Chapter 22
Ini boleh dikata sebagai harapan Sia-sin Kho Jiang sebelum mati, dan Suma Bing sendiri besar hasratnya untuk melaksanakan harapan itu.
Siang Siau-hun menyambung mulut, "Apa barang yang dititipkan kepada kita bertiga itu benar-benar adalah 'Hiat-kiam' itu?"
Si maling bintang Si Ban-cwan membalik mata, sahutnya, "Jangan kau menyela, dengarkan ceritaku ini. Lima belas tahun yang lalu Hiat-kiam pernah muncul sekali dan terjadilah penyembelihan besar-besaran. Pemiliknya, Su-hia-p Suma Hong suami-istri dan anaknya yang berusia kira-kira tiga tahun, mati mengenaskan. Konon Hiat-kiam itu akhirnya terebut oleh Tang-mo (Iblis Timur)." Setelah merandek sejenak lantas disambungnya lagi, "Belum lama ini di kalangan Kang-ouw tersiar kabar yang mengatakan bahwa Pedang Darah itu berada di tangan Mo-san-ji-kui."
Pada waktu itu Lohu merasa heran, bahwa Tang-mo termasuk salah satu tokoh dari Bu-it (empat gembong aneh dari Bu-lim), kepandaiannya berimbang dengan Lam-sia, Pak-tok, dan Se-kui. Barang yang sudah mereka dapatkan, mana mungkin bisa terjatuh di tangan orang lain lagi.
"Selain itu, dengan kemampuan Mo-kui, mana mungkin dapat merebut Hiat-kiam itu dari tangan Tang-mo?" Lahirnya Suma Bing berlaku tenang, namun sanubarinya bergejolak susah tertahan.
"Bagaimana selanjutnya?" tanya Siang Siau-hun ingin tahu benar.
"Gembong-gembong silat dari aliran hitam dan putih semua menuju ke sarang Mo-kui di Gua Kim-pitong. Di sana mereka menemukan jenazah kedua setan itu sudah menggeletak di luar gua, maka banyaklah mulut-mulut usil yang mengatakan bahwa Hiat-kiam itu sudah direbut pula oleh orang lain lagi." Si maling bintang menghela napas panjang lalu melanjutkan ceritanya, "Secara sangat kebetulan, seorang tua yang berseragam hitam tengah membawa sebuah buntalan kain minyak sepanjang satu kaki, maka timbullah serakah dan ketamakan orang ceroboh dan gegabah itu, dan terjadilah pengeroyokan. Si orang tua itu akhirnya dapat lolos dari kepungan dengan membawa luka-luka berat. Karena lukanya terlalu berat, di tengah jalan ia roboh dan kebetulan bertemu dengan kalian kakak beradik, lantas ia menitipkan buntalan kain itu supaya disampaikan kepada ketua kelenteng Yok-tong-bio di Seng-toh."
Siang Siau-hun manggut-manggut tak hentinya. "Kiranya Lo-cianpwe sangat jelas akan duduk perkara peristiwa itu?"
"Orang yang meracun adikmu dan merebut buntalan kain itu menamakan dirinya sebagai Tok-tiong-ci-tok (Racun di dalam racun)."
"Racun di dalam racun?"
"Betul, sebelum ini belum pernah terdengar adanya seorang tokoh macam ini di dunia persilatan. Tapi racun tanpa bayangan yang dia gunakan itu boleh terhitung sebagai racun di dalam racun."
"Apakah buntalan kain itu benar-benar berisi Hiat-kiam?"
"Bukan, hanya sebatang jinsom yang berusia ribuan tahun."
"Benar," sahut Siang Siau-hun tersadar, "Wanpwe pernah menyelidiki ke Yok-ong-bio di Seng-toh, ketua biara itu kebetulan meninggal belum lama ini. Mungkin jinsom itu adalah obat untuk mengobati penyakitnya. Sungguh tak terduga terjadilah peristiwa di luar dugaan ini."
Sebaliknya Suma Bing tak habis mengerti, tanyanya, "Apakah Racun di Dalam Racun dapat mengetahui bahwa apa yang dia rebut itu bukan Hiat-kiam? Atau mungkin tujuannya memang jinsom ribuan tahun itu?"
Mata si maling bintang Si Ban-cwan menatap tajam ke arah Suma Bing, katanya, "Setelah mendapatkan buntalan kain itu, segera 'Racun di Dalam Racun' membuka buntalan itu. Melihat hanya berisi sebatang jinsom, dengan dongkol ia buang ke atas tanah. Entah karena pikirannya tergerak akhirnya ia kembali dan menjemputnya lagi. Dari kejadian ini dapatlah disimpulkan bahwa 'Racun di Dalam Racun' memang khusus mengincar Hiat-kiam itu."
"Lalu bagaimana dengan peristiwa pedang berdarah palsu buatan Bwe-hwa-hwe itu?"
"Kejadian itu membuat orang susah mengerti. Lohu sendiri pun belum jelas, mungkin Bwe-hwa-hwe mempunyai suatu muslihat."
"Tuan pernah muncul memberi peringatan, untuk apa pula itu?"
"Kali ini Lohu salah melihat, aku tidak tahu bahwa Hiat-kiam itu palsu. Tujuanku memperingati mereka adalah karena aku kuatir 'Racun di Dalam Racun' akan menebarkan mautnya untuk merebut pedang darah itu. Bukankah semua orang yang hadir akan mati konyol?"
Akhirnya sebagian pertanyaan dalam benak Suma Bing sudah terjawab, tapi urusan agaknya semakin ruwet dengan munculnya tokoh baru seperti "Racun di Dalam Racun". Siapa dan dari aliran manakah Racun di Dalam Racun itu? Bwe-hwa-hwe menggunakan Hiat-kiam palsu untuk menimbulkan perebutan, tanpa sengajakah atau memang sudah dalam rencana mereka? Kalau memang sudah diatur demikian, apakah tujuannya? Lantas Hiat-kiam tulen masihkah berada di tangan Tang-mo? Mo-san-ji-kui mati konyol di sarangnya sendiri, apakah berita itu benar bahwa kematiannya itu karena Hiat-kiam juga? Dia menggelengkan kepalanya dengan hampa.
Justru yang paling diperhatikan oleh Siang Siau-hun adalah racun Pek-jit-kui yang mengeram dalam tubuh Suma Bing itu. Dengan sinar pandang yang penuh harapan ia menatap ke arah To-gwat Si Ban-cwan dan berkata, "Lo-cianpwe, dapatkah Tiang-un Suseng mengobati racun yang mengeram dalam tubuhnya itu?"
Si maling bintang melirik dan menyahut, "Aku orang tua tidak dapat memberi pertanggungjawaban, namun itulah jalan satu-satunya yang harus kalian tempuh."
"Jejak kau orang tua sudah berkelana sampai ke mana-mana. Sukalah kau memberi petunjuk di manakah kiranya kita dapat menemukan Tiang-un Suseng?"
"Apa? Jejakku tersebar di seluruh Kang-ouw. Budak kecil, jadi kau maksudkan bahwa aku orang tua sudah mencuri di seluruh jagat ini?"
"Bukan begitu maksud Wanpwe."
"Konon bahwa Tiang-un Suseng Po Jiang sudah meninggal dunia, namun waktu kuburannya dibongkar orang, kiranya kosong." Dalam berkata-kata itu, sengaja atau tidak, matanya melirik ke arah Suma Bing.
Berdetak keras jantung Suma Bing. Siang Siau-hun berkerut alis, katanya, "Kalau begitu berarti bahwa Tiang-un Suseng sengaja menghindarkan diri dari dunia ramai, untuk mencarinya mungkin sangat sukar."
"Semua kejadian dalam dunia tergantung pada jodoh, ucapanmu itu belum tentu."
"Tang-bun Yu bocah berbisa itu benar-benar jahat, karena sedikit salah paham saja dia lantas turunkan tangan keji meracuni orang?"
"Kau hanya tahu satu tidak tahu kedua. Ketahuilah bahwa Lam-sia dan Pak-tok selamanya tidak akur, bertentangan seperti api dan air. Begitu ada kesempatan bertemu tentu tidaklah sia-sia digunakan. Apalagi temanmu sebelumnya ini sudah melukainya."
"Kalau Pak-tok sudah merajai dalam dunia racun, siapa yang berani bermusuhan padanya?"
"Dia sejajar sebagai salah satu gembong aneh yang tinggi kepandaiannya, tanpa mengingat gengsi sendiri lantas turun tangan menggunakan racun. Apalagi selama hidup si tua bangka berbisa itu paling membanggakan kepintarannya itu."
"Lo-cianpwe sudah sekian lama mengumpet di atas belandar itu bukan? Tentu kau orang tua juga takut akan racun, jadi sampai sekarang baru muncul?"
Wajah tua si maling bintang merah jengah, katanya, "Budak kecil runcing benar mulutmu. Akan tetapi bukan aku orang tua takut akan bisa itu, ada sebab lain maka aku tidak mau berurusan dengan bangsat tua beracun itu."
Segera Suma Bing mengalihkan pembicaraan, "Bagaimanakah rupa atau bentuk orang yang mengaku sebagai Racun di Dalam Racun itu?"
"Seorang aneh bertubuh tinggi lencir, kurus kering, seluruh tubuh kulitnya berwarna hitam gelap." Suma Bing manggut-manggut dan mengingat keterangan itu.
Kata Siang Siau-hun penuh kasih mesra, "Bing-ko, sudah saatnya kita berangkat."
"Benar, kita harus segera berangkat."
"Nanti dulu," mendadak maling bintang perampok bulan Si Ban-cwan merentangkan tangannya.
"Tuan masih ada ucapan apa lagi?" tanya Suma Bing sambil mengerutkan alis.
"Apa kepergian kalian ini benar-benar hendak mencari Tiang-un Suseng?"
"Sudah tentu," sela Siang Siau-hun.
"Itulah baik, jikalau kalian lebih dulu dapat menemukan dia." Suma Bing menjadi heran dan bertanya, "Jadi kau juga tengah mencari Tiang-un Suseng?"
"Ya, tapi aku mendapat pesan orang lain. Kalian tak perlu banyak tanya, jikalau kalian menemukan dia katakan saja bahwa Lohu pun ingin segera menemuinya."
"Itu boleh. Adik Hun, mari berangkat," habis berkata segera ia mendahului angkat langkah keluar dari biara bobrok itu.
Sebelum pergi Siang Siau-hun membungkuk memberi hormat kepada Si Ban-cwan serta berkata, "Selamat bertemu," lalu terus mengikuti di belakang Suma Bing meninggalkan tempat itu.
Sampai di luar segera Suma Bing menghentikan langkah, dan katanya, "Adik Hun, dunia sedemikian besar, Tiang-un Suseng pun sengaja menghindarkan diri dari keramaian, mencari jejaknya berarti mencari jarum di dalam laut."
"Ya, memang. Tapi hanya itulah harapan satu-satunya, janganlah kita buang kesempatan ini."
"Aku mempunyai sebuah cara."
"Cara apa?"
"Kita berpisah mencarinya, begitu lebih gampang dan praktis."
Berubah air muka Siang Siau-hun, katanya, "Bing-ko kau hendak meninggalkan aku?"
"Adik Hun dengarkan penjelasanku; kita membatasi waktu tiga bulan. Tiga bulan kemudian kita bertemu lagi di kelenteng bobrok ini. Sebelum bertemu tidak berpisah."
"Kalau... kalau..."
"Bagaimana?"
"Kalau kau tidak datang?"
Pedih rasa hati Suma Bing seperti diiris-iris. Sebuah ucapan yang sederhana mengandung betapa besar rasa cinta kasih, pengharapan, dan ketulusan hati. Apa benar dia tidak akan datang? Mengapa dia harus datang? Obat pemunah itu merupakan angan-angan hampa yang tidak mungkin terlaksana. Tiga bulan kemudian, hidup jiwanya akan sampai pada titik terakhir. Tapi sekuatnya ia menguatkan hati dan unjuk senyum dibuat-buat, katanya, "Adik Hun, percayalah, aku pasti datang."
Kedua mata Siang Siau-hun merah tergenang air mata. Dengan suara yang memilukan hati ia berkata, "Bing-ko, aku percaya kepadamu. Tapi ingatlah ucapanku ini, kini jiwaku merupakan sebagian dari jiwamu. Sudah kupasrahkan jiwaku kepadamu, itu berarti persamaan jiwa hanya sama akibatnya, tak mungkin ada dua akibat. Tak peduli akibat itu baik atau buruk."
Tergetar sanubari Suma Bing. Walaupun dia tidak rela si nona belia ini menjadi pengiringnya masuk dalam liang kubur, tapi apakah hanya dengan kata-kata halus lantas dapat merubah tekadnya yang besar itu? Hatinya mengeluh, dia goyang-goyangkan kepala dengan hampa, sahutnya, "Aku tahu!"
Setelah berpandangan sekian lamanya, mereka berpisah tanpa kata-kata, tanpa kata-kata perpisahan sebagaimana lazimnya, tanpa ucapan selamat tinggal!