Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 19

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 19

Karena heran dan ingin tahu, Suma Bing pun segera menyusul ke arah biara reot itu.

Di tengah ruang sembahyang yang keadaannya berantakan, terlihat olehnya seorang gadis cantik bagai bidadari terlentang rebah di atas tanah, kedua matanya terpejam.

Di sampingnya berdiri seorang pemuda berusia dua puluhan yang berpakaian sastrawan. Wajahnya dingin membeku, kedua matanya menatap wajah si gadis tanpa berkedip.

Baru saja Suma Bing melangkah ke dalam biara, si pemuda sudah mengetahuinya. Tanpa berpaling, ia berseru, "Siapa itu?"

"Orang lewat."

"Pergi keluar!"

"Hm."

Suma Bing sudah berkelebat tiba di dalam ruang sembahyang itu. Ketika ia membuka matanya lebar-lebar, seketika hawa amarahnya bergolak.

Sebab, gadis yang rebah di atas tanah itu tidak lain adalah Siang Siau-hun. Meskipun tidak ada hubungan khusus dengan Siang Siau-hun, paling tidak mereka sudah pernah bertemu sekali.

Pemuda berpakaian sastrawan itu perlahan-lahan memutar tubuh. Melihat orang yang datang adalah seorang pemuda tampan dan bertubuh kekar, dia pun tertegun heran. Suaranya dingin sambil menyeringai, "Siaocu, kusuruh kau pergi, dengar tidak?"

Sinar mata tajam dingin Suma Bing menatap garang, mendengus mengejek, lalu menjawab, "Kau tidak berhak berkata demikian."

"Kau akan segera tahu harganya."

"Siang bolong yang terang benderang ini, hendak kau apakan gadis ini?"

"Kau tidak berhak bertanya."

"Aku sudah pasti harus tahu."

"Hahahaha, Siaocu."

"Kalau begitu, kau sudah pasti mati!" sambil berkata, dari kejauhan itu ia menyodokkan tangannya, melancarkan serangan.

Serta-merta Suma Bing pun mengangkat sebelah tangan untuk menyambut pukulan musuh. Mendadak, ia merasakan tenaga pukulan lawan sedemikian ringan, melayang mengandung hawa dingin laksana es. Pukulannya sedikit pun belum mampu mendesak serangan lawan. Bahkan, hawa dingin bagai es itu terasa menembus masuk ke dalam tubuhnya hingga ke sendi-sendi tulangnya. Seketika, seluruh tubuhnya terasa dingin bagai berada di dalam gua gunung salju.

Keterkejutannya bukan kepalang. Cepat-cepat ia mengerahkan Kiu Yang Sin Kang untuk bertahan. Sejalur hawa hangat timbul dan melebar ke seluruh tubuhnya dari pusar. Kekuatan hawa dingin itu segera lenyap seluruhnya.

Agaknya pemuda pelajar itu pun tercengang, bahwa serangannya sedikit pun tidak menunjukkan reaksi. Dengan wajah penuh penasaran, ia segera berseru lagi.

"Siaocu, cobalah sambut ini lagi!" Bersamaan dengan ucapannya, kedua tangan sudah bergantian didorongkan ke depan. Gelombang angin dingin segera bergulung menerjang ke arah Suma Bing.

Tanpa ragu, Suma Bing mengerahkan kekuatan Kiukang. Dengan kedua tangan ditarik lalu disodokkan ke depan, gelombang panas bagai longsor gunung memancar keluar.

Sungguh ajaib, ketika gelombang dingin saling berbenturan dengan gelombang panas, kontan terdengar suara "ces" yang nyaring. Seketika, kedua gelombang pukulan itu sirna menghilang tanpa bekas.

"Kiukang!" Tanpa sadar, si pemuda pelajar berseru kaget ketakutan.

Melihat lawan sekali bergerak langsung mengetahui asal-usul ilmu saktinya, diam-diam Suma Bing terkejut juga. Sahutnya dingin, "Tidak salah, luas juga pandanganmu."

"Siaocu, jadi kau ini murid Lam Sia?"

Pada saat itulah, perlahan-lahan Siang Siau-hun membuka kedua matanya.

Setelah tertegun, ia segera berseru marah, "Dialah Tangbun Yu, putra Racun Utara!"

Hati Suma Bing melonjak kaget. Batinnya, "Kiranya pemuda ini adalah putra Racun Utara! Tidak heran Siang Siau-hun telah menemukannya.

Racun Tanpa Bayangan yang membunuh Siang Siau-moay dan Li Bun-siang pastilah..." Karena pikirannya ini, wajahnya berubah bengis membesi. Sambil tertawa dingin, ia berkata, "Tangbun Yu, Tuhan sudah mengatur segalanya. Aku tengah mencarimu."

Tangbun Yu terperanjat. Tanyanya, "Bocah sepertimu mencari aku?"

"Benar, bukan saja mencarimu, malah hendak kubunuh kau."

"Mulut yang takabur! Sebutkanlah namamu dulu?"

"Suma Bing."

"Untuk urusan apa kau mencariku?"

"Belum lama berselang, yang menggunakan 'Racun Tanpa Bayangan' untuk membunuh adik Nona Siang ini dan seorang pemuda bernama Li Bun-siang, apakah itu buah karyamu?"

"Kalau benar, bagaimana? Kalau bukan, kau mau apa?"

Suma Bing maju satu langkah, suaranya mendesis hambar, "Kalau benar perbuatanmu, jangan harap kau dapat pergi hidup-hidup."

"Mengandalkan dirimu ini?"

"Tiada halangan bagimu untuk mencoba!" Sebuah tangannya meluncur dengan serangan hebat ke arah Tangbun Yu. Serangan ini bukan saja cepat, bahkan sangat aneh. Sasaran yang diarahkan berbeda dari permainan silat umumnya.

Sebagai murid Racun Utara, sudah tentu kepandaian Tangbun Yu pun tidak lemah. Ringan sekali tubuhnya menggeser ke samping, menghindarkan pukulan dahsyat ini. Berbarengan, ia pun mengirim hantaman balasan menyerang. Serangannya ini pun tidak kalah aneh dan kejamnya dibanding pukulan musuh.

Segera Suma Bing mengangkat tangan untuk menangkis. "Bang!" Kedua belah pihak mundur satu langkah.

Gebrak permulaan ini menunjukkan bahwa kepandaian dan tenaga dalam kedua pihak sama kuat, atau berimbang.

Tangbun Yu memperdengarkan suara tawa dingin. Katanya, "Suma Bing, dalam dunia persilatan, orang membanggakan betapa lihai dan ampuh Kiukang dari Lam Sia. Biar hari ini aku menjajal sampai di mana kau, bocah ini, telah belajar ilmu yang diagul-agulkan itu."

Tidak kurang garangnya, Suma Bing pun membalas dengan sengit, "Bagus sekali! Aku juga ingin berkenalan sampai di mana kejam dan keji Hian In Kang dari Racun Utara."

Setelah itu, mereka masing-masing mundur tiga langkah, lalu berbarengan mengangkat kedua tangan.

Maka, seketika mengguntur benturan dua tenaga dahsyat yang saling beradu. Debu berhamburan, atap rumah pun tergetar.

Kiranya Tangbun Yu dan Suma Bing mengerahkan dua belas bagian tenaga masing-masing untuk mengadu pukulan ini.

Jika Suma Bing masih dapat berdiri tegak di tempatnya, tidak demikian halnya dengan Tangbun Yu. Ia terhuyung mundur dua langkah.

Kiu Yang Sin Kang termasuk pukulan positif. Sebaliknya, Hian In Kang termasuk pukulan negatif. Perbedaan tenaga dalam kedua belah pihak tidak terlalu besar. Suma Bing hanya lebih unggul sehelai rambut. Begitu saling berbenturan, getaran tenaga pukulan itu pun tidak terlalu berat. Jika sebaliknya, mungkin rumah biara itu sudah runtuh berhamburan.

Sejak tadi Suma Bing sudah bermaksud untuk membunuh lawannya. Akan dibuatnya supaya bocah keji berbisa ini tidak dapat pergi hidup-hidup.

Sambil menggeram keras, secepat kilat ia menubruk maju lagi. Kedua tangannya berputar membuat lingkaran dengan jurus Liuciok (emas murni berubah batu). Ia menurunkan tangan kejinya.

Jurus Liuciok ini merupakan daya cipta Lam Sia yang telah menguras seluruh tenaga pikirannya selama bertahun-tahun. Meskipun hanya satu jurus, variasi perubahannya tidak terhitung banyaknya. Waktu melancarkan serangan ini, harus mengandalkan kemurnian Kiukang sebagai landasan atau pendorong utama. Untuk masa itu, tokoh-tokoh silat di kalangan Kangouw yang mampu bertahan dari serangan jurus Liuciok ciptaan Lam Sia ini mungkin dapat dihitung dengan jari.

Walaupun tenaga dalam Suma Bing belum dapat menandingi gurunya, tapi begitu jurus ampuh ini dilancarkan, betapa dahsyat kekuatannya kiranya cukup juga menggetarkan dunia persilatan.

Arwah Tangbun Yu seakan-akan terbang meninggalkan badannya melihat kehebatan pukulan musuh. Cepat-cepat ia melancarkan jurus Tehan (bumi membeku udara dingin) untuk menjaga diri, melindungi tubuh.

Memang, jurus Tehan ini diciptakan praktis untuk menjaga diri.

Lagipula, ciptaan Racun Utara ini memang khusus untuk menghadapi jurus serangan Liuciok dari Lam Sia itu.

Jurus Tehan ini selesai dan sempurna diciptakan setelah dua puluh tahun terakhir ini. Bahwasanya, belum pernah diadu secara berhadapan.

Tangbun Yu menggunakan jurus itu tidak lebih hanya berharap dapat melindungi jiwanya.

Di samping itu, karena tenaga dalamnya memang kalah setengah urat dibanding lawan. Apalagi, Kiukang justru merupakan ilmu sakti satu-satunya yang dapat melumpuhkan Hian In Kang-nya itu.

Sambil berteriak kesakitan yang luar biasa, dari mulut Tangbun Yu menyembur darah segar bagai anak panah. Tubuh pun tergoyah gontai, hampir roboh.

Suma Bing sendiri pun merasa kaget, bahwa jurus ciptaan gurunya ini, yang baru pertama kali dilancarkan, ternyata keampuhannya begitu dahsyat di luar dugaannya.

Raut muka Tangbun Yu yang memang sudah pucat dan membesi itu kini semakin pucat membeku bagai wajah setan. Serunya sambil mengertakkan gigi.

"Suma Bing, kau dengar! Tubuhmu sekarang sudah terkena racun yang jahat. Di seluruh kolong langit ini, mungkin tidak ada seorang pun yang bisa mengobatinya!"

Suma Bing bergidik, merasakan hawa dingin. Sungguh, ia tidak habis mengerti kapan lawannya telah menyebarkan racunnya.

Di samping sana, Siang Siau-hun juga berseru kaget, namun suaranya lirih dan lemah.

Sekilas Tangbun Yu melirik ke arah Siang Siau-hun dengan sorot mata penuh kebuasan, lalu berkata kepada Suma Bing, "Kau masih dapat hidup selama seratus hari. Jangka seratus hari ini cukup untuk kau menyelidiki siapakah yang menyebarkan racun Tanpa Bayangan itu. Sudah jelas, bukan? Itu berarti bahwa keluarga Tangbun kita tidak pernah menggunakan Racun Tanpa Bayangan itu."

Hal ini benar-benar di luar sangkaan Suma Bing. Serunya kaget, "Jadi bukan kau yang membunuh Siang Siau-moay dan Li Bun-siang?"

"Omonganku cukup sampai di sini saja."

"Tangbun Yu, berilah penjelasan, mengapa kau bawa Nona Siang Siau-hun kemari?"

"Begitu bertemu, dia terus menyerang dengan kalap. Maka terpaksa aku meringkusnya. Tujuanku membawanya kemari, pertama untuk memberi penjelasan, kedua untuk mengobati lukanya."

"Hm, gagah benar ucapanmu itu!"

"Suma Bing, kau jangan mengukur orang dari pandangan sela-sela pintu. Orang lain akan gepeng dalam pandanganmu. Aku Tangbun Yu bukan bangsa bejat yang suka berlaku tidak senonoh."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment