Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 16

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 16

"Aku tidak dapat memberi tahu!" Peknio tertawa tergelak-gelak, serunya, "Hoanji, coba kau serang dia." Tanpa diminta kedua kalinya, gadis berbaju putih itu, Ting Hoan, mendesak maju terus mengayun tangannya melancarkan sebuah pukulan jarak jauh.

Suma Bing menyadari bahwa lawan hendak mengorek asal-usul dirinya dari ilmu kepandaiannya.

Maka, tanpa balas menyerang, sekali melesat tubuhnya melayang menghindar.

"Hoanji, gunakan jurus Bancong!" Suara Pek Hoatsiannio bergema lagi.

Tubuh Ting Hoan menerjang maju sambil berputar. Seketika bayangan pukulannya laksana bunga salju yang beterbangan memenuhi udara, melayang-layang mengepung seluruh tubuh Suma Bing. Sedemikian rapatnya serangan ini seumpama hujan badai pun tak tertembus.

Di luar dugaan, tampak tubuh Suma Bing bergoyang gontai. Tiba-tiba, bagai setan yang bisa menghilang, tubuhnya sudah berkelebat menghindar dari bayangan pukulan lawan.

"Hoanji, mundur!" Ting Hoan mendelik benci memandang Suma Bing. Tanpa bersuara, ia mengundurkan diri.

Terlihat tirai rangkaian mutiara di pintu tandu itu tersingkap. Seorang nenek tua berambut putih bagai perak dan wajah bersemu merah bagai wajah seorang bayi muncul dari dalam tandu.

Tergetar jantung Suma Bing, darah pun terasa mengalir semakin cepat. Seakan Peknio benar-benar turun tangan sendiri, sulit diduga, dapatkah dirinya tetap merahasiakan asal-usulnya?

Baru saja ia tengah berpikir, pandangannya terasa kabur. Tiba-tiba Peknio sudah berdiri di dekatnya, begitu dekat sampai bisa dipegang.

Ia mengakui, tak mungkin dirinya bisa melawan gerak tubuh yang luar biasa hebat ini.

Wajah kekanak-kanakan Peknio yang kemerah-merahan itu menunjukkan sikap serius dan kaku menatap Suma Bing sekian lamanya. Katanya, "Benar-benar kau sudah membongkar kuburan Tiang Un Suseng?" "Memang kuburan itu sudah terbongkar, tapi..." "Tapi apa?" "Bukan aku yang membongkarnya!" Berkelebat rasa heran dan tak habis mengerti pada wajah Peknio.

Tanyanya lagi, "Lalu siapa yang membongkar?" "Seorang wanita serba hitam yang misterius."

"Siapakah dia?" "Aku tidak kenal!" Dari samping, Ting Hoan memperdengarkan ejekannya, cemoohnya, "Seorang laki-laki berani berbuat berani bertanggung jawab, buat apa bohong mengelabui orang lain!" Suma Bing melotot dengan rasa gusar meluap-luap, serunya keras, "Siapa berdusta dan tidak berani bertanggung jawab?!" "Kau!"

Peknio mengulurkan tangan menghentikan perkataan Ting Hoan, lalu katanya lagi, "Suma Bing, tidak peduli siapa yang membongkar, bagaimana dengan tulang kerangkanya?" Suma Bing berseru geram, "Sebuah kuburan kosong, hakikatnya tiada tulang belulang Tiang Un Suseng, Poh Jiang, atau siapa pun."

Ucapannya ini benar-benar di luar dugaan siapa pun.

Peknio pun mengerutkan alisnya, tanyanya menegaskan, "Apa betul ucapanmu itu?" "Apa perlu aku berdusta?" ejek Suma Bing dengan dongkol. Wajah Peknio menunjukkan rasa curiga dan tidak percaya (sangsi). Katanya seorang diri, "Aneh, mana mungkin terjadi. Mengapa dia berbuat begitu? Baiklah, kita doakan begitulah sesungguhnya." Selanjutnya, nada ucapannya berubah, "Suma Bing, beritahukan perguruanmu." Dua sinar mata yang dapat menyedot semangat orang itu menatap tajam kedua mata Suma Bing.

"Sudah kukatakan, tidak mungkin kuberitahukan," sikapnya angkuh dan dingin luar biasa.

"Jika tidak kau katakan, apakah kau dapat mengelabui mata tuaku ini?" Di tengah ucapannya, secepat kilat sebuah tangannya melonjak maju.

Suma Bing menyadari tak mungkin dirinya dapat menghindar atau berkelit. Secara langsung, gerakan refleks tangannya maju menyongsong tangan lawan.

Sekonyong-konyong Peknio berseru kaget dan mundur selangkah besar. Wajahnya yang merah bagai wajah bayi itu berubah berulang-ulang, suaranya bengis dan tajam berkata, "Suma Bing, ilmu silatmu berasal dari 'Lam-sia'. Tapi Siasin Kho Jiang sudah meninggal pada dua puluh tahun yang lalu, tentu tidak mungkin mempunyai seorang murid muda belia seperti kau ini." Sampai di sini suaranya merandek, sinar matanya sudah menunjukkan nafsu membunuh.

Tergetar semangat Suma Bing. Nama Peknio yang tenar dan disegani bukan kosong belaka. Dalam satu gebrakan saja lantas dapat mengenali asal sumber ilmu silatnya, maka dapatlah dibayangkan betapa luas dan tinggi kepandaiannya.

Namun, nafsu membunuh pada sinar matanya itu betul-betul membuatnya tak habis mengerti.

Setelah berhenti sebentar, suara Peknio semakin bengis menakutkan, "Apa hubunganmu dengan Loh Ju-gi?" Lagi-lagi Suma Bing tertegun dibuatnya. Ia tak menyangka bahwa orang itu dapat menyebutkan nama Suheng-nya yang mengkhianati perguruan. Entah apa maksud tujuannya.

Dilihat dari sepak terjang orang itu, tentu mengandung maksud tidak baik.

Akan tetapi, sejak kecil dirinya dibesarkan dan dibimbing oleh Lam-sia, sedikit banyak ia ketularan sifat pembawaan gurunya yang aneh itu. Timbullah perlawanan dan rasa tak puas terhadap sikap Peknio yang menantang itu, maka sahutnya dengan congkak, "Tidak sudi aku memberi tahu!" Sikap kemarahan Peknio semakin menjadi-jadi, kedua matanya merah membara. Sekali lagi ia menghardik, "Apakah Loh Cu-gi itu adalah Suhu-mu?" "Tidak perlu kuberitahu." "Jangan sesalkan aku membungkam mulutmu." "Aku selamanya tidak senang diancam." "Di mana Loh Cu-gi sekarang berada?" "Sekali lagi kukatakan tidak bisa aku terangkan." "Budak kecil, benar-benar kau tidak mau menerangkan—" Wut! Dilancarkannya sebuah pukulan membawa kekuatan dahsyat yang menggetarkan bumi.

Suma Bing berkelebat ke samping, menghindar sambil membalas kirim tiga pukulan. Kekuatan tiga pukulannya ini pun bukan main hebatnya.

Peknio memutar kedua tangannya membuat sebuah lingkaran besar, maka lenyap sirnalah kekuatan tiga pukulan Suma Bing itu bagai tenggelam dalam lautan tanpa jejak.

Wut-wut! Lagi-lagi lawan melancarkan dua kali pukulan berbarengan. Terpaksa Suma Bing mengertakkan gigi dan mengulurkan tangan menyambut dua pukulan musuh ini.

"Bum! Bum!" Dua kali benturan yang menggelegar, Suma Bing terhuyung mundur satu langkah besar.

Peknio menggeram gusar. Tubuhnya menerjang maju sambil mengulurkan cakar tangannya mencengkeram ke dada lawan. Cara gerak turun tangan ini, hakikatnya tidak memandang musuh sebelah mata.

Selama lima belas tahun Suma Bing ditempa dan digembleng oleh Lam-sia, kepandaiannya pun sudah bukan main hebatnya. Kedua tangannya membalik dan berputar, cengkeraman Peknio tertolak terhenti di tengah jalan.

Jika musuh tidak membatalkan serangannya, sudah tentu Suma Bing tak mungkin terhindar dari mara bahaya kematian. Namun, jika ia (Suma Bing) melawan sampai akhir, kedua tangan Peknio pun harus dikorbankan.

Tanpa mengubah jurus serangannya, secepat kilat Peknio mengubah gerak jarinya dari mencengkeram menjadi memukul. Telapak tangannya tiba-tiba menggenjot ke muka musuh, sedang sebuah tangan yang lain jari-jarinya bergantian menjentik, melancarkan lima carik kekuatan tenaga angin berbarengan. Tubuh Peknio juga ikut menyelonong maju membantu kecepatan serangannya.

Betapapun cepat reaksi Suma Bing, sudah tak mungkin lagi dapat berkelit. Dalam keadaan gawat itu, cepat-cepat ia memiringkan kepala dan menggeser kedudukan kakinya ke samping. Perasaan sakit menembus tulang segera menyerang tubuhnya. Dua jalur kekuatan sentilan jari lawan dengan telak menembus pundaknya. Darah segar segera membanjir keluar bagai air mancur. Tubuhnya terhuyung mundur delapan kaki, hampir roboh, tetapi ia mengertakkan gigi menahan sakit tanpa mengeluarkan keluhannya.

Peknio pun menghentikan serangannya, suaranya tetap mengancam, "Kau mau katakan atau tidak?" Suma Bing menotok jalan darahnya sendiri untuk mengurangi mengalirnya darah di lukanya itu. Wajahnya yang putih cakap saat itu pun penuh diselubungi hawa pembunuhan yang dalam. Jawabannya tetap kaku dan garang, "Tidak kukatakan." "Pendek kata, kau harus mengatakan!" Usai berkata, Peknio melancarkan serangannya.

Sungguh murka Suma Bing bukan kepalang. Dua tangannya diangkat berbarengan ia mendorong sekuatnya ke depan. Pukulannya ini mengandung seluruh tenaga Kiukang, maka gelombang panas bergulung-gulung bagai lahar gunung berapi yang meletus.

Suara benturan mengguntur memekakkan telinga. Sekali lagi Suma Bing terdesak mundur tiga langkah. Tubuh Peknio hanya bergoyang-goyang saja, ejeknya dingin, "Kiukang, pelajaran tunggal dari Lam-sia. Sayang, latihanmu masih terpaut terlalu jauh." Suma Bing melihat bahwa pukulan Kiukang yang telah mengerahkan segenap tenaganya masih belum mampu merobohkan lawan, malah seujung rambut pun tidak terluka. Seketika luluhlah semangatnya, namun begitu hatinya masih mantap untuk tidak mundur begitu saja.

Sambil berteriak panjang, Peknio melancarkan sebuah pukulan lagi.

Kedua mata Suma Bing merah membara. Tahu dia bahwa dirinya bukan tandingan orang itu, tapi bagaimanapun ia tidak mau begitu saja menerima ajal. Tangan diangkat, lagi-lagi ia menangkis.

"Blang!" Di tengah suara menggelegar itu, Suma Bing mengeluh panjang. Darah segar menyembur keluar bagai anak panah. Tubuhnya pun terbang tiga tombak jauhnya. Pucat pasi wajah Ting Hoan, tanpa sadar ia berseru kaget dan khawatir. Keempat gadis pemikul tandu pun tak urung ikut kaget dan berubah air mukanya.

Suma Bing merasakan kesakitan yang luar biasa menyerang seluruh tubuhnya. Pandangan mata berkunang-kunang, namun sifat angkuh dan kukuhnya masih tetap bertahan dalam benaknya. Seakan-akan terngiang di pinggir kupingnya sebuah suara, "Jelek-jelek, kau murid Lam-sia yang ditakuti. Mana boleh bertekuk lutut di hadapan orang lain!" Sambil mengertakkan gigi, tubuhnya terhuyung bangun. Seluruh tubuhnya penuh berlepotan darah. Kiranya, luka di pundak kiri karena cengkeraman si wanita baju hitam itu dan lubang di pundak kanan karena tusukan jari Peknio itu pecah lagi dan mengeluarkan darah karena benturan adu kekuatan dahsyat ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment