Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 20

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 20

"Dia terluka oleh Hian-in-kang-ku, Kiukang-mu itu cukup untuk menolongnya. Tapi kau jangan lupa, nyawamu hanya bertahan untuk seratus hari saja."

"Tangbun Yu!" teriak Siang Siau-hun sambil mendelik. "Hatimu sungguh kejam, kau tidak...!"

Tangbun Yu menyeringai seram dan berkata, "Memang sudah merupakan tradisi keluarga Tangbun untuk selalu menggunakan racun. Kaum wanita yang lemah takkan mengerti dan paham. Kuberitahu kau, bagian dalam dan luar seluruh tubuhnya sudah terkena racun. Namun, terhadapmu aku tidak menggunakan racun karena kau sendiri belum ada harganya."

Saking gusar dan gugupnya, Siang Siau-hun memuntahkan darah segar lalu jatuh pingsan kembali.

Raut wajah Suma Bing menggelap, diselubungi hawa membunuh. Dengan geram dan murka, ia mengancam, "Binatang jahat, kau masih berharap bisa pergi?"

Sambil mengusap darah di sudut mulutnya, Tangbun Yu tertawa mengekeh panjang, lalu berseru dingin, "Siaucu, coba kau kerahkan tenaga dalammu!"

Mendengar itu, berdirilah bulu roma Suma Bing. Ia mencoba menyedot hawa dan mengerahkan tenaga. Benar saja, hawa murninya tidak dapat tersalur keluar dari pusarnya. Seketika tubuhnya terasa dingin membeku. Dalam hati ia mengeluh.

"Siaucu, bagaimana? Aku tidak bohong, bukan?" seru Tangbun Yu dengan sangat puas.

"Binatang jahat, cara bicaramu ini sangat rendah dan hina!"

"Tutup mulutmu! Dalam dunia persilatan saat ini, hanya beberapa orang saja yang cukup berharga hingga Pak-tok ayah dan anak terpaksa menggunakan racunnya. Kau, Siaucu, harus merasa bangga akan hal ini."

"Binatang jahat, akan kubeset dan kucacah hancur tubuhmu itu!"

"Setidaknya sekarang kau tidak mampu."

"Tunggulah saatnya akan tiba!"

"Akan tetapi kau sudah terkena bisa Pek-jit-kui (Seratus Hari Pulang). Kalau kau hendak membunuhku, harus kau lakukan dalam jangka seratus hari itu. Kalau sudah lewat seratus hari, kau akan menyesal dan mungkin penasaran saat menghadap Giam-lo-ong."

Gugup dan gusar merangsang benak Suma Bing hingga keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

Selanjutnya Tangbun Yu berkata lagi, "Siaucu, dalam jangka seratus hari ini, carilah sampai ketemu manusia yang menyebar Racun Tanpa Bayangan itu. Tentang tenaga dalammu, setengah waktu minum teh lagi akan pulih sendiri seperti sediakala. Maaf, tidak kuucapkan lagi 'selamat bertemu' kepadamu."

Setelah berkata demikian, tubuhnya melejit terbang keluar biara. Suma Bing masih terlongong di tempatnya; sekian lama ia tidak kuasa mengeluarkan suara. Dendam perguruan belum terbalas, musuh-musuh keluarganya pun belum ditumpas. Musuh-musuh keluarga yang ikut membunuh ayah dan ibunya, selain Tang-mo yang telah merebut pedang berdarah itu, tidak ada seorang pun yang ia ketahui.

Kini nyawanya tinggal seratus hari. Dalam jangka waktu itu, apa yang dapat diperbuatnya? Suhunya berpesan supaya dirinya mendapatkan Pedang Berdarah dan Bunga Iblis untuk melatih kepandaian yang tiada taranya di dunia agar tidak terkatung-katung sepanjang masa.

Tidak lama kemudian, benar saja, hawa murninya sudah berjalan lancar kembali. Hatinya sangat benci terhadap Tangbun Yu, namun ia juga merasa gentar terhadap cara pemuda itu menggunakan racun serta kecerdikannya. Tadi, jika Tangbun Yu tidak membuat Suma Bing kehilangan tenaga untuk sementara waktu, pasti dia akan sukar meloloskan diri.

Kenyataan bahwa penyebar Racun Tanpa Bayangan itu bukan perbuatan Pak-tok ayah dan anak benar-benar di luar sangkaannya. Menurut nada ucapan bocah berbisa tadi, seakan-akan mereka tidak mungkin menggunakannya, bahkan rasanya belum mengenal racun tersebut. Di kolong langit ini, mungkinkah ada manusia lain yang pandai menggunakan bisa melampaui Racun Utara?

**SI MALING BINTANG MEMBUKA TABIR RAHASIA**

Dalam pikiran yang tengah melayang-layang itu, akhirnya sorot matanya menatap tubuh Siang Siau-hun yang terlentang pingsan di tanah. Tampak kedua matanya yang bundar itu tertutup rapat, wajahnya pucat kehijau-hijauan, dan kaki tangannya mulai bergeletar. Sejenak ia berkerut alis, lalu menghampiri dan berjongkok di sampingnya. Ia membalikkan tubuh gadis itu hingga tengkurap, lalu menempelkan tangannya tepat di jalan darah Bing-bun-hiat. Kiukang pun mulai disalurkan.

Untuk pengobatan, Kiukang memang sangat mujarab, seumpama dapat menghidupkan orang mati. Akan tetapi, orang yang mengobati sendiri pasti akan kehilangan banyak tenaga; selama lima tahun ia mungkin tidak bisa berkelahi dengan orang lain. Namun, karena saat ini Siang Siau-hun terluka oleh hawa dingin Hian-in-kang, Kiukang merupakan satu-satunya lawan pemunah. Karena adanya teori pertentangan antara panas dan dingin ini, Suma Bing tidak perlu mengerahkan tenaga sedemikian besar. Untuk menolong jiwa Siang Siau-hun, boleh dikatakan hanya sekali jamah saja sudah cukup.

Raut wajah Siang Siau-hun berubah menjadi kuning, lalu lama-kelamaan bersemu merah. Napasnya pun mulai lancar dan teratur. Setengah jam kemudian, mulut kecil Siang Siau-hun mengeluh lirih lalu ia siuman kembali. Perlahan-lahan Suma Bing menarik tangannya.

Dengan bergegas, Siang Siau-hun membalikkan tubuh dan duduk di atas tanah. Dengan rasa benci yang menyala-nyala, ia bertanya, "Mana bocah berbisa itu?"

"Sudah pergi."

"Suma-siangkong..."

"Ada urusan apa?"

"Kau... demi aku, kau terkena racun Pek-jit-kui. Kau... kau hanya dapat hidup seratus hari lagi."

Suma Bing tertawa pahit, sahutnya, "Nona tidak perlu kuatir akan hal itu."

"Suma Siangkong, kalau kau berkata begitu, matipun aku tidak akan tenteram."

"Nona Siang, selamat bertemu. Selama hayat masih dikandung badan, pasti aku akan melaksanakan janjiku untuk menemukan penyebar Racun Tanpa Bayangan itu. Tapi dapat atau tidaknya terlaksana, susahlah dikatakan."

"Tidak, kau tidak boleh pergi!"

"Aku tidak boleh pergi? Mengapa?"

Siang Siau-hun menyahut dengan penuh perasaan haru, "Aku akan selalu mengiringimu selama seratus hari ini. Dalam jangka waktu itu, kita akan mencari tabib ternama untuk memunahkan racun yang mengeram dalam tubuhmu."

Suma Bing tertawa kecut, ujarnya, "Apa kau tidak dengar Tangbun Yu mengatakan bahwa racunnya itu tidak ada seorang pun yang mampu memunahkan?"

"Tapi aku ingin bersamamu dalam seratus hari ini."

"Mengapa?"

Wajah Siang Siau-hun memerah jengah, akhirnya ia menyahut tegas, "Sebab aku cinta padamu. Aku ingin bersamamu sampai akhir hidupmu."

Ucapan ini benar-benar di luar dugaan Suma Bing. Sekian lama ia tertegun, lantas katanya, "Nona Siang, tapi aku tidak mempunyai maksud demikian."

Wajah Siang Siau-hun berubah. Air mata meleleh semakin deras hingga kedua matanya merah. Katanya dengan gemetar, "Ya... memang kau takkan mencintaiku. Tapi aku mencintaimu, bukankah itu sudah cukup?"

"Bukankah tujuan Nona hanya untuk menghibur hidupku yang takkan lama lagi ini?"

Siang Siau-hun menggigit bibir, sahutnya, "Aku tidak menyangkal ada sebab itu, tapi sejak pertama kali aku melihatmu, aku... aku sudah tertarik olehmu."

Tersirap darah Suma Bing.

"Suma Siangkong, izinkanlah aku memanggilmu Bing-ko. Dalam seratus hari ini, segala milikku kupersembahkan kepadamu. Tapi aku harap kau jangan menganggapku sebagai wanita rendah yang tak bermartabat. Seratus hari kemudian... aku akan bunuh diri."

Air mata meleleh membasahi kedua pipinya. Suma Bing terperanjat hingga mundur satu langkah, serunya bergetar, "Nona Siang, selamanya Suma Bing akan berterima kasih akan rasa cintamu, tapi aku tidak dapat menerima perbuatanmu itu."

"Bing-ko, seumpama kau bosan dan membenciku pun, hatiku sudah mantap dan tak mungkin diubah lagi."

"Apa cukup berharga seorang Suma Bing sehingga kau berbuat demikian?"

"Cukup, bahkan berkelebihan."

"Kau salah, aku tidak sudi menerima pengorbanan kasih dari orang lain."

"Pengorbanan kasih? Apa maksudmu?"

"Kau menganggap aku keracunan karenamu, hatimu menyesal, lantas kau berbuat seperti apa yang kau katakan untuk menambal sanubarimu yang tidak tenteram itu!"

"Tidak peduli bagaimana anggapanmu, aku cinta padamu. Sejak sekarang ini, aku tidak akan berpisah setapak pun denganmu."

Akhirnya tergerak juga hati kecil Suma Bing atas keteguhan dan kesetiaan gadis itu. Namun lantas terpikir juga olehnya: Mengapa aku menggunakan tubuh yang hampir mati ini untuk membawa atau memendam kebahagiaan seumur hidup seorang gadis? Karena pikiran ini, ia segera mengubah sikap. Wajahnya menjadi kaku seperti besi, ujarnya dingin, "Nona Siang, kebaikanmu itu kusimpan dalam lubuk hati. Banyak urusan penting yang harus kuselesaikan dalam jangka waktu seratus hari ini. Maaf, aku tidak dapat melayanimu terlalu lama."

Setelah berkata demikian, ia memutar tubuh dan baru saja hendak pergi. Mendadak Siang Siau-hun mengeluh panjang, serunya, "Bing-ko, kau tetap tidak mau meluluskan? Baiklah, biar Siau-moay pergi lebih dulu!"

Tergetar hati Suma Bing mendengar seruan itu. Secepat kilat ia memutar balik. Terlihat Siang Siau-hun sudah mengangkat sebelah tangannya hendak mengepruk batok kepalanya sendiri. Dalam kegugupannya, secepat kilat jemari Suma Bing menjentik dari jauh. Seketika tangan Siang Siau-hun yang sudah terangkat itu lemas lunglai.

Sungguh di luar dugaan bahwa Siang Siau-hun bisa mengambil jalan pintas. Saking terkejutnya, keringat dingin membasahi seluruh tubuh Suma Bing.

"Nona Siang, kau... mengapa kau berbuat begitu?"

"Bing-ko!" seru Siang Siau-hun sambil berlari menubruk ke dalam pelukan Suma Bing, dan pecahlah tangisnya yang tergeru-geru.

Selama hidupnya, belum pernah Suma Bing menghadapi adegan yang mendebarkan seperti ini. Wajahnya memerah jengah, jantung berdetak keras, dan kaki tangannya pun terasa lemas gemetar. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuat; menjunjungnya atau memeluknya.

Bau wangi khas seorang perawan merangsang hidungnya. Dua tubuh hangat yang bersentuhan menimbulkan suatu perasaan mesra yang mengalir ke seluruh tubuh. Karena tangisnya yang penuh perasaan hingga badannya bergetar naik-turun, Suma Bing merasakan dada si nona yang padat dan lunak menempel di tubuhnya, membuat pikirannya melayang seakan di awang-awang.

Lengan Suma Bing yang kokoh akhirnya melingkar memeluk tubuh yang montok dan langsing itu. Akhirnya tertangkap juga hati sepasang muda-mudi ini setelah mengalami segala lika-liku aral melintang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment