bahaya tengah mengancam jiwanya, kontan air mukanya berobah pucat pasi.
"Bum!" meledaklah benturan yang lebih dahsyat, hawa panas bergulung mengembang keempat penjuru. Ditengah keluhan sakit, tubuh Ting Hoan yang langsing itu terbang satu tombak lebih, namun begitu tubuh menjentuh tanah segera ia melompat bangun lagi, mulutnya yang kecil bagai delima merekah itu bernoktah merah darah.
Tanpa merasa Suma Bing tertegun kejut di tempatnya. Wajah Ting Hoan beringas dan penuh kegusaran yang meluap-luap, dengan lengan bajunya ia mengusap darah yang meleleh keluar dari mulutnya serta desisnya bengis, "Suma Bing, sekarang dapatlah kau berbuat sesuka hatimu. Tapi kau ingat, pada suatu saat nanti ini pasti akan menghantammu juga hingga kau muntah darah!" "Sekali melenting tubuhnya segera melesat menghilang di antara bayangan pohon.
Sambil berkerut alis Suma Bing mengiringi kepergian orang dengan pandangan mendelong. Batinnya, "Entah ada hubungan apakah antara Pek-hoat-sian nio dengan Tiang-un Suseng" Hingga tanpa memperdulikan keselamatan sendiri Ting Hoan rela berkorban untuk merintangi perbuatannya yang tercela ini" Dan kalau benar-benar dirinya membongkar kuburan ini, itu berarti dirinya harus bermusuhan juga dengan Peknio, teringat olehnya waktu memperebutkan Pedang Berdarah tempo hari dengan mudah saja Pek-hoat-sian-nio turun tangan membinasakan Tanghu dan In Hong Lokoay dua gembong iblis yang terkenal hebat dan ampuh kepandaiannya.
Tanpa merasa bergidik dan merindinglah seluruh tubuhnya.
Akan tetapi, betapapun musuh perguruan harus ditumpas. Para durjana yang turun tangan keji mencelakai Suhunya mana bisa begitu saja dibiarkan lolos dari pembalasan. Setelah mengambil ketetapan hati, dia memutar badan menghadapi kuburan, dan kedua tangannya lagi-lagi sudah berada di tengah udara.
Mendadak, di ujung pandangan matanya terlihat sebuah bayangan seperti bayangan setan saja tengah melayang mendatangi sangat lambat ke arah di mana ia tengah berada. Waktu ia melebarkan mata dan melihat tegas, tanpa merasa ia menjedot hawa dingin, kedua tangan yang diangkat pun tanpa kuasa menjulai turun.
Kalau saat itu di waktu malam, tentu disangkanya ia melihat setan. Sebab bangun tubuh itu bayangan itu benar-benar mirip dengan setan gentayangan yang sering diceritakan orang.
Kiranya bayangan yang muncul ini adalah seorang wanita yang mengenakan pakaian serba hitam, rambutnya yang panjang dan hitam kelam menjulai turun dari atas kepalanya menutupi pundak dan dadanya, di tangannya menjinjing tergenggam bunga berwarna merah darah.
Yang terlihat dari seluruh tubuhnya itu hanya kedua tangannya yang menjinjing bunga, pucat memutih bagai bunga salju, seakan tangan itu bukan tangan seorang hidup.
Tanpa sadar Suma Bing mundur beberapa langkah ke belakang.
Seakan tidak melihat kehadiran Suma Bing, sigadis hitam ini langsung mendekati ke depan kuburan, dan meletakkan seonggok bunga itu di depan batu nisan.
Suma Bing berpikir: siapakah gerangan perempuan baju hitam ini, bagaimana bisa meletakkan bunga di depan kuburan Tiang-un Suseng? Mendadak dilihatnya wanita itu menggelendot di atas batu nisan dan menangis sesenggukan dengan sedihnya, suara tangisnya sedemikian memilukan hati, bagai pekikan orang hutan di atas pegunungan, juga seperti seorang kekasih yang ditinggal pergi kawan hidupnya tercinta.
Serta merta Suma Bing juga merasa pilu dan sedih, hampir saja air mata pun meleleh keluar. Termenung ia memandang wanita misterius ini.
Entah sudah berselang berapa lama, akhirnya si wanita baju hitam itu menghentikan tangisnya dan berkata menggumam, "Jiang-ko, kau pernah berkata seumpama dunia kiamat, lautan kering, dan batu hancur lebur, cintamu pun takkan berobah, untuk sepercik harapan ini aku rela menderita segala siksaan selama tiga puluh tahun.
Tiga puluh tahun!
Jiang-ko, seperti tiga ratus, laksana tiga ribu tahun, tapi juga seperti baru berlangsung tiga jam yang lalu, namun akhirnya, sekarang kau telah pergi, meninggalkan dunia fana ini, di dalam segunduk tanah di antara semak belukar dalam hutan ini" Diam-diam terkejut hati Suma Bing, tidak perlu diragukan lagi bahwa wanita baju hitam ini pasti adalah tunangan Tiang-un Suseng.
Demi cintanya, ia rela menderita siksaan selama tiga puluh tahun lamanya.
Tekad yang besar dan cinta yang murni ini agaknya akan selalu abadi selama hajat masih dikandung badan.
Mendadak si wanita baju hitam mendongak dan tertawa gelak-gelak bagai orang kesurupan, suaranya serak dan menyedihkan penuh kegetiran hidup yang menyayatkan hati, lebih seram dan menusuk telinga dari suara tangisnya tadi, membuat siapa yang mendengar merinding dan bergidik seram.
Tiga puluh tahun merupakan hari-hari yang cukup panjang dan kelebihan untuk menghilangkan masa remaja dan membawa jiwa manusia sampai titik pangkal terakhir, wanita yang teguh dalam lahir batin ini demi cinta dan cita-cita rela tersiksa selama tiga puluh tahun.
Sehari begitu ia terlepas dari belenggu kesengsaraan yang diperoleh, kiranya hanyalah kehampaan dan putus segala harapan dan cita-cita, betapa pedih dan sedih hatinya dapatlah dibayangkan.
Cinta murni yang abadi ini kiranya cukup meluluhkan setiap hati manusia yang mempunyai perasaan.
Sekonyong-konyong suatu tawanya terhenti, dan mendadak wanita baju hitam itu mundur tiga langkah, terdengar mulutnya mengigau bagai orang bermimpi, "Jiang-ko, aku ingin melihat kau." Membarengi kata-katanya, ia ayunkan sebelah tangan menghantam ke arah kuburan itu.
Mimpipun Suma Bing tidak menduga bahwa si wanita baju hitam bisa berbuat begitu membongkar kuburan Tiang-un Suseng, tanpa merasa ia berseru kejut dan heran.
Ditengah suara mengguntur yang dahsyat, tanah dan batu bergulung beterbangan, maka terlihat sebuah lobang sebesar satu tombak sedalam lima enam kaki.
"Eh!" tanpa merasa Suma Bing dan si wanita baju hitam berseru kejut berbareng dan tertegun di masing-masing tempatnya.
Kiranya bahwa liang kubur itu kosong melompong, tiada jenazah atau benda apapun juga.