Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 25

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 25

Namun, karena sifat pembawaannya yang keras kepala dan tinggi hati, Suma Bing tidak mau tunduk atau menyerah begitu saja. Sambil berteriak, Suma Bing melancarkan pukulan ketiganya. Kali ini, si jubah ungu tidak berani bertindak gegabah. Ia sedikit menggeser kaki dan tubuhnya melesat menyingkir.

Saat Suma Bing menarik pukulannya, otaknya berputar. Kekuatan "Kiu yang sin kang" dalam tubuhnya bangkit. Ia membayangkan betapa sulitnya jika pukulan kali ini gagal lagi. Dibarengi bentakan nyaring, gelombang panas bagai lahar gunung berapi bergulung-gulung melanda ke depan.

"Kiu yang sin kang!" seru si jubah ungu penuh nada mengejek. Ia berdiri tenang sambil menggerakkan tangan kiri membuat satu lingkaran, lalu menyurungnya ke samping. Sementara tangan kanannya memukul ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Seketika, Suma Bing merasakan tenaganya tersedot dan ikut menyelonong ke samping karena gerakan memutar dan menyurung lawan. Arwahnya bagai melayang meninggalkan tubuhnya. Untuk menarik kembali atau berkelit sudah tidak sempat lagi, sebuah pukulan musuh yang berkekuatan dahsyat pun tiba.

"Blang!" Tubuh Suma Bing terhuyung-huyung dan mundur delapan langkah. Tak tertahan lagi, mulutnya menguak dan muntah darah. Si jubah ungu tertawa geli karena kepuasan. "Siaucu, apa yang kau pelajari dari Kho lo sia kiranya hanya begitu saja? Masih ada simpanan lain tidak?"

Suma Bing sadar bahwa dirinya bukan tandingan musuh. Namun, musuh jelas mencarinya. Masa murid Lam sia yang ditakuti harus lari atau menyingkir menghadapi bencana? Dirinya sudah terkena racun "Pek jit kui", hidupnya tinggal seratus hari. Jika memang tiada harapan hidup, apa bedanya segera mati dengan berlebihan hidup selama seratus hari lagi?

Begitu melihat "Cincin iblis" itu, kedua mata si jubah ungu di balik kedoknya menyorongkan rasa takut sekaligus tamak. "Mo hoan," katanya dingin, "sedetik lagi dia akan menjadi milikku!" Wajah Suma Bing diliputi nafsu membunuh. Ia maju beberapa langkah, mengerahkan tenaga saktinya. Seketika, "Mo hoan" di jarinya menyorongkan sinar terang yang menyilaukan mata. Sinar itu memancar ke depan bagai sebatang pedang sejauh lebih dari satu tombak.

Terdengar si jubah ungu bergumam, "Kalau 'Mo hoan' ini ditanganku, dalam jarak dua tombak dapat kupenggal kepala orang. Kukira tidak menjadi soal." Suma Bing mendengus. "Dalam jarak setombak kupenggal kepalamu, kukira juga tidak menjadi soal." Sambil berkata, ia melangkah maju dan mengayunkan tangan. Sejalur sinar dingin kemilauan sepanjang satu tombak menyapu datang bagai kilat menyambar.

Cepat sekali si jubah ungu melompat, meloncat ke belakang sejauh dua tombak. Kaki­nya menginjak tanah di luar pekarangan. Tidak perlu disangkal lagi, ia pun gentar menghadapi keampuhan "Cincin iblis" ini. Suma Bing mendesak maju beberapa langkah dan turun dari undakan, berdiri tegak di tengah pekarangan.

Saat itu, orang berkedok yang terpukul terbang oleh hantaman si jubah ungu juga sudah bangun. Ia bersandar di pinggir meja kayu cendana, tidak bergerak sedikit pun, merenungkan sesuatu. Sepasang mata Suma Bing mendelik bundar menatap si jubah ungu. "Sebelum kubunuh kau, aku ingin tahu namamu dan tujuan kedatanganmu?"

Si jubah ungu tertawa mengejek. "Suma Bing, namaku kau tidak perlu tahu. Tujuanku hendak membunuh kau. Malah boleh kutambah, mengapa aku harus membunuhmu? Karena kau adalah murid Sia sin Kho Jiang!" Hampir meledak dada Suma Bing, ia membentak beringas. "Kau sudah pasti mati!"

Sinar dingin yang menyorong dari "Cincin iblis" di jarinya semakin melebar dan tajam. Digoyangkan, terciptalah sebuah jaring sinar putih yang mengurung seluruh tubuh si jubah ungu. Terdengarlah suara mendesis yang menambah keseraman keadaan sekelilingnya.

Si jubah ungu berloncatan berkelit dengan lincahnya, enteng dan tangkas seperti setan tanpa bayangan. Sungguh hebat pertunjukan ilmu ringan tubuhnya ini. Namun, ia tidak berani terang-terangan menyentuh sinar jaringan "Mo hoan". Menggunakan "Cincin iblis" menghadapi musuh hanya mengandalkan tenaga murni yang didesak keluar untuk menambah keampuhan senjata itu. Jika terlalu lama, hawa murni dalam tubuhnya akan semakin susut dan habis.

Agaknya si jubah ungu tahu kelemahan ini. Selama ini ia hanya bermain petak dan memamerkan gerak tubuhnya yang lihai tiada tara di dunia persilatan. Karena berlompatan dan berlarian di pekarangan yang begitu besar, terpaksa Suma Bing harus mengejar dan menyerang kalang-kabut hingga napasnya tersengal-sengal.

Nasi sudah menjadi bubur. Keampuhan sinar "Cincin iblis" semakin suram sinarnya, hanya menyorong tinggal delapan kaki jauhnya. Gundah dan gugup hati Suma Bing. Ia sadar tenaganya semakin susut. Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat, tetapi ujung jubah musuh saja belum tersentuh.

Kini tibalah saatnya. Si jubah ungu balas menyerang dengan kekuatan pukulan yang susah diukur. Ia melancarkan sembilan pukulan dari sembilan kedudukan yang tidak sama. Angin pukulan bergelombang tinggi bagai damparan ombak berlapis-lapis menerjang dari pelbagai penjuru, mengarah ke satu sasaran.

Begitu si jubah ungu selesai melancarkan sembilan pukulannya, sinar terang yang menyorong keluar dari "Cincin iblis" seketika lenyap, dibarengi suara kesakitan yang luar biasa. Tubuh Suma Bing terpental terbang balik ke dalam ruangan besar karena hantaman gelombang pukulan musuh yang dahsyat.

Agaknya si jubah ungu masih belum puas. Sekali berkelebat, ia melompat ke atas undakan sambil melancarkan sapuan tangannya lagi. "Blang!" Sekali lagi Suma Bing menguak keras, darah menyembur deras dari mulutnya. Tubuhnya terpental lagi lebih jauh. Kebetulan tubuhnya meluncur ke arah orang berkedok. Cepat-cepat ia mengulurkan tangan dan tepat menyambut tubuh Suma Bing ke dalam pelukannya.

Perlahan dan mantap, si jubah ungu maju dua langkah, berdiri di luar pintu sembahyang. Kedua matanya menyorotkan sinar tajam yang menyedot semangat orang. Nada ucapannya sedingin es. "Kau hendak bunuh diri atau harus aku yang turun tangan!"

Serta merta, orang berkedok mundur dua langkah. Darahnya yang mendidih tadi kini terasa membeku dalam jantungnya. Diam-diam ia mengeluh, "Tamatlah sudah!" Mengandalkan kemampuannya saat itu, tidak mungkin ia dapat lolos dari tangan jahat si jubah ungu, apalagi ia harus membopong dan melindungi Suma Bing. Hanya kematianlah kiranya jalan satu-satunya. Tanpa terasa, ia termenung menatap wajah Suma Bing yang pingsan dalam pelukannya. Ia menghela napas, "Saudara kecil, segala dendam permusuhan selanjutnya boleh dihapuskan."

Pada saat itulah, mendadak terdengar lolongan suara aneh panjang yang menggetarkan, bagai suara tertawa iblis atau jin raksasa. Tersipu-sipu si jubah ungu membalik badan. Tampak olehnya di tengah pekarangan berdiri seorang aneh yang bertubuh kurus tinggi mengenakan jubah hitam. Tidak ketinggalan, wajah dan seluruh badannya berwarna hitam logam. Dipandang dari kejauhan, ia seperti tonggak yang habis terbakar. Seluruh tubuh dari atas sampai bawah hanya terlihat dua titik putih, yaitu kedua bola matanya yang aneh itu.

Orang berkedok yang berada jauh di dalam ruang sembahyangan pun merasa keder dan merinding. Dengan pengalamannya yang luas di kalangan Kangouw, ia tidak mengetahui siapa dan tokoh darimanakah si manusia aneh yang serba hitam ini.

"Sepuluh hutang darah dibayar darah." Kedua bola mata manusia aneh yang banyak putihnya daripada hitam berputar-putar jelalatan. Dengan suaranya yang melengking menusuk, ia berkata kepada si jubah ungu, "Sebagai ketua Bwe hwa hwe yang kenamaan, mengapa harus mengenakan kedok menutup muka? Apa kau malu dilihat orang?"

Agaknya si jubah ungu tergetar kaget. Tanpa terasa, ia mundur satu langkah. Di lain pihak, tidak kurang pula kagetnya si orang berkedok. Sungguh di luar dugaannya bahwa si jubah ungu ini kiranya adalah Ketua Bwe hwa hwe yang sangat misterius itu. "Kenapa Bwe hwa hwe Hwe tiang harus membabat rumput dan membuat banjir darah di Sam ceng koan ini? Kenapa pula dia mengejar dan hendak membunuh Suma Bing?"

Sementara itu, terdengar si jubah ungu menyahut dingin, "Tuan sebutkan nama besarmu? Kau mengakui tidak kedudukanmu itu?" Kiranya manusia aneh bagai arang ini pun belum berani memastikan kalau si jubah ungu ini benar-benar adalah Bwe hwa hwe Hwe tiang (ketua).

Si jubah ungu tertawa ringan. "Kau dengar aku tidak menyangkal!" Orang aneh serba hitam itu mengangguk-angguk, serunya lantang, "Kalau begitu, baiklah kuberitahu. Aku yang rendah ini tak lain tak bukan adalah 'Tok tiang ci tok!'"

"Tok tiong ci tok?"

"Benar, akulah Racun di dalam racun!"

Ketua Bwe hwa hwe sendiri adalah seorang yang sangat misterius. Tapi setelah mendengar orang memperkenalkan diri, tanpa terasa ia terperanjat juga. Beruntun mundur tiga langkah dan tanyanya lagi, "Jadi, Tuan adalah Racun diracun yang baru saja muncul? Kau menggunakan racun tanpa bayangan..."

"Racun diracun," katanya terloroh-loroh, "baru saja muncul? Hm, tingkat kedudukanmu, ketua Bwe hwa hwe, toh belum tentu lebih tinggi dari aku?"

"Di seluruh jagad yang merajai menggunakan racun hanyalah Pak tok Tangbun Lu seorang. Tuan berani menamakan diri sebagai Racun diracun, masa bisa lebih..."

"Hehehe, Pak tok terhitung barang apa?" Lagi-lagi Bwe hwa hwe Hwe tiang tergetar hatinya. Apa mungkin manusia aneh ini bisa lebih beracun dari Pak tok? Tapi selama ini belum pernah dengar adanya seorang tokoh yang benar-benar lihai dalam bidang itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment