Chapter 15
Sibaju hitam tergetar dan berseru gemetar, "Kiranya dia tidak mati, eh. Jiang-koku tidak mati, kenapa dia harus berbuat demikian?" "Sebab dia takut mati, dia menghindari kematian." Perlahan-lahan, sibaju hitam memutar tubuh, sinar matanya ingin menembus dari belakang rambut yang terurai menutup mukanya. Keadaannya ini benar-benar membuat orang merinding ketakutan.
"Apa yang kau katakan?" Suaranya dingin melebihi es, tapi nyaring melengking seperti suara seorang gadis remaja. Serta merta, Suma Bing melangkah mundur lagi satu tindak. Didengar dari suaranya, usia wanita misterius ini agaknya belum terlalu lanjut, tapi dia sendiri tadi mengatakan telah tersiksa selama tiga puluh tahun, hal ini benar-benar susah dibayangkan. Sayang, wajahnya tertutup oleh rambutnya yang hitam lebat, susah dilihat wajahnya, mungkin.
"Hei, apa yang kau katakan tadi?" tanya si wanita baju hitam lagi. Nada suara Suma Bing berat dan sinis, sahutnya, "Kukatakan ia takut mati, dia membangun kuburan kosong ini untuk menghindari kematian!" "Siapa yang bilang?" "Aku" "Alasanmu?" "Orang yang akan mencabut nyawanya adalah aku!" Bahna kaget, si wanita baju hitam mundur melangkah. Serunya bengis, "Kau berani?" Sikap Suma Bing sangat temberang, sahutnya, "Kenapa tidak berani?" Si wanita baju hitam mengekeh tawa panjang, nada tawanya mengandung nafsu membunuh yang besar, katanya, "Siaucu, biar kuhancurkan kau lebih dulu!" Wajah Suma Bing mengelam, dan katanya hambar, "Aku kuatir kau tidak mampu." Wanita baju hitam itu menyeringai dingin, ujarnya, "Tidak percaya, boleh kau coba-coba!"
Bertepatan dengan kata-kata terakhirnya, kesepuluh jari tangannya ditekuk bagai cakar binatang, langsung ia menerjang ke arah Suma Bing. Pundak dan dada Suma Bing diancam cengkeraman maut. Tergetar hati Suma Bing melihat cara penyerangan lawan, bahwa cengkeraman lawan ini ternyata begitu ganjil dan keji luar biasa. Yang lebih lihay lagi adalah sekali jarak, seakan ada beberapa ratus cakar tajam sekaligus mengancam berbagai jalan darah penting di seluruh tubuhnya. Rasanya susah dihindari atau ditangkis. Lagipula, sebelum ujung cakar mencengkeram, tiba lebih dulu terasa angin dingin yang menerjang tiba, menyusup ke dalam badan.
Terpaksa ia jejakkan kedua kakinya, secepat anak panah, tubuhnya melejit minggir delapan kaki jauhnya. Dan sebelum ia dapat punahkan diri, hawa dingin dari cakar setan lawan sudah membayang tiba pula, menungkrup tubuhnya. Lagi-lagi Suma Bing harus menggeser kedudukan setombak lebih, maka kekuatan Kiukang pun sudah terhimpun di kedua telapak tangannya.
"Siaucu, boleh juga kepandaimu ya," seru wanita baju hitam melengking dingin. "Dapat kau menghindari dua kali cakaranku. Tapi ketahuilah bahwa dalam dunia persilatan, yang dapat tetap hidup di bawah rangsangan Pek-pian cui-jiau dapat dihitung dengan jari!" "Apa, Pek-jiau! Cakar setan Seratus perobahan," lengking Suma Bing melonjak kaget.
"Tidak salah, tidaklah penasaran mati di bawah Pek-pian cui-jiau, apalagi kau sudah dapat menghindari dua jurus seranganku, kepandaianmu sudah boleh dibanggakan di kalangan Kangouw!" Suma Bing membuyarkan Kiukang, teringat akan pesan Suhunya sebelum ajal, terasa omongan itu masih terngiang-terngiang di telinganya, meskipun dia tidak tahu mengapa Gurunya harus berbuat demikian, tapi perintah guru bagaimanapun harus ditaati.
Untuk ketiga kalinya, si wanita baju hitam menyerang lagi, terpaksa Suma Bing harus berkelit dan main hindar saja tanpa berani balas menyerang. "Siaucu, kau mampu balas menyerang, mengapa tidak menyerang?" Susah bagi Suma Bing untuk memberi penjelasan, terpaksa ia tetap bungkam seribu bahasa.
Maka menjadi-jadilah serangan wanita baju hitam itu, bayangan cakar putih bagai berkelebatnya bayangan setan, seakan jala berlapis-lapis mengurung sekitar tubuhnya. "Kena!" berbareng dengan bentakan nyaring ini, terdengar pula Suma Bing berseru tertahan. Lima cakar jari tangan kanan si wanita hitam dengan telak mencengkeram di pundak kiri Suma Bing, kelima jarinya itu ambles sedalam satu dim, dari ujung cakar jarinya itu merembes keluar hawa dingin yang mengalir masuk ke dalam tubuhnya, merembes sampai ke tulang-tulangnya.
Masih untung Suma Bing melatih Kiukang, hawa dingin masih belum seberapa, hanya kelima cakar yang menusuk ke dalam daging itu lah yang terasa sangat sakit, menembus jantung, seketika keringat dingin berketel-ketel membanjir keluar.
Wanita baju hitam menyeringai bengis, katanya, "Kau tadi mengatakan hendak membunuhnya lagi?" Suma Bing mengertak gigi, sahutnya congkak, "Andaikan aku tidak mati, aku tetap akan membunuhnya!" "Akan tetapi, sudah pasti bahwa kau sendiri akan mati hari ini." Kontan bergejolak perasaan Suma Bing, sungguh sedih dan perih hatinya, susah dilukiskan.
Bukan dia takut mati, adalah ia merasa berat kalau mati begitu saja, karena dendam perguruan dan musuh keluarga masih belum tertumpas habis. Jikalau bukan mematuhi perintah gurunya, dengan Kiu-yang-sin-kang untuk menghadapi lawan serba hitam ini, seumpama tak dapat menang, melarikan diri dengan selamat bukanlah hal yang sukar.
Sekarang, semua telah terlambat, terasa seandainya ia matipun takkan meram. Wanita serba hitam mengangkat tangan kiri dan mengancam, "Siaucu, cakar ini akan mencengkram hancur batok kepalamu!" Dengan tenang Suma Bing meramkan mata, menanti ajal.
Dinanti-nanti, si wanita serba hitam masih belum turunkan tangannya, malah terdengar suaranya mengkili-kili, "Kau tidak takut mati?" "Kalau memang sudah suratan takdir, perlu apa ditakuti!" debat Suma Bing ketus.
"Dengan usiamu yang masih muda dan kepandaianmu yang susah didapat ini, bukankah sayang kematianmu ini?" "Aku tidak akan minta belas kasihanmu!" Tiba-tiba sikap wanita serba hitam ini menjadi lesu, ia turunkan tangan kirinya sambil menghela napas panjang, katanya seorang diri, "Persis benar dengan dia dulu! Dia belum mati, tapi kenapa tidak pergi mencari aku, apa dia betul-betul menjadi seorang penakut?"
Tidak mungkin, tidak mungkin dia begitu takut mati seperti apa yang dikatakan Siaucu ini, pura-pura mati untuk mengelabui musuhnya tidak mungkin, tapi mengapa? "Mengapa?" Cengkeraman di pundak Suma Bing perlahan-lahan dilepaskan.
Bergegas Suma Bing mundur tiga langkah lebar, sebelah kiri tubuhnya sudah basah kuyup oleh merah darah. Setelah merenung sekian lamanya, wanita serba hitam membuka suara lagi, "Siapa namamu?" "Suma Bing!" "Dari perguruan mana?" "Tidak dapat kuberitahukan." "Kenapa kau tidak turun tangan, kau mampu dan punya tenaga untuk balas menyerang?" "Maaf, aku tidak dapat menerangkan!" "Hm, aku tidak jadi membunuhmu, kau pergilah!" "Apa kau tidak menyesal?" "Menyesal, mengapa menyesal?" "Sebab aku tidak merobah pendirianku untuk membunuh Tiang-un Suseng." Sejenak wanita baju hitam melengak dan berpikir, lalu katanya, "Akupun perlu memperingatkan kau, lain kali bertemu lagi, jangan harap kau dapat tinggal pergi dengan masih bernyawa."
"Itu akan terukir dalam benakku." "Baik, kau boleh pergi." Suma Bing menjejak tanah dan baru saja tubuhnya melesat ke tengah udara, berserulah si wanita baju hitam memanggilnya kembali. Tanpa merasa, Suma Bing menghentikan luncuran tubuhnya dan berpaling balik.
Disangkanya lawan merobah niatnya. "Apa sedemikian besar hasratmu hendak membunuh Tiang-un Suseng Poh Jiang?" "Tidak salah, kau menyesal?" Wanita baju hitam tertawa terloroh-loroh, jengeknya, "Apa yang sudah kuucapkan tidak akan kusesali. Hanya maukah kau melulusi satu syaratku?" "Syarat apa itu, coba katakan." "Setelah kau dapat menemukan Tiang-un Suseng, harap jangan kau segera turun tangan, kau harus tunggu setelah bertemu dengan aku, kita putuskan menurut kebenaran dan duduk perkara yang terang, kau akan mendapatkan kesempatan yang adil, dapatlah kau melulusi?" "Boleh, tapi aku juga ada dua keterangan!" "Coba katakan?" "Pertama; begitu Tiang-un Suseng bertemu dengan aku, kalau dia yang turun tangan lebih dulu, susahlah aku untuk tidak membunuhnya." "Tidak bakal terjadi, asal kau mengatakan, sahabat-lama di Te-jui-hong pada tiga puluh tahun yang lalu kini telah melihat sinar matahari, tentu dia takkan turun tangan menyerang kau!" "Kedua, beritahu dulu alamat dan nama besarmu, kalau tidak sedemikian lebar dunia kangouw ini." "Itupun tak perlu, karena dia pasti dapat membawamu menemui aku. Kalau begitu, jadi kau melulusi syaratku itu?" "Baiklah!" "Suma Bing, aku percaya kau?" "Ucapan seorang Tianghu takkan dijilat lagi, harap legakan hatimu!" "Selesai kata-katanya," ia memutar tubuh, terus terbang cepat ke dalam hutan.
Sudah ada satu ketetapan hati untuk langkah selanjutnya. Tiang-un Suseng adalah salah satu tokoh dari Bulimsip-yu (sepuluh kawan Kaum Bulim), dan Buyu ini adalah komplotan Loh Cu-gi, itu murid murtad gurunya atau biang keladi dalam pengerojokan dan penganiajaan terhadap gurunya dulu, kecuali empat orang yang sudah mati, masih sisa enam orang berada di kalangan Kangouw. Asal dapat mencari lima orang lainnya lagi, tidaklah sukar untuk mengejar jejak Tiang-un Suseng.
Baru saja tubuh Suma Bing melesat keluar dari hutan, dan belum menginjak kaki di jalan besar, dari depan sana telah mendatangi sebuah tandu warna hijau mulus bagai terbang. Berdetak hati Suma Bing, karena yang mendatangi itu bukan lain adalah Pek-nio. Maka segera ia menghentikan langkah dan berdiri tenang, menantikan apa yang bakal terjadi, dapatlah diduga bahwa kedatangan orang pasti mencari dirinya.
Benar juga, terpaut lima tombak dari dirinya, tandu hijau itu berhenti, dan muncullah si gadis baju putih Ting Hoai, yang belum lama ini terluka oleh pukulannya, sinar matanya bengis menyala-nyala penuh kebencian. "Suma Bing, majulah ke depan!" suara ini terucapkan dari dalam tandu.
Sejenak Suma Bing menenangkan gejolak hatinya, ia lantas dengan sikap angkuh, tanpa takut-takut, ia melangkah lebar ke depan tandu, kira-kira dua tombak jauhnya. "Kau tadi yang melukai Hoan-ji?" Sekilas Suma Bing melirik ke arah Ting Hoan, lalu sahutnya, "Ja, memang begitulah telah terjadi!" "Kau benar-benar sangat takabur dan sombong?" "Apa perkataan Sian-nio ini tidak terlalu berat sebelah. Dua harimau bertarung tidak mungkin tidak terluka!" "Tapi dia menaruh belas kasihan lebih dulu, membuang kesempatan untuk melukaimu." "Akupun tidak menghendaki jiwanya, bukan." "Membongkar kuburan dan merusak jenazah, apa kau tidak merasa bahwa perbuatanmu itu sangat hina, rendah, dan keji?" "Cayhe hanya ingin membuktikan apakah musuhku itu benar-benar mati atau pura-pura mati, sedikitpun tiada niatku merusak jenazahnya." "Ada permusuhan apa antara kau dengan Tiang-un Su-seng Poh Jiang?" "Dendam kesumat sedalam lautan!" "Perguruanmu dari aliran mana?" "Tentang itu..."