Chapter 18
Sahutnya kaku, "Tidak apa-apa, hanya ingin kulihat jenazah Pangcu kalian." Buncahlah semua hadirin yang mendengar ucapannya itu, semua menunjukkan kegusaran.
Alis putih si orang tua beruban terjengkit, serunya, "Lohu San Bok-sing, Tongcu Pejabat Seksi Hukum, Siauhiap ini siapa dan dari perguruan mana?" "Aku Suma Bing." "Dari perguruan mana?" "Tidak perlu kuberitahu kepadamu." San Bok-sing, Tongcu Pejabat Seksi Hukum dari Ngo-Ouw-Pang, menarik muka dingin, sinar matanya berkilat-kilat, serunya bengis, "Kedatangan tuan ini adalah hendak menuntut balas?" "Tidak salah ucapanmu." "Tidak peduli semasa hidup Pangcu kita ada permusuhan sebesar apa denganmu."
Tetapi pepatah mengatakan: orangnya mati, permusuhan ludes.
"Masa tuan hendak membelah peti mati dan merusak jenazahnya?" "Aku yang rendah hanya ingin memeriksa dia benar-benar mati atau pura-pura mati. Tentang merusak jenazah, itulah ucapan berlebihan." Ketegangan dalam ruang lajon meruncing, saat mana datang pula tiga orang tua dan dua laki-laki pertengahan umur mendesak di belakang Suma Bing berdiri berjejer dengan si orang tua jubah hitam tadi. Semua mengangkat alis, membelalakkan mata, wajah serius penuh ketegangan bersiaga menghadapi setiap perubahan.
Suma Bing mendengus sekali, tangan diangkat langsung mencengkeram ke arah peti mati.
"Siaucu, kau cari mati!" Teriak Sing-tong Tongcu (Tongcu Seksi Hukum) San Bok-sing.
Bersamaan, kedua tangannya menjodok ke depan membawa desir angin dahsyat menerjang ke arah Suma Bing.
Tangan kiri Suma Bing dikibaskan, sedang tangan kanan tetap mencengkeram ke arah peti mati.
"Blang!" San Bok-sing tertolak mundur tiga langkah.
Hampir dalam waktu yang bersamaan, enam jalur angin keras bersama melanda dari belakang menerjang ke arah punggung Suma Bing.
Betapa tinggi pun kepandaian Suma Bing, tak mungkin ia berani memandang enteng gabungan tenaga enam tokoh silat tinggi. Terpaksa ia melejit untuk menyingkir, kecepatan gerak tubuhnya ini hampir susah dilihat pandangan mata.
Baru saja enam tokoh silat dari Ngo-Ouw-Pang melancarkan pukulannya, lantas mereka kehilangan bayangan musuh. Maka, cepat-cepat mereka harus berusaha untuk menarik tenaganya, atau mungkin tenaga pukulan mereka sendiri yang akan membelah peti mati itu.
Di sebelah sana, Sing-tong Tongcu San Bok-sing sudah memutar tubuh berhadapan lagi dengan Suma Bing.
Nafsu membunuh semakin menegangkan.
Air muka Suma Bing beringas dan tebal diselimuti hawa membunuh, nada kata-katanya dingin laksana es, "Cayhe hanya ingin membuktikan kematian Coh Pin. Tiada hasratku untuk mengalirkan darah, kuharap kalian tahu diri." Sorot matanya tajam berkilat-kilat menyapu ke arah semua hadirin. Bergidiklah semua orang yang dipandang sedemikian rupa.
Tahulah mereka bahwa tiada seorang pun hadirin yang bakal mampu melawan kelihaian Suma Bing.
Karena apa Suma Bing hendak membuka peti mati dan memeriksa jenazah? Permusuhan apa dengan Pangcu mereka semasa masih hidup? Semua bertanya-tanya dalam hati.
Akan tetapi, betapa besar wibawa nama Pangcu dari Ngo-Ouw-Pang ini, setelah mati di kandang sendiri pula, peti matinya hendak dibelah orang. Bukankah itu merupakan penghinaan yang terbesar?
Di tengah suara bentakan yang riuh rendah itu, Sing-tong Tongcu San Bok-sing sudah merangsak maju lagi. "Wut!" Langsung ia kirim sebuah pukulan mengarah dada Suma Bing.
Pukulan ini dilancarkan dengan himpunan seluruh tenaganya, kekuatannya benar-benar membuat orang kagum dan mengelus dada.
"Cepat!" Tangan Suma Bing berkelebat.
"Blang!" Terdengar San Bok-sing berseru tertahan, darah segar berhamburan dari mulutnya. Tubuhnya terpental mundur menerjang dinding dan terpental balik lagi.
San Bok-sing merupakan tokoh kelas satu, namun hanya dengan satu gebrak saja sudah terluka muntah darah. Jelaslah semua hadirin menggigil ketakutan.
Namun tidak demikian dengan empat orang tua dan dua laki-laki pertengahan umur itu. Demi melindungi nama baik perkumpulan, mereka rela berkorban segalanya termasuk jiwa raga sendiri.
Maka sambil membentak-bentak, serentak mereka menubruk maju.
Walaupun ruang lajon itu sangat besar, tetapi karena terlalu banyak orang yang hadir di dalam ruang itu, tempat yang tinggal kosong tidak lebih hanya tiga tombak lebarnya. Maka, begitu berkelebat, keenam orang itu sudah menerjang tiba.
Suma Bing pun tidak mau menunjukkan kelemahan. Kedua tangan bergerak membuat garis lintang, beruntung ia lancarkan tiga kali pukulan menyambut serangan musuh.
Begitu angin pukulannya melandai, segera terdengarlah keluhan sakit dari mulut-mulut penyerangnya. Keempat orang tua terdesak mundur beberapa langkah, sedang dua laki-laki pertengahan umur itu terpental terbang sejauh tiga tombak menerjang ke arah kawan-kawannya yang tengah menonton.
Dan pada saat itulah, sebat luar biasa Suma Bing berkelebat tiba di depan peti mati dan tangan sudah diayun, sesaat sebelum tangannya tiba pada sasarannya.
"Siaucu, kau terlalu menghina orang!" Dibarangi seruan itu, beberapa jalur desis angin lentikan jari secepat kilat menyerang dirinya.
Jelaslah kejut Suma Bing bukan kepalang. Ia tahu bahwa orang yang turun tangan ini tentu Lwekangnya hebat luar biasa, maka sebat sekali ia menggeser ke samping lima kaki. Ketika pandangan matanya tertuju, seketika ia tertegun heran, karena orang yang melancarkan serangan lentikan jari ini kiranya adalah seorang nenek-nenek tua yang mengenakan pakaian berkabung.
Sinar matanya berkilat-kilat mengandung penuh kebencian, benar-benar menciutkan nyali orang yang dipandang.
"Kau ini yang bernama Suma Bing?" "Tidak salah, silakan bertanya." "Akulah janda tua Coh Pin. Ada dendam dan sakit hati apakah suamiku itu terhadapmu hingga sedemikian tega kau menghadapi kematiannya?" "Coh-Hujin," seru Suma Bing dingin.
"Saat ini lebih baik jangan mempersoalkan tentang permusuhan. Aku hanya ingin membuktikan kebenaran kematian suamimu ini." "Cara bagaimana kau hendak membuktikan?" "Membuka peti mati dan melihat jenazahnya." "Orang benar-benar mati, masa ada yang palsu atau asli?" "Aku yang rendah sudah pernah tertipu sekali." "Tertipu?" "Ya, Tiang-un Suseng membuat sebuah kuburan kosong untuk mengelabui orang."
Hanya sayang tipu muslihatnya yang licik itu telah membuka kedoknya." Berubah hebat air muka Coh-Hujin, serunya ketakutan.
"Jadi kau sudah membongkar kuburan Tiang-un Suseng?" "Memang begitulah tujuanku, tetapi secara kebetulan sudah ada orang lain yang turun tangan." "Benar-benar kau hendak membuka peti mati ini?" "Maaf, aku terpaksa harus berbuat demikian." "Suma Bing, bila kau dapat mengatakan alasanmu, boleh kusilakan kau membuka peti mati ini untuk kau periksa." Otak Suma Bing bekerja cepat. Setelah bimbang sekian lamanya, akhirnya ia merogoh saku mengeluarkan Mo-hoan dan dipakai di jari tengahnya, terus diangsurkan ke hadapan orang. "Hujin, sudah jelas?" "Mo-hoan!" seru Coh-Hujin ketakutan, serta-merta wajahnya pucat pasi.
Benda khas pertanda milik Sia-sin Kho Djiang itu tiada seorang pun dari kalangan dunia persilatan yang tidak mengetahuinya. Andaikata belum pernah lihat, juga pernah dengar.
Seruan ini benar-benar membuat kejut semua hadirin.
Siapa akan mengira benda khas pertanda milik Lam-sia itu bisa terdapat di tubuh anak muda berkepandaian tinggi ini? Jelas, kalau bukan muridnya, tentu cucu muridnya. Tentang mengapa datang hendak menuntut balas kepada Pangcu, kecuali Coh-Hujin seorang, mungkin tiada seorang pun yang tahu akan latar belakangnya.
"Suma Bing, peristiwa dulu itu merupakan salah paham yang berat." "Hujin, itulah kecerobohan, bukan salah paham." "Sekarang susah untuk dijelaskan, apa tujuanmu hanya mau memeriksa jenazah suamiku saja?" Suma Bing mengiakan sambil mengangguk-angguk.
"Suma Bing, baik kuizinkan kau memeriksa, tetapi jangan sekali-kali kau sentuh jenazahnya!" "Syarat ini dapat kululuskan." "Baik, silakan periksa." Wajah Coh-Hujin membesi kehijau-hijauan. Ia maju mendekat di samping peti mati, kedua tangannya menyanggah tutup peti, terus diangkat keras dan digeser ke samping satu kaki.
Serunya sekali lagi, "Lihatlah!" Dengan pandangan tajam Suma Bing memandang ke dalam peti. Terlihat olehnya seorang tua yang berwajah keren berwibawa menjulur kaku di dalam peti. Wajahnya masih sedemikian hidup bagai tidur nyenyak saja. Segera alisnya dikerutkan dan bertanya, "Sudah berapa hari dia meninggal?" "Tiga hari." "Tiga hari, tetapi wajahnya masih belum berubah?" Serta-merta tubuh Coh-Hujin tergetar seperti kesetrum listrik. Sahutnya, "Jenazahnya sudah kita lumuri obat antimembusuk." Suma Bing mengiakan dengan ragu, katanya, "O, begitu." "Suma Bing, kau sudah puas?"
Dalam hati Suma Bing masih banyak persoalan yang menimbulkan kecurigaan.
Pertama: Waktu kematian Coh Pin ini secara kebetulan terjadi setelah dirinya mulai menuntut balas, bukankah sangat meragukan.
Ketiga: Dengan adanya pengalaman pahit Tiang-un Suseng itu, sukarlah diduga bahwa apa yang dialami hari ini pun ada yang harus dicurigai.
Namun dia sudah berjanji untuk tidak merusak jenazah. Bagi kaum persilatan, ucapan yang harus dipercaya sangat dihargai.
Kalau tidak, hanya dengan sebuah jarinya saja dapatlah ia menghapus rasa curiganya ini.
Maka dengan dingin segera ia berkata, "Coh-Hujin, begitulah untuk sementara." "Sementara, apa maksudmu?" "Kuharap aku tak akan datang lagi ke mari." Wajah tua Coh-Hujin berubah-ubah, sebab ucapan musuh yang penuh mengandung arti itu membuat tubuhnya bergidik seram.
Habis berkata, dengan langkah lebar dan membusung dada Suma Bing berjalan pergi.
Perjalanan ke Ngo-Ouw-Pang kali ini boleh dikatakan menemui kegagalan lagi.
Para durjana yang mengeroyok dan menganiaya gurunya dulu itu masih ada Lokiam, Leng Hun-seng Ciangbun dari Ceng-Seng-Pay, dan Goan Hi Hwesio dari Siau-Lim.
Setelah menimang-nimang dalam hati, Suma Bing memutar haluan menuju ke arah Ceng-Seng-San.
Hari itu matahari mulai doyong ke barat.
Baru saja Suma Bing mengganjal perut dan melanjutkan perjalanan belum beberapa li jauhnya, tiba-tiba terlihat olehnya sebuah bayangan manusia berkelebat seperti kecepatan elang terbang. Bayangan itu melesat memasuki sebuah biara bobrok. Di ketiak bayangan itu agaknya mengempit seorang wanita.