Chapter 17
Ditambah noda darah dari mulutnya, keadaannya boleh dikatakan sangat seram dan mengenaskan seperti setan darah.
Kecut serta dingin perasaan Peknio melihat keangkuhan dan tekad anak muda yang besar ini.
"Suma Bing, selamanya aku orang tua tidak suka turun tangan kejam terhadap orang, tapi untuk mengetahui jejak bajingan Loh Cu-gi itu, terpaksa aku melanggar kebiasaanku. Kurasa kau pun tahu betapa enak merasakan menjungsang nadi memuntir urat?" Bergidik dan gemetar tubuh Suma Bing mendengar pernyataan orang, namun ia tetap berkeras hati, "Pekhoat Siannio, kau turun tanganlah, paling banyak aku Suma Bing mati di tanganmu." Mimik wajah Peknio berubah tak menentu, dengan kedudukan dan namanya yang tenar kiranya tidak patut ia turun tangan terhadap angkatan muda. Akan tetapi, untuk mengetahui di mana jejak Loh Cu-gi itu terpaksa dia harus berlaku sekejam mungkin, tidak peduli akan gengsi dan kedudukan apa segala.
Sebelum Peknio turun tangan, Ting Hoan maju beberapa langkah dan berkata gemetar, "Suhu, lebih baik digusur pulang saja dan perlahan-lahan ditanyai." Peknio mendelik, "Apa kau sudah melupakan peraturan gurumu?" "Murid tidak berani, hanya..." "Bagaimana?" "Mungkin dia bisa..." "Mati!" "Kau jangan melupakan seorang yang lebih menderita daripada mati." Ting Hoan tidak berani bersuara lagi, sambil tunduk ia mengundurkan diri.
Hakikatnya Suma Bing tidak tahu persoalan apa yang dipercakapkan antara guru dan muridnya itu. Tapi sedikit banyak ia dapat menduga persoalan itu menyangkut perbuatan busuk Loh Cu-gi Suhengnya yang murtad itu. Kalau mau bicara terus terang, mungkin perkembangan selanjutnya akan berubah. Dasar sifat Suma Bing memang angkuh dan ketus sampai mati pun dia takkan bertekuk lutut.
Setelah merenung sekian lama, mendadak Peknio menghardik lebih bengis lagi, "Ada guru tentu ada murid, sifat pembawaan binatang serigala yang harus diberantas. Hoanji, musnahkan dia." Sekilas Ting Hoan memandang gurunya, dengan ragu-ragu ia mendekat ke depan Suma Bing, bibirnya gemetar, "Suma Bing, mengapa tidak kau katakan saja?" Suma Bing hanya memelototkan kedua matanya yang mengembang air darah, mulutnya terkancing rapat tak menggubris pertanyaan orang. Wajah Ting Hoan penuh menunjukkan belas kasihan, dengan suara yang paling lirih hampir tak terdengar ia membisiki, "Suma Bing, rebahlah mengikuti telunjuk jariku." Lantas disusul suaranya membentak keras, "Kau mencari kematianmu sendiri, jangan sesalkan orang lain." Di tengah suara bentakannya, kedua jarinya dirapatkan menutuk jalan darah kematian di dada Suma Bing. Tanpa bersuara, Suma Bing roboh terkapar di atas tanah.
Peknio mengulapkan tangan, lalu membalik tubuh masuk ke dalam tandu lagi, segera keempat gadis berbaju hijau mengangkat tandu, lalu pergi. Diam-diam Ting Hoan memandang iba ke arah tubuh Suma Bing yang menggeletak di atas tanah, lalu pergi ikut di belakang tandu. Begitu bayangan Peknio dan rombongannya menghilang, Suma Bing terhuyung bangun berdiri. Mulutnya menggumam, "Mengapa dia menolongku? Aku berutang nyawa kepadanya, sebaliknya Suhunya berutang darah padaku." Suma Bing menunduk melihat seluruh tubuhnya yang penuh berlepotan darah, katanya tertawa sedih, "Aku sudah mati dan hidup sekali lagi." Dengan sempoyongan ia berjalan menyusur balik memasuki hutan, untung hutan ini tidak begitu besar, setelah sekian lama menjelajahi rimba ditemukan sebuah gua cukup untuk menetap sementara waktu.
Saat itu yang paling penting adalah mengerahkan tenaga untuk mengobati diri. Luka-lukanya terlalu berat, pukulan Peknio itu hampir saja memutuskan seluruh urat nadinya, hawa murninya susut terlalu banyak. Setelah berkutat sekian lama, semua rintangan dalam jalur darahnya berhasil ditembus. Begitulah, tanpa mengenal lelah ia semadi dan mengobati diri. Dua hari dua malam kemudian, usahanya itu baru membuahkan hasil yang memuaskan. Tengah hari pada hari ketiga, dengan sikap gagah dan semangat menyala-nyala ia sudah melanjutkan perjalanannya di tengah jalan raya.
Tujuan perjalanan kali ini adalah markas besar Ngo-ouw-pang. Di depan pintu gerbang markas besar Ngo-ouw-pang terpancang sebuah bendera putih tanda dukacita, semua anak murid perkumpulan itu menunjukkan rasa duka dan lesu. Saat itu tiba waktu tengah hari, seorang pemuda tampan yang bersikap agak angkuh dan kasar memasuki ruang menyambut tamu pada markas terdepan. Seorang tua berwajah hitam sekian lama mengamat-amati orang yang baru datang ini, lalu maju menyapa, "Harap tanya nama Siauhiap yang mulia?" "Suma Bing." "Ada hubungan apa dengan Pangcu kami?" "Sahabat lama." "Oh, jadi kedatangan Siauhiap dari jauh ini tentu hendak ikut melawat, sepanjang jalan tentu melelahkan. Silakan duduk dan minum teh untuk menyegarkan badan, nanti..." "Tidak usahlah," tukas Suma Bing dingin. "Harap saja Saudara mengundang orang untuk mengantarkan aku, bagaimana?" "Ini... baiklah, The Hiangcu!" "Hamba berada di sini." Seorang laki-laki pertengahan umur maju memberi hormat. "Tuan Suma Siauhiap ini adalah sahabat kental Pangcu waktu masih hidup, dari jauh dia datang ikut melawat, iringilah pergi ke ruang layon." Hiangcu marga The itu mengiyakan dengan hormat lalu memutar tubuh menghadapi Suma Bing dan merangkap tangan, katanya, "Suma Siauhiap silakan ikut aku yang rendah."
Suma Bing mengangguk lalu mengikuti di belakang The Hiangcu. Setelah keluar dari ruang penyambut tamu, ia langsung menuju ke markas besar. Sepanjang jalan orang berlalu-lalang tak putus-putusnya, wajah mereka menunjukkan rasa simpati dan serius. Diam-diam Suma Bing tengah menimang-nimang satu persoalan yang penting. Seperti dugaan Suhunya semula, ternyata bahwa Tiang-un Suseng benar-benar pura-pura mati untuk menghindari kematian. Sekarang Ngo-ouw Pangcu Coh Pin juga mati bertepatan dengan kedatangannya ini. Inilah kebetulan atau mengikuti cara Tiang-un Suseng untuk mengelabui dirinya? Rupa-rupanya memang keadaan ini tidak mungkin palsu, tapi pengalaman terdahulu membuatnya waspada, mana bisa ia membiarkan musuh lolos dengan licin. Demi membalas sakit hati Suhunya, dia bersiap untuk menghadapi segala risiko meskipun dirinya harus menjadi musuh bersama kaum persilatan, tapi tujuan pertama untuk membelah peti mati harus tetap dilaksanakan. Sudah tentu secara halus ia bisa minta supaya diberi kesempatan membuka peti mati untuk memeriksa, tapi itu tidak mungkin terjadi. Setelah jenazah masuk peti dan dipaku rapat, pasti tidak mungkin dibuka lagi untuk diperiksa, maka jalan satu-satunya menggunakan kekerasan membelah peti mati itu. Dia sudah dapat membayangkan akibat perbuatannya itu.
Tanpa menimbulkan kecurigaan, ia bertanya kepada The Hiangcu yang membawa dirinya itu, "The Hiangcu, terserang penyakit apakah hingga Pangcu kalian meninggal dunia?" "Ini... eh, angin duduk." "Angin duduk?" "Kejadian di dunia ini sulit diduga sebelumnya oleh manusia." Mulut Suma Bing menjebik mengejek, sahutnya pura-pura penuh perhatian, "Benar, kejadian di kolong langit ini kadang-kadang memang di luar dugaan orang." Tidak lama kemudian tibalah mereka di luar gedung markas besar, gedung markas besar ini dibangun sedemikian megah dan angkernya. Walaupun dalam saat-saat dukacita, tetapi penjagaan diadakan sedemikian kuat dan keras. Tiba di luar pintu, The Hiangcu menyingkir ke samping dan mempersilakan, "Siauhiap, silakan!"
Suma Bing tidak mau bersikap sungkan, sambil mengangkat dada ia melangkah memasuki markas besar. Ruang layon terletak di tengah bangunan gedung bertingkat di mana biasanya diadakan perundingan penting bagi kaum Ngo-ouw-pang. Suasana dalam gedung sesak berhimpitan karena tamu-tamu yang datang melawat terlalu banyak. Sampai di dalam ruang layon, Suma Bing menjadi sangsi. Sukar dipastikan untuk menentukan apakah Ngo-ouw Pangcu Coh Pin ini benar-benar mati atau pura-pura mati. Coh Pin adalah satu di antara Buyu. Pemalsuan kuburan Tiang-un Suseng merupakan pengalaman pahit yang pertama, maka kali ini dia harus benar-benar berani turun tangan untuk membuktikan kebenarannya. Tapi, di hadapan sekian banyak hadirin, hendak membelah peti mati, akibatnya tentu akan menimbulkan kemarahan massa. Lalu teringat olehnya bahwa kedatangannya ini adalah untuk menuntut balas sakit hati perguruan, mengapa harus takut-takut dan gentar menghadapi segala risiko?
Tengah berpikir itu, ia sudah melangkah mendekati layon. Seorang tua berjubah panjang warna hitam segera maju menyapa, "Banyak terima kasih atas kedatangan Siauhiap ikut memberi penghormatan kepada Pangcu." Hidung Suma Bing mendengus dingin, sikapnya angkuh. Melihat gelagat yang tidak baik ini, air muka si orang tua berjubah hitam berubah, namun ia masih berlaku hormat dan merendah, "Siapakah Siauhiap ini?" "Aku yang rendah Suma Bing." "Suma Siauhiap dan Pangcu kita semasa hidup adalah..." Wajah Suma Bing berubah kelam, sinar matanya beringas penuh nafsu membunuh. Dengan angkuh ia memotong kata-kata orang, "Cayhe ingin menjenguk wajah jenazah Pangcu kalian?" Si orang tua melonjak kaget, serunya, "Jenazah Pangcu sudah masuk peti dan tertutup rapat." Sekali berkelebat, Suma Bing memutar ke samping meja sembahyang lalu maju mendekat layon. Orang tua berjubah hitam menghardik keras, "Berani kau!" Secepat kilat ia memburu, tiba di belakang Suma Bing, terpaut lima langkah. Karena bentakan nyaring ini, terkejutlah para hadirin dalam dan di luar gedung. Beramai-ramai mereka mengerubung datang, maka dalam sekejap mata ribut dan gegerlah suasana dalam ruang layon itu. Segera seorang tua yang berwajah angker berjenggot kambing melangkah ke depan, berhadapan dengan Suma Bing, dipisahkan oleh peti mati, nada kata-katanya berat, "Siauhiap, apakah tujuan kedatanganmu?" Sekilas Suma Bing melirik dingin ke arah orang tua beruban ini.