Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 23

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 23

Cinta pertama adalah perjalanan hidup manusia yang termahal, akan tetapi cinta pertama mereka ini terasa pahit getir.

Suma Bing berusaha untuk menghilangkan bayangan kekasihnya ini dari sanubarinya untuk sementara. Dia harus mengatur serapi mungkin acara yang harus dilakukan selanjutnya.

Pertama, ia akan menuju ke Ceng-seng-san mencari Leng Hun-seng, Ciangbun dari Ceng-seng-pay. Dari sana, ia menuju ke Siau-lim mencari Goan Hi Hwesio, lalu memutar balik ke Gunung Lo-san untuk menemukan Lo-san Siang-kiam.

Terakhir, ia akan sekuat tenaga berdaya mencari jejak Tang-mo, dan mengejar para pembunuh ayah-bundanya sembari berusaha mencari Tiang-un Suseng. Tentang Hiat-kiam Mo-hoa dan mencuci nama perguruan, mungkin itu tinggal suatu harapan hampa yang susah dicapai.

Setelah mengambil ketetapan hati, bangkitlah semangatnya. Dibuangnya hal-hal menakutkan di benaknya demi mencapai cita-citanya. Untuk memperpendek waktu, dia akan berlaku kejam dan telengas, tak mengenal apa yang dinamakan kasihan atau welas asih.

Dua hari kemudian, jejaknya sudah berada di Sam-ceng-koan di atas Ceng-seng-san. Begitu ia sampai di luar pintu bangunan agung yang angker itu, tanpa terasa kakinya merandek dan ia merasa waswas. Pikirnya, "Apa mungkin sekali lagi aku menubruk tempat kosong?" Pintu besar gedung megah itu tertutup rapat tanpa bayangan seorang pun.

Sudah beberapa kali ia bersuara tanpa ada sahutan. Setelah berpikir sejenak, mendadak ia melayangkan tangannya, membelah ke arah pintu besar itu. Angin badai segera memberondong menerjang ke depan. Terdengarlah suara gedubrakan yang nyaring; pecahan kayu beterbangan, pintu besar yang kokoh itu pun ambruk berkeping-keping dan pecah berserakan di atas tanah.

Betapapun, seorang yang tuli juga akan mendengar suara gedubrakan yang nyaring ini. Namun sungguh aneh dan mengherankan, sedikit pun tidak tampak adanya reaksi apa-apa.

Lantas terasalah adanya hal-hal yang mencurigakan oleh Suma Bing. Alisnya berkerut semakin dalam. Sejenak ia ragu-ragu, namun saat berikutnya tiba-tiba tubuhnya berkelebat cepat melesat ke dalam biara besar yang angker itu.

Mendadak dilihatnya di sebelah sana dua laki-laki yang mengenakan pakaian ketat warna biru, tengah menggertakkan gigi dan mendelik sambil melintangkan pedang di depan dada. Sikapnya mengancam. Tanpa terasa ia tertawa dingin dan mengejek, "Kukira seluruh penghuni biara ini sudah mati semua, kiranya?"

Hanya separuh kata-katanya keluar, ia melihat keadaan kedua laki-laki berseragam biru itu sangat aneh. Maka cepat-cepat ia menelan ucapan selanjutnya. Ia melangkah maju dua tindak, dan berdirilah bulu kuduknya.

Kiranya apa yang dihadapi itu adalah mayat yang sudah dingin dan kaku. Dari keadaan kematiannya, jelas menunjukkan mereka tertutuk jalan darah mematikannya oleh seorang tokoh silat lihai luar biasa. Maka setelah mati, matanya tidak tertutup dan jenazahnya pun tidak roboh.

Melihat suasana ini, naga-naganya pihak Ceng-seng-pay telah tertimpa bencana besar. Waktu ia angkat kepala memandang sekitarnya, bukan main terkejutnya dia. Di sana, di tengah pelataran, bergelimpangan beberapa sosok mayat.

Siapa yang telah turun tangan sekejam ini? Melewati pelataran besar, Suma Bing melangkah terus ke dalam. Di sepanjang jalan yang ia lewati, dilihatnya mayat bergelimpangan. Bau anyir darah merangsang hidung. Betapa seram dan mengenaskan keadaan kematian orang-orang itu, sungguh menggiriskan.

Sampai di bagian yang paling belakang, bulu kuduk Suma Bing berdiri. Terdengar ia berkata seorang diri, "Semua mati. Semua penghuni biara sebesar ini tiada satu pun yang masih hidup."

Betapa besar rasa benci dan dendam hatinya datang meluap untuk menuntut balas. Melihat banjir darah di Sam-ceng-koan ini, sungguh mimpi pun tak terduga olehnya. Sedapat mungkin ia menenangkan gejolak hatinya. Pikirannya melayang pada kejadian yang telah dialaminya terdahulu. Setelah tugas pertama memenggal kepala Ci Khong membawa hasil yang memuaskan, lantas berturut-turut ia menemui kegagalan yang menjengkelkan. Entahlah itu hanya secara kebetulan ataukah memang telah diatur oleh pihak musuh, atau mungkin juga ada peristiwa lain yang terjadi tanpa diketahuinya.

Dalam berpikir itu, tanpa terasa tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringatnya sendiri. Perubahan kejadian yang dialaminya ini benar-benar di luar dugaannya, serta seram dan menakutkan. Kalau dianalisis secara teliti, seolah-olah merupakan serangkaian kejadian yang berhubungan satu sama lain, tapi hakikatnya tak bisa dicampuradukkan dalam satu persoalan. Untuk selanjutnya, entahlah beberapa musuh lain yang akan dicarinya itu bakal mengalami perubahan mengenaskan apa lagi.

Pandangan matanya penuh kekecewaan menyapu keempat penjuru. Ia tidak tahu apakah Ciangbun-jin Ceng-seng-pay, Leng Hun-seng, juga berada di antara mayat-mayat itu. Sebab selain belum kenal, dia juga belum pernah bertemu. Lama sekali sorot matanya berhenti di atas sesosok mayat yang rebah di serambi sebelah sana.

Dari pakaian yang dikenakannya, usia, dan wajahnya, dapatlah diperkirakan mungkin dialah Leng Hun-seng. Tapi dia sudah mati. "Apa aku harus menghancurkan jenazahnya?" pikirnya. Sudah tentu tidak! Tekad bulatnya yang besar untuk menuntut balas dendam perguruannya lama-kelamaan semakin goyah. Serangkaian kejadian yang nyata menunjukkan bahwa di belakang semua peristiwa ini terkandung suatu unsur bahaya yang susah dibayangkan.

Tengah pikirannya tenggelam dalam keadaan sadar tak sadar itulah, mendadak terdengar seruan dingin yang gemetar menarik kembali kesadarannya, "Suma Bing, perbuatanmu ini benar-benar sangat kejam!"

Tersipu-sipu Suma Bing membalikkan badan. Tampak di bawah teras sana berdiri tegak dan garangnya si orang berkedok yang belum lama ini berpisah dengannya. Munculnya si orang berkedok di sini benar-benar di luar dugaannya.

"Saudara kecil, kiranya kau inilah murid Sia Sin Suma Bing yang menggemparkan kalangan kang-ouw itu?"

"Benar, itu tidak akan kusangkal."

"Lantas kedatanganmu ini hendak menuntut balas?"

Tercekat hati Suma Bing, tanyanya, "Tidak salah. Dari mana Bong-bian-heng mengetahuinya?"

Agaknya si orang berkedok menahan gelora hatinya, sahutnya gemetar penuh haru, "Apa kau masih ingat aku pernah berkata bahwa aku berhubungan sangat erat dan kental dengan Tiang-un Suseng Poh Jiang? Maka kejadian permusuhan antara gurumu dengan Bu-lim Sip-yu dulu sedikit banyak aku mengetahui. Peristiwa itu merupakan salah paham."

"Salah paham? Hm," ejek Suma Bing. Di markas besar Ngo-ouw-pang ia mendengar dari mulut Coh-hujin tentang perkataan 'salah paham' itu. Sekarang si orang berkedok yang misterius ini juga mengatakan hal yang sama. Apa mungkin?

Baru saja pikirannya melayang-layang, sekonyong-konyong si orang berkedok berteriak dengan bengis, "Saudara kecil, perbuatanmu ini sungguh tak terampunkan oleh Yang Maha Kuasa!"

Alis Suma Bing menjengkit tinggi, tanyanya, "Bong-bian-heng, perbuatan apa?"

"Apa karena kesalahan seseorang lantas kau membanjirkan darah di seluruh biara?"

"Apa kau tahu pasti bahwa aku yang turun tangan?"

"Apa bukan kau?" desis si orang berkedok kaget.

Suma Bing manggut-manggut dengan geram, katanya, "Aku datang terlambat. Tak dapat kuturunkan tanganku sendiri untuk membalas sakit hati suhu, sungguh sayang dan harus disesalkan."

"Kalau begitu, saudara kecil, benar bukan kau?"

"Aku ingin akulah yang berbuat. Bermula memang begitulah maksud kedatanganku. Bila Leng Hun-seng tidak mau unjukkan diri, aku tidak akan mengenal kasihan. Sayang, aku terlambat."

Sorot mata si orang berkedok menunjukkan keterkejutan, heran, dan gusar yang bercampur aduk. Dengan nanar ia awasi mimik wajah Suma Bing. Akhirnya wajahnya berubah gelap dan luyu, katanya seperti menggumam, "Siapakah yang telah berbuat sekejam ini?"

Memang atas munculnya si orang berkedok, Suma Bing sudah merasa heran dan curiga. Segera mulutnya menyeletuk, "Bong-bian-heng, bagaimana kau pun bisa tiba di sini?"

"Mencari jejak Tiang-un Suseng!"

"Kau pun mencari jejak Tiang-un Suseng?"

"Ya, begitu aku mendengar bahwa kuburan Tiang-un Suseng ternyata kosong, lantas aku mulai mencari dan menyelidiki jejaknya. Sebab kita adalah sahabat kental, tidak bisa tidak aku harus ikut mencari dan turut khawatir akan keselamatannya. Tuan rumah biara besar ini adalah salah satu dari Bu-lim Sip-yu, maka tempat ini pun menjadi salah satu alamat yang harus kuselidiki juga," demikian si orang berkedok menjelaskan. Tiba-tiba ia balik bertanya, "Saudara kecil, apakah kuburannya itu kau yang membongkar?"

"Bukan."

"Bukan? Lalu siapa?"

"Seorang wanita misterius."

"Aneh. Menurut apa yang aku tahu, belum pernah Tiang-un Suseng bermusuhan dengan seorang wanita pun. Wanita macam apakah itu?"

"Seorang wanita berambut panjang berseragam hitam."

Sejenak si orang berkedok menunduk sambil merenung, lalu menggeleng-geleng. Naga-naganya tak teringat olehnya siapakah wanita misterius seperti yang dikatakan Suma Bing itu. Tiba-tiba ia mengalihkan bahan bicara, tanyanya, "Saudara kecil, jadi kau benar-benar adalah murid Lam Sia?"

"Kau tidak percaya?"

"Bukan tidak percaya, hanya gurumu itu..."

"Dia belum mati!"

"Dia belum mati?" suara si orang berkedok gemetar.

"Betul. Karena dibokong, orang tua itu kehilangan sebuah mata dan kedua kakinya. Justru sangat ajaib akhirnya dia tidak mati, sampai..."

"Bagaimana?"

"Belum lama berselang ia meninggal karena racun dalam tubuhnya kumat."

"Oh, saudara kecil, maukah kau dengar cerita tentang peristiwa penyebab permusuhan itu?"

"Baik, coba kau ceritakan."

"Konon, tiga di antara Bu-lim Sip-yu yang tenar menggetarkan kalangan kang-ouw itu telah terbunuh di tangan Sia Sin Kho Jiang tanpa dosa. Dalam gusarnya, tujuh kawan lainnya segera meluruk mencari Lam Sia dan meminta pertanggungjawabannya."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment