Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 24

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 24

Lam Sia telah malang melintang di dunia persilatan. Sudah tentu ketujuh kawan itu menyadari bahwa mereka pun tidak akan sanggup menghadapinya. Sebaliknya, bagaimanapun juga, mereka harus membalaskan kematian ketiga sahabatnya yang tewas secara konyol itu.

Siapa tahu, setelah turun tangan, barulah mereka menyadari bahwa urusan itu memiliki latar belakang di luar sepengetahuan mereka.

"Bagaimana duduk perkaranya?"

"Naga-naganya, *lwekang* Lam Sia tidak seperti yang mereka duga sebelumnya. Maka, walaupun akhirnya lima dari tujuh kawan itu terluka berat, mereka terhitung mendapat hasil yang memuaskan. Setelah kejadian itu, Tiang Un Suseng menganalisis keadaan sebelum dan sesudahnya, hingga akhirnya ia menyadari bahwa mereka telah terjebak dalam tipu muslihat keji seseorang yang telah direncanakan sebelumnya."

"Tipu muslihat apakah itu?"

"Pertama, kabar bahwa Lam Sia membunuh Tam Yu (tiga kawan) hanyalah berita burung; tidak seorang pun yang melihatnya sendiri. Kedua, dalam pertempuran itu, sebelumnya Sian Sin Kho Jiang sudah keracunan. Ketiga, suhengmu, Loh Cu Gi, hanya menonton sambil berpangku tangan. Hal ini di luar batas tata krama."

"Lalu, mengapa sebelum turun tangan Tiang Un Suseng tidak memberi penjelasan tentang maksud kedatangannya?"

"Gurumu beradat aneh dan tinggi hati. Begitu melihat orang luar menginjak batas daerah terlarangnya, tanpa banyak bicara ia langsung menyerang lebih dulu. Ketujuh kawan itu tidak mendapat kesempatan untuk membuka mulut. Apalagi begitu dia turun tangan, kabar burung itu seolah menjadi kenyataan, maka terjadilah akibat yang demikian."

"Benar, agaknya ini adalah suatu kesalahpahaman. Pangkal dari semua kejadian ini, atau bisa dikatakan sebagai dalang bencana ini, pasti adalah Loh Cu Gi. Namun, ketujuh kawan itu pun tidak mungkin terhindar dari bencana akibat perbuatan mereka."

Si orang berkedok tertawa melengking menyedihkan, lalu berseru, "Memang. Selain Tiang Un Suseng yang sampai sekarang belum diketahui rimbanya, yang lain semua sudah mati terbunuh."

Betapa kagetnya Suma Bing hingga sulit dilukiskan. Ia berseru geram, "Apa? Ketujuh kawan itu sudah mati terbunuh?"

"Betul. Lo San Siang Kiam ditemukan tewas di tengah perjalanan Siang Im. Goan Hi Hwesio dari Siauw Lim, tulangnya terpendam di luar kota Kay Hong."

Suma Bing terhuyung mundur tiga langkah. Ia seakan tidak percaya bahwa dendam kesumat gurunya tidak perlu dibalas lagi, karena semua musuhnya telah mati secara aneh dan menghilang secara misterius. Karena haru dan sedih, tubuh si orang berkedok gemetar hebat. Ia berkata lagi, "Semula kukira semua itu adalah perbuatanmu. Baru sekarang aku tahu bahwa ada orang lain yang berbuat sekeji itu. Siapakah orang itu? Sulit diduga."

Mendadak, sebuah tawa dingin melengking bergema di dalam biara itu. Suara itu bagaikan bunyi burung hantu di waktu malam. Di tengah pegunungan yang sunyi dan biara besar yang penuh dengan mayat manusia, keadaan ini benar-benar seram dan mengerikan.

Suma Bing dan si orang berkedok bergidik ngeri. Mereka menoleh bersamaan dan melihat seseorang berdiri dalam jarak tiga tombak di depan mereka. Orang itu mengenakan jubah panjang berwarna ungu dengan wajah yang dingin membeku. Sekali pandang, dapat diketahui bahwa orang berpakaian ungu ini mengenakan topeng.

Sorot mata Suma Bing menatap tajam ke arah orang berjubah ungu itu. Ia menyapa dengan nada yang tak kalah dingin, "Tokoh sakti dari manakah Tuan ini?"

Tanpa menjawab, si jubah ungu justru bertanya balik, "Kau ini murid Sia Sin Kho Jiang yang bernama Suma Bing?"

"Untuk apa kau menanyakan aku?"

"He-he-he-he," si jubah ungu tertawa dingin yang panjang. Ekspresi wajahnya yang membeku seperti mayat benar-benar mengerikan bagi siapa pun yang melihatnya.

Suma Bing mendengus hina dan bertanya, "Tuan, apa ada yang menggelikan?"

"Tidak ada. Sungguh kebetulan sekali; dicari-cari tidak ketemu, justru sekarang muncul sendiri."

Hati Suma Bing bergejolak. Ternyata si jubah ungu ini sedang mencarinya. Karena belum lama berkelana di dunia persilatan dan belum pernah bermusuhan secara langsung dengan orang lain, ia menduga ini adalah urusan lama gurunya. Sambil mengernyitkan alis, ia bertanya, "Jadi, Tuan hendak mencari aku?"

"Betul, untuk mengambil nyawamu."

Suma Bing tertegun sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak. "Mulut Tuan sungguh besar. Apa kau mampu melakukannya?"

"Semudah membalikkan telapak tangan!" sahut si jubah ungu tegas.

"Mengapa kau ingin membunuhku?"

"Karena kau adalah murid Lam Sia. Bukankah itu alasan yang cukup jelas?"

Dalam hati, Suma Bing membatin bahwa dugaannya tepat; orang ini adalah salah satu musuh gurunya. Nada bicaranya mirip dengan Pek Hoat Sian Nio. Sambil menyeringai, ia menyahut, "Setidaknya Tuan memiliki nama, bukan?"

"Ada, tapi kau tidak berhak bertanya. Di jalan menuju neraka nanti, 'si sesat tua' itu yang akan memberitahumu."

Seketika amarah Suma Bing membara. Nafsu membunuh merangsang hatinya. Ia mendengus keras dan berseru, "Baik, biar kupenuhi keinginanmu!"

Pada saat itu, si orang berkedok membentak dingin, "Apakah pembantaian di dalam biara ini adalah hasil karyamu?"

"Kalau benar, memangnya kenapa?"

"Apa permusuhan Ceng Seng Pay denganmu sampai kau begitu keji membanjirkan darah dan mencabut nyawa semua penghuni biara ini?"

"Pertanyaanmu berlebihan. Begitu kau menginjakkan kaki ke dalam biara ini, kematianmu sudah ditakdirkan."

Rasa gusar Suma Bing tak tertahankan lagi. Ia menghardik keras, "Bangsat takabur! Biar kubunuh kau dulu!"

Mengikuti bentakannya, kedua tangannya disodorkan ke depan, membawa deru angin laksana gunung runtuh yang melanda ke arah si jubah ungu bertopeng itu. Si jubah ungu tertawa mengejek sambil mengibaskan lengannya. Seketika Suma Bing merasakan angin pukulannya seolah menerjang tembok besi yang kokoh. Tenaga pukulannya memantul kembali. Ia sangat terkejut menyadari tenaga dalam lawannya sedemikian tinggi. Ia segera menarik tangannya dan bergeser ke samping sejauh lima kaki.

Pada saat yang sama, si orang berkedok melancarkan hantaman hebat ke arah si jubah ungu. Tanpa mempedulikannya, si jubah ungu mendengus hina. Dengan sekali berkelebat, ia justru meluncur maju ke arah si orang berkedok dan mencengkeram dadanya. Gerakan menghindar dan mencengkeram itu dilakukan dalam sekejap mata; kecepatannya sulit diikuti.

Si orang berkedok sangat terkejut, seakan nyawanya terbang ke awang-awang. Karena tidak mungkin mengelak lagi, ia bertindak nekat dengan mengangkat sebelah kakinya untuk menyepak titik syaraf *Tan Tian* di pusar musuh. Itu adalah langkah adu nyawa; meski ia terancam mati oleh cengkeraman musuh, musuh pun harus membayar mahal jika pusarnya tersepak.

Namun, kepandaian si jubah ungu sangat luar biasa. Di saat orang lain tidak mungkin menarik serangannya, tubuhnya justru melesat ke samping sejauh tiga kaki dengan kelincahan yang ajaib. Tendangan si orang berkedok mengenai tempat kosong, dan ia pun segera berputar menyingkir sejauh lima kaki.

Kini jarak mereka hanya sekitar satu tombak. Si jubah ungu berteriak melengking. Dua kali tangannya terayun aneh dan cepat, melancarkan pukulan dahsyat. Belum sempat si orang berkedok menenangkan hati, angin pukulan musuh sudah menerjang hebat. Ia terpaksa menggerakkan tangannya untuk menangkis. Benturan menggelegar terdengar sangat keras, dibarengi teriakan kesakitan. Sebuah bayangan terpental dan jatuh di tengah ruang sembahyang.

Pada saat yang hampir bersamaan, si jubah ungu terhuyung mundur dua langkah. Ia berdehem keras seolah hendak muntah. Ternyata, saat si jubah ungu memukul si orang berkedok, Suma Bing melancarkan pukulan dengan segenap tenaganya dari arah samping. Tujuannya adalah menolong si orang berkedok, namun sayangnya ia terlambat setengah detik.

Si jubah ungu tertawa aneh dan bertanya, "Suma Bing, apakah Kho Lo Sia benar-benar sudah mati?"

Suma Bing tidak menjawab dan melancarkan pukulan lagi. Dengan ringan, si jubah ungu melompat menghindar sambil berkata, "Cincin iblis milik Kho Lo Sia tentu sudah diturunkan kepadamu, bukan?"

Suma Bing mendelik dan mengertakkan gigi. "Tidak salah! Kau mau apa?"

"He-he-he-he, kematianmu sudah di depan mata. Aku harus memastikannya agar cincin itu tidak jatuh ke tangan orang lain."

"Kau yakin aku akan mati?"

"Mengapa tidak kau coba saja?"

Sambil menggeram gusar, Suma Bing melancarkan serangan dengan jurus *Liu Kim Hoat Ciok*. Jurus ini pernah membuat putra Racun Utara, Tangbun Yu, terluka berat. Di dunia persilatan saat itu, hanya segelintir orang yang mampu menyambut pukulan ini. Namun, kenyataan di hadapannya di luar dugaan. Tanpa menghindar, si jubah ungu cukup memutar dan melintangkan kedua tangannya. Gerakan ini membuat Suma Bing tidak mampu melanjutkan serangannya, bahkan terdesak mundur tiga langkah.

"Suma Bing, kepandaian apa lagi yang diajarkan Kho Lo Sia kepadamu? Keluarkanlah semuanya sekarang. Jangan sampai kau mati dengan mata tidak terpejam. Jika kau menyia-nyiakan waktu ini, kau tidak akan memiliki kesempatan lagi selamanya!"

Karena sangat marah, uap putih mengepul dari kepala Suma Bing. Namun, hatinya terkejut menyadari kepandaian lawan yang sedemikian tinggi. Yang paling mengejutkan adalah betapa mudahnya lawan mematahkan *Liu Kim Hoat Ciok*, jurus tunggal andalan ciptaan gurunya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment