Chapter 26
Segera ia menunjukkan wajah serius dan berkata dengan nada berat, "Tuan kebetulan lewat di sini ataukah...?"
"Aku datang khusus mencarimu!"
"Ada keperluan apakah?"
Dengan dingin dan berat, Racun Diracun mengucapkan kata demi kata, "Apakah Pedang Darah ada di tanganmu?"
"Pedang Darah? Hahahaha! Dari mana *Pun Hwe Tiang* (Ketua) mendapatkan berita tentang Pedang Darah itu?"
"Hm, Mo San Ji Kui mati di tangan siapa?"
"Dengan sebilah Pedang Darah palsu, Bwe Hwa Hwe menimbulkan huru-hara di kalangan *Kangouw*, memicu gelombang pertikaian besar. Apa sebenarnya tujuan kalian?"
Sementara itu, si orang berkedok yang masih berada di ruang sembahyang melihat kesempatan tersebut. Secara diam-diam, ia segera memapah tubuh Suma Bing dan pergi melalui pintu samping.
Sejenak Ketua Bwe Hwa Hwe menelan ludah dan ragu-ragu, lalu berseru lagi dengan lebih dingin, "Bukankah pertanyaan Tuan ini terlalu berlebihan? Jika Kau sudah tahu yang kami dapatkan adalah Pedang Darah palsu, untuk apa lagi Kau bertanya?"
"Mo San Ji Kui terkapar mati di luar guanya. Apakah itu hasil karya kelompok kalian?"
"Memang benar."
"Menurut kabar yang tersiar di kalangan *Kangouw*, Pedang Darah itu telah dimiliki oleh Mo San Ji Kui. Sekarang mereka terbunuh oleh orang-orangmu. Bukankah itu berarti Pedang Darah tersebut telah jatuh ke tangan kalian?"
"Bukankah Tuan tadi juga mengatakan bahwa Pedang Darah yang kami dapatkan adalah palsu?"
"Hm, mencuri genta dengan menutup telinga sendiri! Begitu Pedang Darah yang asli jatuh ke tangan kalian, lantas kalian mengatur tipu daya di kalangan *Kangouw* dengan pedang palsu. Perbuatanmu ini benar-benar masih sangat hijau!"
"Jadi, Tuan bersikeras menuduh bahwa Pedang Darah yang asli berada di perkumpulan kami?"
"Kenyataannya memang demikian."
"Setelah peristiwa itu, baru *Pun Hwe Tiang* (aku, sang ketua) sadar bahwa karena kurang teliti, kami telah terjebak ke dalam kabar angin tersebut."
"Apa maksud ucapanmu ini?"
"Lima belas tahun yang lalu, Pedang Darah jatuh ke tangan Tang Mo. Coba pikir, dengan kemampuan Mo San Ji Kui, mana mungkin mereka dapat merebut Pedang Darah itu dari tangan Tang Mo? Maka kukatakan bahwa kita telah tertipu oleh kabar angin itu."
Mata Racun Diracun yang lebih banyak bagian putihnya daripada hitam itu berkilat-kilat. Sejenak ia merenung, lalu bertanya untuk menegaskan, "Apakah ucapanmu itu dapat dipercaya?"
"Percaya atau tidak, terserah kepada Tuan sendiri!"
"Jika kelak aku dapati ucapanmu ini bohong..."
"Bagaimana?"
"Aku tidak seperti Pak Tok yang suka menyombongkan gengsi atau kedudukan. Kau bisa bayangkan sendiri apa akibatnya."
Sekonyong-konyong, Ketua Bwe Hwa Hwe memperdengarkan suara tawa yang menggelegar. Nadanya seperti gong yang ditabuh sedemikian keras hingga seisi biara itu terasa bergetar. Setelah menghentikan tawa, ia segera berkata dengan sombong, "Tuan, Kau terlalu memandang rendah perkumpulan kami."
Wajah Racun Diracun sedemikian hitam legam hingga sulit untuk melihat ekspresi mukanya. Namun, dilihat dari sorot matanya yang berkilat bengis, tampaknya ia sedikit pun tidak gentar atau terpengaruh oleh pertunjukan *Lwekang* suara tawa Ketua Bwe Hwa Hwe tadi. Jawabnya dingin, "Memang, jagoan kalian sangat banyak. Namun, apa yang pernah kuucapkan tentu akan kulakukan. Selamat bertemu!"
Sekali berkelebat, bayangan hitam itu sudah menghilang bagai angin. Saat Ketua Bwe Hwa Hwe membalikkan tubuh, jejak si orang berkedok dan Suma Bing sudah menghilang entah ke mana.
***
Saat Suma Bing siuman kembali, yang tampak di matanya hanyalah sebuah pelita minyak. Bau apek yang lembap menusuk hidung. Ia merasa dirinya terbaring di atas dipan batu. Ia mengucek matanya, lalu bergumam sendiri, "Apakah aku belum mati?"
"Kau belum mati."
Suma Bing memandang ke arah datangnya suara. Dilihatnya si orang berkedok tengah duduk di pojok, berjarak sekitar satu tombak. Serunya kaget, "*Bong Bian Heng* (Saudara Berkedok), kaulah yang menolongku?"
"Itulah kewajiban seorang kawan."
"Tempat apakah ini?"
"Ruang rahasia di bawah Sam Ceng Koan."
"Ruang rahasia di bawah tanah?"
"Benar."
"Kau bukan anggota keluarga Sam Ceng Koan ini, dari mana Kau tahu tempat rahasia ini?"
"*Ciangbunjin* (Ketua) Ceng Seng Pay, Leng Hun Seng, adalah salah satu dari *Bu Lim Sip Yu*. Sementara itu, Tiang Un Suseng adalah sahabat karibku. Tentu saja hubunganku sangat erat dengan Sam Ceng Koan. Ruang bawah tanah ini bukan lagi rahasia bagiku."
"Oh, lalu si jubah ungu itu...?"
"Dialah Ketua Bwe Hwa Hwe."
"Ketua Bwe Hwa Hwe?" seru Suma Bing melonjak kaget. "Ada permusuhan apa antara Bwe Hwa Hwe dengan Ceng Seng Pay? Ada dendam apa pula denganku? Ini... ini..."
"Inilah teka-teki yang saat ini sulit ditebak. Tentu ada sebabnya mengapa ia menimbulkan banjir darah di Sam Ceng Koan ini dan hendak membunuhmu juga."
"Dari mana Saudara mengetahui bahwa dia adalah Ketua Bwe Hwa Hwe?"
"Diberitahu oleh Tok Tiong Ci Tok. Untungnya Racun Diracun muncul pada saat yang tepat, sehingga kita memiliki kesempatan untuk meloloskan diri."
Suma Bing sangat terkejut. Sungguh tak terduga baginya bahwa Racun Diracun bisa muncul di tempat itu. Serta-merta ia berkata, "Si algojo yang menggunakan racun tanpa bayangan itu yang membunuh adik Siang Siau Hun dan Li Bun Siang?"
"Dari mana Kau tahu?" tanya si orang berkedok heran.
Terpaksa Suma Bing mengisahkan pengalamannya di kelenteng bobrok tersebut, namun soal dirinya yang keracunan tidak ia bicarakan.
Si orang berkedok baru sadar dan mengerti. Katanya, "Begitulah. Tujuan Racun Diracun hanya menginginkan Pedang Darah itu. Benda yang dititipkan kepada Siang Siau Hun bertiga bentuknya sama seperti buntalan Pedang Darah, maka Racun Diracun salah sangka dan bertindak keji. Tidak heran ia mendesak Ketua Bwe Hwa Hwe untuk mengetahui keberadaan Pedang Darah tersebut. Kiranya masih banyak sebab lainnya."
"Lalu, akhirnya bagaimana?"
"Ketua Bwe Hwa Hwe menyangkal."
Bergegas Suma Bing bangun. Mendadak ia tidak merasakan keanehan dalam tubuhnya. Serunya kaget dan heran, "Seingatku aku terluka berat."
"Memang lukamu tidak ringan. Untungnya aku sedikit mengerti cara pengobatan dan membawa obatnya pula."
Suma Bing menghela napas dan berkata, "Lagi-lagi aku berhutang budi kepadamu, Saudara."
"Apa maksud ucapanmu itu, Saudara Muda? Seumpama aku yang terluka, tidak mungkin Kau tidak menolongku."
"Meskipun begitu, aku tidak suka berhutang budi kepada orang lain, sebab..."
"Sebab apa?"
"Aku tidak akan dapat membalasnya."
Si orang berkedok tertawa ringan dan berujar, "Saudara Muda, agaknya Kau pun keracunan."
Suma Bing terperanjat kaget. Tanyanya, "Dari mana Saudara bisa tahu?"
"Waktu aku mengobatimu tadi, kudapati di atas pusarmu ada setitik hitam. Jika titik hitam ini melebar sampai ke jalan darah *Pek Hwe Hiat*, jiwamu akan tamat."
Dengan penuh kebencian yang menyala-nyala, segera Suma Bing bercerita tentang bagaimana dirinya terkena racun *Pek Jit Kui* dari Tangbun Yu. Seketika si orang berkedok terdiam, tidak dapat berkata-kata.
Suma Bing sendiri tenggelam dalam renungannya. Ruang bawah tanah itu menjadi sedemikian hening, hanya suara napas mereka yang terdengar. Lama kemudian, baru si orang berkedok memecah kesunyian dengan suara berat, "Saudara Muda, aku tahu ada sejenis benda yang dapat memunahkan racun dalam tubuhmu itu."
Kegembiraan Suma Bing sungguh sulit dilukiskan mendengar keterangan itu. Sebab, menurut Tangbun Yu sendiri, tidak ada orang lain yang dapat mengobati racunnya. Sementara si Maling Bintang, Si Ban Cwan, berpendapat hanya Tiang Un Suseng yang mungkin dapat mengobatinya. Sungguh di luar dugaan bahwa si orang berkedok ini ternyata juga mengetahui cara memunahkan racun tersebut.
Dengan tersipu-sipu, ia melompat turun mendekati si orang berkedok sambil berkata, "Apakah Saudara dapat mengobati racun berbisa itu?"
"Bukan aku yang dapat memunahkannya. Maksudku, aku tahu ada suatu benda yang dapat menawarkan racun di tubuhmu itu. Hanya saja..."
"Bagaimana?"
"Benda itu sangat sulit diperoleh."
"Benda apakah itu?"
"*Coa Ham Cau* (Rumput Ular). Rumput ini tumbuh di tengah lembah pegunungan yang berbahaya. Bentuknya tidak terlalu aneh, namun mengeluarkan aroma wangi yang khas. Aroma inilah yang sangat disukai oleh ular berbisa. Di mana rumput ini tumbuh, di sanalah tempat berkumpulnya ribuan macam ular berbisa. Mereka berebutan untuk mengulum daun rumput itu. Setidaknya rumput semacam itu harus sudah pernah dikulum oleh ribuan ekor ular hingga warnanya berubah menjadi putih bening bagai batu giok agar memiliki khasiat untuk menawarkan racun. Namun, mencari *Coa Ham Cau* ini sangatlah sulit."
Suma Bing mengembuskan napas panjang. Ujarnya, "Terhadap racun dalam tubuhku ini, memang aku sudah tidak berharap banyak untuk sembuh."
Si orang berkedok mengibaskan tangan memotong ucapan Suma Bing, lalu berkata sambil tersenyum, "Saudara Muda, jika tidak ada harapan, tentu aku tidak akan membuka mulut. Mengenai rumput ular ini, menurut pengetahuanku, Si Gwa Sian Jin menyimpannya sebatang."
"Si Gwa Sian Jin?"
"Benar. Manusia bebas di luar dunia itu bertabiat sangat aneh dan menyendiri. Selamanya dia tidak mau berhubungan dengan kaum persilatan."
Semangat Suma Bing bangkit kembali. Ujarnya, "Di manakah tempat tinggal Si Gwa Sian Jin?"
"Bu In San (Gunung Tanpa Bayangan). Dari sini kira-kira tiga hari perjalanan baru bisa sampai."
"Baik, terima kasih banyak atas keterangan ini. Biarlah aku pergi ke sana untuk mencoba peruntungan."
"Biar kuiringi Kau ke sana. Gunung Tanpa Bayangan itu sulit dicari, biarlah aku yang menunjuk jalan."
"Ah, aku tidak enak menyusahkanmu..." ujar Suma Bing penuh haru.
"Kita sudah terikat sebagai sahabat, apa jugalah artinya bantuanku ini?"
"Kalau begitu, mari kita berangkat."
"Nah, begitu lebih baik."
Mengikuti di belakang si orang berkedok, mereka berdua berjalan keluar menyusuri jalan rahasia bawah tanah. Setelah berbelok-belok sekian lama, tibalah mereka di ujung lorong. Segera si orang berkedok mengulurkan tangan menekan dinding sebelah kanan. Terdengar suara gesekan, dan tiba-tiba di atas kepala mereka terbukalah sebuah lubang seluas lima atau enam kaki persegi.