Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 21

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 21

Suma Bing tak dapat menyangkal bahwa takdir perjodohan mereka dipenuhi kesedihan.

"Bing-ko, apa pun permintaanmu, aku akan berusaha memenuhinya," ujar Siang Siau-hun dengan suara lembut penuh daya tarik.

Suma Bing terombang-ambing antara hati dan pikiran. Ia tak bisa begitu saja mengorbankan jiwa seorang gadis demi kehidupannya yang tak lama lagi. Perlahan, ia melepaskan pelukannya.

Wajah Siang Siau-hun merona merah. Matanya berkaca-kaca, ia berkata sambil sesenggukan, "Bing-ko, demi aku, kau mengorbankan jiwamu."

"Tapi aku belum mati," balas Suma Bing.

"Memang belum, tetapi seratus hari, betapa singkat jangka itu. Aku... apa yang bisa kuberikan kepadamu?"

"Adik Hwi, hal ini terjadi di luar dugaan. Sedikit pun aku tidak berniat mengorbankan jiwaku untukmu, jadi kau tidak perlu memikirkannya. Hidup ini menyenangkan. Bagi seorang pria sejati, kematian pun tak perlu diratapi. Hanya saja..."

"Bing-ko, bagaimana bisa kau menghapus kenyataan bahwa kau telah memberikan pengorbanan yang tiada tara untukku?"

Meskipun Suma Bing adalah pria berhati teguh, ia tak bisa menahan keluhan akan nasibnya. Dendam perguruan dan musuh keluarga bagai dua pisau tajam berkelebat dalam benaknya. Seratus hari, apa yang bisa dilakukannya? Dengan muka seperti apa ia akan menemui gurunya yang mulia dan ayah bundanya di alam baka? "Aku tidak boleh mati!" keluhannya seakan memprotes nasib yang telah menentukan jalan hidupnya.

Siang Siau-hun merasa hatinya tercabik, namun ia kehabisan kata-kata untuk membujuk dan menghiburnya. Jika mungkin, ia rela menggantikan kematian Suma Bing, namun itu tak mungkin terjadi.

"Bing-ko, sampai ke ujung langit pun kita harus mencari obat pemusnah itu!"

Suma Bing terdiam, menggelengkan kepala, lalu berkata, "Adik Hun, itu tidak mungkin. Walaupun jangka seratus hari ada batasnya, aku memiliki banyak urusan yang harus kuselesaikan. Aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu sedetik pun. Mungkin semua itu tidak bisa terlaksana, namun selangkah demi selangkah akan kucapai dengan sekuat tenaga. Setelah mati, barulah hatiku merasa tentram."

"Bing-ko!" desah Siang Siau-hun pendek, suaranya penuh penyesalan, cemas, hiburan, dan keputusasaan.

Nafsu membunuh segera merangsang benak Suma Bing, akhirnya ia mengambil keputusan teguh.

"Adik Hun, di manakah tempat tinggal Racun Utara Ayah Beranak?"

"Di Lembah Racun di belakang Puncak Ketujuh Gunung Eusan. Ada apa kau..."

"Terlebih dahulu hendak kubunuh Racun Utara Ayah Beranak, baru menyelesaikan urusan yang lain."

Siang Siau-hun terkejut, mundur tiga langkah, matanya membelalak tanpa berkata-kata.

Pada saat itulah, sebuah suara serak terdengar berkata, "Bujung, mendengar nama Racun Utara Ayah Beranak saja kaum persilatan sudah lari menyingkir. Sungguh takabur ucapanmu itu."

Wajah Suma Bing dan Siang Siau-hun berubah kaget. Sungguh di luar dugaan mereka, bahwa dalam biara bobrok itu kiranya masih ada orang ketiga yang bersembunyi. Segera, sinar tajam Suma Bing menatap ke arah suara itu terdengar, serunya, "Orang tua dari manakah ini? Silakan keluar untuk bicara."

"Hahahaha, Siaucu, darimana kau tahu kalau aku ini seorang tua?" di tengah gema suaranya, seorang tua beruban yang bertubuh buntak dan pendek, dengan ringan melayang turun dari atas penggalang yang penuh debu. Dengan sangat ringan, tubuhnya menginjak tanah tanpa suara. Suma Bing tanpa sadar berseru kaget tertahan. Siang Siau-hun pun tak kalah kaget dan malunya. Orang tua pendek gemuk ini ternyata telah bersembunyi di atas penggalang semalaman. Jelas semua gerak-gerik mereka tadi pasti telah disaksikannya. Bersamaan itu, ia pun kagum akan kelincahan tubuh orang tua itu.

Mulut orang tua itu terbuka lebar, tertawa besar, katanya, "Siaucu, apa benar kau ini adalah murid Kho-losia?"

"Bagaimana pendapat tuan?"

"Ya, anggap saja benar. Kau tahu siapa Lohu ini?"

"To-singtua Si Ban-can." Dalam pertempuran memperebutkan Pedang Darah tempo hari, Suma Bing pernah melihat orang ini muncul memberi peringatan, lalu segera pergi lagi. Maka segera ia bisa menyebutkan nama julukan orang tua itu.

Togwat Si Ban-cwan mengangguk, "Tidak malu kau menjadi murid Lam-sia. Pengalamanmu boleh juga."

"Tadi tuan mengatakan apa?"

"Oh, bukankah barusan kau bermulut besar hendak membunuh Pak-tok ayah beranak?"

"Tidak salah, tapi aku tidak takabur."

"Itu berarti kau ingin mempercepat kematianmu." Berubah air muka Suma Bing, sahutnya lantang, "Kukira belum tentu."

Togwat (mencuri bintang merampok rembulan) Si Ban-cwan tertawa hambar, katanya, "Siaucu, kepandaian Pak-tok seumpama gurumu sendiri pun harus menghadapinya dengan sekuat tenaga. Kemampuanmu terpaut terlalu jauh. Lagipula, dalam lembah beracun itu, segala tumbuhan, termasuk rumput, mengandung bisa. Apa kau yakin dapat memasuki lembah itu?"

Suma Bing merinding, serunya penuh kebencian, "Kalau aku tidak bunuh Pak-tok ayah beranak, belumlah terlampias rasa penasaran dalam hatiku."

"Buyung, mungkin kau menganggap hidup seratus hari itu terlalu panjang?"

"Tuan bicaralah sopan dan tahu aturan."

"Hihihihi, buyung, ini sudah sangat sungkan. Orang yang tidak masuk dalam pandangan Lohu, malas aku bicara dengannya. Jangka seratus hari bukan waktu pendek. Kau masih bisa menyelesaikan banyak urusan. Buat apa kau berlagak?"

"Lo-cianpwe," tiba-tiba Siang Siau-hun menyela, "Racun Pek-jit-kui itu, adakah obat pemunahnya?"

"Tentang ini... Kecuali dapat menemukan tertua dari Bu limsipyu yang bernama Wi-thian-chiu Poh Jiang."

Suma Bing merasa sangat terkejut. Buyu adalah musuh perguruannya. Ia hanya tahu adanya Tiang-un Suseng Poh Jiang, namun belum pernah dengar adanya julukan Wi-thian-chiu (tangan membalik langit). Maka dengan penuh curiga ia bertanya, "Apa di antara Buyu itu ada terdapat dua Poh Jiang?"

"Tidak, satu saja."

"Lalu 'Tiang-un Suseng Poh Jiang'?"

"Asal julukannya adalah Wi-thian-chiu, pandai menyamar dan pintar pertabiban. Akhirnya, entah mengapa dia berganti julukan menjadi Tiang-un Suseng. Kalau kalian dapat menemukan orang ini, mungkin masih ada sedikit harapan."

Suma Bing mengangguk. Hatinya berpikir, "Susekng adalah salah seorang musuh besar perguruan yang harus dibunuh. Kini dia mengumpet dan melarikan diri. Sampai ke ujung langit pun pasti kupenggal kepalanya. Mana bisa aku minta obat penawar padanya."

Sebaliknya, Siang Siau-hun berjingkrak kegirangan, serunya gemetar, "Bing-ko, singkirkan semua itu dulu. Lebih penting kita pergi mencari Tiang-un Suseng!"

Tanpa sadar, Suma Bing mengangguk. Lantas terpikirkan juga akan wanita berseragam hitam yang juga ingin segera menemui Tiang-sun Suseng. Dia pernah berkata bahwa untuk Tiang-un Suseng, dia telah rela menderita selama tiga puluh tahun lamanya, meskipun hubungan mereka terikat oleh rangkaian cinta yang belum terselesaikan. Demikian juga Pek-hoat-sian-nio, dia hendak mencari jejak Tiang-un Suseng. Untuk apa hal ini belum jelas. Setelah Pek-nio mengetahui asal-usul perguruannya, lantas dia mencecar menanyakan jejak Suhengnya, Loh Cu-gi, yang malah turun tangan keji terhadap dirinya. Kalau gadis putih yang bernama Ting Hoan itu tidak membantunya secara diam-diam, mungkin dia sudah mati beberapa saat lamanya. Inipun kenapa? Apa mungkin antara Pek-hoat-sian-nio dengan perguruannya ada permusuhan yang dalam?

Pikiran Suma Bing semakin tenggelam. Lantas teringat pula akan Suhengnya, Loh Cu-gi, yang sudah menghianati perguruan. Setelah merebut simbol teragung sebagai jago nomor satu di seluruh jagad, terus menghilang sejak empat lima tahun yang lalu. Entah di mana dia sekarang. Diapun salah seorang yang harus dicari dan dibunuh menurut pesan gurunya.

Nyata-nyata si maling bintang Si Ban-cwan menghentikan tawanya, katanya, "Siaucu, kalau kau dapat menemukan Tiang-un Suseng, tentu kau takkan mati." Katanya tegas.

"Aku tentu bisa, akan kucari dia dengan sekuat tenagaku." Di mulut dia berkata begitu, tapi maksud hati Suma Bing mengandung arti lain.

Siang Siau-hun kegirangan, ujarnya tertawa, "Bing-ko, itulah baik. Kita harus berpegang pada kesempatan hidup ini." Sudah tentu dia tidak mengetahui arti ucapan Suma Bing yang mempunyai maksud tertentu.

Simaling bintang berkata kepada Siang Siau-hun, "Budak kecil, orang yang mati keracunan beberapa waktu yang lalu adalah adikmu?"

Air muka Siang Siau-hun berubah suram, sahutnya sedih, "Ya, itulah adik kandungku, Siang Siau-moay, dan seorang kawannya bernama Li Bun-siang, bersama menjadi korban."

"Jadi karena itu kau mencari Bocah Beracun itu?"

"Benar. Menurut hematku, Racun Tanpa Bayangan yang jahat itu, selain Pak-tok ayah beranak, mungkin..."

"Sudah tentu hal ini tidak bisa menyalahkan kau. Racun Tanpa Bayangan konon adalah semacam bisa paling jahat. Mungkin Racun Utara sendiri pun kewalahan menghadapinya. Adikmu itu adalah korban yang penasaran."

"Apa Lo-cianpwe mengetahui ihwal peristiwa itu?" tanya Siau-hun terkejut.

"Tidak banyak, kutahu kulitnya saja."

"Harap Lo-cianpwe suka memeriahkan teka-teki ini?"

Sejenak si maling bintang berpikir, lalu katanya, "Cerita ini harus dimulai dari Pedang Darah itu."

Tergugah semangat Suma Bing mendengar Pedang Darah disinggung lagi, sebab "Pedang Darah" semestinya menjadi hak milik ayahnya, Suma Hong. Karena Pedang Darah itu pula, ayah bundanya menemui ajal. Untung dia sendiri dapat lolos dari kematian, maka Pedang Darah itupun harus dikejar kembali. Dan hutang darah yang ditimbulkan Pedang Darah itu juga harus ditagih. Disamping itu, sebelum meninggal, Suhunya Lam-sia pernah berpesan supaya dirinya merebut Pedang Darah dan Bunga Iblis supaya dapat melatih kepandaian mujarab yang tiada taranya untuk membersihkan nama perguruan, sebab Suhengnya Loh Cu-gi yang berkhianat itu telah mencuri sebutir Kiuyang-cau-ko. Lwe-kangnya sudah lebih tinggi dari gurunya sendiri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment